Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: TOPENG YANG TERBONGKAR
Hawa dingin di lorong koridor temaram itu terasa kian merayap membekukan kulit. Kamilah menatap pria tegap di hadapannya dengan pandangan linglung bercampur bingung, berusaha keras memproses setiap patah kata yang baru saja diucapkan oleh Rizky Syah.
"A-apa kamu sedang salah paham?" bisik Kamilah dengan suara yang bergetar pelan, berusaha mencari celah logika untuk menenangkan benaknya yang kacau. "Kakakku... Kak Roya bahkan belum pulang dari luar negeri. Jadi maksudmu—"
"Apa hubungannya masalah ini dengan kakakmu?" sela Rizky cepat. Suara beratnya yang memotong perkataan Kamilah terdengar tanpa ada keraguan sedikit pun.
Pria itu makin menundukkan kepalanya, mengikis habis jarak yang tersisa di antara mereka hingga hembusan napas hangatnya menyapu lembut permukaan kulit wajah Kamilah yang pucat. "Dari dulu sampai sekarang... satu-satunya orang yang selalu kusukai dan kucintai itu adalah kamu, Kamilah. Bukan orang lain."
Jantung Kamilah seolah berhenti berdetak seketika. Pengakuan jujur yang mendadak itu menghantam dadanya bagaikan petir yang menyambar di malam hari. Namun, rasa takut, trauma masa lalu, dan naluri untuk melindungi diri dengan cepat mengambil alih pikirannya.
"Jangan bicara sembarangan!" tolak Kamilah keras sambil berusaha memutar tubuh dan mendorong dada bidang Rizky. "Aku... aku akan segera bertunangan resmi dengan Mas Ikram Pratama!"
Bukannya melepaskan atau mundur, Rizky justru menangkap kedua pergelangan tangan Kamilah. Jemari tegapnya menggenggam erat tangan halus gadis itu, membaliknya perlahan di bawah pendar lampu koridor. Matanya menyipit tajam saat mendapati bekas-bekas kuku merah mendalam yang menancap di permukaan telapak tangan Kamilah—bekas luka yang sengaja gadis itu tekan sendiri demi menahan gejolak tertekan saat duduk di dalam ruang konser tadi.
"Bertunangan dengan seseorang yang membuatmu begitu tertekan... sampai-sampai kamu harus menyakiti dirimu sendiri seperti ini?" tegur Rizky dengan suara rendah yang dipenuhi gejolak amarah terpendam.
Kamilah buru-buru menarik tangannya dari cengkeraman Rizky, menyembunyikannya di balik punggungnya dengan raut panik. "I-ini... ini aku tidak sengaja!"
Rizky mendengus dingin, menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan dominasi dan kejengkolan. "Kata-kata yang keluar dari bibir seorang pembohong kecil... tidak ada satu pun yang bisa kupercaya."
Sebelum Kamilah sempat mengelak atau melangkah mundur, Rizky secara mendadak mendorong tubuh gadis itu ke dinding marmer di belakangnya. Dengan gerakan yang teramat cepat, cekatan, dan dominan, Rizky mencengkeram kedua pergelangan tangan Kamilah, mengangkatnya tinggi-tinggi menempel di atas kepala gadis itu, lalu menghimpit tubuhnya rapat-rapat.
Tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk bernapas, Rizky menundukkan kepalanya dan mendaratkan ciuman yang dalam, tajam, dan penuh obsesi tepat di atas bibir Kamilah. Ciuman itu membakar, menuntut, dan menyapu seluruh benteng pertahanan diri Kamilah hingga gadis itu merasa tubuhnya lemas di dalam kuncian pria tersebut.
Ketika Rizky menarik wajahnya sedikit untuk memberi celah bernapas, ia menatap langsung ke dalam manik mata Kamilah yang mulai berkaca-kaca, lalu berbisik dengan nada menggoda yang sangat berbahaya. "Kamu sebenarnya suka aku memperlakukanmu secara kasar seperti ini, kan?"
"Ti-tidak... aku tidak suka!" seru Kamilah dengan napas memburu, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Bohong lagi," bisik Rizky dingin.
Pria itu kembali menunduk, melanjutkan ciumannya yang kini terasa jauh lebih intens, dalam, dan membara. Kamilah mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki, menggoyangkan badannya dengan histeris hingga berhasil mendorong dada bidang Rizky sedikit menjauh.
