AREA DEWASA 18+ HARAP BIJAKSANA!
Marco Smith Robert, 30 tahun. Pria bengis dengan sejuta kelicikan baginya dunia hanya tentang kepalsuan. Kejam dan otoriter adalah dua sifat yang mendarah daging.
Alfiana Wulan, 15 tahun. Orang memanggilnya Nana. Gadis baik dengan sejuta senyum, setiap harinya dihabiskan dengan berdagang kue keliling.
"Jangan membantahku Nana! Atau ku cincang tubuh jelek mu menjadi makan anjing pelihara ku!" Kilatan amarah Marco dengan tangan menggenggam cambuk.
"Uncle tapi aku... "
"Nana.... Kau harus mati!!!!" cambukan pertama di layangkan oleh Marco pada punggung gadis kecil itu.
"Uncle, Arghhh!" Tangisnya tergugu menahan nyeri yang teramat sakit di punggungnya.
Akankah Nana bisa keluar dari jerat manusia iblis seperti Marco? Atau kematian yang lebih dulu menghampirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Niswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UM - Hukuman
Ternyata Uncle Marco masih memiliki sisi baik, dia memberikan izin Nana untuk kembali bersekolah tentu dengan pengawalan yang sangat ketat. Namun tersembunyi.
Nana sudah mengabari kepada Bi Siti untuk tak mengkhawatirkan keadaan nya, mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja dan sudah mendapatkan pekerjaan yang baik. Nana hanya berpesan tak bisa pulang ke panti untuk saat ini.
Cukup membuat Bi Siti bertanya-tanya, tapi mendengar titah Nana untuk tak mengkhawatirkan dirinya itu sudah membuat dirinya lega.
"Nana.... " Ujar Kak Ari, pemuda ini juga salah satu orang yang tengah mencari Nana, hampir beberapa minggu ini Nana tak ada dari jangkauan nya.
Ah gadis ini makin terlihat bersih saja, memang iya? meski hanya menjadi pelayan Uncle gila itu, Nana hanya bekerja menyiapkan makan dan kebutuhan nya. dirinya tak terkena sinar matahari.
"Ah ya?"
"Kau kemana saja Na, lama tak masuk sekolah! Aku mencari mu!" Ujar nya, ah kata itu membuat hati Nana menghangat meski hidupnya kini ada di bawah penjara tak kasat mata yang begitu mengerikan setidaknya pemuda yang di cintai nya masih peduli.
"Hehehe, maaf kak aku di rumah Paman ku!"
"Paman?"
"Iya kak, yasudah aku masuk dulu!" Ujar nya.
Dering bel, membuat siswa bersorak senang menghambur keluar. Bergegas pulang merebahkan dirinya di atas kasur dan mencicipi hidangan sang ibu yang menggugah selera di istana nya masing-masing.
Nana masih mencatat beberapa materi yang tertinggal dan meminjam buku yang ada di perpustakaan.
"Ini!" Ujar Kak Ari
"Apa kak?"
"Catatan ku dulu, mungkin kamu membutuhkannya!"
"Ah ya, makasih kak. Aku sangat membutuhkan itu!" Ujar Nana tersenyum ramah.
"Ayo pulang!" Ujar Kak Ari menggandeng tangan Nana.
"Eh, aku pulang sendiri saja kak!"
"Sudah jangan menolak! Ayo!"
"Tapi kak, aku pulang sendiri saja."
"Kau yakin?"
"Iya aku yakin!" Ucap Nana serius, mendudukkan diri di halte dekat sekolah, katanya ia harus menunggu mobil yang akan menjemputnya, ada urusan yang harus di urus. Nana tak mau ambil pusing untuk bertanya lebih jauh, yang terpenting menunggu saja lah. Toh nanti akan di jemput juga.
"Huh, haus juga! Beli minum dulu gakpapa ya?" Ujar Nana, Kakinya melangkah menuju minimarket yang ada di depan sana.
Seringai tipis itu muncul, peringatan yang di lakukan nya ternyata tidak di dengar oleh gadis yang di anggap murahan itu.
Maka kematian lah yang harus dirinya dapatkan. Melajukan mobilnya begitu cepat dan..
Bugh!
Sesuai perkiraan yang di inginkan nya, tubuh Nana terkulai tak sadarkan diri di atas aspal itu.
...*********...
Pukulan telak di layangkan oleh 3 orang anak buah nya yang lalai, diam tak bisa menjelaskan.
Marco marah, bagaimana mungkin anak buah yang di tugaskan menjaga Nana mengatakan bahwa gadis itu sudah pulang dan di sekolah itu sudah tak ada siapa pun!
"Cari dia sampai ketemu, jangan biarkan dia lolos!" Ujar Marco dengan kilatan amarah, nyatanya pilihan mempercayai gadis ingusan itu dan membiarkan nya sekolah kembali adalah hal yang salah.
Gadis itu telah kabur dalam genggaman tangan nya.
Kalau sudah begini, Pitter lah yang harus menyelesaikan semuanya. Menjengkelkan. Pasti bos gila itu akan memberikan waktu di luar nalar untuk segera menemukan Nana.
...********...
Langkahnya begitu tergesa-gesa,
"Bagaimana dok?"
"Anda keluarga korban?"
"Ya."
"Korban tak apa, hanya ada sedikit luka gores saja di beberapa tubuhnya. Sebentar lagi dia akan sadar tapi harus di rawat disini terlebih dahulu!"
