NovelToon NovelToon
Bersinar Lah Bersama Matahari

Bersinar Lah Bersama Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Menjadi Pengusaha
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Menembus Dinding Kaca

BAB 12: Menembus Dinding Kaca

Bulan kedua di tahun 2026 membawa udara yang terasa lebih berat bagi Nayla. Jika sebelumnya ia bertarung di jalanan yang berdebu atau di keriuhan media sosial, kini ia harus berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang memantulkan sinar matahari pagi. Di dalam gedung inilah markas besar Indo-Retail, jaringan ritel terbesar di negeri ini, berada. Nayla datang bukan untuk menjajakan basreng dengan tas punggung, melainkan membawa tas kerja berisi dokumen legalitas, sertifikat halal, dan sampel produk yang sudah dikemas secara premium.

Di dalam ruang rapat yang dingin dengan aroma pengharum ruangan mahal, Nayla duduk berhadapan dengan Pak Gunawan, Manajer Pengadaan yang dikenal bertangan dingin. Di atas meja marmer yang mengilat, tiga bungkus Basreng Matahari tampak mencolok di antara dokumen-dokumen putih.

"Mbak Nayla," buka Pak Gunawan sambil membolak-balik laporan uji laboratorium milik Nayla. "Produk Anda memang sedang viral. Saya melihatnya di mana-mana. Tapi, masuk ke jaringan kami bukan soal viral semata. Kami punya standar shelf life yang sangat ketat. Bagaimana Anda menjamin kualitas rasa dan kerenyahannya tidak berubah selama enam bulan di rak kami tanpa pengawet kimia?"

Nayla menarik napas panjang, menenangkan debar jantungnya. Ia sudah menyiapkan jawaban ini selama berminggu-minggu. "Kami menggunakan teknologi double-seal dan penyerap oksigen (oxygen absorber) standar pangan dunia, Pak. Selain itu, proses penggorengan kami menggunakan teknik spinning suhu tinggi yang memastikan kadar minyak di bawah lima persen. Hasil uji menunjukkan, dalam suhu ruang, produk kami tetap renyah dan tidak tengik hingga delapan bulan."

Pak Gunawan mengangguk kecil, matanya masih meneliti kemasan baru Nayla yang kini dilengkapi kode QR pelacak keaslian. "Menarik. Namun, ada masalah lain. Kami meminta margin keuntungan tiga puluh persen dan biaya pendaftaran barang per cabang. Selain itu, kapasitas produksi. Jika kami setuju, Anda harus mampu menyuplai lima ratus toko sekaligus di bulan pertama. Apakah dapur ruko Anda sanggup, atau Anda hanya akan memberi kami janji kosong?"

Nayla terdiam sejenak. Lima ratus toko. Itu berarti ia harus memproduksi minimal sepuluh ribu bungkus per minggu—sepuluh kali lipat dari kapasitasnya saat ini. Pikirannya langsung melayang ke ruko kecilnya, ke wajah Ibu-ibu karyawannya yang sudah mulai kelelahan, dan ke mesin pemotong baksonya yang mungkin akan jebol jika dipaksa bekerja sekeras itu. Namun, Nayla tahu, kesempatan ini tidak akan datang dua kali.

"Saya butuh waktu tiga minggu untuk menambah dua lini produksi baru dan merekrut sepuluh tenaga tambahan, Pak. Saya jamin, stok Basreng Matahari tidak akan pernah kosong di rak Anda. Saya akan mempertaruhkan nama saya untuk itu," jawab Nayla dengan suara tegas yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan.

Keluar dari gedung itu, Nayla merasa kakinya sedikit lemas. Ia baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang bisa melambungkan bisnisnya ke langit atau justru menghancurkan seluruh tabungannya jika ia gagal memenuhi target.

Sesampainya di rumah, Nayla berharap bisa mendapatkan ketenangan. Namun, pemandangan di ruang tamu justru membuatnya tertegun. Ibunya sedang duduk di depan cermin besar, mencoba sebuah kalung emas tebal yang berkilau, sementara Maya, adiknya, sedang asyik mengotak-atik ponsel lipat model terbaru yang harganya setara dengan tiga mesin sealer industri.

