Kata kunci masuk GC : Siapakah nama paman Almira?
Pernikahan yang dibina Almira selama setahun kandas di tengah jalan. Tomy. suami yang dicintainya menghamili sekertarisnya. Almira yang kecewa dengan suaminya langsung kabur dari rumah untuk menghindari suaminya dan mertuanya.
Tanpa sengaja Almira bertemu kembali dengan Tomy di kantor tempat Almira bekerja, karena atasan Almira adalah teman Tomy. Semenjak itu Tomy kembali mendekati Almira. Almira tidak ingin kembali ke mantan suaminya dan hanya ada satu cara agar Tomy berhenti mengejar Almirah lagi, yaitu menikah dengan atasannya yang bernama Faisal Yudhatama.
Faisal Yudhatama adalah pemilik perusahaan tempat Almira bekerja Faisal adalah seorang duda yang memiliki tiga anak, istrinya meninggal karena sakit kanker yang di deritanya.
Demi menolong Almira dari gangguan Tomy, Faisal meminang Almira. Akankah Almira menerima pinangan Faisal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kedatangan Ibu Rosita.
Akbar dan Amelia bersembunyi di balik gamis Eyang Putrinya.
“Lupa ya, sama Tante?”
Akbar dan Amelia mengintip dari balik gamis. Lalu Almira mencolek pipi Akbar dan Amelia satu-persatu.
“Tante gemes deh,” kata Almira.
Kemudian Almira kembali berdiri.
“Silahkan duduk, Tante. Mau minum apa?”
“Eh….nggak usah repot-repot, Tante nggak akan lama cuma mau nganterin makan siang. Terus mau langsung jemput Naura di sekolah,” kata Ibu Rosita.
Ibu Rosita keluar ruangan untuk mengambil rantang yang dipegang oleh pengasuh, Akbar dan Amelia mengikuti Eyang Putri nya dari belakang sambil memegang gamis Eyang Putri.
“Eh, mau kemana? Di sini saja sama Tante,” kata Almira memanggil Akbar dan Amelia.
“Biasa kalau baru ketemu memang begitu, nanti juga lama-lama nempel,” kata Faisal yang juga memperhatikan kelakuan kedua anaknya.
Ibu Rosita menaruh rantang di atas meja sofa.
“Ini untuk makan siang kalian, dihabiskan, ya!” kata Ibu Rosita.
“Terima kasih, Tante. Almira jadi ngerepotin Tante,” ucap Almira.
“Nggak ngerepotin kok. Bukan tante yang masak, tapi Bi Iyem yang masak,” kata Ibu Rosita.
“Tante jalan dulu, ya. Takut macet di jalannya. Kasihan nanti Naura kelamaan menunggu.”
Almira mencium tangan Ibu Rosita.
“Oh iya Tante lupa. Malam Minggu besok Rafi mau datang melamar, kamu ikutkan?” tanya Ibu Rosita.
“Insya Allah, Tante,” jawab Almira.
“Ya pastilah Almira ikut, dia kan sudah pulang ke rumah Rafi,” ujar Faisal.
“Oh, ya? Syukurlah. Kalau tinggal di rumah kontrak tidak ada yang menjaga, takut ada apa-apa,” kata Ibu Rosita.
“Mamah jemput Naura dulu, ya,” kata Ibu Rosita kepada Faisal.
“Iya, Mah.” Faisal mencium tangan Mamahnya.
“Hati-hati di jalan,” kata Faisal.
Almira dan Faisal mengantar Ibu Rosita sampai di depan liff.
“Dadah….” Almirah melambaikan tangan kepada Albar dan Amelia ketika masuk ke dalam liff.
“Dadah….Ante.” Albar dan Amelia melambaikan tangan kepada Almira.
Lalu pintu liff pun tertutup. Almira dan Faisal kembali ke ruang Faisal.
Almira melirik jam yang berada di ruangan Faisal.
“Pak, sepertinya sudah waktunya sholat dzuhur. Saya mau ke mushola dulu,” kata Almira.
“Sholat berjamaah aja di sini. Kamu bawa mukenah kan?” kata Faisal.
Almira kaget mendengarnya.
“Bawa, Pak,” jawab Almira.
“Ya, sudah sholat aja di sini,” kata Faisal sambil membuka suit dan dasinya.
“Iya, Pak. Saya wudhu dulu,” kata Almirah lalu ke luar dari ruangan Faisal menuju ke kamar mandi.
Sambil berjalan menuju kamar mandi. Almira terus berpikir.
Pak Faisal kenapa sih apa-apa harus di ruangannya? tanya Almira di dalam hati.
Kan nggak enak kalau ada yang lihat.
Apa dulu Mas Tomy juga begitu dengan Tita? Tanya Almira di dalam hati.
Astagfirullahaladzim, kenapa jadi inget dengan Mas Tomy? kata Almira di dalam hati.
Mas Tomy mau berbuat apa saja sudah bukan urunnya lagi.
Almira langsung menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah wudhu Almirah mengambil mukenah yang berada di dalam lemari kecil di meja kerjanya. Lalu ia kembali ke ruangan Faisal.
Ternyata Faisal sudah siap untuk sholat dan sedang menunggunya. Almirah menggelar sajadah di belakang Faisal, lalu menggunakan mukenahnya. Barulah mereka memulai sholatnya.
Setelah selesai sholat barulah mereka makan siang bersama.
****
Tak terasa hari cepat berlalu, sekarang sudah hari Sabtu. Nanti malam keluarga Pak Rahmat akan ke rumah Ibu Rosita untuk meminang Dini. Ibu Lia dan Almira sibuk membuat kue untuk hantarannya. Mereka dibantu oleh Mbok Silah.
“Kenapa nggak beli saja, Mah?” tanya Nina di depan pintu dapur, melihat Almira dan Mamahnya sibuk memasak kue.
“Tetehmu pengen bikin sendiri,” jawab Ibu Lia.
“Iya tapi kan jadi repot,” protes Nina.
“Yang repot Mamah dan Teteh, bukan kamu,” kata Ibu Lia.
“Tetap aja Nina ikut repot melihatnya,” jawab Nina.
Almira memberikan sepotong kue bolu hijau kepada Nina.
“Nih, cobain kue buatan Teteh.”
Nina memakan kue yang diberikan oleh Almira.
“Hmm enak,” puji Nina.
Ia memakan kuenya sampai habis.
“Mau lagi dong, masih ada nggak?” tanya Nina.
“Tuh masih ada dua loyang.” Almira menunjuk ke kue yang di simpan di meja di dapur.
“Yang satu loyang untuk menyuguhkan saudara-saudara yang datang, yang satu loyang lagi untuk kita-kita,” kata Almira kepada Nina.
“Iya Teh, iya,” jawab Nina.
Nina mengambil satu potong kue yang berada di atas meja. lalu pergi meninggalkan dapur.
Sore harinya adik dari Pak Rahmat dan Ibu Lia datang ke rumah. Mereka akan ikut dengan keluarga Pak Rahmat untuk melamar Dini. Almira menyuguhi para tamu dengan kue-kue buatannya. Mereka memuji kue buatan Almira.
Setelah sholat magrib merekapun berangkat ke rumah Dini. Sesampainya mereka di rumah Dini mereka di sambut oleh Ibu Rosita, Faisal dan Pamannya Dini yang bernama Pak Edy.
karena setiap hari ketemu....
pepatah Jawa mengatakan tresno jalaran seka kulino....
mbah putri
uti