Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Suami Kejam
"Apahhhh!" Shafiya terpekik kaget saat baru mengangkat telepon.
"Umi yakin semua ini. Kak, Kanaya meninggalkan rumah dan bahkan ingin mengakhiri pernikahannya?" tanya Shafiya cukup kaget ketika dari Umi baru saja menghubunginya dan mengatakan hal yang sebenarnya.
"Astagfirullah, ada apa ini sebenarnya kenapa cobaan dalam keluarga kami terus saja bertambah," batin Shafiya semakin gelisah.
"Umi tenangkan diri dulu, Shafiya akan coba berbicara dengan Kak, Kanaya dan Insyallah masalahnya akan cepat selesai," ucap Shafiya tidak dapat berjanji apapun kepada Laina.
Shafiya mengakhiri panggilan itu dengan Laina.
"Apa jangan-jangan ini ada kaitannya dengan Arash?" Shafiya seketika menyimpulkan dan tertuju pada suaminya.
"Aku harus tanyakan langsung padanya," ucap Shafiya memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, kemudian keluar dari kamar.
Alea terlihat buru-buru menuruni anak tangga sampai harus bertabrakan dengan Tami.
"Heh, apa kau tidak punya mata!" umpat Tami.
"Saya tidak sengaja melakukannya," ucap Shafiya langsung berlalu begitu saja tidak ingin memperpanjang masalah.
Tami tidak mungkin membiarkannya dan menahan Shafiya dengan mencengkram pergelangan tangan itu.
"Lepas!"
"Apa-apaan sih kamu!" kesal Shafiya.
"Aku yang harus bertanya kepadamu apa maksudmu? sudah bersalah nyolot dan pergi begitu saja. Heh Shafiya jangan mentang-mentang Nenekmu bilang badan kau pikir aku takut padamu!" tegas Tami.
"Aku tidak mengharapkan siapapun akan membelaku, aku sudah mengatakan sejak awal bahwa aku tidak sengaja, stop Tami membesarkan masalah yang tidak perlu!" tegas Shafiya melepaskan tangannya dengan kasar.
Shafiya kembali pergi dengan langkahnya semakin cepat dan bahkan berlari kecil.
"Wanita sialan, lihatlah aku pasti akan membalasmu, akan memberi pelajaran kepadaku!" umpat Tami dipenuhi dengan dendam.
*****
Shafiya berada di dalam Taxi yang berhenti di depan Perusahaan besar. Shafiya buru-buru turun dari taksi setelah mengucapkan terima kasih dan kemudian masuk dengan cepat ke perusahaan tersebut.
Shafiya terus melangkahkan kakinya dengan cepat seperti dikejar-kejar. Memasuki lift, keluar dari lift sampai akhirnya Shafiya berdiri di depan salah satu pintu ruangan dan langsung membuka pintu itu.
"Saya belum menyuruh kamu untuk masuk," suara itu terdengar begitu datar.
Arash berada di mejanya terlihat sibuk menandatangani berkas-berkas yang tersusun rapi. Karena tidak mendengar suara apapun membuat Arash mengangkat kepala dan melihat kearah pintu.
"Ternyata istriku datang mengunjungi ku," ucapnya tersenyum miring.
"Meski menjadi istri pimpinan di perusahaan ini, tetapi harus tetap punya sopan santun dan aturan, masuk ke ruangan seseorang harus mengetuk terlebih dahulu, bukankah aku mengetahui bahwa istriku adalah seorang wanita yang berpendidikan," ucap Arash.
Shafiya mengepal tangannya, masuk ke ruangan itu dengan menutup pintu, suara pintu terdengar begitu kasar seolah-olah meluangkan amarahnya.
"Apa sebenarnya yang kamu rencanakan saat ini?" tanyanya menekan suaranya ketika berdiri di hadapan Arash yang masih tetap duduk di tempatnya.
"Jadi kamu tidak bisu selama ini, aku pikir suara kamu sudah hilang, mengingat tidak pernah terdengar suara kamu di rumah dan ternyata suara kamu bisa tetap sama, terdengar begitu indah," ucap Arash.
"Hentikan semua omong kosong dengan kata-kata menjijikkan seperti itu. Aku datang kemari ingin menanyakan tentang kepergian Kak, Kanaya dari rumah dan berniat ingin pernikahan? Katakan kepadaku jika semua itu adalah rencana kamu!" tegas Shafiya langsung to the point jauh-jauh datang ke kantor suaminya untuk pertama kali hanya untuk mempertanyakan hal itu.
