NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 018

Minggu pagi biasanya adalah waktu sakral bagi Ziva untuk melakukan ritual "menjadi lumut"—diam, tak bergerak, dan menyatu dengan kasur hingga matahari tepat di atas kepala. Namun, hari ini, alarm ponselnya berbunyi dengan kejam tepat pukul delapan pagi.

Ziva mengerang, berguling ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya menyerah. Ia duduk di pinggir kasur dengan rambut yang mekar sempurna seperti singa. Matanya tertuju pada pulpen perak A.E yang tergeletak di nakas. Benda itu seolah sedang mengawasinya, mengingatkan bahwa dua jam lagi, si pemilik pulpen akan datang menjemput.

"Huft... Zura, sadar. Lo bangun pagi demi masa depan proyek Biologi, bukan demi kencan," gumamnya, mencoba meyakinkan diri sendiri meski jantungnya mulai memberikan sinyal-sinyal pengkhianatan.

Pukul 09:45

Ziva sudah siap. Ia memilih pakaian yang paling nyaman: sweater rajut tipis berwarna cream, celana jeans longgar, dan sepatu kanvas putih. Tidak ada dress mewah, tidak ada riasan berlebihan. Hanya polesan lip balm tipis yang membuatnya terlihat segar secara alami.

Tepat lima belas menit sebelum waktu yang dijanjikan, suara deru mesin yang sangat ia kenal berhenti di depan rumah.

"Aduh, anak itu disiplin banget sih," gerutu Abian yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur sambil memegang gelas kopi. "Zee, pangeran lo udah dateng. Buruan keluar sebelum dia lumutan atau sebelum gue ajak tanding basket lagi."

Ziva menyambar tas selempangnya. "Bang, jangan macem-macem! Gue cuma mau ke toko buku bekas, bukan mau tanding!"

"Iya, iya. Hati-hati. Jangan lupa pulang bawa martabak lagi!" teriak Abi saat Ziva melangkah keluar.

Di depan pagar, Aksa sudah menunggu di atas motornya. Pagi ini ia terlihat sedikit berbeda. Ia mengenakan jaket denim gelap di atas kaos hitam, memberikan kesan yang lebih santai namun tetap tidak mengurangi aura dinginnya.

Aksa memperhatikan Ziva yang berjalan mendekat. Matanya sedikit tertahan pada wajah Ziva yang bersih tanpa riasan. "Tepat waktu," ucapnya pendek saat Ziva sampai di depannya.

"Gue nggak mau dijatah 'jemput paksa'," sahut Ziva sambil menerima helm hitam dari tangan Aksa. "Ayo cabut, sebelum Bang Abi keluar bawa bola basket."

Aksa mendengus pelan—reaksi yang bagi Ziva adalah kemenangan besar karena berhasil membuat cowok itu sedikit berekspresi.

Mereka tidak langsung ke perpustakaan kota. Aksa membawa Ziva ke sebuah gang kecil di daerah pusat kota tua. Di sana, terdapat sebuah toko buku dengan papan nama kayu yang sudah mulai lapuk bertuliskan "Pojok Literasi Tua".

Begitu masuk, aroma kertas lama dan debu tipis menyambut mereka. Tempat itu sunyi, hanya ada suara kipas angin tua yang berputar pelan dan denting lonceng kecil di pintu.

"Liana mana?" tanya Ziva sambil menyapu pandangan ke tumpukan buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit.

"Dia bakal nyusul jam sebelas. Langsung ke perpus," jawab Aksa. Ia berjalan menuju rak bagian sains dan arsitektur. "Gue mau cari buku referensi buat tugas Pak Surya dulu sebentar. Lo cari apa?"

"Ehm... Klasifikasi Tumbuhan, sesuai draf Liana," jawab Ziva. Ia mulai menelusuri rak bagian Biologi.

