NovelToon NovelToon
Elizabeth Vale

Elizabeth Vale

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Action / Cinta Terlarang / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.

Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EV — BAB 09

PELAMPIASAN SEMATA

Kini Luis sendirian. Ia berjalan ke meja kerjanya, menumpukan kedua tangan di permukaan kayu gelap, menundukkan kepala.

Vale.

Pria itu seharusnya sudah lama menghilang dari peta hidupnya. Seharusnya. Namun dunia selalu punya cara menjadikan luka lama kembali berdarah.

Dalam satu tegukan, Luis menghabiskan minumannya dan langsung bergegas keluar dari ruangannya. Terlihat bagaimana mata tajamnya itu begitu membakar dirinya hingga ia menuju ke kamar. Tentu, untuk menghabiskan waktu bersama istrinya, atau... Melampiaskan sesuatu di sana.

Sementara di kamar lain, Bruakk! Pintu terbuka dan tertutup secara tiba-tiba, “Rodrigo! Ada apa denganmu? Kau tidak tahu ini sudah malam.” Kesal Esperance yang terbangun dari tidurnya hingga timun di mata kanannya terjatuh.

“Luis benar-benar gila! Jika dia terus seperti itu, maka dia sendiri yang akan mati di tangan pria itu.”

Mendengarnya, Esperance berkernyit dan berjalan menghampiri adiknya. “Katakan dengan jelas. Kau tahu sendiri Luis sakit mental.”

“Vale. Ada pembajakan lewat web yang membuat polisi berhasil melacak bisnis ilegal milik Luis. Tapi putramu... Putramu yang gila itu justru hampir membunuh ku.” Kesal Rodrigo yang terlihat marah.

Esperance memejamkan matanya dan mencoba tenang. Nama Vale, mereka tak akan melupakannya dan tidak akan bisa.

“Dia memang seperti itu. Lalu bagaimana dengan Vale? Bukankah seharusnya dia sudah tewas atau menghilang?”

“Tidak, Esperance. Dia tidak tewas dan tidak juga menghilang. Dia hanya istirahat sejenak dan dia akan kembali membalas sesuatu yang seharusnya dia lakukan sejak dulu.” Jelas Rodrigo yang nampak serius hingga Esperance tak kuasa mendengarnya dan mulai cemas.

“Kalau begitu, lebih baik kita segera menghentikan itu.”

“Iya, jika putramu setuju. Aku tidak ingin berurusan dengan pria bermental gila! Dia hampir membunuhku.” Tegas Rodrigo sembari berjalan keluar dari kamar Esperance.

Kini wanita tua itu terdiam, mengingat nama Vale yang membuatnya tak akan bisa tidur tenang. “Astaga... Aku pikir sudah berakhir.” Gumamnya dengan pasrah.

.

.

.

Pintu terbuka saat itulah tubuh Eliza menegang melihat ke arah datangnya suaminya yang bertambah marah entah karena apa.

“Aku senang kau menunggu ku!” kata Luis menyeringai devil. “Kau tahu. Harusnya suasana hatiku baik-baik saja untuk malam ini. Tapi sayangnya, tidak.”

Luis membuka kancing kemejanya, hingga ia benar-benar bertelanjang dada. Matanya begitu gelap saat pria itu menarik lengan Eliza hingga jarak mereka begitu dekat. “Kau sangat gemetar. Dan aku suka itu!” kata Luis yang mengamati wajah istrinya, hingga menyentuh lembut luka di kening Elizabeth.

“Ini masih sangat segar.” kata Luis yang semakin membuat Eliza berpaling takut.

“Apa kau baik-baik saja? Aku melihatmu... Sepertinya kau tidak baik-baik saja hari ini, Luis.” Kata Eliza.

“Kau benar. Dan semua itu karena Vale!”

Mendengar nama yang sama berulang-ulang, membuat Eliza berkerut alis. Namun semuanya pudar saat Luis kembali membelai wajah cantiknya. “Aku benar-benar muak dengan nya.” ucapnya untuk yang terkahir kalinya sebelum ia langsung mencium kasar bibir Eliza.

Wanita itu hendak melepaskan diri, namun tangan Luis menekan tengkuk lehernya dan merangkul erat pinggang Eliza.

“Luis... Hentikan.” Kata Eliza disela ciuman tadi, sampai Luis mendorong kembali mencengkram leher Eliza dan menatap nya tajam penuh amarah hingga matanya berkaca-kaca. Merah berair.

