NovelToon NovelToon
Pendekar Muda

Pendekar Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHENINGAN

Hening.

Hanya suara angin malam yang berbisik di antara nisan-nisan.

Bima masih duduk.

Tangan kirinya mencengkeram tanah di atas makam pamannya.

Kuat.

Seolah itu satu-satunya hal yang menahannya… agar tidak runtuh.

“…monster ya…” gumamnya pelan.

Kepalanya tertunduk.

Dada itu kembali sesak.

Lebih dalam.

Lebih tajam.

Namun kali ini…

bukan karena kehilangan saja.

Ada sesuatu yang lain.

Tertanam.

Menggeliat.

“…kalau aku monster…”

Tangannya makin menekan tanah.

“…kenapa rasanya sakit begini…?”

Angin berhenti sejenak.

Sunyi.

Tiba-tiba

“…karena kau masih manusia.”

Suara itu muncul.

Tenang.

Dalam.

Bima langsung mengangkat kepala.

Matanya menyapu sekitar.

“…siapa?!”

Di balik bayangan pohon…

sebuah sosok berdiri.

Tidak membawa aura gelap.

Tidak menekan.

Namun…

anehnya terasa lebih berat.

Ia melangkah maju.

Perlahan.

Wajahnya samar.

Namun sorot matanya tajam.

“…kau tidak perlu tahu siapa aku.”

Bima berdiri perlahan.

Tatapannya waspada.

“…kalau bukan musuh…”

“…jangan muncul sembarangan.”

Sosok itu tersenyum tipis.

“Kalau aku musuh…”

Ia berhenti beberapa langkah dari Bima.

“…kau sudah mati dari tadi.”

Hening.

Bima tidak membalas.

Namun auranya mulai naik.

Siap.

Sosok itu menatap makam di belakang Bima.

Lalu kembali ke arah Bima.

“…mereka sudah mulai bergerak.”

“…aku tau.”

jawab Bima dingin.

“…dan kau masih di sini.”

Bima menyipitkan mata.

“…maksud mu?”

Sosok itu mendekat sedikit.

“Kalau kau tetap di desa ini…”

“…yang mati berikutnya… bukan hanya satu.”

Kalimat itu jatuh.

Berat.

Bima membeku.

Angin kembali berhembus.

Namun terasa dingin.

“…ancaman?” tanya Bima rendah.

Sosok itu menggeleng.

“peringatan.”

Hening.

Beberapa detik.

“mereka yang tadi…”

“hanya pembuka.”

Tatapan Bima berubah.

“yang di hutan…”

“yang barusan…”

“dan yang akan datang…”

Sosok itu menatap lurus.

“…itu bahkan belum separuh.”

DUUUMM…

Seolah jantung Bima berdetak lebih keras.

Tangannya mengepal.

“apa yang mereka incar dari aku…?”

Sosok itu diam.

Sebentar.

Lalu…

“apa yang terkunci di dalam dirimu.”

Bima menatap tajam.

“dan kalau itu terbuka…”

Sosok itu menoleh ke arah langit gelap.

“Bukan hanya mereka yang akan datang.”

Hening.

Bima mengingat kata Gurunya.

Kunci.

Napasnya berat.

“terus aku harus apa?”

Sosok itu kembali menatapnya.

“pergi.”

Jawaban itu singkat.

“tinggalkan tempat ini.”

Bima terdiam.

Menoleh ke arah makam pamannya.

Sunyi.

“Aku baru kehilangan…” Suaranya pelan.

“Dan sekarang aku harus meninggalkan semuanya?”

Sosok itu tidak menjawab langsung.

“kalau kau tetap di sini…”

“kau akan kehilangan lagi.”

Hening.

Angin malam berhembus lebih kencang.

Beberapa detik berlalu.

Bima menutup mata.

Ingatan kembali muncul, Tawa pamannya, Nasihatnya.

Dan… pengorbanannya.

Perlahan…

Bima membuka mata.

Tatapannya berubah, lebih dalam, ebih matang.

“kalau aku pergi…”

Ia menatap lurus dan memikirkannya dengan matang

“Aku nggak akan lari lagi,”

“dimana pun aku berada mereka akan mencari ku.”

“dan mengacurkan orang di sekitar ku,”

“maka akan aku akhir pencarian mereka di sini.” ucapnya dengan nada yang tenang.

Sosok itu mengerutkan dahinya.

“kau keras kepala.”

Dia kembali tersenyum tipis.

“bagus lah ternyata dia sudah bisa mengendalikan amarahnya yang ada dalam dirinya.” gumamnya

Tubuhnya mulai memudar.

“bersiaplah...”

“karena perjalananmu… baru dimulai.”

“tunggu!” ucap bima

Bima melangkah.

“siapa kau sebenarnya?!”

Sosok itu berhenti sejenak.

Tanpa menoleh…

ia menjawab pelan.

“orang yang gagal… melindungi yang seharusnya.”

WUSSH

Ia menghilang.

Hening kembali.

Bima berdiri sendiri, di depan makam.

Angin malam berhembus, namun kali ini…

tidak terasa kosong.

Bima menatap nisan pamannya, Lama.

“aku pulang ya, paman…”

Tangannya menyentuh tanah itu.

Pelan.

Ia berdiri dan berbalik, lalu melangkah pergi.

Di kejauhan… langit mulai berubah.

Gelapnya tidak biasa.

Seolah…

sesuatu sedang menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!