Anehnya, setiap kali Ziva kesulitan menjangkau buku di rak yang agak tinggi, sebuah tangan panjang tiba-tiba muncul dari belakangnya dan mengambilkan buku tersebut. Aksa selalu ada di sana, tanpa suara, menjadi asisten dadakan yang sangat efisien.

"Yang ini?" tanya Aksa, menyodorkan buku bersampul hijau kusam.

"Eh, iya. Makasih, Sa." Ziva menerima buku itu, namun tangannya tak sengaja bersentuhan dengan jari Aksa yang dingin. Ia segera membuang muka, berpura-pura sibuk membaca daftar isi.

"Ziva."

"Ya?"

Aksa menatapnya dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. "Lo... beneran udah nggak nungguin Reygan?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membuat suasana di antara rak buku itu mendadak jadi tegang. Ziva menutup bukunya perlahan. Ia menarik napas panjang.

"Aks, di dunia gue yang sekarang, Reygan itu cuma... masa lalu yang gue lupa cara bacanya. Gue cuma pengen hidup tenang.

Tidur yang cukup, makan enak, dan temenan sama orang yang nggak bikin gue pusing."

Ziva menatap Aksa balik. "Termasuk lo. Lo nggak bikin gue pusing."

Aksa terdiam. Ia baru saja hendak membalas saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Kenan.

[Kenan]: Bos, lo di Toko Buku Tua kan? Gue liat mobil Reygan di deket sana. Dia kayaknya lagi nyariin lo berdua. Hati-hati, tuh orang auranya lagi kayak pengen meledak.

Di luar toko, Kenan dan Vino yang sedang nongkrong di kafe seberang jalan memang melihat mobil Reygan berputar-putar di area tersebut.

"Duh, si Reygan ini beneran nggak punya kerjaan apa ya hari Minggu?" gerutu Vino.

"Padahal Liana udah bilang dia mau ke perpus, tapi Reygan malah ngincer Aksa sama Ziva."

"Ego, Vin. Ego," sahut Kenan. "Dia merasa barang miliknya diambil orang, padahal dia sendiri yang dulu buang-buang. Sekarang dia baru sadar kalau barang itu ternyata permata."

Sementara itu, di dalam toko buku, Aksa memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ia menoleh pada Ziva yang masih asyik melihat-lihat koleksi novel tua di pojok lain.

"Ziv, kita pindah sekarang. Liana udah nunggu di perpus," ucap Aksa. Suaranya sedikit lebih rendah, tanda ia sedang waspada.

"Lho, bukannya jam sebelas? Ini masih setengah sebelas," protes Ziva.

"Ikut aja," Aksa menarik pelan ujung lengan sweater Ziva, menuntunnya keluar lewat pintu samping yang tembus ke area parkir belakang. Ia tidak ingin Ziva harus berhadapan dengan drama Reygan di hari Minggu yang tenang ini.

Aksa menuntun Ziva melewati lorong sempit di antara rak-rak tinggi yang berdebu. Langkah mereka teredam oleh tumpukan koran lama yang berserakan di lantai. Ziva bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang sedikit lebih cepat, bukan hanya karena langkah terburu-buru ini, tapi karena telapak tangan Aksa yang masih melingkar di pergelangan lengan sweater-nya.

Begitu sampai di pintu belakang yang berkarat, Aksa membukanya perlahan. Udara segar kota tua langsung menyapa wajah mereka.

​"Tunggu di sini sebentar," bisik Aksa. Ia mengintip ke arah jalan raya, memastikan mobil SUV perak milik Reygan tidak terlihat dari celah gang.

"Aka, lo kenapa sih? Kok kayak kita lagi dikejar penagih hutang?" Ziva mengerutkan kening, mencoba mengatur napasnya. "Gara-gara pesan tadi ya?"

​Aksa berbalik, menatap Ziva datar namun sorot matanya tidak bisa berbohong—ada sedikit kecemasan di sana. "Reygan ada di depan. Gue nggak mau hari Minggu lo rusak cuma gara-gara debat kusir sama dia."

