Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Sisi menatap ke arah jendela dan baru menyadari bahwa hari sudah beranjak gelap. Ia terlalu tenggelam dalam pekerjaannya, absen beberapa hari membuat tugas menumpuk, belum lagi bosnya tidak ada dan meninggalkan semua tanggung jawab padanya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Sisi kembali ke mansion. Ruang tamu yang luas tampak lengang. Tidak ada siapa pun. Rasa penasaran menyelinap di benaknya, ke mana semua orang?
Ia pun naik ke lantai atas untuk berganti pakaian. Namun saat membuka pintu kamar, langkahnya terhenti.
Sisi terpaku.
Lucien benar-benar menepati ucapannya.
Tempat tidur itu diganti. Kemarin berwarna putih, kini hitam. Seprai, selimut, semuanya baru.
Dasar pria aneh.
Apa dia benar-benar sebenci itu pada wanita sampai harus membuang tempat tidur? Dan yang diganti pun bukan sembarang barang, semuanya baru. Tentu saja, bagi pria sekaya dia, itu bukan masalah.
Pria yang sangat aneh.
Pantas saja dia sering bercerai.
Sisi menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik dan masuk ke kamar rahasianya.
Setelah berganti pakaian, ia turun kembali ke bawah.
Di ruang tamu, Sisi melihat Lyra duduk santai di sofa. Sebuah ide langsung muncul di benaknya. Mungkin ia bisa menggali sedikit informasi tentang mantan istri Lucien dari gadis itu. Lyra terlihat blak-blakan dan Sisi menyukai orang seperti itu.
“Hai, Lyra,” sapa Sisi dengan senyum cerah.
Lyra yang sedang fokus pada ponselnya mengangkat kepala.
“Hai, kakak iparku yang cantik,” balasnya manis.
“Ibu ke mana?” tanya Sisi.
“Rapat,” jawab Lyra singkat.
Sisi duduk di sampingnya. Ia melirik sekeliling, memastikan tidak ada orang lain.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tentu. Apa itu?”
“Kenapa kakakmu sering menikah, tapi selalu berakhir dengan perceraian?” tanya Sisi santai.
Lyra menghela napas panjang.
“Kenapa semua wanita yang baru menikah dengan kakakku selalu menanyakan hal yang sama?” gumamnya lembut.
Sisi sedikit menunduk, merasa seperti tukang gosip. Tapi rasa penasarannya terlalu besar.
“Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapa pun,” lanjut Lyra. “Tapi karena kau yang bertanya… aku akan jujur. Aku menyukaimu.”
Sisi hanya diam.
“Kakakku tidak pernah menunjukkan kasih sayang pada wanita,” ujar Lyra pelan. “Dia juga terlalu teliti. Tidak ada wanita yang bisa bertahan bersamanya, tidak peduli sekaya apa pun dia.”
Sisi tidak bisa menyangkalnya.
Wanita membutuhkan perhatian dan rasa dicintai. Uang tidak akan pernah cukup jika hati dibiarkan kosong.
“Dia tidak pernah membiarkan siapa pun tinggal di mansion lebih dari tiga bulan,” lanjut Lyra. “Entah mereka pergi dengan sukarela, atau kakakku akan memaksa mereka pergi. Setiap perceraian selalu melukai hati orangtuaku.”
Nada suara Lyra sarat kesedihan.
“Tapi kenapa dia seperti itu?” gumam Sisi. “Ada apa yang salah--”
“Dengan otaknya?” potong Lyra cepat. “Aku juga sering berpikir begitu.”
“Apa dia…?” Sisi refleks menutup mulutnya, terkejut.
Astaga.
Apa aku menikahi orang gila?
“Bukan seperti yang kau pikirkan,” lanjut Lyra cepat. “Sebenarnya--”
“Ternyata kau menggosipkan kakakmu di belakangnya?”
Suara dingin itu muncul dari belakang mereka.
Jantung Sisi seakan berhenti berdetak.
Ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah.
Rasa ingin tahu benar-benar membunuh kucing.
Dan saat ini, Sisi merasa nyawanya di ujung tanduk.
“Dia tidak mentolerir pengkhianatan,” bisik Lyra cepat di telinga Sisi. “Aku melakukannya demi kamu. Sekarang giliranmu menghadapinya.”
Tanpa menunggu reaksi, Lyra langsung kabur.
Sial.
Atmosfer berubah berat seketika.
Sisi tidak berani menoleh. Tubuhnya kaku, menunggu apa yang akan terjadi.
Tarik napas. Buang napas. Kau bisa, Sisi. Jangan tunjukkan kelemahanmu.
Beberapa detik terasa seperti selamanya.
Akhirnya suara dingin itu terdengar lagi.
“Masuk ke kamar.”
Sisi menghela napas panjang sebelum berbalik dan mengikutinya.
Di dalam kamar, Lucien melepas jasnya dengan kasar dan melemparkannya ke atas tempat tidur.
Ia menoleh menatap Sisi.
“Kenapa kau begitu penasaran tentangku?” tanyanya, alis terangkat.
“Apa kau sudah jatuh cinta padaku?” tambahnya sinis.
Sisi terdiam.
Jatuh cinta padanya? Mimpi.
“Tidak,” jawab Sisi singkat.
“Bagus,” dengus Lucien. “Ingat ini. Jatuh cinta padaku sama saja dengan jatuh cinta pada iblis.”
Memang seperti itu, batin Sisi. Kau anak iblis.
“Kalau kau sanggup melewati penderitaan neraka, silakan. Teruslah penasaran tentangku.”
Sisi mendengus pelan.
“Aku?” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Jatuh cinta padamu?”
Ia melangkah mendekat.
“Kau terlalu percaya diri. Wajar kalau aku penasaran, tapi itu bukan berarti aku punya perasaan padamu. Jangan-jangan justru kau yang berasumsi. Hati-hati, bisa saja kau yang jatuh cinta padaku, Tuan Lucien.”
Lucien tertawa pendek, dingin, seolah mendengar lelucon terburuk.
“Aku jatuh cinta padamu?” ejeknya. “Apa kau pikir kau malaikat yang bisa membuatku jatuh cinta?”
Sisi tetap tenang.
“Tidak,” ujarnya pelan, melangkah lebih dekat.
“Tapi siapa bilang iblis hanya bisa jatuh cinta pada malaikat?” senyum Sisi melengkung tipis. “Iblis juga bisa jatuh cinta pada iblis.”
Ia memang terlihat seperti malaikat.
Tapi darah iblis mengalir di nadinya.
Mata Lucien berkilat sesaat, terkejut.
Ia hendak berbicara ketika tiba-tiba ponsel Sisi berdering.
PANGGILAN MASUK DARI ELOWEN…