"Baik dok! pindahkan keruangan VVIP!" Ujar Marco.
Kini Marco berakhir dalam ruang rawat inap itu, masih bingung dengan dirinya sendiri.
Kenapa dia begitu peduli dengan gadis ini? Memang nya gadis ini siapa? Jelek juga bukan? Tak seleranya? Marco juga tau bahwa gadis ini tak memilikimu hubungan dengan Louis, dan tindakan nya saat itu benar-benar hanya menolong nya? Lalu? Kenapa dirinya tetap kekeh mempertahankan gadis ini sebagai pelayan nya.
Nyatanya sebulan waktu yang cukup berharga, yang bisa Marco tanggap adalah gadis ini baik meski dirinya sering membentak, tak merepotkan Marco seperti gadis lain yang datang hanya menawarkan tubuh dan meminta imbalan uang dengan nominal fantastis untuk jasa nya.
"Sudah bagun hem!" Ujar Marco dengan seringai liciknya.
"Uncle? Aku ada di mana?"
"Kuburan?" Jawabnya ketus.
"Apa aku sudah mati?" Tanyanya dengan nada polos.
"Nana apa kau begitu bodoh! Kau tak bisa merasakan ada selang infus di tangan mu! Berarti kau ada si rumah sakit!" Geramnya mengutuk kepolosan Nana.
"Rumah sakit? Memang nya aku kenapa?"
"Diam jangan membuat ku pusing! Mulai. sekarang hitunglah berapa banyak hutang mu kepadaku? Menyusahkan sekali!"
"Tapi kan Uncle... "
"Tak ada tapi-tapian, segera pulih! Jangan terlalu lama sakit, kau menghamburkan uang ku!"
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
"Bos ini berkas yang Anda inginkan!"
"Baiklah! Keluar! Kau handle dulu semuanya, aku akan memeriksa berkas ini dulu!"
"Baik bos saya permisi!'
"Uncle!"
"Jangan menganggu ku! Istirahat lah segera sembuh! Kau menghamburkan uangku!"Ujar Nana kali ini kalimat itu penuh penekanan.
Memori berputar dalam otak gadis yang tengah berbaring itu, ah dia ingat bahwa dia hendak membeli minum namun ada mobil yang dengan sengaja menabrak nya, membuat pandangan nya berkabut dan hilang kesadaran.
...*****...
"Jelaskan!" Ujar Marco, dirinya telah duduk dengan sisi dingin dan kejam nya di ruang kepala sekolah.
Nyali Sabrina menciut kala ia melihat orang yang kini tengah menatapnya seolah akan menelan dirinya hidup-hidup.
"Aku tak sengaja!" Gugupnya.
"Begitu eh? Tak sengaja! Baiklah aku juga akan menghancurkan sekolah ini dan bilang tak sengaja setelah semua rata dengan tanah!"
"Apa!!!!!" Pekik Sabrina tak terima.
"Katakan!"
"Dia menganggu laki-laki ku! Dia perempuan yang gatal dan murahan!"
Brak!!!! Meja kaca di gebrak dengan kasar hingga kaca itu hancur tak tersisa di bawah.
Kepala sekolah yang ada hanya diam membisu, tak ada yang berani berucap, dirinya tau pasti siapa Marco sebenarnya, dan memang salah Sabrina disini.
Glek!!!!! Bukan nya akan keluar dari masalah, Sabrina seolah tau bahwa dirinya akan mendapatkan masalah baru dan lebih sulit.
Kak Ari, pemuda ini harus di panggil karena kata bohong yang terlontar dari mulut Sabrina.
"Apa Nana mengejar-ngejar mu? Dan merebut dirimu dari gadis ini!" Sinis Marco.
"Paman siapa?"
"Jawab pertanyaan ku!"
"Tapi itu masalah pribadiku!"
"Jawab pertanyaan ku! Jangan membantah! Atau ku bunuh kau!!!"
"Tuan kendalikan amarah anda!" Ujar Pitter berbisik.
"Bocah ini tak terima dan menabrak Nana hingga menyebabkan nya harus di rawat di rumah sakit!" Ucap Pitter berusaha menjelaskan.
"Apa?" Pekik Ari kaget seketika, mendengar kabar bahwa Nana di rawat di rumah sakit. Bagaimana keadaan nya?
"Katakan!" Ujar Marco dengan dingin.
"Aku dan Sabrina tak memiliki hubungan apapun, dan Nana tak pernah mengejar ku, justru aku yang meminta Nana untuk menjadi pacarku! Tapi dia tak mau!" Jelas Kak Ari.
"Kak Ari, kau pasti berbohong kan? Tak mungkin gadis murahan itu tak mengejar mu! Ayo katakan sejujurnya! Bahwa gadis murahan itu yang memaksamu berbicara seperti ini kan?"
"Tapi tidak kenyataan nya Sabrina!!!"
"Keluarkan dia dari sekolah ini! Atau ku ratakan semua nya menjadi tanah!!!" Ujar Marco,
"Tapi tuan tolong maafkan putri saya!"
"Pitter, kau tau apa yang harus kau lakukan!!"
"Baik tuan!"
...🍒🍒🍒🍒🍒...
Happy Reading❤❤❤❤
othornya ada" aja
bayangin wajah lugunya Nana