Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. WATACI
Kemarahan Vivian rupanya sudah sampai di puncak. Setelah membanting pintu di depan Geby, ia tidak tinggal diam. Ia menggunakan koneksinya untuk mencari tahu di rumah sakit mana Nika dirawat dan segera menyusul ke sana dengan hati yang terbakar api cemburu.
Begitu sampai di depan kamar rawat, pemandangan di dalam sana membuat hatinya semakin panas. Ia melihat Adnan sedang menatap Nika dengan pandangan yang begitu lembut, tangannya mengusap rambut wanita itu dengan penuh kasih.
"Jadi sekarang kamu sudah jadi pahlawan untuknya, Adnan?" suara Vivian melengking, memecah kesunyian kamar.
Adnan segera berdiri dan menarik Vivian keluar dari kamar agar tidak membangunkan Nika. Di lorong rumah sakit yang sepi, perdebatan sengit pun pecah.
"Kenapa kamu ke sini, Vivian? Kamu sedang sakit, harusnya istirahat!" bisik Adnan dengan nada tertahan namun tegas.
"Istirahat? Bagaimana aku bisa tenang kalau asisten istrimu bilang kamu tidak bisa datang karena harus menjaga dia!" Vivian menunjuk ke arah pintu kamar Nika dengan telunjuk gemetar.
"Kamu lupa siapa aku? Kamu lupa janji kita?"
Adnan memijat pangkal hidungnya, merasa sangat pening. "Nika sedang dalam bahaya, Vivian. Dia trauma. Aku suaminya, aku punya tanggung jawab."
Vivian tertawa getir. "Suami? Pernikahan ini karena kamu cuma menebus budi, kan? Kamu sendiri yang bilang padaku kalau kamu tidak pernah mencintainya."
Adnan terdiam sejenak, wajahnya terlihat frustrasi. "Vivian, tolong jangan sekarang ..."
"Katakan padaku, Adnan! Katakan kalau semuanya tidak berubah!" desak Vivian sambil mencengkeram lengan Adnan.
"Katakan kalau walau kamu sudah menikah dengan dia, cintamu hanya untukku. Hanya untuk Vivian!"
Adnan menghela napas panjang, ia ingin perdebatan ini cepat berakhir agar Vivian tenang. "Iya, Vivian. Kamu tahu itu. Pernikahan ini tidak mengubah perasaanku. Cintaku memang hanya untukmu, bukan dia. Sekarang tolong, pulanglah."
Tanpa mereka sadari, beberapa langkah di belakang mereka, Elano berdiri mematung. Tangannya yang menjinjing tas berisi pakaian ganti untuk Nika mendadak lemas.
Setiap kata yang diucapkan Adnan barusan menghunjam jantungnya. Elano merasa sangat bodoh karena sempat mengira kakaknya akan mendapatkan kebahagiaan dari pria ini.
"Jadi ... semua perhatian tadi cuma sandiwara?" suara Elano terdengar bergetar di belakang mereka.
Adnan dan Vivian seketika menoleh dengan wajah pucat. Elano menatap Adnan dengan tatapan penuh kebencian dan kekecewaan.
Suasana di koridor rumah sakit mendadak membeku. Adnan melepaskan cengkeraman tangan Vivian dengan wajah pucat pasi.
"Elano, ini tidak seperti yang kamu dengar. Kakak bisa jelaskan," ucap Adnan melangkah maju, mencoba meraih bahu adik iparnya itu.
Namun, Elano menepisnya dengan kasar. Matanya menyala penuh amarah. "Cukup! Aku pikir Kakak benar-benar berubah, ternyata Kakak cuma akting di depan Kak Nika. Jangan dekati kakakku lagi!"
Elano langsung merangsek masuk ke dalam kamar rawat dan mengunci pintu dari dalam, meninggalkan Adnan yang terpaku dan Vivian yang tersenyum sinis merasa menang.
Keesokan paginya, suasana masih terasa sangat tegang. Setelah dokter melakukan pemeriksaan terakhir, Nika dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang.
Selama proses pengurusan administrasi hingga masuk ke mobil, Elano terus menempel pada Nika, memasang badan agar Adnan tidak bisa mendekat. Ia bersikap sangat ketus, bahkan tidak membiarkan Adnan membantu memegang tas Nika.
Sesampainya di rumah, Kirana menyambut mereka di depan pintu dengan wajah panik.
"Nika! Ya ampun, apa yang terjadi? Bagaimana bisa kamu teledor sampai seperti ini?" seru Kirana mencoba menyentuh lengan putrinya.
Nika hanya melirik datar. Rasa sakit di hatinya karena sikap diam sang ibu di masa lalu membuat Nika merasa muak dengan kepanikan yang sekarang ditunjukkan.
Tanpa sepatah kata pun, ia mengabaikan ibunya dan terus melangkah masuk ke kamar, diikuti Elano yang menatap tajam ke arah Kirana dan Adnan bergantian.
Di dalam kamar yang tenang, Nika yang masih merasa lemas langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.
Adnan masuk perlahan setelah Elano pergi ke dapur. Ia menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat. Dengan gerakan sangat pelan, Adnan mengambil selimut di ujung ranjang dan mencoba menyelimuti tubuh Nika agar tidak kedinginan.
Namun, saat ujung selimut itu menyentuh bahunya, Nika tiba-tiba bereaksi secara tak sadar. Tubuhnya tersentak hebat, tangannya bergerak menepis udara seolah sedang diserang.
"Jangan! Pergi!" teriak Nika dengan mata membelalak penuh ketakutan. Trauma kejadian di ruang ganti itu kembali menghantuinya dalam mimpi.
Melihat hal itu, Adnan tidak mundur. Ia segera menarik Nika ke dalam dekapannya, memeluknya dengan sangat erat namun lembut.
"Sshhh ... tenang, Nika. Ini aku, Adnan. Kamu aman di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi. Aku janji," bisik Adnan berulang kali di dekat telinga Nika.
Kehangatan tubuh Adnan perlahan meredam getaran hebat di tubuh Nika. Napas Nika yang awalnya memburu mulai berangsur normal. Ia tidak melepaskan pelukan itu, justru ia menyandarkan kepalanya di dada Adnan, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup kencang.
Nika mendongak, menatap lekat ke dalam manik mata Adnan yang terlihat begitu tulus di bawah temaram lampu kamar.
'Apa kau benar-benar tulus padaku, Adnan? Ataukah semua perhatian ini hanya rasa kasihanmu melihat aku yang lemah dan hancur ini?' batin Nika bicara dalam diam.
Ia ingin percaya, namun ucapan-ucapan kasar Adnan di masa lalu masih membekas jelas di ingatannya. Di balik tatapan lekat itu, Nika menyimpan keraguan yang sangat besar.