NovelToon NovelToon
Elora: My Little Princess

Elora: My Little Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Angst / Kutukan / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bwutami | studibivalvia

AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 4: petunia: the way to not lose hope [3]

“YANG Mulia, sebaiknya Anda mengganti pakaian terlebih dulu.”

“Tidak usah.”

Setelah pembantaian di Petunia, aku tiba di istana tepat dini hari menjelang subuh. Tidak ada waktu untuk berganti baju, aku segera menemui anak itu. Ini semua untuk meminimalisir sakit kepala yang bisa sewaktu-waktu datang setelah efek dari memberikan makanan kegelapan habis. Masih memakai baju yang penuh darah, aku mendorong daun pintu dengan keras sebelum melangkah masuk diikuti Hamon. Di sana, Duke of Astello masih duduk menemaninya. Dia tak gentar meski melihatku muncul dengan penampilan yang penuh dengan darah dan bau amis yang seperti menusuk perut. Sebaliknya, raut wajahnya justru terlihat senang seolah lega melihat kedatanganku.

“Semuanya keluar.”

Duke of Astello meliriknya sekilas sebelum menunduk hormat dengan ragu. Hamon pun demikian. Barulah setelah mendengar pintu ditutup rapat, aku mendekat dan duduk di sofa yang berada tepat di hadapannya sementara aneka kudapan ringan yang terdiri dari berbagai dessert manis masih tersedia di meja meski sudah dini hari.

Aku duduk menyilangkan kaki dan menatapnya tajam, bertanya, “Kau memanggilku apa tadi?”

“Papa.”

“Aku bukan Ayahmu dan kita tidak saling mengenal.”

Dia menatapku lama sebelum mengangguk pelan sedangkan aku menutup mata sembari mengepalkan kedua tangan kuat-kuat. Menghela napas, melanjutkan, “Jadi, kau sekarang sedang bermain-main denganku, bukan?”

“Tetapi, kamu memang bukan Ayahku. Kamu adalah Papaku.”

“Hentikan omong kosong ini.”

Aku lantas mengarahkan tangan kanan ke arahnya dan di detik selanjutnya dia telah melayang di udara. Aura biru pekat yang mengelilinginya membuat dia sulit bernapas seolah oksigen di sekitar anak itu menghilang. Dia menutup mata menahan sesak. Di tengah usahanya yang sia-sia, dia menatapku dengan pandangan yang teduh dan dalam menggunakan netra biru cerah yang persis sama seperti waktu pertama kali kami bertemu. Sangat menyebalkan ketika dia seolah melihatku iba, tetapi di sisi lain menampilkan kasih sayang yang memuakkan.

Pertemuan pertama kami bukan sesuatu yang pantas untuk diingat demikian juga dengan saat ini. Dia seharusnya takut dan memohon untuk diselamatkan, bukannya pasrah dengan kematian yang ada di depannya. Dengan demikian, aku punya alasan untuk membunuhnya supaya dia tidak merasakan sakit yang menyiksa. Harusnya seperti itu.

Tubuh mungilnya terjatuh di sofa begitu aura biru pekat tersebut hilang. Masih menghirup oksigen untuk mengisi ruang paru-paru kecil yang dia punya, aku tidak melepas tatapan darinya. Dress putih tipis yang lusuh, luka gores di wajah, tangan, serta kaki, tubuh yang kurus dan kecil, rambut kuning yang tetap bersinar meski kotor dan kusut, serta kedua kai tanpa alas, yang semuanya tidak jauh berbeda dari pertemuan awal kami, kecuali ukuran tubuhnya yang kian menyusut.

Ketika dia telah duduk kembali setelah napasnya teratur, dia kembali menatapku dengan tatapan yang berani. Mengepalkan kedua tangan mungil di atas paha, menarik napas dalam, dan berkata lantang,

“Kamu adalah Papaku!”

“Aku sama sekali tidak ingat pernah berhubungan badan dengan wanita manapun.” Menopang dagu dengan punggung tangan kanan, bertanya, “Apa yang kau inginkan?”

Dia terkejut. Mulutnya yang terbuka sedikit segera dia katup kembali. Di detik selanjutnya dia menunduk, mengangkat kepala, sebelum menunjuk kudapan ringan di atas meja. “Aku ingin makan itu,” katanya sembari melirik puding cokelat yang berada di ujung kananku.

Aku melirik makanan menjijikkan itu, menghela napas sebelum menatapnya kembali. “Maksudmu, makanan lembek yang suka bergoyang-goyang seperti pantat bebek?”

