Jika saja bisa memilih, Yasmine tidak ingin menjadi istri ke dua. Tapi bagaimana saat ia sendiri tak tahu kalau ternyata calon suaminya mengalami kecelakaan dan meninggal.
Yang akhirnya membuat sahabatnya-Alifa meminta pada suaminya-Alfin, untuk menggantikan calon suami Yasmine yang sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Ini adalah mimpi buruk bagi Yasmine.
Setelah dua kali gagal menjalani hubungan, ternyata ke tiga kalinya pun tak sampai ke pelaminan. Justru harus berkahir dengan orang yang tak ia inginkan.
Lalu, bagiamana kehidupan Yasmine selanjutnya? Apakah ia bisa menerima takdirnya yang menjadi madu dari Sahabatnya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 015 # Mama Dan Papa Datang
Mama Widia dan Papa Zaenal sudah siap untuk pergi. Mereka berdua akan pergi ke rumah Alifa. Mama Widia membawa semur ayam, makanan kesukaan Alifa dan Yasmine.
Pagi-pagi sekali mereka berangkat, agar bisa sarapan bersama dengan dua anak dan menantunya itu. Sekalian ingin menengok bagaimana keadaan Yasmine yang terakhir kali mereka lihat sangat sedih.
"Sudah siap semua Ma?!" Tanya Papa Zaenal pada istri nya yang kini berdiri di sebelah meja makan. Membuka dan menutup kembali tote bag yang sudah Mama Widia siapkan dari tadi.
"Sudah. Ih Papa lama banget. Keburu dingin nanti." Ujar Mama Widia.
Papa Zaenal tersenyum, "lagian ini baru jam setengah enam, memangnya siapa yang mau sarapan jam segini." Papa Zaenal gemas dengan Istrinya itu.
Alifa dan Yasmine adalah sahabat dari kecil. Karena Ayah Ilyas dan Papa Zaenal yang bersahabat dari mereka masih SMA. Hingga menikah dan para istri mereka pun bersahabat. Sampai akhirnya anak-anak mereka pun melanjutkan persahabatan itu.
Jadi kasih sayang mereka ke Alifa dan Yasmine sama-sama besar.
"Sudah ayo, Mama mau ngobrol dulu sama dua anak mama juga Alfin, kalau kesiangan keburu Alfin berangkat. Apalagi Papa tahu sendiri 'kan kalau Yayas juga sudah kembali mengajar." Kata Mama sembari berjalan mendahului Papa yang masih berdiam di sana.
Papa mengangguk walaupun istrinya tidak melihat dirinya. Lantas Papa Zaenal mengikuti langkah istrinya itu.
...***...
Jalanan pagi di ibu kota begitu lancar. Tak butuh waktu lama dari rumah Papa Zaenal untuk sampai di rumah Alfin.
Mobil Papa Zaenal memasuki halaman luas tanpa pagar itu, memakirkan mobil nya di sebelah mobil Yasmine.
Keduanya lantas turun, Mama Widia bahkan begitu semangat. Ia turun terlebih dahulu sebelum Papa turun. Mengetuk pintu dan tak lama pintu sudah di bukakan oleh Mbak Ina.
"Assalamu'alaikum, In," sapa Mama Widia.
"Wa'alaikumsallam, Ibu, Bapak ... Silahkan," Mbak Ina menyilakan masuk kedua orang tua dari bosnya itu.
"Sudah pada turun belum, In?!" Tanya Mama Widia sembari berjalan ke dalam.
Sedang Papa Zaenal mengikuti langkah istri nya itu.
"Belum, Bu." Jawab Mbak Ina di belakang Papa Zaenal.
Mama Widia lantas menaruh makanan yang ia bawa di meja makan. Berjalan ke dapur untuk mengambil wadah. Menyiapkan masakan yang ia bawa, menaruh nya di beberapa wadah. Karena masakan yang Mama Widia lumayan banyak.
"Ibu, bawa apa?!" Tanya Mbak Ina, ia membantu Ibu dari bosnya itu.
"Semur ayam, nanti kamu coba juga ya In. Rasanya beda dari biasanya." Ujar Mama Widia.
"Pasti kali ini lebih enak dari biasanya ya bu." Ucap Mbak Ina.
"Pasti, dong." Seloroh Mama Widia bangga.
Papa Zaenal yang tadi sudah duduk di ruang keluarga berjalan mendekat keruang makan.
"Mbak, In. Itu kamar bawah lampunya nyala, apa Yayas masih tidur di kamar bawah?!" Tanya Papa Zaenal. Pasalnya kemarin waktu dirinya bertemu dengan Alifa dan besan nya di makam Reyhan. Dan pulangnya mereka membahas Yasmine dan kehidupan mereka bagaimana. Alifa bercerita kalau Yasmine sudah mulai ke Sekolah dan meminta untuk tidur di kamar tamu.
"Iya, Pak. Mbak Yasmine masih di kamar tamu." Jawab Mbak Ina.