​Ziva tertegun. Di kehidupan sebelumnya sebagai Zura, ia terbiasa menghadapi segalanya sendirian. Tidak ada yang pernah mengkhawatirkan apakah harinya akan rusak atau tidak. Melihat Aksa yang begitu protektif dengan cara yang tenang membuat sudut hati Ziva terasa menghangat.

"Aksa," panggil Ziva lembut.

​Aksa yang sedang memakai helm cadangan untuk Ziva berhenti sejenak. "Apa?"

​"Makasih."

Aksa tidak menjawab, ia hanya mengetatkan tali helm Ziva dengan gerakan canggung yang sangat maskulin. "Naik. Kita lewat jalan memutar ke perpustakaan kota."

Motor sport itu menderu rendah, melesat meninggalkan kawasan toko buku tua tepat saat mobil Reygan baru saja berbelok masuk ke area parkir depan toko. Reygan yang sedang menatap tajam ke arah pintu toko tidak menyadari bahwa orang yang dicarinya baru saja menghilang di balik tikungan gang sempit.

​Di atas motor, Ziva merasakan angin sepoi-sepoi menerpa tubuhnya. Ia menyandarkan sedikit kepalanya ke punggung Aksa. Rasanya sangat stabil. Ia teringat kembali ucapan Aksa di toko buku tadi. Kenapa Aksa tiba-tiba nanya soal Reygan?

​"Ziv!" suara Aksa terdengar dari balik helm.

​"Ya?!"

​"Jangan tidur! Pegangan yang bener, kita bakal ngebut dikit."

​Ziva tertawa kecil di balik helmnya. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Aksa, tidak lagi peduli dengan batasan-batasan canggung. Baginya, kenyamanan ini jauh lebih penting daripada aturan-aturan kaku di kepalanya.

Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di gedung Perpustakaan Kota yang megah. Dari kejauhan, tampak sosok Liana sedang duduk di bangku taman depan sambil memegang iced americano. Wajahnya tampak tegang, berkali-kali ia menatap layar ponselnya.

​Begitu Aksa memarkirkan motornya, Liana langsung berdiri dan berlari menghampiri mereka.

​"Kak Ziva! Kak Aksa! Akhirnya sampe!" Liana tampak ngos-ngosan.

​"Lo kenapa, Li? Kayak abis liat setan," tanya Ziva sambil melepas helm.

​"Bukan setan, Kak. Tapi Reygan... dia tadi nelepon aku terus-menerus. Dia nanya Kak Ziva di mana, dan suaranya... aneh banget. Kayak marah, tapi kayak bingung juga. Aku terpaksa bohong bilang aku sendirian di sini," bisik Liana cemas.

​Aksa meletakkan helmnya di atas tangki motor, lalu menatap Liana dan Ziva bergantian. "Dia nggak bakal berani macem-macem di perpus. Di dalam banyak CCTV dan petugas."

​Ziva menepuk bahu Liana, mencoba menenangkan. "Tenang, Li. Ada Aksa. Kalau Reygan macem-macem, tinggal kita kasih buku ensiklopedia paling tebel biar dia pingsan."

​Liana tersenyum getir, namun matanya tetap waspada. Di kejauhan, suara deru mobil yang sangat familiar mulai terdengar memasuki area parkir perpustakaan. Aksa menyadari itu. Ia langsung merangkul pundak Ziva, menuntun kedua gadis itu masuk ke dalam gedung dengan langkah mantap.

​"Ayo masuk. Drama Minggu ini... biar gue yang tanganin," gumam Aksa dingin.

​Sore itu, di bawah langit biru yang bersih, sebuah babak baru akan segera dimulai. Ziva tahu, meskipun ia ingin hidup malas dan tenang, ada beberapa pertempuran yang memang harus ia hadapi untuk benar-benar merdeka dari masa lalu.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!