Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Umpan yang Terlihat Terlalu Jelas
Song An tahu satu hal dengan pasti.
Kalau musuh tidak bergerak, berarti mereka sedang menunggu.
Dan kalau mereka menunggu terlalu lama, berarti mereka sudah melihat sesuatu.
“Umpannya harus terlihat bodoh,” kata Song An sambil duduk santai di paviliun.
Selir Zhang mengernyit. “Aku tidak yakin aku suka rencana yang disebut ‘bodoh’.”
“Itu justru inti rencananya,” jawab Song An ringan.
Selir Li memegang cangkir tehnya erat. “Apa yang akan kita jadikan umpan?”
Song An menoleh pada mereka berdua. “Kabar.”
“Kabar?” ulang Selir Zhang.
“Ya. Kabar yang sengaja bocor,” jawab Song An. “Tentang arsip lama. Tentang jalur barat. Tentang pembersihan internal.”
Selir Li menegang. “Itu… berbahaya.”
“Kalau tidak berbahaya, mereka tidak akan keluar,” jawab Song An.
—
Kaisar Shen menyetujui rencana itu tanpa banyak komentar.
Ia hanya berkata satu hal.
“Pastikan kalian aman.”
Song An mengangguk. “Kami tidak akan berdiri di depan.”
“Kalian tetap umpan,” kata Kaisar Shen.
“Tapi bukan mangsa,” jawab Song An.
—
Kabar itu mulai menyebar dua hari kemudian.
Tidak resmi.
Tidak tertulis.
Hanya potongan percakapan di lorong, bisikan pelayan, keluhan kecil pejabat rendah.
“Katanya arsip lama akan dibuka ulang.”
“Katanya jalur barat sudah diawasi langsung.”
“Katanya akan ada penangkapan besar.”
Semua terdengar setengah matang.
Dan justru karena itu—meyakinkan.
Selir Zhang mendengar langsung salah satu bisikan itu dan hampir tersedak.
“Itu… itu kita yang buat,” katanya dengan wajah pucat.
“Iya,” jawab Song An sambil mengunyah buah kering. “Bagus, kan?”
“Tidak!” bisik Selir Zhang panik. “Itu artinya mereka akan datang!”
“Kalau tidak datang,” jawab Song An, “kita tidak akan pernah tahu siapa mereka.”
—
Tanda pertama datang di malam ketiga.
Lampu di salah satu paviliun pelayan padam lebih cepat dari biasanya.
Song An langsung tahu.
“Ini dia,” katanya pelan.
Selir Li menatapnya. “Apa yang akan kita lakukan?”
“Tidak ke sana,” jawab Song An. “Kita menunggu.”
Menunggu adalah bagian tersulit.
Selir Zhang mondar-mandir. “Aku tidak bisa diam.”
“Kau bisa,” jawab Song An. “Dan kau sedang melakukannya.”
Selir Zhang berhenti, lalu tertawa kecil karena sadar.
—
Kaisar Shen menerima laporan pertama tengah malam.
“Ada pergerakan di gudang lama,” kata pengawal elit.
“Berapa orang?” tanya Kaisar Shen.
“Sedikit. Terlalu sedikit.”
Kaisar Shen menoleh ke Song An. “Seperti yang kau bilang.”
“Mereka tidak ingin terlihat,” jawab Song An. “Mereka hanya ingin memastikan.”
—
Pagi berikutnya, Selir Li terlihat pucat.
“Kau sakit?” tanya Selir Zhang.
“Tidak,” jawab Selir Li pelan. “Aku hanya… lelah.”
Song An memperhatikannya.
“Kau takut,” katanya lembut.
Selir Li menunduk. “Aku pikir aku sudah siap. Tapi ternyata… aku masih ingin hidup biasa.”
Song An duduk di sampingnya. “Tidak ada yang salah dengan itu.”
“Tapi aku tetap di sini,” lanjut Selir Li. “Dan aku benci diriku sendiri karena takut.”
Song An menatapnya lama.
