NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5 Terbuang...

Beberapa tahun berlalu tanpa benar-benar mengubah apa pun di dalam keluarga itu. Dari luar, keluarga Halvard tetap terlihat sempurna utuh, teratur, dan penuh kemewahan. Liburan demi liburan mereka jalani, hingga pada suatu musim, mereka memutuskan berkeliling Eropa dan berakhir di Paris kota itu hidup. Penuh cahaya, penuh manusia, dan terlalu ramai untuk seseorang yang mudah tersesat.

Saat itu, Marsha berusia tujuh tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang tenang, terlalu tenang untuk usianya tidak banyak bertanya, tidak banyak meminta. Seolah sejak lama ia sudah memahami tempatnya.

Diam-diam, Andreas Halvard menyelipkan sebuah kartu ATM kecil ke dalam saku tersembunyi di pakaian Marsha, lengkap dengan name tag berisi identitasnya, bukan karena ia berlebihan, melainkan karena ada kekhawatiran yang tak pernah bisa ia jelaskan sebuah firasat yang ia sendiri enggan akui.

Sehari sebelum mereka berpindah ke negara berikutnya, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya akhirnya datang Selena mendekati Marsha. “Ayo ikut Mama.”

Hanya dua kata sederhana, namun cukup membuat langkah kecil itu berhenti. Marsha menatapnya sejenak, ragu, seolah takut salah mendengar. “…aku?” tanyanya pelan.

Selena mengangguk singkat. “Iya.”

Tanpa berpikir panjang, Marsha mengangguk cepat. Untuk pertama kalinya, ia berjalan di samping ibunya bukan di belakang, bukan dari kejauhan, melainkan tepat di sisi yang selama ini terasa asing. Ada rasa hangat yang perlahan muncul di dadanya, kecil, rapuh, tapi nyata.

Mereka berjalan menjauh dari hotel, menyusuri jalanan yang semakin padat. Suara kendaraan, percakapan orang-orang, langkah kaki yang tak pernah berhenti, semuanya bercampur menjadi satu. Marsha berusaha menyesuaikan langkahnya dengan Selena, menjaga agar ia tidak tertinggal.

Namun di satu titik, Selena berhenti.

“Di sini saja.”

Marsha menoleh, bingung. “…Mama?”

Selena tidak menjawab. Ia hanya menatap sejenak tatapan yang sama seperti dulu, datar dan tanpa kehangatan. Lalu, tanpa mengatakan apa pun lagi, ia berbalik dan melangkah pergi, tanpa menoleh lagi,

Marsha masih berdiri di tempatnya. Diam. Seolah belum sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi.

“Mama…?”

Ia melangkah satu langkah ke depan, lalu satu lagi, keramaian di sekitarnya mulai terasa asing. “Mama…?” Suaranya sedikit lebih keras, namun tetap tenggelam di antara suara kota.

Orang-orang terus berjalan tanpa memperhatikan, tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang mengenalnya.

“Mama…” Suara itu mulai bergetar.

Matanya bergerak cepat, mencari sosok yang beberapa saat lalu ada di sampingnya, namun tidak menemukannya dan saat itulah sesuatu di dalam dirinya runtuh. “Papa…!”

Tangisnya pecah, kecil namun penuh ketakutan. Ia berjalan tanpa arah, mendorong tubuh kecilnya di antara kerumunan, memanggil berulang kali, berharap seseorang akan menjawab.

Namun tidak ada...

Hingga langkahnya mulai goyah, pandangannya mengabur, dan suara-suara di sekitarnya perlahan menjauh, tubuh kecil itu akhirnya jatuh. Ketika ditemukan oleh warga sekitar, Marsha sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya panas, wajahnya pucat, napasnya lemah, tanpa menunggu lama, ia dibawa ke rumah sakit terdekat—tanpa nama, tanpa keluarga, tanpa siapa pun yang menunggunya.

Di sisi lain, sore mulai turun di Paris. Valerina yang berjalan di antara mereka tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke belakang, mengernyit kecil. “Mama… Marsha di mana?”

Selena menoleh sekilas. “Bukannya tadi ikut kalian?”

Xabiru langsung berhenti, menatap sekeliling. “Tadi dia di belakang, kan?”

Selena menjawab ringan, tanpa perubahan ekspresi. “Kalian kan jalan bareng.”

Archio yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya akhirnya mengangkat kepala. “Eh… iya. Tadi masih ada.”

Keheningan jatuh begitu saja. Andreas yang mendengar itu langsung menoleh. “Marsha?” tidak ada jawaban.

Panggilan itu diulang, kali ini lebih keras. “Marsha!”

Namun tetap tidak ada.

Wajah Andreas berubah, tanpa berkata apa pun lagi, ia berbalik dan mulai mencari, langkahnya cepat, matanya menyapu setiap sudut, suaranya mulai memanggil dengan nada yang tak lagi bisa disembunyikan.

“Marsha!” untuk pertama kalinya, kepanikan itu benar-benar terlihat.

Pencarian dilakukan tanpa henti. Hari itu, hari berikutnya, dan hari-hari setelahnya. Setiap sudut kota ditelusuri, setiap kemungkinan diperiksa, namun Marsha… tidak ditemukan.

Satu minggu berlalu, dua minggu, hingga satu bulan terlewati tanpa hasil, kota sebesar Paris seolah menelan jejak kecil itu tanpa sisa. Dan pada akhirnya, mereka pulang ke Indonesia tanpa Marsha.

Namun tidak semua orang benar-benar menerima keadaan itu. Valerina mulai memperhatikan ibunya dengan cara yang berbeda, potongan-potongan kecil yang dulu terasa biasa kini membentuk sesuatu yang utuh, cara Selena bersikap, jarak yang selalu ia jaga, dan fakta bahwa ia tidak pernah benar-benar menyentuh Marsha sejak kecil, sebuah dugaan mulai tumbuh di dalam dirinya. Pelan, namun tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, Xabiru memilih jalan yang berbeda. Setelah lulus SMP, ia kembali ke Paris, bukan untuk berlibur, melainkan untuk mencari. Ia melanjutkan sekolah di sana, namun di balik itu, ia menelusuri setiap kemungkinan, setiap jejak yang mungkin tertinggal.

Karena ia tidak percaya bahwa adiknya menghilang begitu saja.

Dan tanpa diketahui siapa pun Marsha masih hidup.

Ia berada di Maisons des enfants de la cote d'opela, sebuah lembaga yang menampung anak-anak yang kehilangan tempat pulang, Di sana, tidak ada yang mengenalnya sebagai anak dari keluarga Halvard, tidak ada yang memanggilnya dengan suara yang ia kenal.

Dan perlahan, tanpa ada yang benar-benar menyadari Marsha tidak lagi menunggu, karena sesuatu di dalam dirinya telah lama berhenti berharap.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!