Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Teka-teki
Ular raksasa itu sudah mencapai batas kesabarannya. Dengan sisa tenaga terakhir dan harga diri yang hancur berkeping-keping, ia melakukan gerakan memutar yang sangat ekstrem. Tubuhnya yang panjang mencambuk udara, menciptakan gaya sentrifugal yang luar biasa.
"Pegangan yang erat, Dong Dong! Ular ini sedang mencoba melakukan teknik drifting!" teriak Li Yuan sambil mencengkeram sisik leher ular itu.
"Ini bukan drifting, Bodoh! Kita akan dilemp—UAAARGH!"
WUUUZZZ!
Benar saja, ular itu mengibaskan ekor dan tubuhnya secara bersamaan, melontarkan Li Yuan dan Dong Dong seperti peluru meriam ke arah tebing batu yang tertutup lumut. Mereka melayang di udara, melewati rimbunnya dedaunan, sebelum akhirnya jatuh ke dalam sebuah lubang gelap yang tersembunyi di balik akar gantung.
BRUUK! BRAK! DUAK!
"Aduh... pinggangku sepertinya mau patah." rintih Li Yuan sambil berusaha duduk di atas lantai batu yang dingin.
"Setidaknya kau mendarat di atas batu," sahut sebuah suara yang terdengar teredam. "Aku mendarat tepat di atas tumpukan kotoran kelelawar!"
Li Yuan menoleh dan melihat Dong Dong sedang sibuk membersihkan bulunya dengan wajah yang sangat jijik. Mereka berada di dalam sebuah gua yang sangat luas. Udara di dalamnya terasa sangat murni, bahkan lebih padat daripada di kolam hitam tadi. Aroma energi spiritual yang kental tercium dari arah dalam.
"Tunggu, lihat itu!" Li Yuan menunjuk ke arah dinding gua yang paling ujung.
Sebuah gerbang batu raksasa berdiri kokoh di sana. Tidak ada gagang pintu, tidak ada lubang kunci. Yang ada hanyalah sebuah pahatan wajah manusia yang tertawa dan deretan kalimat kuno yang bercahaya kebiruan.
"Sepertinya ini bukan gua biasa," gumam Dong Dong, matanya menyipit. "Ini adalah kediaman seorang kultivator kuno. Lihat tulisan itu."
Li Yuan mendekat dan membaca tulisan di dinding tersebut dengan dahi berkerut:
"Aku memiliki sayap namun tidak bisa terbang. Aku memiliki nyawa namun tidak pernah dilahirkan. Aku bisa mengelilingi dunia tanpa pernah meninggalkan tempatku. Siapakah aku?"
Li Yuan terdiam. Ia memegang dagunya, mencoba berpikir keras. "Sayap tidak bisa terbang... Mengelilingi dunia tapi diam di tempat..."
Dong Dong melompat ke pundak Li Yuan. "Ini teka-teki untuk menguji kecerdasan. Kau tahu, banyak kultivator yang kuat tapi otaknya kosong seperti tempurung kelapa. Pemilik gua ini pasti ingin memastikan yang masuk adalah orang pintar."
Li Yuan menjentikkan jarinya. "Aku tahu! Jawabannya adalah... seekor ayam yang naik kereta bangsawan!"
Dong Dong langsung menampar pipi Li Yuan dengan ekornya. "Logika macam apa itu?! Ayam memang tidak bisa terbang tinggi, tapi mereka tetap lahir dari telur! Gunakan otakmu, Li Yuan! Ingat apa yang kau pelajari dari pengetahuan spiritual di kepalamu!"
Li Yuan meringis, ia kembali menatap tulisan itu. "Bukan ayam... mengelilingi dunia... diam di tempat..."
Tiba-tiba, ingatannya kembali ke masa-masa ia masih menjadi gembel di kota. Ia ingat para bangsawan sering membawa benda-benda aneh dari kertas yang digulung, menunjukkan tempat-tempat jauh tanpa pernah pergi ke sana.
"Peta!" teriak Li Yuan. "Jawabannya adalah Peta!"
Begitu kata itu terucap, wajah batu yang tertawa di dinding itu tiba-tiba berhenti tertawa. Matanya yang kosong mulai bersinar terang, dan suara gemuruh mengguncang seluruh gua.
"Jawabanmu... hampir benar, Manusia Kecil," suara berat bergema dari dinding. "Tapi peta tidak memiliki nyawa. Pikirkan lagi. Sesuatu yang memiliki 'nyawa' di dalam pikiran, memiliki 'sayap' imajinasi, dan membawamu keliling dunia tanpa beranjak dari kursi."
Li Yuan dan Dong Dong saling berpandangan. Dong Dong kemudian berbisik, "Li Yuan, sesuatu yang sering kita curi dari perpustakaan kota beberapa hari yang lalu hanya untuk dijadikan bantal... tapi kau bilang itu berisi cerita..."
"Buku!" Li Yuan berseru dengan yakin. "Jawabannya adalah Buku!"
KLIK!
Suara mekanisme kuno terdengar berputar di balik dinding. Gerbang batu itu perlahan bergetar dan terbelah menjadi dua, menyingkap sebuah ruangan yang memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata.
"Harta karun!" Li Yuan dan Dong Dong berteriak bersamaan dan langsung berlari masuk tanpa memikirkan jebakan sama sekali.
Namun, begitu mereka sampai di dalam, langkah mereka terhenti. Bukannya tumpukan emas, mereka justru melihat sebuah pedang tua yang berkarat tertancap di atas sebuah batu besar, dan di sampingnya, terdapat sebuah panci yang sedang mendidih meski tidak ada apinya.
"Dong Dong... apakah itu sup yang berumur seribu tahun?" tanya Li Yuan sambil menelan ludah.
"Entahlah, tapi baunya lebih enak daripada sate ular tadi." jawab Dong Dong dengan mata berbinar.