Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Iya, aku berangkat sayang... tunggu ya, jangan kemana-mana," ujar Arga lirih, agar tidak terdengar kakek. Ia tidak tahu jika ada yang mendengar kata-katanya.
Dia adalah Kartini berdiri tidak jauh dari tempat itu tersenyum menatap ekpresi wajah Arga yang tampak takut, mungkin khawatir Nadine ngambek. "Ya ampun... segitu bucinnya Arga," batin Kartini. Ia juga punya pacar tapi saling percaya walau jarak memisahkan, tidak seperti Nadine yang gila perhatian.
Ingat pacar, Kartini ke kamar lalu menghubungi Teguh.
Sementara Arga terburu-buru sampai tidak pamit siapapun seisi rumah, ia menjalankan motor besarnya agar cepat tiba tujuan lebih cepat. Perasaan Nadine marah-marah sudah berada di depan mata.
Tiba di restoran, sosok Nadine menatapnya tajam seolah ingin meledakkan bom emosinya. Baru saja bokong Arga menyentuh kursi sambutan panas langsung meluncur.
"Bagus Arga!" Nadine mendelik. Ketajaman suaranya seolah mampu mengiris steak daging di hadapannya tanpa pisau.
"Maaf sayang..." Arga tampak bingung entah mau menjelaskan apa, karena sudah tahu bahwa Nadine tidak bakal mendengarkan alasannya.
"Baru jam delapan, Mas. Kenapa tidak menunggu restoran ini tutup, atau datang besok pagi sekalian!" Nadine pun marah meledak-ledak.
"Tadi itu aku..." Arga hendak menjelaskan tapi Nadine seketika memotong.
"Apa?! Alasan ada kecelakaan? Pohon tumbang lalu menghalangi jalan, atau kamu lupa menuju jalan ke tempat ini? Oh tidak! Kamu terlambat pasti gara-gara art gendutmu itu bukan?!" Tandas Nadine.
Arga hanya bisa menelan ludah, ia tidak berani melihat kanan, kiri, depan, belakang, karena ia menjadi tontonan para pengunjung restoran.
"Sudah sayang... aku kan sudah minta maaf, sebaiknya kita makan dulu," Arga berkata halus karena ia memang bersalah, demi menghargai Nadine yang sudah memesan makanan ia rela makan dua kali, walau potensi berat badannya akan naik tapi toh tidak setiap malam.
"Makan, sendiri! Aku sudah tidak berselera!" Nadine beranjak dari duduknya.
"Nadine, tunggu," Arga ingin mengejar lebih cepat tetapi pesanan dua porsi steak dan minuman harus ia bayar terlebih dahulu.
Arga meletakkan uang di atas meja, memanggil pelayan, tanpa ambil kembalian ia bergegas keluar. Di depan restoran, tampak Nadine sedang berdiri di pinggir jalan sedang menunggu taksi.
"Sayang... Naik ya, aku antar pulang," Arga mendorong motornya ke sisi Nadine. Namun, wanita itu tidak mau menoleh.
Duuurrr
Suara guntur di langit disertai kilat, bersamaan dengan itu taksi pun berhenti di depan Nadine.
"Yang-yang. Yaaaanng..." suara panggilan Arga yang merdu itu tidak lantas membuat hati sang kekasih luluh.
Buk!
"Sial!" Arga memukul jok motor ketika Nadine masuk ke dalam taksi dan menjauh darinya.
Bruuusss!
Hujan pun turun, Arga hendak memasang helm tapi kepalanya terlanjur basah.
.
Sementara di dalam kamar yang hening. Lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya remang dari lampu tidur.
Kartini sedang merapikan selimut dan bantal di atas karpet tebal, tempat ia biasa tidur. Di luar sana hujan sangat deras, menambah mata Kartini semakin berat menahan kantuk. Namun, baru juga memejamkan mata telinganya menangkap suara pintu dibuka.
Klak!
Lampu pun menyala kembali, Kartini segera duduk menatap Arga yang baru masuk dengan pakaian basah kuyup terlihat menyedihkan.
"Bos, kok hujan-hujanan..." Sapa Kartini tapi tidak mendapat respon dari Arga kemudian berdiri dan mendekat.
"Hmm... seharusnya tadi tuh Bos bawa payung hitam, terus dipakai berdua bersama Nadine, kan asik, bukan hujan-hujanan begini. Ah, nggak romantis."
Buk!
"Diam!" Arga membanting jaket yang basah ke lantai, dengan mata merah.
"Loh-loh, dikasih saran kok malah marah-marah to Bos!"
"Diam! Kata gue!" bentak Arga. Kartini pun kembali ke tempat tidurnya menarik selimut. Terdengar suara Arga masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan kencang. Tidak lama kemudian kembali, Kartini mendengar lemari dibuka. Dia angkat selimut sedikit tampak Arga tengah ambil kaos tapi menarik dengan kasar hingga yang lain berjatuhan ke lantai, ketika Arga mendekati tempat tidur, Kartini pura-pura tidur.