"Jadi gebrakan yang dilakukan Kanaya yang membuat pita suara kamu kembali," sahut Arash masih saja santai dan mempermainkan Shafiya.
"Cukup Arash, katakan yang sebenarnya!" teriak Shafiya dengan meninggikan suaranya.
Plak
Arash tiba-tiba memukul meja cukup kasar sehingga pulpen jatuh ke lantai dan Shafiya jika tersentak kaget.
"Kau berhenti berteriak di ruanganku, kau sebagai tamu di rumah ini dan seharusnya kau tahu sopan santun!" tegas Arash.
Shafiya terdiam dengan nafas naik turun. Arash keluar dari area tempat duduknya.
"Tetapi baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu mengingat bagaimana usahamu kembali mengeluarkan suara dan juga jauh-jauh datang ke kantor ini. Aku tidak tahu jika Kanaya akan pergi dari rumah meninggalkan rumah mertuanya dan juga suaminya itu,"
"Jadi dia benar-benar termakan akan ucapanku dan lebih memilihku dibandingkan keluarganya," ucap Arash.
Shafiya geleng-geleng kepala, mata itu kembali berkaca-kaca setelah mendengar kenyataan atas kesimpulan yang dia tarik sendiri.
"Bukankah sebelumnya kita pernah membahas ini. Jika aku memiliki ketertarikan dengan Kanaya dan aku tidak peduli jika dia sudah memiliki suami atau tidak, aku tidak peduli jika dia memiliki hubungan keluarga denganmu apa tidak, aku menginginkannya untuk menjadi istriku," lanjut Arash tersenyum penuh kemenangan.
"Kau gila melakukan semua itu? Kau bukan tertarik padanya dan ingin menjadikannya sebagai istri, tetapi kau sengaja melakukannya, karena kau hanya ingin menyakitiku lebih lagi dan menghancurkan keluargaku!" tegas Shafiya sudah tahu semua rencana suaminya itu.
"Dan kamu tidak bisa melakukan apapun meski mengetahui semuanya, hanya bisa protes dan teriak-teriak seperti ini," ucap Arash tersenyum dengan penuh ejekan.
"Aku tidak akan membiarkan rencanamu berhasil. Aku akan mengatakan kepada kak Kanaya, jika kau sengaja mendekatinya dan mencari perhatiannya agar dia tertarik kepadaku karena kamu memiliki tujuan untuk balas dendam pada keluarga kami, ingin menghancurkan hubungan kami," tegas Shafiya.
"Lakukan Shafiya, aku tidak pernah melarang hal itu sejak awal, aku bahkan tidak pernah mencegah atau menghalangi kamu untuk menceritakan yang sebenarnya kepada keluarga kamu," sahut Arash dengan santai.
Shafiya sudah tidak bisa berbuat apa-apa, sebenarnya jika dia menceritakan semua kepada keluarganya tentang pernikahannya. Maka Shafiya mungkin akan terlibat dengan pernikahan toxic.
"Apa ada lagi yang ingin kamu sampaikan kepadaku? Aku masih banyak pekerjaan, jika tidak ada maka sihlahkan keluar dari ruangan ini sebelum aku memanggil satpam untuk menyeret kamu dengan paksa keluar dari ruangan ini!" tegas Arash mengusir secara halus.
"Hmmmm, tetapi sebelum pergi aku meminta kepada istri pertamaku yang banyak cerita dan hanya terus menangis ini, untuk mempersiapkan pernikahanku dengan wanita yang akan menjadi madumu, kamu juga harus menyiapkan kamar pengantin untuk kami, jadi sementara kamu jangan tidur dikamar dulu, bagaimanapun aku harus menghabiskan malam bersamanya setelah diasah menjadi istriku," ucap Arash.
"Kau tidak akan bisa menikah dengannya tanpa izin dariku!" tegas Shafiya.
"Shafiya saat ini bahkan aku bisa menikah dengannya tanpa izin darimu, kau ingin melaporkan pernikahan ini pengadilan karena aku menikah diam-diam tanpa izin darimu? Kau lupa jika kau hanya dinikahi secara sirih dan pengaduanmu tidak akan berarti apapun!" tegas Arash.
Lagi dan lagi Shafiya memang tidak memiliki kekuatan apapun melawan Arash. Arash tersenyum miring menikmati bagaimana raut wajah Shafiya terlihat kebingungan, ketakutan dan benar-benar hancur akan tingkatannya.
Bersambung......