NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:933
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Malam turun perlahan di sudut kota Jakarta, membawa hawa dingin yang tipis di antara sisa panas siang yang belum sepenuhnya hilang.

Restoran tempat Genesis bekerja kini mulai lenggang, kursi-kursi sudah diangkat, meja dilap bersih, dan suara peralatan dapur yang beradu menjadi penanda bahwa hari hampir berakhir.

Di sela-sela waktu kosongnya, Genesis menjalani pekerjaannya sebagai pelayan paruh waktu dengan tekad yang tak pernah goyah. Ia tidak pernah mengeluh, karena di balik semua itu ada satu tujuan sederhana yang terus ia pegang erat, tujuannya membuat ibunya, Naura, hidup lebih layak, meskipun hanya dalam batas yang bisa ia capai.

Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai, Genesis berdiri di sudut dapur dengan kotak makan kosong di tangannya. Ia membuka tutupnya perlahan, lalu mulai memasukkan makanan sisa yang masih layak dengan gerakan hati-hati, seolah yang ia kumpulkan bukan sekadar sisa, melainkan sesuatu yang berharga.

Ia memilih bagian yang masih terlihat baik, merapikannya dengan teliti, lalu menutup kotak itu dengan napas yang sedikit berat.

“Semoga ibu suka… walau cuma ini yang bisa gue bawa pulang hari ini…” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun yang mungkin mendengar.

Seorang koki yang sedang membersihkan peralatan melirik sekilas ke arahnya, lalu bertanya dengan nada datar, “Masih aja lo bawa pulang itu makanan sisa?”

Genesis hanya membalas dengan senyum tipis tanpa merasa perlu menjelaskan lebih jauh.

“Daripada dibuang kan, mending gue bawa.” Jawabnya singkat, menutup percakapan tanpa membuka ruang untuk pertanyaan lain.

Baginya, tidak semua hal harus dijelaskan, terutama ketika orang lain tidak benar-benar perlu tahu alasan di baliknya. Yang penting baginya sederhana, ibunya bisa makan malam ini.

Genesis menggantungkan jaket lusuhnya di bahu sebelum melangkah keluar dari restoran. Udara malam menyambutnya dengan dingin yang samar, membuatnya menarik napas lebih dalam sebelum mulai berjalan pulang. Jalanan tidak seramai sebelumnya, hanya beberapa kendaraan yang melintas dengan suara yang memudar di kejauhan.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi bayangan ibunya yang menunggu di rumah, duduk di kasur tipis dengan tubuh yang semakin lemah.

“Ibu pasti udah nunggu dari tadi,” gumamnya pelan, tanpa sadar mempercepat langkahnya seolah jarak yang tersisa bisa ia pangkas hanya dengan keinginan.

Gang sempit menuju rumahnya mulai terlihat, diterangi lampu-lampu kecil dari rumah warga yang menyala redup. Suara televisi terdengar samar dari beberapa rumah, bercampur dengan percakapan pelan yang menjadi latar kehidupan malam di lingkungan itu.

Namun, saat Genesis sampai di depan rumahnya, langkahnya melambat tanpa alasan yang jelas. Ada sesuatu yang terasa berbeda, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, hanya sebuah rasa kosong yang tiba-tiba mengisi dadanya. Rumah itu tampak sama seperti biasanya, tapi suasananya… terlalu sunyi.

“Bu… aku pulang,” ucapnya sambil mengetuk pintu pelan, menunggu respons yang biasanya datang meski hanya berupa suara lemah.

Tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras, berharap ibunya hanya tertidur lebih lelap dari biasanya.

“Bu?” panggilnya sekali lagi, alisnya mulai berkerut ketika keheningan tetap menjawabnya.

Perasaan tidak nyaman mulai merambat perlahan, memaksanya membuka pintu tanpa menunggu lebih lama.

Bau lembap langsung menyambutnya saat ia melangkah masuk, rumah itu gelap dengan hanya sedikit cahaya dari luar yang menembus celah pintu.

“Ibu?” panggilnya lagi, suaranya kini lebih pelan, seolah takut mengganggu sesuatu yang tidak terlihat.

Ia berjalan menuju kamar dengan langkah yang semakin hati-hati, kotak makanan masih tergenggam erat di tangannya.

Pintu kamar terbuka sedikit, cukup untuk memperlihatkan bayangan di dalamnya, dan saat Genesis mendorongnya lebih jauh, langkahnya langsung terhenti.

Naura terbaring di atas kasur tipis, tubuhnya diam tak bergerak sedikit pun.

“Ibu…?” suara Genesis nyaris tak terdengar saat ia mendekat, jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan yang ingin ia akui.

Ia mengulurkan tangan, menyentuh pundak ibunya dengan ragu, lalu membeku seketika saat dingin itu merambat ke ujung jarinya.

“Bu… Ibu? Bangun…” ucapnya, mencoba mengguncang pelan, seolah itu cukup untuk membangunkan seseorang yang hanya tertidur. Namun tidak ada respons, tidak ada napas, tidak ada apa pun yang kembali padanya.

