罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Kuraokami
...**...
...血が器を見つけた...
...-Chi ga Utsuwa o Mitsuketa-...
...'Darah yang menemukan wadahnya'...
...⛩️🏮⛩️...
..."Purba tidak punah. Ia hanya menunggu wadah yang tepat."...
...⛩️🏮⛩️...
Senja merayap lambat ke atas atap rumah utama Klan Yamaguchi, menyusupkan udara yang makin dingin. Di dalam sebuah ruangan khusus di bagian terdalam rumah utama—ruangan yang hanya digunakan saat upacara keluarga inti—lingkaran besar telah dilukis di lantai kayu tua. Tinta hitam bercampur serbuk tulang, membentuk simbol-simbol leluhur yang hanya dikenal oleh keluarga inti dan para penjaga ritus lama.
Noa berdiri di tengah lingkaran itu, sendirian. Di sekelilingnya, berdiri tiga sosok: Kuroda, Pria yang selalu tenang dan dingin. Mikami Torao, bertubuh kekar dan berotot dengan tato penuh hingga pelipis kiri yang sangat menonjol. Pendeta Shinto tua—Yagami Guji-sama*— dengan jubah putih, menggenggam manik-manik doa dari kayu hitam. Dan yang mencolok, enam pasukan Gokaishū, para pasukan bayangan yang bahkan prajurit elit Yamaguchi tak berani memanggil nama mereka sembarangan. Mereka diam memantau dalam kegelapan sudut ruangan.
Langkah Oyabun terdengar terakhir, lambat dan pasti. Ia tidak berkata apa-apa saat memasuki ruangan. Ia hanya berdiri di balik garis luar lingkaran, wajahnya setenang patung kuil. Di belakangnya, Sakaki Jin—wakagashira—mengikuti dengan langkah ringan namun terukur. Tak ada suara dari sandal kulitnya yang menyentuh lantai kayu, hanya kehadiran yang terasa seperti bayangan panjang dari kekuasaan itu sendiri.
Dan saat itu pula, seluruh ruangan bergerak serempak. Tanpa aba-aba, tanpa suara. Semua yang hadir menundukkan badan ke arah oyabun bersamaan, seperti gelombang laut yang surut menghormati bulan. Gerakan itu nyaris mistis dalam keseragamannya: bahu yang merendah, kepala yang tertunduk, dan diam yang menggema lebih keras dari suara apa pun.
Raizen tetap tak bergeming. Ia hanya memandangi sosok di pusat lingkaran, satu-satunya yang tak ikut menunduk. Noa.
Pendeta Yagami maju perlahan. Jubah putihnya menyapu lantai kayu, dan butiran manik-manik kayu hitam di tangannya mengeluarkan bunyi ringan setiap langkah. Wajahnya sudah keriput, tapi matanya masih setajam belati. Ia membawa sebuah kotak kayu berukir, ditutup dengan segel lilin merah darah.
Semua yang hadir, bahkan para anggota Gokaishū**, menundukkan kepala ketika kotak itu dibuka.
Di dalamnya pisau pendek berbilah hitam keunguan dalam legenda keluarga Yamaguchi. Gagangnya dibungkus benang merah dan segel Shinto, memancarkan aura dingin tak kasatmata, seolah mengusik lapisan tipis antara dunia manusia dan roh.
Pendeta itu, berjubah putih dengan hiasan tali suci shimenawa*** melingkari bahunya, melangkah maju dengan gerakan lambat dan penuh ritual. Ia meletakkan pisau itu di atas altar batu hitam yang hanya digunakan saat penentuan darah.
"Ini adalah Seiketsu no Tantō," ucapnya dalam bahasa kuno, suaranya dalam dan berat, seolah gema dari zaman yang telah terkubur.
"Pisau pendek yang ditempa dari taring naga langit merah 'Tenryuu' yang dahulu dikorbankan untuk menahan air amarah Kuraokami. Darahnya menjadi segel dan taringnya menjadi pengingat."
Ia tidak menunggu restu. Tidak menanyakan kesiapan. Ia hanya menatap mata Noa, sejenak saja, cukup untuk memastikan bahwa tak ada lagi yang bisa dihindari lalu meraih tangan gadis itu perlahan.
"Jika kau membawa darah Kuraokami," bisiknya, hampir seperti doa, "... roh leluhur akan menjawabmu. Jika tidak... tubuhmu akan ditolak oleh segel naga langit dan hancur oleh kutukan yang bahkan api pun enggan menyentuhnya."
Jari-jari Noa sedikit bergetar saat pendeta menggenggam telapak tangannya. Kulitnya terasa dingin, tapi napasnya panas, pendek, seperti tengah berdiri di ambang sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Matanya menatap pisau itu—tidak berkilau, tidak memantulkan cahaya—namun terasa hidup, seolah bernapas di antara dunia.
Saat bilah pisau menyentuh kulitnya, ia menggigit bibir bawahnya—keras. Terlalu keras hingga hampir berdarah. Tapi ia tidak menarik tangan. Tidak menangis. Ia hanya mendesah pendek, tubuhnya menegang, dan matanya terpejam setengah.
Sakitnya bukan sekadar fisik. Ada rasa lain di balik luka itu seperti sesuatu yang menyusup keluar bersama darah yang mengalir keluar. Cahaya samar kebiruan. Sesuatu yang tua. Dingin. Asing.
Pendeta Yagami menunduk kaget, tapi tidak berhenti membaca mantra.
Tetesan pertama jatuh ke batu. Lalu mengalir.
