Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Enam Bulan
Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra kamar presidential suite, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas wajah Naya.
Naya mengusap matanya yang terasa berat dan sembap. Seluruh badannya pegal-pegal bagaikan habis dihantam beban berat. Bagaimana tidak? Sepanjang malam ia terpaksa tidur meringkuk di atas sofa kulit yang kaku dan sempit, masih lengkap terbungkus gaun pengantin berenda kaku yang sangat tidak nyaman.
"Aduh ... punggungku ..." ringis Naya seraya berusaha duduk tegak.
Naya memegangi lehernya yang tertekuk kaku, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan mewah itu. Tempat tidur berukuran king size di tengah kamar sudah rapi tanpa cela. Raka Mahendra tidak ada di sana.
"Sudah bangun, Gadis Penipu?"
Suara berat dan dingin yang amat dikenalinya tiba-tiba terdengar dari arah meja makan suite. Naya menoleh cepat. Raka sudah tampil sangat rapi dengan kemeja putih bersih yang digulung hingga ke siku, celana kain berpotongan fit, dan rambut yang tersisir rapi. Pria itu sedang menyesap cangkir kopi hitamnya dengan tenang sembari membaca berkas di atas tablet lipat mewahnya.
melihat penampilan Raka yang begitu segar dan sempurna, berbanding terbalik dengan dirinya yang berantakan bagaikan korban bencana alam, membuat kejengkelan Naya langsung memuncak di pagi hari.
"Stop memanggil saya dengan sebutan itu, Pak Raka!" sahut Naya ketus seraya berdiri dari sofa. Ia mencoba merapikan bagian depan gaunnya yang kusut masai. "Nama saya Naya!"
"Bagi saya, namamu tidak penting," balas Raka datar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet. "Yang penting adalah fakta bahwa kamu berada di sini karena penipuan yang dilakukan keluargamu."
Naya mengepalkan tangannya, menggeretakkan gigi menahan amarah. Sabar, Naya, sabar. Cuma enam bulan. Setelah itu kamu bebas dari monster arogan ini.
Raka meletakkan cangkir kopinya, lalu meraih sebuah map kulit berwarna hitam elegan dari samping laptopnya. Pria itu melemparkan map tersebut ke atas meja kaca di depan sofa tempat Naya tadi tidur. Map itu mendarat dengan bunyi bukk yang cukup nyaring.
"Baca dan tanda tangani," perintah Raka singkat.
Naya mendekati meja, menyibakkan gaun pengantinnya yang mekar dengan gusar, lalu mengambil map tersebut. Di lembar pertama, tertera judul besar dengan cetakan tebal: SURAT PERJANJIAN KESEPAKATAN PERNIKAHAN KONTRAK.
"Apa ini?" tanya Naya seraya membolak-balik lembaran kertas tebal berstempel meterai itu.
"Surat perjanjian kerja sama kita selama enam bulan ke depan," jawab Raka santai. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, memandang Naya dengan tatapan penuh dominasi. "Pengacaraku menyusunnya tadi malam. Ada delapan belas pasal yang mengatur seluruh hak, kewajiban, serta batasan-batasan yang harus kamu patuhi selama menjadi istriku."
Naya mendengus sinis. "Sampai bikin dokumen formal segala? Anda benar-benar gila kontrol ya, Pak."
"Ini bisnis, Naya. Dan dalam bisnis, segalanya harus tertulis di atas kertas hitam dan putih agar tidak ada pihak yang ingkar," tegas Raka tanpa senyum sedikit pun. "Buka pasal empat."
Naya membuka halaman kedua dan membaca pasal yang ditunjuk dengan suara nyaring:
"Pasal 4: Pihak Kedua (Naya Kanindita) wajib menjaga kerahasiaan identitas aslinya dari media, publik, dan seluruh anggota keluarga Pihak Pertama (Raka Mahendra). Pihak Kedua wajib bertindak dan berakting sebagai istri yang penuh kasih sayang di depan umum jika situasi mengharuskan."
Naya mendelik. "Berakting penuh kasih sayang?! Anda bercanda? Bagaimana mungkin saya bisa berakting sayang pada pria yang memecat saya tanpa perasaan seminggu yang lalu?!"
"Itu dinamakan profesionalisme," potong Raka dingin. "Kamu mau ayahmu bebas dari tuntutan hukum dan seluruh biaya rumah sakitnya lunas atau tidak? Kalau mau, lakukan tugasmu dengan baik. Baca pasal tujuh."