Kotak makanan itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, isinya tumpah tanpa ia pedulikan.

“Bu… aku pulang…” suaranya mulai bergetar, berubah menjadi permohonan yang tidak ingin ia sadari.

Ia mengguncang tubuh itu sedikit lebih kuat, berharap keajaiban kecil yang selama ini selalu ia yakini akan kembali terjadi. “Ibu bilang mau nunggu aku, kan…?” lanjutnya, suaranya pecah di tengah kalimat, terpotong oleh kenyataan yang perlahan menghancurkannya.

Dalam benaknya, suara lain mulai muncul, menolak menerima apa yang ada di depan mata.

'ini nggak mungkin… gue baru pulang… ibu harusnya nunggu gue…'

“Ibu… jangan begini… tolong…” bisiknya semakin lemah, hingga akhirnya berubah menjadi teriakan yang pecah tanpa kendali.

Ia berlutut di samping kasur, memeluk tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa, sementara tangisnya keluar tanpa bisa ditahan lagi.

“Bu… aku belum sempat… aku belum bikin Ibu bahagia…” katanya terputus-putus, seolah setiap kata membutuhkan tenaga yang tersisa dari dirinya.

Malam itu terasa berhenti, seolah dunia menolak bergerak lebih jauh sejak saat itu terjadi.

...----------------...

Pemakaman berlangsung sederhana keesokan harinya, dihadiri warga sekitar yang datang dengan empati yang tidak bisa menggantikan apa pun yang telah hilang.

Genesis berdiri di sana tanpa banyak bicara, matanya kosong saat tanah mulai menutupi tubuh Naura untuk terakhir kalinya. Suara sekop yang menghantam tanah terdengar pelan namun berat, seolah setiap gumpalan tanah membawa sesuatu yang ikut terkubur bersamanya.

Seseorang menepuk bahunya dan berbisik agar ia bersabar, namun Genesis tidak memberikan respons apa pun selain tatapan kosong yang tidak benar-benar melihat.

...----------------...

Hari-hari setelah itu berjalan tanpa arah, meninggalkan Genesis dalam ruang yang terasa semakin sempit setiap harinya. Rumah kecil itu menjadi lebih sunyi dari sebelumnya, bukan karena tidak ada suara, tetapi karena tidak ada lagi yang ia tunggu.

Ia tetap menyiapkan dua piring di meja makan, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk seseorang yang tidak akan pernah duduk di sana lagi.

“Bu… makan dulu, ya…” ucapnya pelan suatu malam, menatap kursi kosong dengan harapan yang tidak lagi masuk akal.

Waktu terus berjalan, tapi tidak untuk Genesis. Ia jarang keluar rumah, menutup diri dari dunia luar yang terasa terlalu asing tanpa kehadiran ibunya. Beberapa warga datang mencoba membantu, membawa makanan atau sekadar mengajak bicara, namun semua itu tidak benar-benar sampai padanya.

Senyum tipis yang ia berikan hanyalah kebiasaan, bukan tanda bahwa ia benar-benar mendengar atau peduli. Di dalam kepalanya, semuanya terasa kabur, bercampur antara ingatan, harapan, dan sesuatu yang mulai kehilangan bentuk.

......................

Satu minggu berlalu tanpa perubahan berarti. Genesis duduk di lantai dengan punggung bersandar pada dinding, menatap pintu rumah yang tertutup seolah itu adalah satu-satunya hal yang masih menghubungkannya dengan dunia luar.

Ia merasa lelah, tapi tidak bisa tidur, seolah tubuhnya menolak beristirahat tanpa alasan yang jelas. Kadang-kadang ia merasa mendengar sesuatu, seperti langkah kaki, batuk pelan, atau suara yang terlalu ia kenal untuk diabaikan.

“Ibu…?” panggilnya suatu malam sambil berdiri, berjalan mendekati pintu dengan harapan yang muncul tanpa izin.

Tangannya menyentuh gagang pintu, tapi berhenti sebelum benar-benar membukanya. Tidak ada siapa-siapa di luar, dan ia tahu itu, tapi tetap saja ada bagian dalam dirinya yang berharap sebaliknya.

Ia tertawa pelan, suara yang terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.

'Gue mulai gila ya…' pikirnya singkat, sebelum kembali duduk di tempat semula.

Matanya kembali tertuju pada pintu itu, seolah seluruh hidupnya kini bergantung pada kemungkinan kecil yang tidak pernah datang.

Malam semakin larut, dan untuk pertama kalinya sejak kepergian itu, Genesis berbisik pelan dengan suara yang hampir tak terdengar. “Ibu… pulang, ya…” ucapnya, tanpa tahu kepada siapa ia berbicara.

Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang kembali memenuhi ruangan kecil itu. Namun Genesis tetap menunggu, karena dalam dunianya yang kini retak, menunggu adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia lakukan.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!