"Nay, lihat! Ibu baru beli ini dari pembagian keuntungan bulan lalu. Bagus, kan? Biar orang-orang di pasar tahu kalau keluarga kita sudah tidak bisa diremehkan lagi," ujar ibunya dengan nada bangga yang berlebihan.

Nayla meletakkan tas kerjanya dengan perlahan. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya. "Bu, perhiasan itu harganya berapa? Dan Maya, siapa yang membelikan ponsel itu?"

"Pakai uang dari laci kas ruko, Mbak. Kan Mbak bilang kita sudah sukses," jawab Maya tanpa dosa, matanya tidak lepas dari layar ponsel barunya.

Nayla terduduk di kursi kayu tua yang mulai terasa kontras dengan kemewahan baru di rumah itu. "Bu, Nayla baru saja ambil kontrak besar dengan Indo-Retail. Kita butuh modal puluhan juta untuk beli mesin baru dan bahan baku dalam jumlah besar. Kita harus hemat, Bu. Bisnis ini masih bayi, pondasinya belum kuat."

"Alah, Nay. Kamu itu terlalu pelit pada keluarga sendiri," sahut ibunya, wajahnya berubah masam. "Kita sudah capek miskin bertahun-tahun, dihina tetangga, dikejar penagih utang. Sekarang saat ada uang, masa Ibu tidak boleh menikmati sedikit? Jangan jadi anak yang perhitungan, Nay."

Kata-kata itu terasa lebih pedas daripada bumbu cabai yang setiap hari Nayla hirup. Ia menyadari bahwa tantangan terbesar tahun 2026 bukan lagi soal pesaing korporasi atau peniru, melainkan bagaimana menjaga hati keluarganya agar tidak mabuk oleh harta yang baru saja mampir.

Nayla tidak membantah lagi. Ia memilih kembali ke rukonya malam itu juga. Di sana, di antara deretan wajan raksasa dan aroma daun jeruk yang menenangkan, ia merasa lebih "pulang" daripada di rumahnya sendiri. Ia membuka laptop bekasnya dan mulai menyusun skema pinjaman modal ke bank. Ia harus bertindak cepat sebelum uang perusahaan habis digunakan untuk hal-hal konsumtif yang tidak perlu.

Ia teringat sebuah kalimat yang ia tulis  "Matahari memang memberikan cahaya yang indah, tapi jika tidak dikelola dengan bijak, panasnya bisa membakar habis semua yang ia bangun dari nol."

Nayla menyadari bahwa keputusannya masuk ke ritel nasional adalah pintu menuju takdir yang lebih besar, namun sekaligus ujian kepemimpinan yang paling berat. Ia harus mulai bersikap profesional, bahkan kepada keluarganya sendiri. Ia harus memisahkan antara uang dapur dan uang bisnis secara mutlak, meskipun itu artinya ia harus dianggap "jahat" oleh ibunya sendiri.

Fajar mulai menyingsing di balik kaca ruko. Nayla mematikan laptopnya, matanya memerah karena kurang tidur namun pikirannya sangat jernih. Ia mengambil satu keping basreng dingin dari meja sampel, merasakannya perlahan. Rasanya tetap sama: gurih, pedas, dan getir.

"Dunia boleh berubah, Ibu boleh ingin emas, Maya boleh ingin kemewahan. Tapi rasa ini... rasa perjuangan di jam tiga pagi ini, tidak boleh hilang," bisik Nayla pada keheningan subuh.

Ia bangkit, merapikan apronnya, dan bersiap menyambut para karyawan setianya yang akan datang sebentar lagi. Hari ini bukan lagi soal sekadar menggoreng camilan; hari ini adalah soal memimpin sebuah revolusi kuliner dari dapur sempit menuju seluruh penjuru negeri. Nayla siap menjadi CEO, bahkan jika ia harus berjalan sendirian di bawah terik matahari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!