NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Saat Kendali Tak Lagi di Tangannya

Belvina menoleh ke samping, berusaha menjauh meski ruangnya terbatas. Air matanya masih jatuh tanpa bisa dibendung.

Alden akhirnya mundur setengah langkah. Hanya sedikit. Tapi cukup untuk memberi ruang. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa berbeda.

Aneh. Tidak masuk akal. Menarik.

Alden menatapnya lebih lama dari seharusnya. Lalu, nyaris tanpa sadar, sudut bibirnya bergerak tipis.

Bukan mengejek. Lebih seperti… sesuatu yang tidak ia pahami sendiri.

“Menangis?” gumamnya pelan. Namun kali ini, tidak ada tekanan di dalamnya.

Belvina tidak menjawab. Hanya menghapus air matanya cepat, seolah menyesal telah menunjukkannya.

Dan di momen itu, untuk pertama kalinya, Alden tidak melihatnya sebagai beban. Bukan juga kewajiban. Tapi sebagai sesuatu yang… baru.

Dan entah kenapa, itu justru membuatnya semakin sulit melepaskan.

Tidak ada yang bergerak untuk beberapa saat.

Lalu ia mundur perlahan. Memberi ruang. Namun perhatiannya tetap tertahan di sana. Tidak lagi sama seperti sebelumnya. Bukan sekadar ingin menguasai. Tapi… ingin memahami.

Dan itu, jauh lebih berbahaya.

"Istirahatlah," ucap Alden kemudian. "Ingat, besok malam kita pergi ke acara pertemuan bisnis."

Tanpa menunggu jawaban, Alden berbalik, melangkah keluar dari kamar Belvina.

Belvina tidak langsung bangkit. Pandangannya terhenti di langit-langit kamar, kosong sesaat. Dada itu masih naik turun, lebih cepat dari seharusnya.

Jari-jarinya perlahan mengendur dari bajunya yang sejak tadi ia genggam erat.

Ruang itu seolah berhenti sejenak.

Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Baru kemudian, ia memiringkan wajah ke samping. Air mata yang tadi tertahan kembali lolos, mengalir perlahan ke pelipis, lalu hilang di rambutnya.

Belvina mengangkat satu tangan, menutup matanya.

“Apa sih…” bisiknya lirih, nyaris tanpa suara.

Bukan panik lagi. Lebih ke arah… kacau.

Ia menahan udara di dadanya sejenak, lalu melepasnya perlahan. Berusaha mengembalikan kendali yang tadi sempat lepas.

Beberapa saat, ia tetap seperti itu. Diam, tanpa bergerak. Sampai akhirnya, matanya terbuka. Kosong sesaat, sebelum perlahan kembali fokus.

Tangannya turun. Bahunya turun pelan, seolah beban yang menekan ikut dilepas. Lalu, dengan gerakan pelan, Belvina mulai bangkit dari posisi telentangnya.

“Fokus.”

Suara itu lebih tegas sekarang.

Ia berdiri, lalu berjalan ke cermin. Pantulannya terlihat, mata masih basah, rambut sedikit berantakan. Ritmenya belum kembali normal. Dada itu masih bergerak cepat, belum menemukan tempo.

Ia mengamati pantulannya, diam beberapa saat

Lalu, sedikit demi sedikit, dagunya terangkat.

“Jangan goyah.” Nada itu tidak keras. Tapi jelas. “Aku tidak akan kembali jadi dia.”

Tangannya naik, merapikan rambutnya sendiri. Gerakannya masih sedikit gemetar, tapi lebih terkendali.

Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajah.

Namun sebelum lampu dimatikan, pikirannya sempat kembali ke satu hal.

Cara Alden melihatnya… tadi. Bukan marah. Bukan muak. Dan itu justru, lebih berbahaya.

Belvina memejamkan mata sejenak.

“Jangan dipikirin.”

