NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Swari menatap wajah Baskara yang menangis sesenggukan.

“Nikahi aku, bajingan, agar kamu tahu apa itu hukuman yang sesungguhnya.”

Baskara tertegun saat mendengar panggilan “bajingan” yang keluar dari bibir pucat Swari yang terasa lebih manis daripada pujian bisnis mana pun yang pernah ia terima.

Ia menatap mata Swari yang dimana air matanya sudah mengering.

“Nikahi aku, agar kamu harus melihat wajahku setiap detik dan mengingat bahwa kamu adalah alasan aku kehilangan masa mudaku, Baskara. Nikahi aku, agar setiap kali kamu menyentuhku, kamu merasa jijik pada dirimu sendiri karena ingat bagaimana cara pertamamu memilikiku,"

Baskara menundukkan kepala, lalu perlahan ia meraih tangan Swari yang terbebas dari infus.

Ia mengecup punggung tangan itu dengan khidmat, seolah sedang melakukan sumpah suci di depan altar.

“Aku terima hukuman itu, Swa. Aku akan menjadi suamimu, tawananmu, dan abdi bagi anak-anak kita. Aku tidak akan meminta cinta, karena aku tahu aku tidak layak. Aku hanya minta satu hal kepadamu, Swa. Jangan pernah memintaku pergi, apa pun yang aku lakukan untuk menebus ini.”

Kemudian disaat mereka masih bicara, tiba-tiba pintu kamar VIP itu terbuka perlahan.

Seorang perawat masuk dengan langkah tenang, membawa nampan berisi semangkuk bubur putih hambar, segelas air, dan beberapa butir obat.

"Waktunya makan siang, Nyonya Swari," ucap perawat itu dengan ramah, meletakkan nampan di atas meja dorong.

Swari melirik bubur yang tampak pucat dan encer itu dengan tatapan jijik.

Aroma rumah sakit yang khas dari makanan itu tiba-tiba membuatnya mual.

Ia memalingkan wajah, kembali menyandarkan kepalanya di bantal dengan raut wajah masam.

"Aku tidak mau makan," gumam Swari ketus.

Baskara bangkit dan mengusap sisa air mata di pipinya.

"Swa, kamu harus makan. Kamu baru saja kehilangan banyak darah dan tenaga. Obat-obat itu tidak akan bekerja kalau perutmu kosong."

"

Bubur itu rasanya seperti kertas basah, Bas! Hambar sekali," keluh Swari.

Tiba-tiba, sifat keras kepalanya muncul, bercampur dengan sedikit sisa pengaruh obat yang membuatnya jadi lebih emosional.

Ia menatap Baskara dengan mata berkaca-kaca, dan menolak untuk makan bubur.

"Aku mau abon sapi," ucap Swari tiba-tiba.

Baskara mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan dari Swari.

"Abon sapi? Tapi dokter bilang kamu harus makan makanan yang lunak dan..."

"Aku mau abon sapi yang gurih, Bas! Yang banyak bawang gorengnya. Kalau tidak ada abon, aku tidak mau makan bubur itu sampai aku mati kelaparan!" seru Swari sambil menarik selimutnya hingga ke dagu, bertingkah seperti Alexandria saat sedang merajuk.

Baskara tertegun sejenak melihat perubahan drastis sikap Swari.

Dari wanita yang penuh dendam menjadi wanita yang merengek karena makanan. Namun, di dalam hatinya, Baskara merasa lega melihat Swari yang seperti Alexandria yang sedang merajuk.

Baskara menoleh ke arah Gandi yang berjaga di depan pintu.

"Gandi, cari abon sapi terbaik di Jakarta sekarang juga. Yang paling gurih, banyak bawang gorengnya, dan pastikan kualitasnya nomor satu. Dalam lima belas menit harus sudah ada di sini."

"Baik, Tuan!"

Gandi segera berlari menjalankan perintah "misi darurat" tersebut.

Baskara kembali duduk di sisi ranjang sambil mengambil sendok dan mengaduk bubur itu perlahan agar suhunya menurun.

"Tunggu sebentar, ya? Abonnya sedang dijemput. Tapi kamu harus janji, setelah abonnya datang, kamu habiskan satu mangkuk ini."

Swari hanya mendengus, namun ia tidak lagi memalingkan wajah.

Ia memperhatikan Baskara yang dengan telaten meniup-niup bubur panas itu untuknya.

Pria yang biasanya memerintah ribuan karyawan, kini sibuk dengan semangkuk bubur hambar demi memenuhi keinginan konyolnya.

"Kenapa kamu menurut sekali?" tanya Swari sambil menatap rahang Baskara yang tegas.

Baskara menghentikan gerakannya dan menatap Swari dengan tatapan yang sangat dalam.

"Karena selama enam tahun aku tidak ada untuk memberimu makan saat kamu lapar, Swa. Jadi biarkan aku menebusnya sekarang, meski hanya lewat sebungkus abon sapi."

Hanya dalam waktu dua belas menit, pintu kamar VIP itu terbuka dengan sentakan pelan.

