Kisah Jerry, Eza dan Nilo seorang wanita 21 tahun yang sangat suka sekali berdiam diri di Rumah dan memiliki ilusi yang sangat kuat.
Bahkan Nilo bisa menceritakan bagaimana rupa suaminya itu, bagaimana mereka menikah, bagaimana mereka melewati malam pertama dengan begitu detail. Namun itu semua hanyalah khayalan Nilo.
Nilo tersesat antara kehidupan nyata dan imajinasinya.
Akankah Nilo tersadar dan bagaimana Nilo menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 15
Sedangkan di dalam otak Nilo, terlintas sebuah khayalan, J sedang mendorong gerobak untuk berjualan mie ayam keliling.
Nilo menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia tidak mau itu terjadi.
Akhirnya terlintas J sedang opening depot mie ayamnya di sebuah mal, terlihat pula dirinya menjadi seorang kasir yang sedang melayani banyak pelanggan.
“Ya ya itu lebih baik.” suara Nilo keluar dari mulutnya.
“Apa yang baik Nilo?” tanya Jerry merespon ucapan tiba-tiba dari Nilo.
“Oh tidak, lupakan itu.”
Setelah makan siang, Nilo mengajak Jerry untuk menonton drama korea di ruang keluarga, sengaja Nilo memilih drama yang sudah tamat karena jarang sekali suaminya itu bisa bertahan lama di sisinya, agar cerita yang mereka tonton tidak menggantung entah kapan akan ada waktu untuk mereka sambung kembali, sebuah kisah percintaan seorang anak orang kaya dan anak pembantu.
Nilo menangis pada scene tokoh utama yang harus berpisah karena orang tua tidak merestui, namun Jerry malah terbawa suasana hingga meneteskan air matanya saat tokoh utama merelakan semua miliknya agar kakak satu-satunya yang begitu ia sayangi,ia hormati mau bersikap layaknya kakak lagi kepada adiknya itu. Semenjak tumbuh dewasa sang kakak mengirim adiknya jauh keluar negri agar sang adik tidak pandai mengurus perusahaan, dan perusahaan ayah mereka di serahkan pada sang kakak, namun jauh di lubuk hati sang kakak, dia juga sangat menyayangi adiknya itu, tokoh utama yaitu sang adik selalu menuruti perkataan kakaknya itu demi mendapatkan kasih sayang kakaknya yang begitu ia sayangi.
“Hei kau menangis? apa kau juga punya adik atau kakak?” tanya Nilo melihat air mata Jerry menetes.
Jadi wanita ini tidak tau, suaminya itu punya adik atau kakak.
“Tidak, aku seorang diri di sini dan di dunia ini.” jawab Jerry.
“Itu sungguhan, aku pikir kau sama seperti ku, hanya sendiri di sini, namun tidak sendiri di dunia.” Nilo sudah bertanya pada J sebelumnya.
Hari pun berlalu, Jerry menghabiskan hari liburnya bersama Nilo yang mencintainya sebagai J. Entah bagaimana jadinya ketika Nilo mengetahui Jerry adalah orang yang berbeda dengan J.
Keesokan harinya, Nilo bertekad untuk mencari pekerjaan, pagi-pagi sekali Nilo telah bangun dari tidurnya dan bergegas mandi agar merasa lebih segar, ia berdoa semoga tidak ada pria tampan yang menghampirinya hari ini.
Untunglah suami ku jarang di rumah, kalau dia di rumah mana mungkin aku bisa fokus.
Batin Nilo seraya mengikat tinggi rambutnya yang tidak terlalu panjang itu.
hah, tapi sampai kapan harus kucing-kucingan begini.
Nilo pun mengambil laptopnya dan duduk di window seat dalam kamarnya, pagi hari yang sangat cerah membuat Nilo sangat bersemangat. Namun tidak lama wajahnya yang sedang menatap ke dalam laptop berubah muram karena tidak mendapatkan apa yang ia cari.
Nilo menutup laptopnya, mengambil ponsel dan menarik tas kecil miliknya, lalu bergegas keluar.
“Nilo, bibi ga salah liat?” heran bibi Nata yang melihat Nilo sudah cantik sepagi ini.
“Hehe, Nilo mau keluar sebentar Bi.” timpal Nilo dengan wajah sedikit malu. Jelas sekali bahwa Nilo sangat jarang keluar rumah terlebih sendirian dan di pagi hari seperti ini, untung saja badannya tidak gendut karena terlalu sering bermalas-malasan.
