Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua juta untuk istriku
“Apa?! Hanya dua juta yang kamu berikan untuk uang bulanan?” Liora menatap tajam suaminya—Xavero. “Hei! Kamu tahu tidak? Skincare-ku itu mahal, uang seuprit ini tidak cukup!”
Dengan kesal, Liora melemparkan uang dua juta itu ke arah suaminya.
Xavero hanya bisa terdiam, menatap lembaran uang yang kini berhamburan di lantai. Uang hasil keringatnya terasa tak berarti di mata istrinya. Perlahan, ia kembali mengangkat pandangan menatap Liora.
“Sayang—”
“Jangan panggil aku sayang. Ingat, kita menikah hanya karena terpaksa. Ingat itu,” potong Liora cepat.
Xavero menghela napas berat, lalu berkata dengan lembut, “Maaf, Liora. Hanya itu yang bisa aku berikan untukmu.”
“Makanya usaha! Kamu itu harus tahu, kamu menikahi Liora Mahendra. Kamu sadar itu, kan? Dengan uang seuprit ini, kakak iparku akan menertawakanmu!” ucap Liora tegas, menatap suaminya dengan sinis.
Liora mendengus pelan, matanya masih penuh ketidakpuasan. Ia menyilangkan tangan di dada, seolah apa pun yang keluar dari mulut Xavero tidak akan cukup.
Xavero menunduk sebentar, lalu kembali menatap istrinya dengan tatapan lembut yang nyaris tak berubah sejak awal.
“Aku akan berusaha lagi, Liora,” ucapnya pelan namun tegas. “Aku janji… bulan depan aku akan kasih lebih. Aku bakal cari tambahan, apa pun itu. Aku nggak mau kamu kekurangan.”
Liora tertawa kecil, tapi tawa itu dingin, tanpa sedikit pun rasa hangat.
“Janji?” ulangnya sinis. “Kamu pikir hidup aku bisa nunggu janji kamu? Ini bukan soal kurang atau nggak, Xavero. Ini soal harga diri.”
Xavero terdiam.
Liora melangkah mendekat, menatapnya dari atas dengan ekspresi merendahkan.
“Aku ini Liora Mahendra,” lanjutnya, menekankan setiap kata. “Sejak kecil aku nggak pernah hidup serba ‘cukup’. Aku hidup lebih dari cukup. Dan sekarang… aku harus nerima ini?” Ia melirik uang yang berserakan di lantai dengan jijik.
Xavero mengepalkan tangan pelan, menahan sesuatu dalam dirinya. Namun suaranya tetap lembut saat ia berbicara.
“Aku tahu kamu terbiasa hidup lebih baik,” katanya. “Makanya aku akan kerja lebih keras. Kamu nggak perlu khawatir, aku pasti—”
"Kerja keras, usaha, janji… tapi hasilnya tetap sama!” potong Liora lagi, suaranya meninggi.
Ia berbalik, berjalan beberapa langkah menjauh, lalu kembali menoleh dengan tatapan tajam.
“Kamu tahu nggak? Kakak iparku kemarin baru beliin tas istrinya seharga puluhan juta. Dan aku?” Ia tersenyum tipis, menyakitkan. “Dikasih dua juta buat sebulan.”
Xavero menarik napas dalam. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap menahan.
“Beri aku waktu,” ucapnya lagi, kali ini lebih lirih. “Aku nggak akan selamanya seperti ini.”
Liora menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan jelas bahwa ia tidak percaya sedikit pun.
“Aku capek nunggu,” gumamnya dingin. “Dan aku lebih capek lagi harus malu di depan keluarga aku sendiri gara-gara kamu.”
Kalimat itu jatuh seperti pisau.
Xavero menatap punggung istrinya yang mulai menjauh, lalu perlahan berlutut, mengumpulkan uang yang tadi dilempar. Satu per satu, dengan hati yang terasa semakin berat.
°°
Di meja makan keluarga Mahendra, dentingan sendok dan garpu menjadi satu-satunya suara di tengah suasana yang terlalu tenang.
Liora duduk dengan anggun, menikmati makanannya. Namun, dari raut wajahnya, jelas masih tersimpan kekesalan. Di sampingnya, Xavero duduk dengan posisi tegap. Gerakannya pelan dan teratur saat menyuap makanan, seolah berusaha menciptakan suasana yang normal, meski ia tahu, semuanya terasa jauh dari kata itu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Semua yang berada di meja makan langsung menoleh.
“Mas Ardian…” ucap Layla dengan senyum manis menyambut suaminya. Ia segera beranjak dari meja makan dan menghampirinya.
“Sayang,” balas Ardian, lalu mencium sang istri.