Gandi masuk dengan napas sedikit memburu, menyerahkan sebuah kantong berisi toples kaca abon sapi premium yang masih tersegel.

"Ini, Tuan. Abon sapi paling gurih dengan bawang goreng melimpah," lapor Gandi sebelum kembali undur diri untuk memberi ruang pribadi bagi mereka.

Baskara dengan cekatan membuka toples abom sampai aroma daging sapi yang gurih dan wangi bawang goreng seketika memenuhi ruangan, mengalahkan bau obat-obatan yang menyesakkan.

Ia menaburkan abon itu dengan sangat royal di atas mangkuk bubur Swari.

"Sudah siap, Tuan Putri?" goda Baskara tipis, mencoba mencairkan suasana.

Swari hanya mendengus, namun ia tidak bisa menyembunyikan binar lapar di matanya.

Baskara membantu menyandarkan punggung Swari dengan bantal tambahan, lalu menyendokkan bubur yang sudah bercampur abon itu ke depan bibir Swari.

"Buka mulutmu, Swa. Pelan-pelan, masih sedikit hangat."

Swari mengunyah pelan, matanya tetap menatap Baskara yang terus memperhatikannya dengan sorot mata yang begitu teduh.

Sorot mata yang membuat Swari bingung apakah harus terus membenci atau mulai luluh. Namun, momen manis yang rapuh itu terputus saat pintu kamar diketuk dengan nada yang lebih formal.

Dokter Ramlan masuk dengan wajah yang jauh lebih serius dari sebelumnya.

Ia memegang sebuah map biru tua hasil laboratorium yang sejak kemarin menjadi hantu di kepala Baskara.

Baskara langsung meletakkan mangkuk buburnya.

Ia berdiri dengan tangannya secara otomatis mencari dan menggenggam jemari Swari yang bebas dari infus.

"Dokter?" suara Baskara rendah, sarat akan kecemasan.

Dokter Ramlan menarik napas panjang, menatap Swari dan Baskara secara bergantian sebelum membuka map tersebut.

"Hasil biopsi jaringan dari massa di dada kiri Nona Swari sudah keluar."

Swari mencengkeram tangan Baskara dengan kuat.

"Kabar baiknya, massa tersebut bukan merupakan kanker ganas atau karsinoma," ucap Dokter Ramlan.

Baskara membuang napas panjang, bahunya yang tegang seketika luruh.

"Alhamdulillah..." bisiknya.

"Namun, massa tersebut adalah tumor jinak yang sudah mengalami komplikasi berat yang disebut Infectious Mastitis disertai pembentukan abses yang sangat dalam. Infeksinya sudah sempat masuk ke aliran darah, yang menjelaskan mengapa Nona Swari mengalami sesak napas dan kondisi fisik yang drop drastis." ucap Dokter Ramlan sambil menatap wajah Swari dengan prihatin.

"Nona Swari, tumor ini kemungkinan besar dipicu oleh perubahan hormon yang drastis dan stres pasca melahirkan yang tidak tertangani dengan baik enam tahun lalu. Jaringan ini tumbuh perlahan dan meradang karena Anda terus mengabaikan rasa sakitnya."

Swari menundukkan kepalanya dan mengingat betapa seringnya ia merasakan nyeri itu saat menyusui Alex dan Alexandria di Toronto yang dingin, namun ia selalu mendahului kebutuhan susu formula dan makanan anak-anaknya daripada pergi ke klinik.

"Karena infeksi ini sudah merusak sebagian jaringan kelenjar, kami harus melakukan prosedur pembersihan lanjutan dan pengangkatan sisa tumor secepatnya setelah kondisi alergi Anda benar-benar stabil. Anda harus rawat inap setidaknya dua minggu ke depan," tutup Dokter Ramlan.

Setelah dokter keluar, keheningan kembali menguasai ruangan.

Baskara berlutut di samping ranjang, menatap Swari dengan air mata yang kembali menggenang.

"Perubahan hormon pasca melahirkan, stres yang tidak tertangani,"

Baskara mengulang kata-kata dokter dengan suara hancur.

"Itu semua karena perbuatanku, Swa. Kamu menanggung penyakit ini sendirian karena aku tidak ada untuk menjagamu saat itu."

Swari mengelus rambut Baskara yang sangat menyesal.

"Sudahlah, Bas. Setidaknya aku tidak akan mati dan meninggalkan anak-anak dalam waktu dekat. Kamu masih punya waktu panjang untuk menjalani 'hukuman' pernikahan kita."

Baskara mendongak, mencium tangan Swari berkali-kali.

"Aku akan menyiapkan pernikahan itu sekarang juga. Di sini, di rumah sakit ini, jika kamu mau. Aku ingin namamu segera terdaftar sebagai Nyonya Surya sebelum prosedur operasi lanjutanmu dimulai."

"Bawa anak-anak ke sini besok, Bas. Aku rindu mereka. Aku ingin mereka tahu kalau Papanya sudah pulang." ucap Swari.

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!