Lampu dimatikan. Tapi malam itu, kantuk tidak datang dengan mudah.

 

Sementara itu di kamar lain--

Pintu kamar tertutup lebih keras dari biasanya. Alden berdiri beberapa langkah dari sana. Tidak langsung bergerak.

Kemejanya sudah terbuka di bagian atas, tapi rasa sesak itu tidak ikut hilang.

Otot wajahnya menegang, sebelum akhirnya ia mengusap wajahnya sekali, lalu berjalan menuju meja.

Tangannya bertumpu di sana. Menahan. Wajahnya tenang. Namun pikirannya, tidak.

Belvina. Tangis itu. Dan kalimat itu.

“Aku tidak mau memberikan diriku… ke seseorang yang tidak mencintaiku.”

Wajahnya mengunci.

Itu bukan Belvina yang ia kenal. Bukan wanita yang berkali-kali datang tanpa diminta. Yang bahkan tidak peduli harga diri.

Yang itu… tidak akan menangis seperti tadi.

Alden mengangkat kepala. Fokusnya tertuju pada bayangannya di kaca. Ada jeda panjang. Lalu ia terkekeh kecil. Pendek. Tanpa humor.

“Menarik…”

Kata itu keluar hampir tanpa sadar.

Ia berjalan ke arah jendela. Menarik tirai sedikit. Cahaya kota masuk samar.

Biasanya, hal seperti ini akan membuatnya muak. Drama. Air mata. Permintaan.

Tapi tadi—tidak. Itu bukan memohon. Itu… penolakan.

Dan sekarang, ia tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.

Tangannya masuk ke saku celana. Jemarinya menegang sesaat.

Cerai.

Kata itu terlintas lagi. Bibirnya melengkung tipis.

“Coba saja.”

Namun kali ini, bukan sekadar tantangan. Lebih seperti, rencana.

Matanya menyempit sedikit, fokusnya berubah. Bukan lagi menghindar. Tapi mengamati. Menguji. Dan… menahan.

“Besok malam…” gumamnya nyaris seperti bisikan.

Acara bisnis. Tempat publik. Banyak mata.

Sempurna.

Sudut bibirnya terangkat lagi. Tipis. Lebih terkontrol.

“Kita lihat… kamu akan bertahan sejauh apa.”

Lampu dimatikan.

Namun seperti Belvina, tidurnya malam itu, tidak benar-benar tenang.

***

Seharian, Belvina tidak keluar kamar.

Di depan cermin, ia berdiri cukup lama. Kuas kecil di tangannya bergerak hati-hati, mengikuti ingatan yang bukan sepenuhnya miliknya.

Satu garis, sedikit baur. Tipis, lalu diperbaiki lagi.

Ia berhenti sejenak, melihat pantulannya.

Tidak berlebihan. Tidak mencolok. Natural… tapi tetap terdefinisi.

Bibirnya melengkung ke atas tipis.

“Cukup.”

Bukan kagum. Lebih ke arah… puas.

Ia beralih ke lemari. Tangannya menyusuri deretan pakaian, lalu berhenti pada satu gaun yang baru ia beli kemarin. Tanpa banyak ragu, ia menariknya keluar.

Beberapa menit kemudian, kain itu sudah melekat sempurna di tubuhnya.

Ia menambahkan anting. Kalung. Jam tangan. Gelang. Satu per satu. Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk melengkapi.

Saat tangannya turun, ia berhenti. Cincin di jarinya tertangkap pandangan.

Ekspresinya berubah tipis. Lalu, tanpa banyak pikir ia melepasnya.

Cincin itu diletakkan di meja rias. Sebagai gantinya, ia mengambil cincin lain. Lebih sederhana. Lebih… netral. Disematkan di jari. Selesai.

Belvina merapikan penampilannya sekali lagi. Tidak ada lagi keraguan di sana.

Ia berbalik.