“Aku pikir dia sudah mati, harusnya dia sudah mati.” Kata Luis menatap istrinya dan menampar wajah Eliza berulang kali seolah dia melampiaskan semuanya kepada Eliza.

Tentu saja wanita itu mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman tangan Luis. Kini tubuhnya hampir lemas saat wajahnya terus menjadi sasaran.

Brugh! Pria itu mendorong kasar Eliza sampai terjatuh di atas kasur. Sementara dia, seperti orang gila yang lepas kendali. “FUCK HIM!!” umpatnya dengan suara lantang.

Melihat suaminya, Eliza menatap sedih. Wajah cantiknya penuh dengan luka dan darah. “Luis..” panggilnya lirih hingga pria itu mengambil sebuah pecut yang terpajang di dinding.

“Dia membuatku muak. Andai saja aku memastikannya dan menguburnya sendiri, ELIZA!”

Wanita itu tersentak saat suaminya menatap penuh emosi. Ia berlari ke arah pintu dan mendobrak namun terkunci. “BUKA! BUKA PINTUNYA!” ia berbalik saat Luis tertawa kecil dan berdiri dibelakang nya.

“Jangan lari dariku. Aku tidak akan membunuhmu.”

“Kau gila! Jika aku tahu kau akan seperti ini, aku tidak akan memutuskan untuk menikah denganmu.” Tegas Eliza yang menatap marah. Namun Luis— pria itu semakin emosi dan langsung mendekat hingga Eliza terpentok ke pintu.

“SHUT UP!” sentak Luis tepat di depan wajah Eliza sampai wanita itu berpaling ke sisi kiri dengan napas memburu.

Pria itu menyentuh kedua pipi Eliza saat dia masih memegang pecut di tangannya. Tentu saja Eliza gemetar. “Tolong bantu aku. Bantu aku menghilangkan amarah ini, sayang.” Kata Luis benar-benar terdengar seperti seorang psikopat.

Eliza menatap tajam dan penuh amarah yang tertahan. Ia menggeleng yakin Meksi sedikit gemetar. Namun penolakannya tadi tak digubris oleh Luis ketika pria itu langsung menjambak rambut Eliza dan menariknya menjauh dari pintu.

Suara yang mengerikan terdengar ketika Cili sendiri yang mencoba menguping, hingga dia melotot dan merinding memilih pergi dari sana.

Langkahnya cepat sampai ia bertabrakan dengan Soraya yang berjalan ke arah dapur.

“Astaga, Cili! Kau letakkan di mana matamu hah?” gertak Soraya sedikit kesal.

Wanita pelayan tadi masih membuka lebar matanya dengan perasaan gelisah. “Em...maafkan aku Nyonya Soraya. Aku hanya panik saja.” Kata Cili.

Soraya hanya memutar malas bola matanya dan berjalan pergi begitu saja. Namun itu membuat Cili terkejut karena Soraya tidak bertanya-tanya sesuatu dan tidak curiga.

“Aku pikir Anda ingin bertanya sesuatu, Nyonya!” kata Cili yang kembali menatap lurus dengan kepala sedikit mendongak.

Mendengar itu langkah Soraya terhenti dan berbalik menatap pelayan itu sedikit berkernyit heran. “Kenapa aku harus bertanya? Urusan mu selalu tidak penting.”

“Apa termasuk kegilaan tuan Luis dan nyonya Elizabeth tidaklah penting, Nyonya?!” kata Cili tersenyum kecil lalu melengos pergi dengan sengaja.

Tentu saja ucapannya tadi membuat Soraya penasaran dan alisnya semakin berkerut.

“Tunggu, Cili! Apa yang terjadi, apa maksudmu kegilaan?”

Cili tersenyum lebar dan masih membuka matanya lebar dan berbalik menatap Soraya. “Aku pikir tuan Luis kembali memukuli nyonya Elizabeth.”

Soraya tidak terlalu terkejut, namun itu cukup menegangkan. Jika saja tidak ada Elizabeth, mungkin Luis akan melampiaskan amarahnya kepada orang lain seperti, pelayan atau keluarganya sendiri.

“Sebaiknya kembali saja ke kamarmu, Cili.” Tegas Soraya yang hanya berpaling dan pergi tanpa keterkejutan yang luar biasa.

Tak ingin membuat salah, Cili langsung melengos pergi. Setidaknya dia sudah punya berita untuk bergosip dengan pelayan lainnya.

Sementara Soraya? Wanita itu nampak tak memperdulikan akan berita tadi, seolah dia benar-benar sengaja membiarkan Eliza dipukuli oleh adiknya yang sakit mental itu. Namun mengingat itu sendiri, Soraya terdiam saat dia mengisi air putih.

