Melody kabur dari rumah setelah hampir diperkosa oleh papa tirinya yang kasar dan pemabuk.
Karena panik, Melody naik sembarang bus hingga akhirnya gadis dua puluh empat tahun tersebut tersesat di sebuah kota metropolitan tanpa bekal maupun identitas apapun.
Di tengah kebingungannya, Melody tiba-tiba bertemu seorang pria berjas rapi yang membawa beberapa bodyguard dan memanggil Melody sebagai Nona Claudia.
Sekuat apapun Melody membantah, tidak ada seorang pun yang percaya kalau Melody adalah Melody dan bukan Nona Claudia.
Lalu siapa sebenarnya Nona Claudia yang dimaksud oleh semua orang?
Ada hubungan apa sebenarnya antara Melody dan Nona Claudia hingga membuat keduanya mempunyai wajah yang sama?
Dan dimana sebenarnya Nona Claudia yang asli bersembunyi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENANDUNG?
"Oweek!" Tangisan Melody di tengah malam, membuat Ayana terbangun dan buru-buru memeriksa salah satu putri kembarnya tersebut. Popok Melody rupanya sudah penuh, jadi Ayana segera menggantinya dengan yang baru, lalu lanjut menyusui bayi mungil yang baru genap berusia satu minggu tersebut.
Tepat saat Melody selesai menyusu, gantian Senandung yang terbangun dan menangis.
"Ani!" Ayana membangunkan sang adik yang memang tinggal bersamanya dan membantu Ayana merawat Melody serta Senandung.
"Ani, bangun dulu!" Ayana kembali membangunkan Anita, sang adik.
"Ada apa, Mbak!" Anita mengucek kedua matanya yang masih mengantuk.
"Kamu bantu gendong Melody dulu! Mbak mau nyusuin Senandung," Ayana meminta tolong pada sang adik.
"Iya!" Anita buru-buru mengangkat Melody dari atas tempat tidur dan menimang-nimang bayi yang sepertinya mengajak begadang tersebut.
"Anita ke belakang dulu, Mbak! Mau minum," pamit Anita masih sambil menggendong Melody dan membawanya ke dapur untuk mengambil minum. Sementara Ayana masih menyusui Senandung, saat tiba-tiba pintu rumah sederhana itu menjeblak terbuka, lalu segerombolan orang berpakaian hitam merangsek masuk.
"Ambil bayinya!" Ucap salah seorang dari mereka.
Ayana masih kaget saat seseorang tiba-tiba sudah mengangkat Senandung dan mengambilnya dari pelukan Ayana.
Apa?
"Bayiku! Kembali-"
Seseorang mendorong Ayana yang hendak mengambil kembali bayinya hingga jatuh tersungkur. Hanya dalam hitungan menit, gerombolan orang-orang yang berpakaiserba hitam tadi sudah meninggalkan rumah Ayana sambil membawa Senandung.
"Senandung!" Teriak Ayana yang langsung membuat Anita yang yadi berada di dapur tergopoh-gopoh menghampiri sang kakak.
"Mbak!"
"Mbak, ada apa ini?" Tanya Anita kebingungan.
"Senandung dibawa orang, Ani! Senandung diculik orang!" Ayana menjerit-jerit tak karuan sebelum kemudian ibu muda itu jatuh tak sadarkan diri.
"Mbak Aya!"
"Bu!" Teguran dari Claudia langsung membuat Bu Aya tersadar dari lamunannya.
"Kok melamun, Bu? Jadi bantu menaikkan ritsleting baju Mel tidak?" Tanya Claudia yang langsung membuat Bu Aya sadar kalau sejak tadi ia belum jadi menaikkan ritsleting gaun sang putri.
Bu Ayana kembali mengusap tahi lalat di punggung bagian bawah milik Claudia dan matanya seketika berkaca-kaca.
"Senandung?" Gumam Bu Aya lirih.
Mungkinkah yang di depannya Bu Aya saat ini benar-benar adalah Senandung? Putrinya yang sudah lama menghilang dan Bu Ayana kira sudah meninggalkan dunia ini.
"Sudah, Bu?" Tanya Claudia memastikan.
"Iya, sudah," jawab Bu Ayana seraya memutar tubuh Clau agar ganti menghadap ke arahnya. Bu Ayana menatap lekat wajah Claudia yang jika diperhatikan dengan seksama memang lebih putih dan lebih bersih ketimbang Melody.
Mungkin karena Melody yang kesehariannya pergi ke sawah membantu Bu Ayana atau Bulik Ani.
"Ada apa, Bu?" Tanya Claudia bingung saat tiba-tiba Bu Ayana sudah memeluk Claudia dengan erat seolah sedang melepaskan sebuah beban rindu.
"Apa kau benar Melody?" Tanya Bu Ayana memastikan masih sambil memeluk Claudia.
"I-iya."
"Ini Melody, Bu!" Jawab Claudia berdusta. Claudia mengusap lembut punggung Bu Ayana sembari menikmati hangatnya pelukan seorang ibu yang sangat Claudia rindukan.
