Di bumbui Cerita 21++
Tak kusangka aku bisa mencintaimu.
Semenjak kejadian yang menimpanya malam itu. Arana harus kehilangan kesuciannya yang telah Ia jaga selama 23 tahun.
Karna kejadian yang meningpanya malam itu Arana harus menerima kenyaatan pahit. Kekasih yang sangat Ia cintai pergi meninggalkannya begitu saja.
Arana di perkosa oleh seorang
pemuda yang tidak Ia kenal.
Apakah Arana bisa menemukan pemuda yang telah merampas kesuciannya?...
Dan apakah Arana bisa membalas cinta orang yang telah merampas semuanya darinya? ketika pemuda itu mengatakan Aku Mencintaimu Arana.
Ikutin terus ya Cerita Cinta Manisku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15.Kecemasan Steven
Setelah selesai memakan makananya Steven melihat ke arah
wajah Arana yang terlihat sedikit pucat, Steven tak berhenti menatap wajah
Arana karna merasa heran Arana ingin membawanya kemana, karna saat ini mereka
telah memasuki kawasan kota XX yang tak lain adalah kota kelahiran Steven. Aran
juga tak memberitahukan kemana dan untuk apa mereka berada di kota XX.
“Ara, sebenarnya kita mau kamana?” Steven menatap wajah
Arana.
“Kita akan ke rumah seorang dukun.”
“Dukun!” terkejut “Untuk apa kita ke rumah dukun?” Steven
menatap tajam ke arah wajah Arana.
Tampa mejawab pertanyaan dari Steven, Arana beranjak dari
duduknya, lalu berjalan ke luar dari dalam Cafe, menuju arah mobil Steven
terperkir.
Sementara Steven membayar tagihan makanan yang baru saja
selesai mereka makan, lalu berlari keluar, menuju arah mobilnya dan mendapati
Arana tengah berdiri di sampin pintu mobilnya, karna pintu mobil Steven
terkunci.
Steven memencet kunci tombol mobilnya. Arana yang mendengar
suara tombol kunci mobi terbuka dengan segera masuk ke dalam mobil lalu duduk.
Steven ikut masuk ke adalam mobil lalu duduk, namun tak menyalahkan mesin
mobilnya.
“Ara, sebenarnya kita mau kemana? Jelaskan padaku.” Steven
berbalik melihat ke arah Arana yang kini tengah duduk di sampinnya.
“Aku ingin ke rumah dukun. Aku ingin menggugurkan anak ini.”
Arana mengatakan itu tampa melihat ke arah Steven.
“Apa!” terkejut “ingin menggugurkan! Ara, apa kamu sadar
yang ingin kamu lakukan?” Steven nampak terlihat begitu sangat kesal mendengar
Arana yang ingin menggugurkan kandungannya, dan entah apa yang membuatnya
terlihat kesal seperti itu.
“Iya, aku sadar ingin melakukannya. Tak ada cara lain lagi
yang bisa ku lakukan selain melakukan itu.” Arana meneteskan air matanya ketika
mengatakan itu.
“Ara, apa tak ada cara lain? Melakukan ini sangat berbahaya
untuk keselamatan nyawamu.” Steven melihat ke arah Arana yang kini tengah
meneteskan air mata.
Steven melihat Arana mengeluarkan air mata, terliha begitu
sangat sedih tidak tau dengan apa yang tengah di rasakannya saat ini, sampai
tak menyadari tangannya menyentuh wajah Arana dan mengusap butiran air mata itu
dengan kedua tangannya.
“Ara, sebelum melakukan ini, kamu harus memikirkannya dengan
sangat matang. Takut nantinya kamu akan menyesal dengan apa yang telah kamu
lakukan” Steven masih memegan wajah Arana ketika mengatakan itu.
“Sudah tak ada cara lain lagi Stev, hanya itu satu-satunya
jalan keluar yang harus aku pilih.”
“Apa kamu begitu sangat yakin ingin melakukan ini Arana?”
Steven mengulang kembali kata-katanya.
“Aku harus bagaimana Stev?” menangis sesegukan “Semua jalan
keluar untukku sudah tertutup, apakah aku harus mengakhiri hidupku dan tak
melakukan ini? Ha, katakan padaku Stev, apa yang harus aku lakukan? Huhuhu.”
Arana menangis sesegukan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya “Aku malu!
Apa yang akan di pikirkan semua orang tentangku dan seluruh anggota keluargaku.
Karna kehamilan ini akan membawa aib untuk semuanya. Huhuhu.”
“Kamu kan bisa meminta pertanggun jawaban dari Ayah anak
yang tengah kamu kandung itu.” Steven masih mencoba untuk meyakinkan Arana agar
tidak melakukan hal itu.