 

Di ruang tengah—

Alden duduk santai, ponsel di tangan. Layarnya terus berganti, tapi perhatiannya tidak benar-benar di sana.

Suara langkah dari lantai atas terdengar.

Ia tidak langsung menoleh. Biasanya, tidak perlu. Ia sudah tahu bagaimana Belvina akan tampil. Terlalu mencolok, terlalu berusaha.

Namun kali ini, jempolnya berhenti di layar.

Langkah itu terdengar berbeda. Lebih tenang. Lebih… terukur.

Alisnya mengernyit tipis. Alden akhirnya mengangkat kepala. Dan untuk sesaat, ia tidak bergerak.

Belvina berdiri di ujung tangga. Tidak berlebihan. Tidak mencuri perhatian dengan cara yang salah.

Justru… sebaliknya. Semuanya terasa pas.

Garis wajahnya lebih tegas. Sorotnya tenang. Cara ia berdiri, tidak lagi mencari perhatian, tapi tetap menariknya tanpa perlu usaha.

Pandang Alden bertahan lebih lama dari yang wajar. Ada jeda kecil, cukup untuk menyadari bahwa sesuatu benar-benar berubah. Dan kali ini… ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

Alden berdiri, lalu melangkah mendekat. Tidak terburu. Tapi juga tidak ragu. Ia berhenti di depan Belvina, cukup dekat untuk melihat detail yang tadi sempat ia lewatkan dari jauh.

Lalu, tangannya terangkat. Diulurkan. Gerakan sederhana Nyaris refleks. Namun… tidak biasa.

Belvina mengernyit tipis. Ada jeda sepersekian detik.

Ingatan itu muncul begitu saja, bukan miliknya sepenuhnya.

Biasanya, setelah ia turun tangga, pria ini sudah lebih dulu berjalan. Tidak menunggu. Tidak peduli apakah ia menyusul atau tidak.

Bukan seperti ini. Tangannya… justru menunggu.

Alden tidak menariknya kembali. Ia tetap di sana. Terbuka. Diam. Seolah itu hal paling wajar di dunia. Menunggu disambut.

Belvina meliriknya sekilas. Lalu tangannya terangkat—

Alden sedikit menggeser jari, siap menyambut.

Namun di detik berikutnya—

Belvina hanya menyentuh rambutnya sendiri. Merapikan sisi yang tidak benar-benar berantakan.

Gerakan kecil. Santai. Seolah tidak ada yang perlu dipikirkan. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, Belvina melangkah lebih dulu, meninggalkan Alden tanpa menoleh.

Alden tidak segera menyusul. Bukan karena tidak bisa. Tapi karena ia mulai menyadari… permainan ini tidak lagi ia pahami sepenuhnya.

 

...✨Malam itu, yang berubah bukan hanya sikap, tapi posisi....

...Yang dulu mengejar, kini berjalan lebih dulu....

...Dan yang terbiasa mengendalikan… mulai menyadari bahwa ia tidak lagi memegang arah.✨...

.

To be continued

1
aryuu
mantap ceritanya... ❤️❤️❤️❤️❤️alurnya bagus pas banget... 👍👍👍👍👍

agak terbawa emosi sedikit diepisode mau ending😌

semangat berkarya selalu ❤️🤗❤️
aryuu
belvina anjing lu
Mak Nab
Best
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aliifa afida
luar biasa/Heart//Heart//Heart//Heart/
aliifa afida: sama2 thor.. ini lg baca karya kamu yg lain..😄
total 2 replies
evana gusani
baru mampir 👍
anonim
Akhirnya tuntas sudah membaca cerita yang sangat bagus. Bisa diambil hikmahnya.
Author memang The Best. Terima kasih Author dengan karya yang bagus-bagus. Semoga sehat selalu, BerkatNya melimpah 🙏🏻🥰💖
anonim
Belvina telah melahirkan bayi laki-laki.

Alden berjanji akan menjaga istri dan anaknya selama sisa hidupnya.