Naya menyipitkan matanya, membaca pasal berikutnya:
"Pasal 7: Pihak Kedua dilarang keras menyentuh barang-barang pribadi Pihak Pertama, memasuki ruang kerja Pihak Pertama tanpa izin, dan dilarang tidur di kamar yang sama kecuali jika ada kunjungan dari keluarga besar Pihak Pertama."
"Oh, jangan khawatir soal pasal tujuh ini," cibir Naya dengan nada menyindir yang tajam. "Saya bahkan tidak sudi menginjakkan kaki di radius satu meter di sekitar Anda kalau tidak terpaksa. Lanjut, apa lagi?"
"Pasal dua belas. Ini yang paling penting," kata Raka seraya memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Naya.
Naya membacanya lirih:
"Pasal 12: Pihak Kedua dilarang keras melibatkan perasaan pribadi, menaruh rasa tertarik, atau jatuh cinta kepada Pihak Pertama selama masa perjanjian berlangsung maupun setelahnya.
Pelanggaran terhadap pasal ini akan mengakibatkan pembatalan perjanjian secara sepihak dan Pihak Kedua wajib membayar ganti rugi sebesar seluruh biaya yang telah dikeluarkan Pihak Pertama."
Membaca pasal dua belas itu, tawa Naya seketika menyembur keluar. Ia tertawa agak keras, sebuah tawa geli bercampur heran yang membuat dahi Raka berkerut tajam.
"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?" tanya Raka dengan suara bernada tersinggung.
"Pak Raka Mahendra yang terhormat dan paling percaya diri se-jagat raya..." Naya menghentikan tawanya, lalu menatap Raka dengan tatapan meremehkan yang amat puas. "Anda benar-benar berpikir bahwa saya bisa jatuh cinta pada Anda? Pada pria yang angkuh, dingin, tidak punya rasa empati, dan suka menindas orang kecil seperti Anda?
Raka menyipitkan matanya. "Banyak wanita di luar sana yang bersujud hanya untuk mendapatkan perhatian saya, Naya."
"Sayangnya saya bukan wanita-wanita murahan itu," balas Naya tanpa rasa takut sedikit pun. "Tingkat percaya diri Anda benar-benar di luar nalar. Dengar ya Pak Raka, jangankan jatuh cinta, melihat wajah Anda saja sudah membuat selera makan saya hilang seketika. Jadi Anda tidak perlu khawatir soal pasal dua belas konyol ini. Duit milyaran Anda aman."
Wajah Raka sedikit menegang mendengar balasan menohok dari Naya. Selama hidupnya, tidak pernah ada satu pun wanita, bahkan karyawan di kantornya, yang berani bicara selantang dan setajam itu di depan wajahnya. Ada kilatan amarah yang tertahan di matanya, namun juga ada sedikit rasa terkejut yang tersembunyi.
"Bagus kalau begitu," tukas Raka ketus, berusaha menutupi rasa gengsinya. "Tanda tangani di atas meterai itu sekarang."
Naya meraih pulpen berlogo Mahendra Group yang tergeletak di meja. Tanpa ragu-ragu, ia membubuhkan tanda tangannya di atas meterai lembar perjanjian tersebut.
"Selesai," kata Naya seraya melempar pulpen itu kembali ke meja. "Sekarang, karena saya sudah menandatangani dokumen penderitaan ini, bisakah saya melepas gaun penyiksa ini dan ganti baju?"
Raka berdiri dari kursinya, merapikan lengan kemejanya. "Ada pakaian kasual yang sudah disiapkan oleh sekretaris saya di dalam lemari kamar mandi. Setelah ganti baju, cepat rapikan barang-barangmu. Kita langsung pindah ke apartemen pribadiku pagi ini."
"Apartemen?" Naya mengerutkan dahi. "Kenapa tidak tinggal di rumah keluarga Anda?"
"Keluarga besarku tinggal di mansion utama. Aku memilih tinggal di apartemen agar tidak ada yang mengganggu atau curiga dengan hubungan kita," jawab Raka dingin. "Dan ingat, di apartemen nanti, ada dua kamar. Kamu pakai kamar tamu. Jangan coba-coba menggeser barang satu senti pun di ruang tengah tanpa izin dariku."