NovelToon NovelToon
DESO TENGAH ALAS

DESO TENGAH ALAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: wulung kecubung

DESA TENGAH ALAS

Desa itu tidak ada di peta. Tidak ada sinyal. Tidak ada jalan keluar setelah matahari terbenam.

Danan kembali ke Desa Tengah Alas setelah 12 tahun meninggalkannya. Bukan karena rindu, tapi karena adiknya hilang di dalam hutan yang mengelilingi desa itu. Polisi bilang tersesat. Orang desa bilang, "sudah diambil."

Satu-satunya yang berani menemani Danan masuk adalah Cahyo — sahabat kecilnya yang dijuluki Anak Alas. Cahyo bisa keluar masuk hutan terlarang tanpa tersesat, tapi dia tidak pernah mau menjelaskan kenapa.

Sebelum masuk, Cahyo memberi tiga pantangan mati:

Jangan menjawab jika namamu dipanggil dari dalam alas.
Jangan membawa cahaya merah ke dalam hutan.
Jika kamu menemukan desa yang sama persis tapi kosong, jangan masuk. Lari.

Semakin dalam mereka mencari, Danan sadar ada yang salah dengan desanya. Dan ada yang lebih salah lagi dengan Cahyo.

Karena di Tengah Alas, tidak hanya ada satu desa. Ada desa yang terlihat... dan desa yang mengintip dari balik pohon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wulung kecubung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desa Kembar Yang Sepi

"Kang Danan..."

Suara Laras dari desa kembaran itu halus, tapi nusuk kuping. Tangannya melambai pelan, ngajak Danan masuk.

Danan sudah melangkah. Ujung sandalnya sudah melewati batas kabut.

Cahyo menarik kaosnya kencang sampai hampir sobek.

"JANJIMU, NAN! ATURAN NOMER TELU! OJO MLEBU!"

Danan berhenti. Dadanya naik turun. Matanya nggak bisa lepas dari Laras.

Laras tersenyum. Senyum yang salah. Bibirnya senyum, tapi matanya sembab nangis. Pipinya kotor tanah.

Di belakang Laras, satu per satu rumah di desa kembaran itu menyalakan lampu. Kuning remang-remang. Dari jendela-jendelanya terlihat bayangan orang berdiri, semua menatap Danan.

Semua bayangannya sama. Kepalanya nunduk.

"Kowe weruh ora?" bisik Cahyo gemetar, suaranya hampir tidak keluar. "Kui dudu deso, Nan. Kui kuburane deso. Panggon sing dienggo nyimpen tumbal-tumbal sing gagal bali."

Angin tiba-tiba muter kencang. Bunga kantil putih di tangan Danan terbang, jatuh tepat di tengah-tengah garis batas antara desa asli dan desa kembaran. Di atas kabut.

Detik bunga itu menyentuh tanah, kabut di sekitar desa kembaran hilang total.

Danan bisa melihat jelas sekarang.

Desa kembaran itu busuk. Rumah-rumahnya sama persis dengan Desa Tengah Alas, tapi kayunya lapuk hitam, gentengnya jebol dimakan lumut. Dan di depan setiap rumah, ada gundukan tanah baru.

Puluhan gundukan. Seperti kuburan yang baru digali.

Di depan rumah gedek hijau kembaran - rumah Danan versi busuk - gundukan yang paling baru masih basah, tanahnya masih gembur. Di atasnya ditancapkan kayu nisan darurat, tulisannya pakai arang:

LARAS - 14/10/2026

Tanggal kemarin. Tanggal Laras hilang.

Danan menjerit. Suaranya pecah.

"LARAS!!!"

Dia tidak peduli lagi dengan aturan. Dia menerjang kabut, menerjang garis batas.

"OJO DANAN!!!" Cahyo berteriak sampai urat lehernya keluar.

Begitu kaki Danan menginjak tanah desa kembaran, semua lampu kuning di desa itu mati bareng. Byar! Mati total.

Gelap. Dinginnya menusuk tulang.

Yang terdengar cuma suara Laras menangis kencang, persis di telinganya.

"Kang... ojo buka mata... ojo buka... mereka ngintip..."

Danan merem sekencang-kencangnya. Jantungnya mau copot.