“Ya.”

“Makan saja.”

Dia segera melompat turun dari sofa, berjalan dengan wajah semringah ke arah puding cokelat yang sejak tadi sudah menarik minatnya tanpa beban. Ketika tangan mungil itu telah menggapai apa yang dia inginkan, dia langsung memasukkannya ke dalam mulut, memakan puding cokelat dengan posisi berdiri. Semua pemandangan ini seolah mengatakan bahwa dia sedari tadi tidak menyentuh makanan penutup yang sudah dingin dan tidak terlihat seperti baru itu.

“Jika sudah selesai kembalilah ke orang tuamu,” perintahku sembari menyandarkan punggung di sandaran sofa. “Tidak ada gunanya terus berpura-pura di hadapanku. Kembalilah sebelum aku benar-benar membunuhmu.”

“Olang tua itu apa?”

“Ayah dan Ibumu.”

Dia makan seperti tanpa beban. Padahal, semenit lalu dia berada di ambang kematian dan saat ini pun bahaya masih berada tepat di hadapannya. Aku bisa memahami kalau terkadang ada seseorang yang sangat berani hingga terkesan bodoh. Namun, anak ini bukannya berani atau tidak takut pada kematian, dia hanya tidak berpikir dan otaknya tidak bekerja dengan baik.

Tangannya baru saja mengambil puding cokelat yang kedua dan memasukkannya ke dalam mulut  ketika aku mendapati sedikit rasa iri hinggap. Dia bisa makan dengan nyaman setelah melewati kematian sementara aku masih harus berpikir setelah memberi makan kegelapan. Pembicaraan di aula istana siang tadi kembali terlintas. Semuanya nampak baik-baik saja selama ini sampai orang itu muncul dan mengacaukannya. Marquess of Matheo, haruskah kubunuh saja?

Dengungan nyaring mendadak terperangkap dalam indra pendengaranku. Detik berlalu dan dengungan itu makin intens menyerang kepala. Mataku membulat, kepalaku tertunduk, sementara kedua tanganku menutup telinga erat-erat.

Sialan, rasanya sakit sekali!

Aku tidak dapat mendengar suara lain. Kepalaku seperti dihantam dari segala penjuru dan dadaku mendadak terasa sangat sesak.

… darah.

Aku harus bangun untuk membunuh seseorang di penjara bawah tanah, tetapi bahkan untuk berdiri pun tubuh sialan ini tak mampu. Sakit kepala ini terasa lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya, seolah baru saja menemukan penyebabnya. 

Ini semua karena anak itu. Sejak awal, frekuensi sakitnya berubah dan itu dimulai sejak aku bertemu dengan dia. Aku harus membu–

“Yang Mulia! Anda sudah sadar?!”

“Yang Mulia!

Suara Hamon dan Duke of Astello bergantian memenuhi telingaku. Sentuhan di pundak kiri dan kanan membuatku mendongak dan menurunkan kedua tangan yang sebelumnya kugunakan untuk menutup telinga. Ekspresi lega bercampur khawatir dari mereka berdua adalah hal pertama yang memenuhi pandanganku ketika kesadaranku kembali.

“Yang Mulia, Anda dapat mendengar suara saya?”

Aku hanya menatap Hamon datar yang bertanya khawatir sebelum berpaling ke sisi kanan dan menyadari sesuatu seperti melingkar di perutku. Ketika aku menurunkan pandangan, anak mungil itu sedang melingkarkan tangan kecilnya di perutku entah sejak kapan.

“Kau–”

Dia mendongak semringah dengan air mata dan ingus yang memenuhi wajah. Air mukanya lega bercampur khawatir. “Papa sudah baikan?” Lalu dia melanjutkan setelah beberapa saat mengamatiku, “Syukullah.”

Aku memalingkan wajah ke depan. Berkata dingin tanpa ekspresi, “Singkirkan dia.”

Hamon yang berada paling dekat dengannya segera mengangkat tubuh mungil anak itu, menggendong, dan mendudukkannya di sofa yang dia duduki terakhir kali sedangkan dia menunduk, tidak berani menatapku, hanya memainkan jari-jemarinya dan terkadang mengelap air mata dan ingusnya menggunakan punggung tangan.

“Semuanya keluar.”


