NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 - Zuo Cangtian

Pagi hari di Desa Jianxin datang dengan suasana yang tenang. Cahaya matahari yang hangat jatuh di atap-atap rumah kayu, sementara embusan angin membawa aroma rumput basah dari perbukitan di sekitar desa. Dari kejauhan, suara warga yang mulai beraktivitas perlahan memenuhi jalanan, membuat desa kecil itu terasa hidup seperti biasanya.

Saat Cang Li baru saja melangkah keluar dari rumah bibinya, sebuah bayangan kecil tiba-tiba melesat dari samping pagar dan langsung memeluk pinggangnya erat-erat.

“Guru! Aku pulang!”

Suara itu terdengar sangat bersemangat hingga membuat Cang Li sedikit terkejut. Ia menunduk dan melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun tengah menatapnya dengan mata berbinar.

Itu adalah Jian Po.

Untuk sesaat, ekspresi Cang Li yang biasanya datar sedikit melunak.

“Jian Po?” katanya sambil menatap anak itu. “Kapan kau kembali?”

“Tadi malam!” jawab Jian Po cepat, lalu melepaskan pelukannya dengan antusias yang hampir meledak. “Selama aku pergi, aku tidak pernah malas latihan! Aku benar-benar berlatih setiap hari! Guru harus melihat hasilnya!”

Belum sempat Cang Li menjawab, Jian Po sudah berlari kecil ke sisi halaman dan mengambil tongkat kayu yang ia selipkan di punggungnya. Anak itu lalu berdiri tegak sambil memasang kuda-kuda yang menurutnya gagah, meskipun dari luar masih tampak lucu karena tubuhnya yang kecil.

“Aku siap!” serunya penuh semangat.

Melihat itu, Cang Li tak bisa menahan senyum tipis di sudut bibirnya.

“Baiklah,” ucapnya sambil mengambil tongkat kayu latihan yang biasa ia gunakan. “Kalau begitu, tunjukkan padaku seberapa jauh perkembanganmu.”

Mata Jian Po langsung berbinar lebih terang.

“Kalau begitu... ayo bertarung, Guru!”

Di saat yang sama, suasana yang sangat berbeda justru terasa di sebuah kedai makan kecil di pusat desa.

Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma masakan hangat, Dao Yan sedang duduk di depan semangkuk mie besar sambil menatap lawan bicaranya yang sejak tadi tampak murung.

Orang itu adalah Zuo Cangtian.

Berbeda dengan biasanya, kali ini ia bahkan hampir tidak menyentuh makanannya. Tatapannya tertuju kosong ke piring di depannya, seolah pikirannya sedang dipenuhi sesuatu yang jauh lebih berat daripada rasa lapar.

“Aku masih tidak mengerti,” ucap Zuo Cangtian tiba-tiba setelah lama diam. “Bagaimana mungkin orang sepertinya dipilih untuk mewakili Dinasti Tianjian?”

Dao Yan mengangkat alis.

“Orang sepertinya?”

Zuo Cangtian mengangkat pandangannya sedikit.

“Cang Li.”

Nada suaranya mengeras.

“Ini seharusnya turnamen untuk para jenius terbaik dari seluruh dinasti. Tapi sekarang... orang sepertinya justru ikut masuk. Itu penghinaan bagi mereka yang benar-benar punya bakat.”

Dao Yan menghela napas pelan. Ia sudah menduga pembicaraan ini akan mengarah ke sana.

“Sampai kapan kau akan terus membencinya, Cangtian?” tanyanya sambil meletakkan sumpit di tepi mangkuk. “Kejadian itu sudah berlalu tiga tahun.”

Namun kalimat itu justru membuat ekspresi Zuo Cangtian berubah lebih tajam.

“Sampai mati pun aku tidak akan melupakannya.”

Tangannya mengepal di atas meja, lalu menghantam permukaannya cukup keras hingga mangkuk dan cangkir di atasnya bergetar.

“Kalau hari itu dia tidak menjadi beban,” lanjutnya dengan suara penuh emosi yang selama ini tertahan, “Guru dan teman-teman kita tidak perlu mati untuk melindunginya!”

Dao Yan terdiam.

Tatapan Zuo Cangtian mulai bergetar, bukan karena takut, tetapi karena luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.

“Guru mempertaruhkan nyawanya agar dia bisa hidup,” katanya lagi, kali ini dengan suara lebih berat. “Tapi setelah semua itu... dia hanya diam. Dia tidak marah. Tidak berteriak. Tidak mengatakan apa-apa. Seolah semua nyawa yang hilang itu... tidak berarti apa-apa baginya.”