Di sekelilingnya terdengar suara langkah kaki. Banyak. Muter-muter mengelilingi dia. Bau tanah basah bercampur bunga kantil busuk menyengat hidung. Ada suara cekikikan anak kecil, suara geraman, suara orang menyeret karung basah.

Suara Cahyo terdengar jauh sekali, seperti berteriak dari dalam sumur.

"DANAN! BALI! SEBUT JENENGMU! JENENG ASLIMU! OJO JENENG PASARAN!"

Jeneng aslimu? Danan bingung. Namanya Danan kan?

Tidak. Di Desa Tengah Alas, setiap bayi punya dua nama. Nama pasaran untuk dipanggil sehari-hari, dan nama asli yang disembunyikan dukun bayi saat lahir untuk melindungi dari alas. Nama asli itu tidak boleh disebar.

Ibunya pernah berbisik waktu dia demam umur 8 tahun, setelah kejadian dipanggil dari alas: "Eling-eling yo Nan, jeneng aslimu kuwi Dananjaya Prawiro Utomo. Nek kowe kesasar neng njero alas, bengok jeneng kuwi banter-banter. Alas ora wani nggowo jeneng asli."

"DANANJAYA PRAWIRO UTOMO!!" Danan berteriak sekuat tenaga, air matanya muncrat.

BUGH!

Seperti ditabrak angin dinding.

Danan terlempar ke belakang, punggungnya menghantam dinding gedek. Nafasnya hilang sesaat.

Dia membuka mata pelan-pelan.

Dia sudah kembali di pawon rumah gedek hijau yang asli. Pawon yang mati, penuh abu dingin. Cahyo duduk di sampingnya, kakinya sekarang napak tanah lagi, tapi mukanya basah air mata.

Di depannya, Laras tidak ada. Yang ada hanya bunga kantil putih yang tadi terbang, sekarang tergeletak di lantai. Kering. Hitam. Gosong seperti habis dibakar.

"Untung kowe eling jeneng aslimu," Cahyo ngomong lirih, suaranya serak. "Nek ora, kowe wes dadi warga kono selawase. Kayak aku."

Danan menatap Cahyo. "Maksudmu kayak kowe piye, Yo?"

Cahyo mengangkat celananya. Di betisnya ada bekas luka menganga, hitam, tidak berdarah. Di dalamnya ada akar kecil yang bergerak-gerak.

"Aku ilang tahun 2014, Nan. Pas golek kayu neng alas. Warga ngarani aku minggat neng kutha. Padahal aku kesasar neng desa kembaran kuwi. Aku bali, tapi sikilku ketinggalan neng kono. Makane kadang aku ngambang."

Danan merinding sampai ubun-ubun.

Dari luar jendela pawon, kabut sudah hilang. Jam 6 pagi. Matahari muncul malu-malu.

Dan di pinggir alas, terlihat puluhan warga desa membawa pacul, senter, dan kentongan. Mau mencari Laras.

Di depan mereka ada seorang wanita tua, rambut putih diikat, menggendong bakul jamu. Jalannya tegak, matanya tajam.

Mbah Kromo.

Mata Mbah Kromo langsung menatap ke pawon Danan. Tepat ke mata Danan, padahal jaraknya hampir seratus meter.

Mbah Kromo tersenyum. Senyum yang sama persis dengan senyum Laras di desa kembaran tadi.

Senyum yang bibirnya senyum tapi matanya nangis.

Mbah Kromo mengangkat tangan, melambai pelan ke Danan. Sama persis seperti Laras melambai.

Cahyo langsung menarik Danan tiarap di bawah meja pawon.

"Ojo dibales, Nan! Itu dudu Mbah Kromo! Kui sing nunggu!".

1
Stingray
lah kirain bahasa indo soalnya premisnya pake indo.
wulung kecubung: bahasanya campur jawa, karena saya terbiasa membuat cerita dengan bahasa jawa yang bercampur Indonesia 🙏
total 1 replies
Poetra Felen
waduh
Poetra Felen
wih, mantep ceritanya bro!
wulung kecubung: banyakan pake bahasa jawa , jd maaf kalo banyak pembaca yang ndak paham 🙏
total 1 replies
wulung kecubung
masih sepi belum ada yang baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!