Kini bayi laki-laki itu berusia sekitar tiga tahun.

Bocah kecil itu tertawa riang sedang main kejar-kejaran bersama Om-nya. Arsen.

Bocah kecil itu berlari cepat minta tolong sama tante Alena dari kejaran Omnya.

Andreas dan Fransisca tak kalah bahagianya memiliki cucu yang ganteng dan gembul.
anonim
Alden sudah mendapat lampu hijau dari Belvina.
anonim
Kalau dekat jual mahal tidak mau memberi jatah Alden.

Giliran Alden lama di luar kota untuk menyelesaikan masalah yang harus diselesaikan, Belvina mulai merindukan kehadiran Alden.
anonim
Sidang terakhir Seraphina sebagai terdakwa telah dibuka.

Hakim membacakan pertimbangan hukum secara jelas, sah, dan meyakinkan bahwa Seraphina melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan penuntut umum.

Seraphina terbukti melakukan perbuatan secara terencana demi keuntungan pribadi yang menyebabkan kerugian bagi pihak lain, serta merencanakan penculikan terhadap korban Belvina yang disertai ancaman mengunakan senjata tajam hingga mengakibatkan korban mengalami luka.

Wow...vonis Hakim menjatuhkan pidana penjara selama delapan belas tahun untuk Seraphina.

Seluruh aset yang terbukti berkaitan dengan hasil tindak pidana dirampas sesuai ketentuan hukum.
anonim
Yang penting Alden sudah menyadari kebodohannya. Harapannya untuk membahagiakan istri dan anaknya semoga terwujud.
anonim
Belvina menggeser tubuhnya ke arah Alden yang masih memunggunginya.

Alden yang belum tidur merasakan Belvina mendekat. Ia sengaja tidak bergerak, takut Belvina salah paham lagi.

Sampai segitunya Alden menjaga perasaan Belvina.

Belvina bisa tidur nyenyak dalam pelukan Alden.

Alden berusaha menahan gejolak yang sebenarnya sulit dia kendalikan. Alden tidak memaksakan keinginannya itu.
anonim
Berbeda dengan Belvina yang tidak kunjung bisa tidur.

Alden tertidur di sofa yang ada di ruang kerjanya. Belvina membangunkan Alden. Menyuruh Alden kembali ke kamar.

Memang bumil bikin repot sendiri. Suaminya tidur membelakanginya, dadanya jadi terasa sesak. Menginginkan usapan tangan suami di perutnya sebelum tidur.
anonim
Buka hatimu Belvina, kasihan suamimu yang sudah berusaha mengerti dengan penolakanmu.

Belvina tidak bisa tidur merindukan elusan tangan Alden di perutnya.
imoe nawar
👍
anonim
Belvina periksa di dokter kandungan diantar rombongan keluarga Astera.

Dokter memeriksa kandungan Belvina, layar monitor memperlihatkan kondisi janinnya.

Arsen senang, dokter menunjuk layar monitor memperlihatkan jenis kelamin bayi. Laki-laki.
anonim
Wow...permintaan Alden di tolak. Belum layak mendapatkan hadiah karena Alden masih dalam masa percobaan. Belum lulus sudah minta bonus wkwkwk.

Jalani ujiannya dulu biar lulus Al.

Iya Bel, kamu sangat keterlaluan membiarkan suamimu tersiksa.
anonim
Alden ngga pernah mendapatkan jatahnya dari Belvina.

Setelah kejadian membuka kamar mandi, Alden jadi menginginkan jatahnya wkwkwk
anonim
Seraphina ini tetap tidak sadar-sadar juga. Masih mengharapkan Alden.
anonim
Semua anggota keluarga Alden sangat mengkhawatirkan Belvina.

Belvina menceritakan kronologi kejadian yang menimpa dirinya.

Arsen ini kalau bicara bikin Alden mengeras rahangnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!