Duke of Astello meliriknya ragu, demikian juga dengan Hamon. Ketika aku mengulang perintah sekali lagi, barulah kedua orang itu berjalan keluar. Saat suara pintu yang ditutup rapat terdengar, aku bertanya kembali,

“Apa yang baru saja kau lakukan?” Mengeraskan rahang, melanjutkan, “Katakan padaku kenapa itu bisa hilang padahal aku belum membunuh seseorang?”

Namun, dia tidak menjawab. Jadi, aku berkata lagi dengan suara yang lebih tegas. “Jawab aku.”

Dia tersentak. Di detik berikutnya, dia mengangkat kepala, menatapku dengan pandangan yang teduh dan dalam. Dengan mata yang bengkak sehabis menangis, berkata, “Papa nda akan melasa sakit lagi. Aku janji.”


Meski tidak mengerti dengan perkataannya, aku tidak mengajukan pertanyaan lagi. Sebaliknya, otakku penuh dengan kilas balik kejadian yang pernah terjadi. Apa yang aku lewatkan? Namun, ketika melihat anak itu kembali, bekas cengkraman yang berada di lengan kanan atasnya mengingatkanku pada Marquess of Matheo, si Tikus Gendut itu, orang yang mengacaukan segalanya.

“Kalau Papa sakit lagi, aku akan menyuluh sakitnya pelgi.”

Atensiku kembali. Mendengarnya berkata dengan bibir yang kecil itu membuatku kehilangan kata-kata. Padahal yang menyebabkan aku merasakan sakit kepala sialan itu adalah dia. Meski memang kesimpulan itu masih berupa hipotesis sementara, tetapi aku telah sangat yakin bahwa dialah yang menyebabkan segala ketidakseimbangan kekuatan kegelapan.

Lalu, kenyataan bahwa sebelumnya dia yang membuat sakit kepala itu hilang–yang entah bagaimana dan apa yang dia lakukan kepadaku–menggunakan sihir atau memainkan sedikit trik, aku masih harus menyelidikinya. Jadi, sampai saat aku menemukan jawaban, aku memilih membiarkan anak mungil itu hidup.[]

1
Sinchan Gabut
Baik-baiklah sama Putri Puding Coklat, Yang Mulia. Dia itu kunci dr segala kunci. Paham? 😏🍮
studibivalvia: betul lagi lah akak ini 🤣 emang paling joss komenmu kak wkwk
total 1 replies
Pengabdi Uji
Tau gk yg mulia ibu asli el itu saya lho🤭
Pengabdi Uji
Keknya elora itu bsa ngontrol bapaknya ya? Punya kekuatan sejenis apatuh
studibivalvia: nyembuhin lebih tepatnya kak 🤣 kekuatannya ntar dijelaskan di bab yg berikutnya tapi kayaknya masih agak lama ketahuan nya
total 1 replies
Alessandro
"hamon tidak mati kan?"
ya ampun.... elora
Alessandro
saripati darah dong, thor...
detil sekali penjelasannya
Laila Sarifah
Agak anomali Kaisar satu ini, masa anaknya disuruh lompat dari ketinggian😭
Alessandro: 🤣🤣🤣 aku jg gemes dr kmrn...
tp ya gmn lg terserah sang pemilik cerita 🤣
total 1 replies
Laila Sarifah
Mudahan dgn adanya Elora di samping Kaisar, hati Kaisar menjadi lebih lembut
Aruna02
😭😭sadis
Aruna02
iiiikh gumush bnget elola 🤣🤣
Sinchan Gabut
Lah... kmrin pingsan, skrg malah cengengesan liat bapaknya habis bantai penduduk desa. jd bokem kamu El? 🤔😆🤣
Sinchan Gabut
gemes bgt sama Elora... 😘
Pengabdi Uji
El apa dy calon calon bocil baddas nanti diajarin sma bapaknya?
Pengabdi Uji
Kan kata gua jg apa, ni bocil pasti dibawa org lucu bgini🤣🤣
Alessandro
agak lain bapak ini....
Alessandro
hati yang mulia keras juga ya.....
butuh siraman cinta agar lebih melunak
Laila Sarifah
Yang Mulia nggak mau kah cari siapa Ibu aslinya Elora😫
studibivalvia: nggak dong kak 😔
total 4 replies
Laila Sarifah
Ya jgn lah di bunuh anakmu sendiri Yang Mulia, nanti anda menyesal
Aruna02
😩😩😩nungguin bapak nya
Aruna02
babi nggak tuh 😭😭😭
Aruna02
jadi, elora beban ya yang mulia🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!