Mama Widia menghela napas pelan. "Mungkin Yayas nyaman di sana, Pa."
Papa mengangguk. Lantas kembali ke ruang keluarga dengan Mama Widia yang sudah selesai menyiapkan sarapan. Kebetulan Yasmine juga baru keluar dari kamar. Kedua paruh baya itu menoleh saat mendengar suara pintu di buka dan di tutup.
"Yas?!" Panggil Mama Widia.
"Mama!" Yasmine berjalan cepat dari depan kamarnya. Langsung memeluk tubuh Mama Widia.
"Apa, kabar Sayang?!" Tanya Mama Widia sembari memeluk Yasmine.
"Baik, Ma." Jawab Yasmine.
"Syukurlah." Ujar Papa Zaenal.
Yasmine lantas mengurai pelukannya, lantas menatap Papa Zaenal kesal. "Kenapa semua menanyakan bagiamana Yayas, apa Yayas se begitu mengkhawatirkan bagi kalian?!"
Papa Zaenal tersenyum, "jelas Papa khawatir sama kamu, Yas. Papa takut kamu masih meratapi kesedihan dan lupa pada Yang Kuasa."
"Enggak, Pa. Di sekeliling Yasmine itu adalah orang-orang hebat. Jadi Yayas tidak mungkin sedih terlalu lama. Lihatlah Yayas sekarang bisa tersenyum lebar 'kan?!" Ujar Yasmine dengan melebarkan senyumnya.
Mama Widia kembali memeluk Yasmine. "Mama bawa semur ayam loh, Yas."
"Benarkah?!" Tanya Yasmine dengan raut wajah yang begitu senang.
"Benar dong. Mama mau lihat Yasmine sarapan dengan lahap. Kalau perlu nanti Mama suapi." Ujar Mama.
Ah, begitu baiknya orang-orang di samping Yasmine. Membuatnya terharu.
Tak lama setelah Yasmine duduk dan ngobrol dengan Mama Widia dan Papa Zaenal. Alifa dan Alfin turun.
"Loh, ada Mama sama Papa, kok Lifa nggak di panggil?!" Alifa mendekat ke arah kedua orangtuanya. Lantas menyalami mereka berdua dengan takzim. Begitu Juga Alfin.
"Orang, Mama dan papa ke sini mau nengok aku!" Jawab Yasmine.
"Iya, iya. Semua memang Yasmine." Seloroh Alifa sembari tertawa.
Alfin lantas duduk di sebelah Alifa, "sudah lama Ma, Pa?!" Tanya nya.
"Lumayan lah, Al. Mama kamu tuh nyuruh buat pagi-pagi banget ke sini." Ujar Papa.
"Ya, 'kan mau nganter sarapan, masak ke sini siang, ya nanti cuma ketemu sama Alifa doang." Jelas Mama Widia.
"Hehehe, iya. Iya. Ampun deh, kalau Mama sama Papa udah debat bakalan lama. Mama bawa apa memangnya?!" Tanya Alifa dengan senyum lebar. Ia melihat Yasmine duduk dengan bibir yang sedikit tersenyum di sebelah Mama Widia.
"Semur ayam, Sayang. Kesukaan kalian berdua." Jawab Mama.
"Mmm ... Ma, Pa, Yayas ganti baju dulu ya, sekalian nanti habis sarapan langsung berangkat. Yasmine mau berangkat pagi soalnya." Ujarnya sembari berdiri. Padahal kenapa ia berangkat pagi, karena ia ingin mampir lagi ke makam Reyhan.
Mama Widia dan semuanya memperhatikan kepergian Yasmine. "Kamu sudah suruh Yasmine tinggal di kamar atas 'kan Lif?!" Tanya Mama Widia pada anaknya setelah pintu kamar Yasmine tertutup.
"Sudah, Ma. Tapi, Yasmine belum mau. Dia sudah nyaman di sana, katanya." Jawab Alifa lesu.
"Ya, tidak masalah sih. Kalau tidak mau. Kita tidak memaksa juga 'kan?!" Ujar Ayah.
...***...
Kini ke-lima manusia itu sudah duduk di ruang makan. Sama-sama menikmati sarapan ber-lauk semur ayam yang kata Yasmine, "ini enaaaak, banget Ma," begitu ucap Yasmine.
Alfin tersenyum melihat tingkah Yasmine. Padahal biasanya ia tak perduli. Bahkan tak melihat sama sekali, bahkan kadang-kadang ia juga kesal dengan keberadaan Yasmine yang menurutnya berisik dan mengganggu. Tentu saja mengganggu dirinya untuk bersama dengan Alifa.
"Jelas enak dong, Mama." Mama Widia begitu bangga, menepuk dadanya dengan senyum yang lebar.
Alifa melihat Yasmine sudah kembali seperti sebelumnya dan itu membuatnya ia tersenyum lebar dan bahagia. Dalam hati Alifa berdoa, semoga ini adalah awal yang baik.
selalu sehat dan selalu semangat up nya iya Thor 🙏💪💪💪