Az Kim Alexandria nama gadis itu, wajahnya yang tenang, tatapannya yang tajam sikapnya yang dingin, membuat salah satu CEO miliarder terkenal di kota Seattle merasa terhantui oleh paras gadis itu.
Siapakah sebenarnya gadis itu?
Tanpa gadis itu ketahui ada seseorang yang ingin mengetahui rahasia apa yang dia sembunyikan.
Jangan lupa teman-teman readers beri Coment, like and Votenya yaaaa🙋😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutinitasku
Andria bangun pagi-pagi sekali, mandi lalu kembali memakai kemeja kotak-kotaknya berwarna biru dan jeans yang kusam, rambutnya yang coklat diikatnya begitu saja, mengambil ranselnya yang tergeletak menyedihkan di lantai. Dia akan segera ke sekolah tapi tahu bahwa Ronan sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Pagi Andria." sapa Ronan padanya. Andria tersenyum sebentar lalu duduk di meja makan, roti dan telur serta teh celup sudah disediakan di atas meja.
"Mom sepertinya belum bisa pulang Andria, perjalanannya terhenti di Texas, untuk beberapa hari ini dia tidak pulang."Jelas ronan. Andria hanya mengangguk tidak mengatakan apapun.
"Em..terima kasih sarapannya." kata andria kaku, mulutnya kelu selama ini dia jarang berterima kasih, hidup yang keras di panti asuhan selama beberapa tahun dan selebihnya hidup di jalanan, membuatnya lupa dengan kata terima kasih.
Ronan tersenyum, "Welcome Andria." Ronan senang Andria mulai belajar berkomunikasi dan tersenyum, meskipun senyumnya dipaksakan.
Andria mengambil sepedanya dari gudang sedikit membersihkannya dari debu yang menempel, dia memakai tas ranselnya dan pergi tanpa berbalik menatap Ronan.
"Aku harus bersiap-siap juga kan!" Seru Ronan berjalan ke dalam rumahnya.
~
"Bagaimana Gery? kau mengantarnya tepat di depan rumahnya?" tanya Alex yang membuka-buka dokument di dalam mobilnya.
"Iya tuan, seorang pria menunggunya ketika kami tiba." jelas Gery.
"Seorang pria? siapa pria itu, "Erm Gery aku ingin kau menyelidiki dengan siapa gadis itu tinggal." Gery menunduk padanya.
"Baik tuan."
Cahaya matahari menyambut Andria yang berangkat ke sekolah dengan bersepeda, seperti biasa headphone melengkapi harinya, hingar bingar jalanan di Seattle tidak mengganggunya sama sekali, membuatnya merasa lebih hidup.
Andria tiba di sekolahnya, seperti biasa dia memasuki kawasan mobil-mobil mahal yang berderet, memarkirkan sepedanya lalu masuk ke gedung sekolah mencari ruangan kelas dengan mata pelajaran pemerintahan di salah satu kelas.
"Hai Andria." Teriak Chris yang menunggunya sejak tadi. Matanya bersinar menatap Andria.
"Kemarin..kau pergi kemana? aku tidak melihatmu pulang." Suara Chris normal seperti biasa.
"Aku sedikit pusing jadi aku pulang, sorry." Jelas Andria.
"Ok, bukan masalah Andria." Meskipun begitu Chris mengatupkan bibirnya memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Kelas pemerintahan betul-betul membuatnya bosan, matanya tidak fokus sama sekali, hanya menatap orang-orang yang berlalu lalang dari luar jendela kelas.
"Miss Andria ! aku sangat senang jika sedikit dari perhatianmu kepada pelajaran ini, dear! Jawab pertanyaan nomor 3." Kata miss Rudd padanya.
Andria berdiri, melihat pertanyaan membosankan yang ada di papan tulis, "Erm.. jawabannya..."
sebelum Andria menjawab seorang gadis berambut pirang panjang berteriak, "Pecundang." Sontak murid yang ada di dalam kelas tertawa-tawa.
"Saya ingin kalian tenang." Kata miss Rudd dengan suara melengking.
"Jawabannya dear?" tambah Miss Rudd pada Andria.
"Pemberontakan di Perancis." Kata Andria tenang. Miss rudd tersenyum sembari memebenarkan kacamatanya lalu memandang Andria.
"Tepat sekali Andria dear." Senyum Miss Rudd. "senang kau menjawabnya meskipun perhatianmu di tempat lain." Andria memutar matanya kembali duduk lalu menatap buku-buku yang dengan sopan masih terbuka lebar di depan hidungnya.
Bell berbunyi Andria segera berdiri dari bangkunya, tanpa memperdulikan sekitarnya, tiba-tiba seorang gadis berambut pirang menghalangi langkahnya.
Andria memiringkan kepalanya menatapnya tajam. "Perlu apa?"
"Ck, sopan sekali Andria dear." sambil menirukan Miss Rudd, Dengan memainkan kuku panjangnya. Wajah gadis pirang ini baru di mataku, pikir Andria.
"Namamu Andria bukan? Bolehkah aku minta tolong? aku ada acara party bersama Wenny dan Jessy, aku sangat senang jika kau ikut bersama kami."
Andria tidak mengindahkan kata-katanya, tetapi gadis pirang itu menghalangi langkahnya. "Kau bisa ikut bersama kami, dengan satu syarat...bisakah kau menyampaikan kepada Mr.jason aku tidak bisa ikut kelas biologinya karena aku sedikit flu, kau tahu maksudku."
Andria tersenyum licik dan menyeringai.
"Oke..serahkan padaku dear !"