"Jangan sekali lagi mengurusi hubungan gue sama Nadine!" Arga masih marah, rupanya tahu jika Kartini bukan benar-benar tidur dan terdengar Arga membanting bokongnya di pinggir tempat tidur.
"Bos ini kenapa? Mabuk..." Kartini bukan takut justru duduk dan bertanya. "Memang saya ikut campur apa Bos?"
"Sudah! Jangan banyak bacot! Gue mau tidur!" potong Arga kesal, menatap tajam ke arah Kartini yang duduk bersila di lantai. "Dan inget ya! Jangan berani-berani ngorok kayak semalam! Kalau suara 'hrrr... hrrr' lo kedengeran sekali aja, gue lempar bantal ke muka lo, ngerti?!"
Kartini tidak lagi menjawab, ia rebahkan tubuhnya di atas karpet.
Tak lama kemudian, keduanya pun memejamkan mata. Hening menyelimuti kamar. Jika Kartini segera tidur, tapi Arga masih memikirkan tentang Nadine yang ngambek tadi kepalanya pusing membuatnya tetap terjaga.
PRUUUTTT...
Suara panjang dan bergetar terdengar jelas di tengah keheningan malam. Suaranya tidak terlalu keras, tapi aromanya... luar biasa menyengat!
Kartini tidur dengan pulas, sama sekali tidak sadar bahwa ia baru saja melepaskan gas dari perutnya yang penuh karena makan banyak tadi. Mungkin efek alami dari pencernaan yang bekerja keras.
Di atas kasur, Arga yang sedang banyak pikiran tiba-tiba memencet hidung. Bau tidak sedap dan panas langsung menyerang indra penciumannya.
"Hah? Bau apa ini..." Arga mengedarkan pandanganya ke sekeliling karpet, ia pikir ada bangkai cicak.
Cuusss...
Suara desis terdengar lagi dari pantat Kartini yang tidur posisi membelakanginya disertai bau yang lebih tajam lagi.
"Hemmm... rupanya bau ini berasal dari wanita itu, kurang ajar!"
"BRUK!"
Arga yang sudah kesal dengan Nadine, kini amarahnya ditambah lagi oleh Kartini. Dia melempar guling sekuat tenaga. Rupanya guling tersebut tidak mampu membantu membangunkan tidur Kartini, hanya posisi tidur Kartini yang berubah. Awalnya miring kini terlentang mungkin karena lelah dan ngantuk.
"WOI GEMBUL!!" teriak Arga sambil menutup hidung dengan selimut.
"Astagfirullah... Ada apa sih Bos? Jangan marah-marah terus apa. Nanti cepat tua, memang mau mengejar Kakek?" Kartini yang kaget berbicara panjang lebar, sambil duduk dalam keadaan mata masih terpejam.
"LOE ITU KURANG AJAR BANGET, KALAU TIDAK NGOROK, MALAH TABUR BANGKAI DI KAMAR GUE?!"
"Tabur bangkai?" Kartini tidak mengerti, seketika matanya terbuka lebar.
"GAS DARI PERUT LOE ITU BAU TAU NGGAK?! LOE ITU JANGAN-JANGAN MAKAN BANGKAI TIKUS?! KALO NGGAK NGOROK YA KENTUT! DASAR WANITA ANEH!"
Kartini baru sadar, ia menutup mulutnya malu. "Eh... Masa sih Bos? Hehehe... maaf, itu kan efek perutku lagi sehat dan kerjanya bagus..." Kartini menjawab santai.
"BAGUS APAAN?! GUE MAU MUNTAH TAHU TIDAK! BUKA SEMUA JENDELA! CEPET!" teriak Arga dengan suara bindeng karena hidungnya ditutup.
"Sudahlah Bos, malam-malam gini mana ada buka jendela," Kartini tidak menurut, justru melanjutkan tidur menutup seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimut.
Malam itu pun berakhir dengan kekacauan baru, bau tak sedap, dan teriakan Arga yang makin putus asa memiliki istri kontrak yang satu ini.
Keesokan harinya, Kartini bangun lebih dulu mendengar rintihan dari tempat tidur tapi ia abaikan saja, perlahan-lahan membuka laci ambil baju ganti lalu mandi. Selesai mandi rintihan Arga semakin kencang terdengar dan durasi lebih cepat.
"Kenapa sih pria itu? Kecapean marah-marah kali? Batin Kartini melirik Arga sekilas lalu shalat subuh. Saat shalat pun masih mendengar rintihannya kemudian naik ke tempat tidur menjangkau dahi Arga.
"Astagfirullah... Bos panas sekali, ini pasti gara-gara kehujanan malam tadi. Ya ampun Bos... demi cinta pengorbananmu sangat berat."
"Sayang..." tiba-tiba saja, Arga mengalungkan kedua tangannya ke tengkuk Kartini yang tengah membungkuk tepat di atas wajahnya.
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