Demi menghindari kejaran para gadis Reby Putra Maheswara membawa seorang gadis desa yang bernama Rania untuk ia jadikan tameng agar tidak ada yang berani lagi mendekatinya, namun yang terjadi malah hatinya terikat pada gadis yang selalu mengklaim dirinya sebagai calon suami itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Alika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam ini Reby gelisah karena masih belum bisa melupakan apa yang tadi ia lihat. Seumur hidup baru kali ini ia melihat seorang gadis dengan penampilan seperti itu, sialnya lagi Reby mengenalnya. Jika ia hanya melihat di sebuah situs mungkin itu tidak masalah, tapi orang Reby lihat adalah orang yang Reby kenal dan selalu mengikutinya setiap hari. Otak Reby pasti akan bertraveling saat melihatnya nanti.
Astaga ternyata hanya melihat seperti itu saja pikiran Reby sudah sangat terganggu, bagaimana jika ia melihat keseluruhan di depannya secara langsung pasti Reby tidak akan bisa menahannya. Baru melihat separuh saja sudah membuat Reby panas dingin dan gagang sapunya berontak minta keluar sangkar.
"Astaga apa yang terjadi padaku, !" Ucap Reby mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Reby, " panggil Bira. Ia baru saja masuk ke dalam kamar Reby untuk melihat keadaan anaknya. Meskipun Reby sudah dewasa tapi tetap saja Bira selalu mengkhawatirkannya. Setiap malam ia akan masuk ke kamarnya hanya untuk mengobrol sebentar dan mendengarnya bicara atau ceritanya hari ini.
"Mom, "
"Kamu kenapa ?" Tanya Bira.
"Emm, tidak apa-apa Mom, " Jawabnya mana mungkin Reby mengatakan jika ia gelisah karena mengintip anak orang. Alamat ia akan langsung dinikahkan oleh Bira. Tidak, jangan menikah dengan anak bebek itu pikir Reby. Bagaimana nasibnya nanti jika mempunyai istri cerewet seperti itu.
"Kamu lagi ada masalah, kacau banget muka kamu. Untung muka kamu ganteng, " ucap Bira sambil mencubit pipi Reby dengan gemas.
"Mom, aku bukan anak kecil " Reby tidak mau jika Bira selalu menganggapnya seperti anak kecil.
"Di mata Mommy kau masih kecil,"
"Bahkan aku lebih tinggi dari Mommy,"
"Jangan bawa-bawa tinggi badan. Kamu itu laki-laki badannya mesti tinggi dan keren kaya Papa kamu. Jadi pas Mommy minta peluk nyaman banget, nanti pacar kamu juga pasti minta peluk" ucap Bira.
"Aku tidak punya pacar, " jawab Reby ketus, ia paling tidak suka jika sudah di singgung masalah pacar.
"Astaghfirullah Reby, " Bira menutup mulutnya tidak percaya sambil geleng-geleng kepala melihat putra tampannya.
"Kenapa Mom, " jawab Reby malas.
"Kamu normal gak sih, kamu bukan orang yang suka ngadu pedang kan, ? Tanya Bira
"Mom, astaga kau membuatku tersinggung " ucap Reby sambil menelungkupkan tubuhnya dan tidak mau lagi melihat Bira. Bira pun menepuk punggung keras anaknya itu.
"Reby, Mommy jadi takut kamu gak normal. Mommy cariin kamu jodoh aja ya " ucapnya sambil tertawa.
"Aku tidak mau, dan Mommy jangan memaksa."
"Kamu itu ya, Arka aja udah nikah anak Abon juga lagi gencar pengen jadi menantu asistent pelit. Belum lagi si Ison yang lagi di goda mantan pelakor. Cuman kamu aja yang gak ada kemajuan, emangnya kamu mau jadi perjaka tua " kesal Bira
"Mom, ya ampun kepalaku jadi tambah pusing saja,"
"Bira, sudah ku duga kau ada di sini. Bocah nakal jangan menculik istriku," ucap Regan pada Reby.
"Semakin tua semakin menyebalkan, " gumam Reby melihat kelakuan Papanya yang tidak mau jauh dari Bira.
"Ini loh Mas Suami Reby gak mau punya pacar, dia kok aneh kaya Mas Suami " kesal Bira , Regan pun berdecak sebal mendengarnya.