“Hem, andai saja aku bisa melakukannya.” Tertawa,
menertawakan dirinya sendiri “Sudahlah Stev, kalau kamu ingin mengantarku ke
sana, sekarang kita jalan, tapi kalau kamu tak ingin menemaniku ke sana, ya
sudah, aku turun di sini saja.” Arana berbalik dan ingin membuka pintu mobil
Steven. Namun belum empat Arana membuka pintu mobil dengan segera Steven
berkata.
“Arana, tunggu, aku akan mengantarmu ke sana ke tempat
dimana kamu ingin pergi.” Steven menarik tangan Arana ketika melihatnya ingin
turun dari mobilnya.
Mendengar kata yang keluar dari mulut Steven yang ingin
mengantarnya ke rumah Dukun, Arana kembali memperbaiki duduknya sama seperti
semula. Sementara Steven mulaimelajukan mobilnya menuju arah alamat yang di
berikan Arana kepadanya.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah dukun Steven tak
berhenti merasa tidak nyaman, bahkan merasa sangat gelisa mendengar semua yang
ingin Arana lakukan terhadap kandungannya. Karna merasa begitu sanngat gelisa
Steven kembali berkata.
“Arana, apa kamu yakin ingin melakukan ini?” Steven berbalik
melihat ke arah wajah Arana ketika mengatakan itu.
“Aku yakin Stev, meskipun sebenarnya?... ah sudalah.mungkin
ini memang harus terjadi.” Arana menundukkan wajahnya ketika mengatakan itu.
Mendekati rumah dukun perasaan Steven semakin tak karuan,
sesekali melihat ke arah Arana yang kini tengah melihat ke arah depan lalu
pokus kembali melihat ke arah jalanan.
Steven merasa tak rela, bila Arana melakukan hal ini, rasa
cemas, rasa gelisah semua mulai menghampiri hati Steven, Steven juga tak
menegrti dengan perasaan yang tengah di rasakannya.
“Ahh, kenapa? kenapa hatiku begitu tidak rela membiarkan Arana melakukan hal itu, sunghuh aku tidak rela.” Steven membatin.
Steven mematikan mobilnya tepat di depan rumah dukun
tersebut, lalu kembali melihat ke arah Arana yang mulai ingin turun dari
mobilnya.
“Ara, apakamu begitu sangat yakin ingin melakukan hal ini?”
steven kembali mengulang kata-katanya.
“Iya, Stev, aku yakin karna ini adalah jalan yang terbaik.” Tersenyum
di paksakan “Aku mau masuk, apa kamu mau ikut?” Arana menatap wajah Steven
ketika mengatakan itu.
“Masuklah, nanti aku akan menyusulmu.”
Arana keluar dari mobil, lalu berjalan masuk ke dalam rumah
dukun tersebut, di dalam rumah dukun Arana tak sengaja berpapasan dengan
seorang gadis yang baru saja melakukan hal itu, wanita itu terlihat begitu
sangat kesakitan terlihat dari wajahnya dan juga suara ringgisannya yang selalu
terdengar hingga sampai di pintu rumah dukun tersebut, di dampingi oleh seorang
pemuda di sampinnya, dan mungkin itu adalah pemuda yang tengah menghamilinya
dan tak mau bertanggun jawab dan memilih untuk menggugurkannya itulah yang ada
dalam pikiran Arana saat ini.
Dengan langkah pelan Arana berjalan masuk ke dalam ruangan
yang biasa dukun itu lakukan. Arana bergidik ngeri ketika melihat dukun itu
membawa ember yang berisi dengan cairan yang berwarna merah keluar dari ruangan
tersebut.
Setelah selesai membicarakan semuanya dengan dukun kini
Arana tengah terbaring di atas tempat tidur, sementara dukunnya mulai
memprsiapakan alat yang akan ia gunakan.
Sementara di depan rumah dukun Steven tak berhenti melawan
rasa gelisa yang mulai menusuk seluruh rongga tubuhnya.
“Ah, apa yang terjadi denganku? Kenapa aku seperti ini? Perasaanku
mengatakan kalau Arana tak boleh melakukan hal itu. Iya Arana tidak boleh
menggugurkan janinnya, aku harus mencegahnya.” Tampa berpikir panjang lagi
Steven berlari masuk ke dalam rumah dukun tersebut.
“Arana, kamu dimana?” Steven berteriak kencang di dalam
rumah dukun karan tidak menemukan siapapun.
Dukun yang mendengar suara teriakan Steven, keluar dari
ruangannya yang di tempati Arana tengah terbaring..
ika widya
alhasil skrg menderita hati dah 🤪🤪
aq dah baca sinopsis, MW mau ralat dikit ya Thor🤭
usia kuliah S1 itu kalo dari tamat SMA itu rata2 18-22 tahun. kl udah 23 berarti mahasiswa abadi 😂