Ia melamun, mengingat pukulan yang pernah diberikan juga oleh mantan suaminya kepadanya sebelum perceraian berlangsung. “Itu sudah cukup lama, Soraya. Tidak sama.” Gumam nya menggeleng malas.

Sementara di kamar, terlihat Elizabeth yang tergeletak di atas kasur dengan tak berdaya. Tubuhnya lemas saat ia kini hanya mengenakan pakaian dalam saja dengan warna putih senada sambil posisi tidur yang miring sedikit tengkurap.

Sedangkan Luis? pria itu duduk santai di dekat jendela besar sambil merokok dan sesekali memperhatikan istrinya yang masih diam saja. Tidak ada malam pertama yang romantis, melainkan neraka bagi Elizabeth hingga luka dan darah segar hampir memenuhi tubuh indahnya dan wajah cantiknya.

“Apa amarahmu sudah meredam?” kata Eliza bersuara pelan nan lembut namun penuh penekanan dan remuk di tubuh.

1
Almun
aku jadi bingung,sebenarnya mereka ini korban dari vale.atau dua dua nya korban🤔🤔
Four.: mungkin... dua²nya korban
total 1 replies
sleepyhead
jadi kemeja hitamnya sdh digantikan dgn jubah tidurnya yah, atau mgkn karena udara terlalu dingin Vale memakai keduanya 🥰
sleepyhead: mhihiiii.. its ok tor, mengartikan bahwa otor bukan robot, apalagi hero, hanya manusia yg luput dr kesalahan 😁🤭 just kidding yess tor
total 2 replies
sleepyhead
Psikopat handsome
sleepyhead: kalo ada kita sdh bersaing 😁
total 2 replies
sleepyhead
Sambil diselipin scene cameo saat 🐌 Garry berjalan 🤭
sleepyhead: wkwkwkk
total 2 replies
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ ) sedih gua tor
Four.: jangan nangis nanti kelihatan orang, malu
total 1 replies
sleepyhead
Ketika kelembutan mengalahkan kekerasan dan logika juga keberanian bisa mengalahkan kekuatan yang tak terkendali...
its too little to late Dude..
Four.: aku mau jadikan Luis menjadi pria baik /Chuckle//Slight/
total 3 replies
vnablu
apakah nanti tuan Vale akan emm adalah dengan Eliza.. ngambil kesempatan dalam kesempitan nih tuan Vale 🤭🤭..
Four.: yaaa mungkin aja /Bye-Bye/
total 1 replies
vnablu
hobii banget ni orang nguping 😄😄 kalo nggak nguping jiwa kepo nya meronta" hahahaha
Four.: kalau GK ada dia sepi lohh /Grin/
total 1 replies
sagi🏹
thor kenapa gak di bikin jadi tangguh aja si Elizabeth thor kan dia juga berasal dari keluarga bangsawan thor
Four.: eak... eak... /Applaud/
total 5 replies
Tiara Bella
apa mwnya Vale ini ke Eliza ya....
Four.: ada dehhhh
total 1 replies
Almun
vale pliss.ya kaget lah lizaa🤧🤭
Four.: jadi dag--dig-dug sendiri
total 1 replies
Kinara Widya
lanjut kak...
Four.: wokehhh 👍
total 1 replies
sleepyhead
Dan pesan terakhir Ibunya, ( ⚈̥̥̥̥̥́⌢⚈̥̥̥̥̥̀) nyesek gua tor
Four.: Kata-kata ibu selalu ada pesan yang mendalam lohh 🤧/Sweat/
total 1 replies
sleepyhead
Cili ini Lambe turah versi Birmingham yah😅
Four.: ho, oh
total 1 replies
sleepyhead
exactly, karma is a myth...
Four.: yeah... you're right.
total 1 replies
sleepyhead
she's just nit into you, dumbass..!
Four.: ho,oh
total 5 replies
sleepyhead
Hell yeah 🤣👏👏
sleepyhead: wakakkkk
total 2 replies
sleepyhead
pintarnya kamu Eliza , bs memanfaatkan situasi dan memancing esmosi 🤭 Luis 😁
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl
Four.: yaa... harus menahan sakit yang luar biasa kannn /Grimace/
total 1 replies
sleepyhead
How tragicly 🥶
Four.: sangat tragis🤧
total 1 replies
Almun
lagipun di nggqk jahat jahat banget🤔
Four.: ho,oh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!