arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH SATU
"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi..."
Yulia menutup telepon dengan kasar. Namun... Dia bisa mendengar Danang sedang berbicara dengan seseorang dari suatu tempat di dalam rumah.
Yulia berjalan ke arah pintu dan mendengarkan dengan penasaran.
"Kau sudah melakukannya dengan baik. Sekarang karena keadaannya sudah seperti ini, kau memang sebaiknya bercerai. Apa kalian sudah menerima akta perceraiannya?"
Wajah Yulia merah padam karena amarah!!
Orang tua bodoh ini! Dia selalu saja melakukan hal-hal yang tidak baik!
Bagaimana bisa dia membenci Erika! Mereka akan menyesalinya! Camkan kata-kataku!
Dia akan memastikan nanti ketika Erika menikah lagi, itulah saatnya! Mereka akan iri dan menyesal!!
Sekarang dia paham apa yang dia lakukan selama ini salah. Dia tidak seharusnya memaksa mereka tetap menikah selama bertahun-tahun!
Erika pasti sangat menderita. Dia seharusnya menyerah lebih awal...
Semakin dia memikirkan itu, semakin Yulia merasa sedih. Sekarang... Dia mencoba memikirkan pria seperti apa yang akan cocok bersanding dengan cucu perempuannya yang sempurna itu!
"Kalian baru menandatangani dokumennya? Apa lagi yang kau tunggu? Cepatlah! Begitu kalian bercerai, aku akan segera mengumumkan bahwa Lanni telah menyelamatkan hidupmu dan mengklarifikasi apa yang terjadi diantara kau dan Erika.
Apa kau meragukan caraku menangani sesuatu? Apakah aku akan melakukan ini jika membahayakan perusahaan?"
Yulia terkejut!!
Dia murka!!
Lupakan! Dia tidak akan masuk dan berdebat dengannya. Dia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan si tua bodoh itu. Dan yang lebih penting lagi, Gardan sudah tidak menginginkan Erika lagi. Dan dia akan memastikan bahwa Erika akan berakhir dengan bahagia karena dia layak mendapatkan itu!!
Mulai sekarang, dia akan memilih pria lajang yang pantas untuk bersanding dengan Erika!
Malam itu, Erika tidur dengan nyenyak.
Dia sudah memikirkannya dan memutuskan untuk tidak tinggal di vila. Dia menemukan perumahan dekat dengan tempatnya bekerja.
Keesokan hari, Erika memakan sarapannya dan naik kembali ke tempat tidur. Tahun-tahun yang dia habiskan dengan keluarga Wistam penuh dengan ketakutan. Dia tidak pernah merasa tenang. Itu adalah pertama kalinya dia tidur dengan nyenyak dalam waktu yang lama.
Ponselnya berdering saat dia sedang meregangkan badan. Dia menaikkan sebelah alisnya ketika melihat siapa yang meneleponnya.
Itu adalah teman pengacaranya yang baik yang memiliki kepribadian menyenangkan darı selalu bermain-main.
Dia menjawab telepon itu. Sebelum bisa mengatakan sesuatu, temannya sudah lebih dulu bicara, "Erika! Darurat! Kemarilah selamatkan aku!"
Bibir Erika berkedut, "Apa yang kau lakukan kali ini?"
"Aku tidak melakukan apapun!"
"Kalau begitu apa yang terjadi?" Dia bertanya dengan penasaran.
"Si bajingan sialan itu! Aku sangat marah padanya! Jelas-jelas aku menang! Tapi dia bilang aku curang dan sekarang dia menginginkan mobilku!"
"Kau balapan lagi?" Erika mengerutkan alisnya.
Dia tahu betapa bahayanya itu tapi dia tetap melakukannya!
Temannya tahu Erika sangat marah, tapi sekarang karena sudah terlanjur, dia tidak punya pilihan selain memohon padanya, "Erika! Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan! Temanku tersayang, kau tidak mungkin hanya membiarkan mereka memanfaatkanku seperti ini, kan?! Ini darurat!"
Erika menghela napas, "Kirimkan alamatnya."
Temannya bersorak gembira, "Oke! Aku kirimkan alamatnya padamu sekarang! Erika, aku akan menunggumu! Tunjukkan pada mereka siapa bosnya!!"
Dia menutup telepon tanpa menunggu balasan Erika. Tak berselang lama, Erika pun menerima lokasinya.
Erika berganti pakaian dan langsung pergi ke sana.
Lima puluh menit berlalu.
Temannya sudah meneleponnya berkali-kali, tetapi Erika tidak mengangkatnya. Dia akhirnya menghela napas lega saat melihat Erika berjalan ke arahnya. Dia berlari menghampiri wanita itu dan meraih tangannya, "Penyelamatku! Akhirnya kau datang juga!!"
Rinta Margo mengenakan celana kodok jeans, tetapi dia terlihat bersih dan rapi. Rambut ikalnya yang berwarna merah-pirang sedikit menutupi telinganya. Matanya besar dan cerah saat menatap Erika dengan gembira.
Erika mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka dan melihat ada banyak penonton di sana. Dan juga tampak beberapa pembalap sedang menunggu giliran mereka. Dia sedikit mengerutkan alisnya, "Saat ini sedang jam kerja. Kenapa kau malah balapan di sini?"
Rinta mengerutkan bibir dan menaikkan tangan dengan tak berdaya, "Aku tidak punya kasus untuk ditangani hari ini. Kau tahu perusahaanku, kami bisa bangkrut kapan saja... Saat ini aku sedang mencari pekerjaan baru."
Erika, "..."
Erika menarik perhatian orang-orang meskipun dia hanya memakai celana jeans dan kaos. Dia tampak memancarkan aura penuh percaya diri dan kebangsawanan hanya dengan berdiri di sana. Kaca mata hitam menutupi sebagian wajahnya, membuatnya terlihat sedikit misterius. Pandangan mata orang-orang tertuju padanya.
Dia juga menarik perhatian lawan Rinta.
"Yol Apa ini yang kau sebut penolongmu?" Terdengar suara seorang pria yang penuh dengan ejekan.