"Kenapa bawa-bawa aku, aku pria yang mempesona dan juga sangat setia. Hei Reby, cepat sana cari istri agar bisa kau peluk setiap malam " Ucap Regan pada putranya.
"Nanti saja lah Pah, aku bosan mendengarnya. Kenapa harus masalah pernikahan dan pasangan yang kalian bicarakan. Aku bosan," ucap Reby.
"Sudahlah susah bicara dengan jomblo, ayo sayang kita tidur" ajak Regan. Bira pun mengangguk dan pergi menggandeng Regan. Reby hanya berdecak sebal melihat kemesraan orang tuanya, sepertinya dunia ini hanya milik mereka berdua saja.
*
*
*
Pagi ini wajah Reby terlihat sangat pucat, kantung matanya pun terlihat sangat jelas. Semalam ia memang tidak bisa tidur dengan nyenyak gara-gara bayangan tubuh indah Rania menari-nari di kepalanya.
Karena keadaannya yang kurang fit, Reby meminta Radit untuk menjemputnya dan juga Rania. Dan Radit pun kini sudah sampai di kediaman Maheswara.
"Selamat pagi Tuan, " sapa Radit dan Reby hanya mengangguk saja menanggapinya. Kemudian Reby dan Radit pun masuk ke dalam mobil dan bersiap menjemput Rania di apartemennya.
Saat sampai di sana, gadis itu sudah siap dan terlihat sangat cantik. Saat Reby melihat Rania, bayangan semalam menjadi semakin jelas saja membuat Reby semakin gelisah, tubuhnya mendadak terasa panas hingga ia menarik dasinya karena tiba-tiba ia merasa panas dan sesak.
Saat melihat Radit yang di depan, Rania pun langsung pindah ke belakang sebelum semburan lahar dari Reby di keluarkan. Rania pun kini berada disamping Reby. Ada yang salah dengan wajah tampan Bos nya itu.
"A Reby, kenapa mukanya jadi mirip panda ?" Tanya Rania, ia melihat kantung mata Reby terlihat sangat jelas. Reby hanya mendelik kesal pada Rania. Ingin sekali ia mengatakan jika keadaannya tidak baik gara-gara dirinya namun itu sama saja jika ia membuka aibnya karena sudah mengintip bebek cerewet ini.
"Aku tidak enak badan," jawab Reby asal, jantung Reby mendadak berdegup sangat kencang dan juga juga aliran darahnya berdesir hebat saat tangan Rania menyentuh keningnya.
'Astaga, kenapa bocah ini senang sekali menyiksaku' batin Reby menjerit. Reby semakin tersiksa saat melihat wajah Rania yang terlihat sangat cantik dari dekat, bibir pink itu terlihat sangat menggoda. Bagaimana jika Reby cicipi sedikit saja, pasti rasanya sangat manis.
Ya ampun baru kali ini Reby berpikiran mesum seperti ini, hingga membuat ia tersiksa. " Tapi gak demam ini mah, A Reby abis begadang ya,?" Tanya Rania.
'Semua ini salahmu,'
"Harusnya jangan begadang, jadi pusing kan ?"
'Kau yang membuatku begadang dan membuat ku pusing,'
Namun semua itu hanya Reby ungkapkan dalam hatinya saja, Rania benar-benar membuat Reby tersiksa. Kini mereka bertiga sudah sampai di kantor. Radit turun duluan karena di minta oleh Reby agar menyiapkan kopi hitam untuknya. Dan Reby ia sedang merapikan pakaiannya yang tadi sempat berantakan saat ia melihat Rania masuk.
Reby mencoba membetulkan dasinya, namun tangan mungil itu malah mengambil alih dan membetulkan dasi Reby yang tadi berantakan. Astaga kini iman Reby di uji lagi oleh Rania karena kini jarak mereka sangat dekat. Bibir pink yang ranum itu terlihat semakin menggoda Reby.
'Aku ingin sekali menciumnya, tapi....' gumamnya dalam hati.
"Tuan, ayo masuk ke kantor " ajak Rania, jika di kantor Rania memang akan memanggilnya dengan sebutan Tuan. Namun Reby hanya diam saja, dan terus memandang Rania dengan tatapan sulit di artikan.
****
Aihhh Eby kalau mau cium mah cium aja, bebek bawel juga gak bakalan nolak 😆😆😆🤣🤣🤣
thanks ya Thor lucu tak membosankan ..