“Dengar,” katanya pelan. “Keberanian bukan tidak takut. Keberanian itu tetap tinggal meski takut.”
Selir Li menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan.”
Song An tersenyum kecil. “Karena aku pernah di posisi kalian.”
—
Malam itu, umpan benar-benar dimakan.
Seorang pejabat kecil ditangkap karena membawa dokumen palsu.
Ia bukan dalang.
Ia bahkan tidak tahu apa-apa.
Namun ia cukup untuk membuat jaringan panik.
“Gerakan mereka jadi ceroboh,” lapor pengawal.
“Bagus,” kata Song An. “Orang yang panik akan membuat kesalahan.”
—
Kesalahan itu datang dalam bentuk seseorang yang tidak seharusnya ada.
Seorang pelayan perempuan baru muncul di paviliun Song An.
Wajahnya tenang.
Langkahnya ringan.
Terlalu ringan.
“Kau baru?” tanya Selir Zhang curiga.
“Iya,” jawab pelayan itu sambil menunduk. “Aku dipindahkan.”
Song An menatapnya sekilas.
“Namamu?” tanyanya.
“Mei Lin.”
Song An mengangguk. “Kau bisa pergi.”
Pelayan itu terkejut. “Sekarang?”
“Ya,” jawab Song An.
Pelayan itu menunduk lagi dan pergi tanpa protes.
Begitu pintu tertutup, Selir Zhang berbisik cepat, “Kenapa kau menyuruhnya pergi?”
“Karena dia tidak membawa bau dapur,” jawab Song An. “Tangannya terlalu bersih.”
Selir Li memeluk lengannya sendiri. “Jadi… dia mata-mata?”
“Pengamat,” jawab Song An. “Bukan penyerang.”
—
Keesokan harinya, Kaisar Shen memanggil Song An secara pribadi.
“Mereka sudah mulai menguji batas,” katanya.
“Dan mereka ingin tahu sejauh mana kita tahu,” jawab Song An.
“Bagaimana selir lain?” tanya Kaisar Shen.
“Mereka aman,” jawab Song An. “Karena mereka tidak tahu apa-apa.”
“Kau menyimpan beban ini sendiri,” kata Kaisar Shen.
Song An tersenyum tipis. “Aku terbiasa.”
Kaisar Shen terdiam lama.
“Setelah ini selesai,” katanya akhirnya, “aku akan menepati janjiku.”
Song An mengangguk. “Aku tahu.”
—
Namun malam itu, Selir Zhang hampir menyerah.
“Aku tidak bisa tidur,” katanya sambil duduk di lantai paviliun. “Setiap suara membuatku terkejut.”
Selir Li duduk di sampingnya. “Aku juga.”
Song An menatap mereka berdua.
“Kalian boleh mundur,” katanya pelan.
Dua pasang mata menatapnya kaget.
“Kau serius?” tanya Selir Zhang.
“Iya,” jawab Song An. “Aku tidak akan memaksa.”
Selir Li menggigit bibir. “Kalau kami mundur… kau sendirian.”
Song An tersenyum. “Aku tidak pernah sendirian. Aku hanya terbiasa sendiri.”
Keheningan.
Lalu Selir Zhang berdiri. “Aku tidak mundur.”
Selir Li ikut berdiri. “Aku juga.”
“Kami takut,” lanjut Selir Zhang. “Tapi kami tidak ingin lari.”
Song An menghela napas lega tanpa mereka sadari. “Baik.”
—
Di sisi lain istana, seseorang membaca laporan cepat.
“Selir Song… terlalu tenang,” gumam pria itu.
Ia tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kita naikkan taruhannya.”
Ia menulis satu perintah pendek.
Dan mengirimkannya keluar istana.
Malam itu, angin berhembus lebih dingin dari biasanya.
Song An berdiri di depan jendela.
Ia tidak tahu apa yang akan datang.
Tapi ia tahu satu hal jika umpan sudah ditelan dan kali ini, kailnya tidak akan dilepas begitu saja.
Bersambung