"Hentikan, Rizky! Mas Ikram Pratama akan segera datang ke sini menyusulku!" ancam Kamilah dengan wajah memerah padam dan napas terengah-engah.
Namun bukannya takut atau gentar, Rizky justru menyunggingkan senyum miring yang teramat arogan. "Bagus kalau dia datang ke koridor ini... biar pria itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kamu meleleh pasrah dalam ciumanku."
Rizky mendekatkan bibirnya tepat ke daun telinga Kamilah, membisikkan kata-kata yang menusuk langsung ke dasar jiwa paling dalam gadis itu. "Biar dia tahu... Kamilah Ye tidak pernah menjadi gadis penurut yang lembut dan manis seperti yang kalian bayangkan selama ini. Kamu adalah seseorang yang tanpa sadar selalu mencari rasa sakit dan sensasi... seorang masokis."
PLAK!
Suara tamparan nyaring bergema kencang di lorong koridor yang sepi itu. Kamilah berhasil membebaskan sebelah tangannya dan melayangkan tamparan keras tepat ke pipi tegap Rizky.
"Apa yang sedang kamu bicarakan, Rizky Syah?!" jerit Kamilah dengan suara gemetar hebat, air mata kebingungan, amarah, dan rasa malu mulai menggenang di pelupuk matanya.
Rizky memiringkan kepalanya sejenak akibat dorongan tamparan itu, namun tidak marah sedikit pun. Pria itu justru kembali memalingkan wajahnya dan menatap Kamilah dengan sorot mata yang penuh pengertian dalam—sebuah tatapan yang sanggup menembus seluruh topeng kepura-puraan gadis itu.
"Bukankah memang begitu kenyataannya?" tanya Rizky pelan. Pria itu mengulurkan jemari tangannya yang hangat, mengusap lembut bekas lelehan air mata di permukaan wajah Kamilah. "Kamu menjadi sangat sensitif, dingin, dan tertutup sejak masih kecil... dan semua ini karena perbuatan Husein Ye, si bajingan sialan itu. Perbuatannya yang membuat mentalmu trauma hingga tanpa sadar selalu mencari rasa sakit hanya untuk merasa 'hidup'."
Rizky mendekatkan wajahnya lagi, menatap langsung ke manik mata Kamilah yang bergetar kencang. "Kepatuhanmu selama ini, kepura-puraanmu menjadi gadis manis, dan sikap pengertianmu pada semua orang... itu semua hanyalah benteng pelindung sementara yang kamu ciptakan untuk menutupi lukamu."
Kamilah membeku kaku. Seluruh sendi tubuhnya terasa melumpuh seketika.
Bagaimana... bagaimana bisa dia tahu hal sedalam itu? jerit Kamilah di dalam benaknya yang terguncang hebat. Bagaimana bisa pria ini memahami seluruh rasa sakit, trauma, dan rahasia tergelap yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat dari dunia?
Melihat Kamilah yang terguncang dan tampak begitu tak berdaya, raut wajah Rizky berubah menjadi sangat hangat dan penuh dengan kelembutan yang protektif.
"Kamilah... bersamaku saja," bisik Rizky dengan intonasi suara yang teramat tulus dan dalam. "Semua hal yang kamu inginkan, semua hal yang kamu sukai... aku janji akan memberikan semuanya kepadamu tanpa terkecuali."
Rizky kembali menunduk, menyentuh bibir Kamilah dengan ciuman yang kali ini terasa begitu lembut, hangat, dan penuh permohonan tulus. Ciuman itu seolah ingin membelai dan menyembuhkan setiap serpihan luka yang tersisa di hati gadis itu.
Namun, rasa takut akan ketelanjangan emosional itu membuat Kamilah panik setengah mati. Ia tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa ada seseorang yang sanggup membaca jiwanya hingga ke dasar.
Dengan dorongan histeris yang tersisa di dalam dirinya, Kamilah mengerahkan seluruh tenaganya dan mendorong tubuh tegap Rizky kencang-kencang!
STAGGER!
Rizky terdorong ke belakang beberapa langkah. Tanpa menunggu pria itu mengambil tindakan lebih lanjut atau mengejarnya, Kamilah membalikkan badannya dan berlari sekencang-kencangnya menyusuri lorong koridor temaram tersebut, melarikan diri dari pria yang baru saja membongkar seluruh rahasia terbesarnya.