"Mbak Mel!" Panggilan dari Bagus langsung membuat Claudia melepaskan pelukannya pada Bu Ayana.
"Mbak, sudah siap belum? Ayo berangkat!" Seru Bagus lagi dari luar kamar.
"Iya, Gus! Mbak keluar sebentar lagi!" Jawab Claudia yang langsung bergegas meraih bedak dan lipstik di atas meja rias. Claudia memoleskan dengan cepat bedak dan lipstik tersebut ke wajahnya seperti sudah ahli.
"Mel berangkat dulu, Bu!" Pamit Claudia seraya meraih tangan Bu Ayana dan menciumnya.
"Hati-hati dan nggak usah aneh-aneh! Nanti selesai tampil langsung pulang bareng Bagus, ya!" Pesan Bu Ayana.
"Iya, Bu!"
Claudia keluar dari kamar dan segera menemui Bagus yang ternyata sudah menunggunya di teras depan.
"Andez!" Gumam Claudia kaget saat mendapati Andez yang rupanya juga sudah berada di teras bersama Bagus.
"Mas Andez mau bareng sekalian katanya, Mbak!" Lapor Bagus pada Claudia.
"Kamu cantik malam ini, Mel!" Puji Andez seraya menatap kagum pada Claudia dari ujung kaki hingga ujung kepala. Matthew yang merupakan tunangan Claudia saja tidak pernah menatap Claudia seperti itu. Kecuali tatapan penuh nafsu dan gairah yang selalu diberikan Matthew saat pertemuan mereka hingga akhirnya mereka berdua akan berakhir di kamar apartemen atau kamar hotel setelah saling menelanjangi.
Sial!
Kenapa pikiran Claudia malah lari ke arah sana?
"Mbak!" Tegur Bagus yang langsung membuat kesadaran Claudia kembali.
"Udahan melamunnya?" Tanya Bagus lagi dengan ekspresi wajah mengesalkan.
"Siapa yang melamun! Dasar sok tahu!" Claudia kembali harus menoyor kepala sepupu Melody itu.
Sementara Andez yang melihat perdebatan Bagus dan Claudia hanya menahan tawa.
"Ayo berangkat, Andez!" Clau tiba-tiba sudah menggamit lengan Andez mengajaknya berangkat meninggalkan Bagus.
"Ciyee! Yang sekarang punya cowok baru!" Goda Bagus seraya mengekori Claudia dan Andez yang masih bergamitan tangan. Namun Claudia buru-buru melepaskan gamitannya pada Andez dan mendadak wajah Claudia jadi bersemu merah.
Ya ampun!
Seperti anak perawan yang baru kenal cowok saja!
"Bawel kamu!" Claudia kembali menoyor kepala Bagus, namun kali ini meleset.
Ck! Dasar Bagus!
****
[Kau masih di ruangan Tuan Harun?] -Abrisam-
[Tidak! Kau kemana saja? Papa membawaku ke rumah sakit sekarang] -Melody-
[Serius? Kau sakit apa?] -Abrisam-
[Kau yang menyuruhku berpura-pura sakit kepala saat Papa memberiku pekerjaan. Sekarang lihatlah hasilnya!] -Melody-
[Hahaha! Akan ku telepon dokter saja dan menjelaskannya. Jangan marah, oke!] -Abrisam-
[Tunggu dulu! Tapi mobil Papa kenapa berhenti di sebuah gedung pertunjukan dan bukan rumah sakit?] -Melody-
[Serius? Coba kirim lokasimu sekarang] -Abrisam-
Melody mengirimkan lokasinya pada Sam via pesan.
[Itu gedung pertunjukan. Kebetulan hari ini sedang ada konser musik jazz. Nona Claudia menyukai musik jazz] -Abrisam-
[Terima kasih atas informasimu, Sam] -Melody-
[Oke! Selamat bersenang-senang sebagai Nona Claudia!] -Abrisam-
"Yang ini pasti bisa menyembuhkan sakit kepalamu," ujar Papa Harun mebarap pada Melody yang langsung menghambur ke pelukan pria paruh baya tersebut.
"Terima kasih, Papa!"
"Ada syaratnya," satu kalimat Papa Harun langsung membuat senyuman Melody sedikit pudar.
"Lusa kau harus menggantikan Papa datang ke sebuah acara. Tapi jangan khawatir, nanti kau akan datang bersama Matthew," lanjut Papa Harun lagi menjelaskan syarat yang tadi ia maksud.
"Sam ikut juga, kan?" Tanya Melody penuh harap.
"Tidak! Sam akan ikut Papa ke luar kota untuk meninjau sebuah proyek."
"Sudah ada Matthew yang menjagamu," pungkas Papa Harun yang tentu saja langsung membuat Melody merasa khawatir.
"Ayo turun, Clau! Konsernya dimulai sebentar lagi!" Ajak Papa Harun selanjutnya.
Melody menyusul turun dari mobil dan melangkah setengah hati ke dalam gedung pertunjukan. Semangat Melody untuk menonton konser musik jazz mendadak menguap pergi setelah permintaan Papa Harun tadi.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