“Kamu pulang kok nggak bilang-bilang?” ucap Layla dengan nada manja, sambil menggandeng suaminya menuju meja makan.
“Aku mau kasih kejutan untuk kamu, sayang,” balas Ardian. “Ini oleh-oleh untuk kamu.” Ia menyerahkan paper bag berukuran besar kepada sang istri.
“Wah, makasih, Sayang,” ucap Layla dengan antusias.
“Dan ini untuk Mama, Papa, dan Liora.” Ardian kemudian memberikan hadiah kepada mereka.
Semua langsung mengambil hadiah dari Ardian dan melihat isinya.
“Ini kan tas yang aku mau,” ucap Liora setelah melihat hadiah dari kakak iparnya.
“Kakakmu sudah cerita kalau kamu ingin tas itu,” ucap Ardian.
“Terima kasih ya, Kakak ipar,” ucap Liora dengan antusias.
Ardian mengangguk, lalu menatap mertuanya. “Bagaimana? Kalian suka?”
“Suka dong, Ardian. Ini kan berlian yang sangat langka itu,” ucap Yuliana sambil menatap kalung berlian pemberian menantunya.
“Kalau Papa?”
“Tentu suka dong, kamu memang tahu selera Papa,” jawab Bima.
Ardian tersenyum tipis, jelas puas melihat reaksi semua orang di meja itu. Suasana yang tadinya dingin, kini berubah hangat, setidaknya untuk mereka.
Namun tidak untuk satu orang.
Tatapan Ardian perlahan bergeser… berhenti pada Xavero.
Beberapa detik hening.
“Eh,” ucap Ardian santai, seolah baru menyadari keberadaan pria itu. “Xavero juga ada di sini, ya.”
Semua mata langsung tertuju pada Xavero.
Xavero hanya mengangguk pelan. “Iya, Kak.”
“Gimana kerjaan?” tanya Ardian sambil duduk di kursinya, nada suaranya terdengar ringan… tapi ada sesuatu yang menusuk di baliknya.
Xavero terdiam sejenak. “Masih seperti biasa.”
“Masih seperti biasa?” ulang Ardian, alisnya sedikit terangkat. “Berarti… belum ada perkembangan?”
Liora menunduk, tapi senyum tipis muncul di bibirnya, senyum yang justru terasa menyakitkan.
“Ya… begitulah,” jawab Xavero singkat.
Ardian terkekeh pelan. “Ya ampun, Xavero… kamu ini laki-laki, loh. Masa cuma ‘begitu-begitu saja’? Kamu harusnya bisa kasih yang lebih untuk istri kamu.”
Kalimat itu terdengar seperti nasihat… tapi jelas bernada merendahkan.
Yuliana mengangguk pelan. “Benar kata Ardian. Laki-laki itu harus bisa membahagiakan istrinya, bukan malah bikin malu.”
Bima ikut menyandarkan tubuhnya, menatap Xavero dengan tatapan tajam. “Sebagai kepala keluarga, kamu harus punya kemampuan yang jelas. Nama keluarga Mahendra itu besar.”
Xavero mengepalkan tangannya di bawah meja. Namun wajahnya tetap tenang.
“Aku sedang berusaha, Pa,” ucapnya pelan.
“Berusaha?” Ardian tersenyum miring. “Berusaha itu bagus. Tapi hasilnya mana?”
Suasana kembali hening.
Liora meletakkan sendoknya pelan, lalu menatap Xavero dengan dingin.
“Kak Ardian aja bisa kasih aku tas yang aku mau tanpa aku minta,” ucapnya. “Sementara kamu… uang bulanan aja cuma dua juta.”
Ucapan itu jatuh tepat di tengah meja makan, membuat udara terasa semakin berat.
Layla menutup mulutnya pelan, pura-pura terkejut. “Ih, serius, Li? Cuma dua juta?”
Liora mengangguk.
Xavero menunduk. Tatapannya jatuh pada piring di depannya.
Tak satu pun dari mereka mencoba menghentikannya.
Tak satu pun membelanya.
Beberapa detik berlalu… sebelum akhirnya Xavero mengangkat kepalanya.
Tatapannya tetap tenang. Terlalu tenang.
“Maaf,” ucapnya pelan.
Satu kata itu membuat semua orang sedikit terdiam.
“Aku memang belum bisa seperti Kak Ardian,” lanjutnya. “Tapi aku janji… suatu hari nanti, aku akan bisa memberikan lebih.”
Ardian menyeringai tipis. “Kita lihat saja nanti.”
Xavero tidak membalas.
Ia kembali menunduk, melanjutkan makannya perlahan, seolah semua yang terjadi barusan tidak berarti apa-apa.
Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang perlahan bangkit.