Mendengar itu, Dao Yan perlahan menggeleng.

“Kau salah,” katanya pelan.

Zuo Cangtian menatapnya tajam.

“Diamnya bukan berarti dia tidak peduli.”

Dao Yan menunduk sesaat sebelum melanjutkan.

“Justru karena dia terlalu peduli, dia jadi tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Cang Li bukan tidak merasa bersalah. Dia hanya... tenggelam di dalam rasa bersalah itu.”

Untuk beberapa detik, Zuo Cangtian hanya diam menatapnya.

Namun amarah di matanya belum juga reda.

“Kalau begitu, dia seharusnya bangkit,” katanya dingin. “Bukan terus hidup seperti bayangan yang tidak punya tujuan.”

Setelah mengatakan itu, ia langsung berdiri dari kursinya.

Dao Yan mengangkat kepala.

“Cangtian—”

“Aku tidak lapar.”

Tanpa menoleh lagi, Zuo Cangtian melangkah keluar dari kedai dan meninggalkan Dao Yan sendirian di meja.

Dao Yan hanya bisa menatap punggungnya sampai menghilang di balik keramaian luar.

Lalu perlahan, ia menoleh ke piring milik Zuo Cangtian yang masih hampir penuh.

Ia terdiam sejenak.

Kemudian, tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia menarik piring itu ke hadapannya sendiri.

“Sayang sekali kalau dibuang,” gumamnya santai.

Satu suapan masuk ke mulutnya.

Lalu ia mengangkat tangan ke arah dapur.

“Pelayan!” serunya. “Tambahkan sepuluh porsi lagi!”

Sementara itu, di halaman belakang rumah Ye Ruoxi, suara benturan kayu mulai terdengar berulang kali.

Debu halus beterbangan dari tanah saat tongkat latihan milik Cang Li dan Jian Po saling beradu.

Meski masih kecil, Jian Po menyerang dengan semangat penuh. Kakinya bergerak lincah ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari celah di pertahanan gurunya sambil terus mengayunkan tongkat kayunya tanpa ragu.

Cang Li menahan semua serangan itu dengan tenang.

Ia tidak langsung menyerang balik.

Sebaliknya, ia hanya mengamati.

Melihat arah ayunan.

Melihat cara Jian Po menjaga keseimbangan.

Melihat apakah murid kecilnya itu benar-benar berkembang... atau hanya bergerak dengan semangat tanpa dasar.

“Apakah hanya ini?” tanya Cang Li sambil menahan satu tebasan lurus dari Jian Po.

Jian Po menggertakkan gigi.

“Tentu saja tidak!”

Anak itu langsung memutar tubuhnya dan menyerang lagi dari samping. Gerakannya belum sempurna, tetapi jelas jauh lebih rapi dibanding beberapa bulan lalu.

Cang Li menangkisnya sekali lagi.

Namun kali ini, ia sedikit terkejut.

Tenaga di balik serangan Jian Po terasa lebih kuat dari yang ia duga.

“Lumayan,” ucapnya jujur.

Mendengar pujian itu, wajah Jian Po langsung bersinar.

“Aku tahu, kan?!”

Namun sebelum semangatnya naik terlalu tinggi, Cang Li mengubah posisi pegangannya.

“Sekarang giliranku.”

Begitu kata-kata itu keluar, Jian Po langsung memasang wajah serius.

Detik berikutnya, tubuh Cang Li melesat maju dengan kecepatan yang membuat Jian Po refleks mengangkat tongkatnya untuk bertahan.

Tetapi itu hanyalah tipuan.

Di tengah gerakan, Cang Li menurunkan pusat tubuhnya dan melakukan sapuan rendah yang cepat ke arah kaki Jian Po.

“Eh—?!”

Jian Po kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh terduduk ke tanah.

Sebelum sempat bangkit, ujung tongkat kayu Cang Li sudah berhenti tepat di depan tenggorokannya.

Jian Po membeku.

Cang Li menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menurunkan tongkat itu.

“Pertandingan selesai.”

Anak kecil itu sempat mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.

“Aku kalah lagi...”

Cang Li mengulurkan tangannya.

Jian Po menatap tangan itu sesaat, lalu menerimanya sambil tersenyum lebar.

“Terima kasih, Guru!”

Setelah latihan selesai, mereka berdua duduk beristirahat di bawah pohon rindang di belakang rumah.

End Chapter 19

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!