Dan saat darah Noa menyentuh permukaan altar, udara di sekeliling mereka berubah. Aroma besi bercampur dupa memenuhi ruang. Cahaya lentera berkedip. Lalu...
Bisikan-bisikan. Lirih. Tua. Seperti sesuatu sedang bangun jauh di dasar tanah. Roh-roh leluhur mulai gelisah. Mereka mengenali dua getaran dalam darah itu.
Noa terdiam. Tubuhnya gemetar ringan. Tapi di matanya—untuk sesaat—terlihat sesuatu yang bukan miliknya. Bukan milik gadis biasa.
Sesuatu... yang sedang kembali.
...⛩️🏮⛩️...
...Dunia bergetar....
...•...
...•...
Udara berubah seketika—dingin, berat, seperti sesuatu turun perlahan dari langit yang tak terlihat. Aroma dupa bercampur besi memenuhi ruangan. Lilin-lilin bergetar, satu demi satu padam tanpa angin. Mantra di sekeliling lingkaran mulai menyala, membentuk pola-pola bercahaya yang belum pernah terlihat oleh mata manusia biasa.
Kabut gelap menyeruak dari altar—bukan asap, tapi bentuk. Sesosok hitam. Ia menggeliat, lalu berdiri tegak: tinggi, kurus, dan nyaris transparan, namun jelas bermata biru keperakan yang menyala dalam diam. Di dahinya—terukir samar lambang Kuraokami, dewa naga air dari legenda tua.
Noa terdiam, tubuhnya sedikit berguncang. Tapi tatapannya tetap terkunci pada sosok itu.
Bayangan itu menatap balik. Lalu berbisik—bukan dengan suara, tapi dengan sesuatu yang langsung masuk ke dalam dada:
'Darah ini... telah kembali ke wadahnya.'
Kilatan biru menyala samar di mata Noa.
Tiba-tiba, tanda seperti sisik naga muncul di tulang selangkanya. Tidak sebagai tato, tapi reaksi alami dari segel penjaga yang mulai aktif. Kuraokami bangkit, tapi segelnya juga ikut terjaga. Membakar dari dalam kulit, namun ia tidak menjerit. Ia hanya berdiri, tegak, seolah menerima sesuatu yang seharusnya telah lama menjadi miliknya.
Sosok roh itu menunduk. Perlahan. Mengakui.
Lalu menghilang kembali ke dalam kabut.
Tato itu menghilang... menyisakan bekas parutan tipis di kulit Noa. Dua kekuatan itu saling menandai. Sama-sama hidup.
Lampu menyala kembali. Suara pendeta berhenti.
Jin menunduk. Pendeta berhenti membaca doa. Pasukan Gokaishū bertukar pandang—dan tak satupun dari mereka berbicara.
Kuroda hanya menghela napas, semua seperti yang telah ia perkirakan.
Namun tidak semua tatapan di ruangan itu membawa keyakinan yang sama.
Mikami Torao berdiri dengan lengan bersilang, rahangnya mengeras. Tato di pelipis kirinya—pola naga terputus yang hanya dimiliki pasukan lama—sedikit berdenyut, hampir tak terlihat, seolah bereaksi pada sesuatu yang ia kenali... atau curigai.
Ia melangkah setengah langkah ke depan. Tidak memasuki lingkaran, tapi cukup dekat untuk merasakan sisa getaran di udara. Ia mundur kembali ke posisinya. Namun benih keraguan telah dijatuhkan—cukup kecil untuk diabaikan, cukup tajam untuk diingat.
Berbeda dengan Sakaki Jin.
Sejak kabut menghilang, ia hanya berdiri tanpa bergerak. Pandangannya sempat turun ke altar batu hitam, lalu kembali netral, seolah tak ada apa pun yang perlu dicatat.
Di wajahnya tidak ada keterkejutan.
Tidak ada kekaguman.
Tidak pula kelegaan.
Hanya ketenangan yang sama seperti sebelum ritual dimulai.
Raizen, masih berdiri diam, menatap Noa.
"Mulai malam ini," katanya perlahan, "... kau bukan lagi anak pelarian. Kau bagian dari warisan klan."
...⛩️🏮⛩️...
Saat Noa dibawa keluar oleh dua pasukan Gokaishu dan pendeta untuk pemulihan, jauh di bagian terdalam rumah Yamaguchi, tiga pria muda berdiri di balkon gelap, mengamati dari kejauhan.
Akiro. Reiji. Kaede.
Mereka tidak hadir di ruangan upacara, tapi mereka melihat. Dan mereka tahu.
Akiro bersandar pada tiang kayu, mata tajam menatap kosong.
"Warisan itu telah dipastikan."
Reiji menyalakan rokok, asapnya melayang pelan.
"Kalau dia berkembang terlalu cepat, mungkin akan kesulitan mengendalikannya."
Kaede hanya terdiam.
Tak ada bantahan.
Karena mereka tahu.
Darah yang diakui telah bangkit.
Dan darah itu... bisa menghancurkan tatanan yang selama ini mereka jaga.
...—つづく—...
...*Yang Mulia Kepala Pendeta Yagami. Panggilan terhormat yang berlaku hanya pada saat dalam forum resmi, upacara, atau pertemuan ritual. Jika dalam percakapan biasa bisa hanya dipanggil Yagami-sama....
...**pasukan elit. Anak buah Mikami Torao....
...***tali suci dalam kepercayaan Shinto yang biasanya terbuat dari anyaman jerami padi atau rami....
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