sebagian dari kisah ini terinspirasi dari kejadian nyata..
Armala Anggun, ingin menguji takdir, sejauh mana takdir mempermainkan kehidupan cintanya.
Menikah dengan seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, apalagi rupanya. tapi dia berusaha menerima laki-laki asing itu sebagai suaminya.
Jemicko Putra Nawar, dan Gama Maziantara Gundala, sama-sama memendam perasaan
kepada Mala. keduanya terus berusaha mendekati Mala.
diantara mereka, siapakah suami Mala yang sebenarnya?
Follow
Ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 13.
mas Micko? sedang apa dia disini?
Mala hanya melompong menyaksikan Micko yang dengan sopan mencium tangan kedua orang tuanya. sementara Ayah langsung memeluknya dengan erat. ayah menepuk-nepuk punggung Micko.
"apa kalian datang bersamaan?" tanya ayah kepada Mala dan Micko.
"ha??" Mala masih belum bisa mencerna adegan yang baru saja terjadi dihadapannya.
"iya yah, tapi Mala minta diturunkan dijalan tadi." jelas Micko. nada bicaranya sangat lembut dan sopan.
Mala yang masih melongo melihat ayah dan Micko secara bergantian, dia benar-benar bingung dengan situasi ini.
kenapa Micko terlihat sangat akrab dengan ayahnya? kenapa Micko memanggil ayahnya dengan sebutan Yah? siapa sebenarnya Micko? apa Micko adalah suaminya?
banyak sekali pertanyaan yang muncul di benaknya. tapi pertanyaan-pertanyaan itu tertahan diujung lidahnya. efek terkejut, dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa. hanya bengong saja.
ibu memukul pundak Mala. menyadarkan Mala seketika.
"kenapa malah bengong saja begitu? bantu ibu bawa barang-barang ini." kata ibu menunjuk dua buah koper berukuran lumayan besar yang berada diatas troli.
"sini. biar aku saja." Micko merebut troli dari tangan Mala. gadis itu masih mencoba mencerna. dia menatap Micko dengan bingung, mulutnya bahkan belum tertutup.
Micko memindahkan barang-barang ayah dan ibu kedalam bagasi mobilnya. sementara ayah, ibu dan Mala masuk kedalam mobil. Mala masih terdiam. perasaannya gusar tak terkendali. wajahnya berubah pucat. keringat dingin mengaliri tengkuknya.
ayah duduk disamping kemudi, sedangkan ibu dan Mala duduk dikursi belakang.
"kamu kenapa nak?" tanya ibu.
"tidak apa-apa bu."
Micko melirik Mala dari kaca spion. sebuah senyum ramah yang belum pernah Mala lihat sebelumnya sedang bertengger dibibirnya. Mala langsung membuang mukanya dan menatap jalanan yang ramai. tapi sesaat kemudian, Mala kembali memperhatikan Micko dari belakang. Mala bahkan tidak berkedip.
Mala tidak tau harus bagaimana? dia sama sekali tidak menyangka kalau Micko itu suaminya. ia sama sekali tidak berfikir kearah sana. bagaimana dia bisa menduga kalau Micko itu suaminya? sedangkan Micko selalu bersikap dingin padanya.
"apa kedua orangtuamu masih disini?" tanya ayah kepada Micko.
"masih yah."
"kapan mereka akan kembali ke medan?"
"mungkin minggu depan yah, kemarin kata Papa mau sekalian pulang bersama ayah nanti." jelas Micko.
"ibu sudah kangen sama Mamamu.. sudah lama tidak bertemu dengannya." Mama ikut nimbrung obrolan mereka.
"ayah tidak menyangka kalian sudah sedekat ini. Mala, bagaimana menurutmu suamimu ini? ayah tidak salah pilih kan?"
Mala masih terdiam. tidak menanggapi pertanyaan dari ayah. saat ini fikirannya benar-benar kacau. bagaimana dia akan menjelaskannya kepada Dewi nanti? sudah bisa ditebak kalau Dewi akan marah padanya.
"ayah sama ibu kerumah Micko saja ya, kos Mala tidak terlalu lebar soalnya." Micko menawarkan.
darimana dia tau kos Mala tidak lebar? Mala tidak tau kalau kosnya itu juga merupakan milik Micko.
Mala bingung, antara ingin pulang ke kos, atau ikut kerumah Micko. kalau dia ikut kerumah Micko, terus selanjutnya apa? apa dia harus bersikap sebagai menantu sekarang? arrhgghh..! Mala benar-benar ingin menghilang.
"iya,, terserah kamu saja. ayah dan ibu menurut saja."
Security membukakan gerbang rumah mewah itu saat melihat kedatangan mobil Micko. dari dalam rumah Mama dan Papa langsung menyambut mereka dengan hangat.
"selamat datang besan." kata Mama. "bagaimana perjalanannya?"
"waduhh,, aku mabuk jeng.." kata ibu yang langsung disambut dengan gelak tawa oleh yang mendengarnya.
"nak Mala juga ikut ya..?"
Mala hanya mengangguk saja tanpa berani mengangkat wajahnya. dia tidak tau harus bersikap seperti apa. lututnya sudah terasa lemas. tapi masih sanggup menopang tubuhnya.
mereka semua kemudian masuk kedalam rumah besar bertingkat 2 itu, sementara Micko mencegah Mala untuk ikut masuk kedalam. tangannya menggenggam pergelangan tangan Mala.
"kalian masuk saja dulu, ada yang ingin kubicarakan dengan Mala." Micko meminta izin. semua mengangguk mengerti dan masuk kedalam rumah.
"kau baik-baik saja?" tanya Micko nampak khawatir. dengan lembut Micko menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Mala. dan Mala mengangkat wajahnya. ada genangan air mata disana.
Mala sudah menahannya sejak tadi. karna itu dia terus menundukkan kepalanya. dia tidak ingin ayah dan ibu melihatnya menangis. dalam diam air mata Mala mengalir dipipinya. dan Micko segera menghapusnya dengan sentuhan lebut.
"sudah, jangan menangis." Micko menarik tubuh Mala kepelukannya dan mengusap-usap kepala istrinya itu untuk menenangkannya. tapi yang anehnya, Mala diam saja mendapat perlakuan itu. dia bahkan menumpahkan tangisannya di pelukan Micko.
Micko membiarkan saja Mala menangis sampai perasaannya lebih baik. setelah Mala berhenti menangis, Micko mengajak Mala untuk masuk kedalam rumah. pria itu menggenggam tangan Mala dengan mesra.
dia sengaja mungkin ngawal kamu tuh makanya ngikutin trus balik lg 🤣