“Sarapan dulu Ndok.” Bibi Nata menimpali dengan panggilan sayangnya kepada Nilo.
“Nanti saja Bi, Nilo cuma sebentar saja kok.” Nilo menampik lalu pergi keluar mengenakan helm dan menaiki scoternya untuk pergi mencari mamang koran yang berjualan di pinggir jalan.
Karena pikir Nilo dekat dan hanya sebentar ia memilih memakai scoternya saja daripada menggunakan mobil.
Nilo pun mulai menjalankan skuternya, saat keluar dari komplek perumahannya, matanya seketika melihat mamang Koran tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Brak... Nilo menabrak pelan sebuah mobil yang membuatnya jatuh.
Nilo berbelok tanpa melihat terlebih dahulu ia terfokus pada pedagang koran yang sudah ia lihat.
Nilo melihat pemilik mobil keluar dari mobilnya lalu dengan cepat Nilo kembali bangun dari aspal yang sudah pengen nyium dia di pagi hari begini.
“Maaf Tuan, saya ceroboh.” tutur Nilo dengan menundukkan kepalanya, ia tidak berani melihat si pemilik mobil.
Kalau dia tampan, bisa lain ceritanya. Kicau Nilo dalam hati, ia sengaja tidak melihat ke arah si empunya mobil.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Pria tinggi di depan Nilo seraya melihat ke wajah Nilo yang tampak di sembunyikan.
“Ya, aku baik saja tuan, Terimakasih.” timpal Nilo, lalu mengambil pulpen dan kertas kecil berwarna pink di dalam tasnya, menuliskan nomor telpon dan memberikan kepada pria itu.
Tidak mungkin Nilo memberikan uang kepada seorang yang menanyakan keadaannya, Nilo bisa menilai dari ucapan pertama yang keluar dari si empunya mobil, untuk menunjukkan tanggung jawabnya Nilo memberikan nomor telponnya.
Jika si empunya mobil langsung marah-marah pada Nilo, mungkin uang adalah keinginan si empunya mobil menuntut ganti rugi.
Nilo menganggukkan kepalanya saat pria di depannya menerima kertas pink yang di berikan oleh Nilo. Ia membangunkan skuter yang sejak tadi masih rebahan di aspal, pria tinggi itupun membantu Nilo.
Nilo melanjutkan perjalanannya yang sudah di depan mata. Baru sebentar ia melajukan skuternya ia berhenti lagi di depan pedagang koran.
“Mang, 1 koran hari ini ya.” cakap Nilo tanpa turun dari skuternya, terlihat ia sedang menahan sakit.
“Oh iya Neng.” dengan cepat Mamang koran mengambilkan 1 koran untuk Nilo.
Nilo pun kembali setelah membayar korannya.
Sesampainya di rumah, Nilo berjalan pelan dengan menahan sakitnya terlihat seperti orang pincang.
Nilo pun langsung mendudukkan bokongnya di kursi yang terdekat dari pintu masuk rumahnya dan belum sempat melepas helmnya.
“Ah sayang, kau datang di waktu yang tepat.” tutur Nilo melihat J sudah berada di depannya.
Nilo seketika memikirkan suaminya di saat ia kesakitan seperti ini, tanpa lama suami khayalannya itu pun muncul begitu saja saat Nilo membuka matanya.
J membuka helm yang masih terpasang di kepala Nilo, nyatanya tangan Nilo sendiri lah yang membuka helm itu.
J mengangkat kaki Nilo yang terlihat sakit, terlihat ada sedikit luka karena gesekan dari aspal jalan.
“Auww..” suara Nilo kesakitan, rupanya kaki Nilo terkilir. J meniup luka itu dan mengelus pelan kaki Nilo yang terkilir.
Di tempat lain, terlihat Eza sedang memandangi kertas pink di tangannya. Rupanya pria pemilik mobil yang di tabrak oleh Nilo adalah Eza.
Benar saja batin Nilo, jika ia melihat pria itu dan pria itu adalah pria tampan bisa lain ceritanya.
“Harus aku apakan ini?” bingung Eza menyadari wanita tadi hanya memberikan nomor telpon rumahnya.
kangen banget aku Ama Nilo
penasaran aku gak ilang² lho Thor Ama novelmu ini
setiap up adaaaa aja misterinya😁
Jan lama² ya Thor up nya aku setia nunggu lho😚
kelakuan Evan... jadi suka akunya sama doi🤭
Jerry kemana Thor? kangen juga ama cerita si Deddy satu ini😁