NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 — Kesibukan yang Tak Terlihat

Pagi itu, Alisha tiba di Sweet Morning Bakery sedikit lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan tasnya di ruang belakang, kemudian segera menghampiri Mira yang sedang menyusun daftar pesanan di meja kasir.

"Pagi, Mira. Banyak pesanan hari ini?" tanyanya sambil mengikat rambutnya.

Mira mengangkat wajah dan mengembuskan napas panjang.

"Lumayan banyak. Ada pesanan untuk rapat kantor, ulang tahun, dan beberapa pelanggan yang meminta kue khusus."

Alisha mengambil daftar pesanan dari tangan Mira.

"Kalau begitu, kita harus membagi pekerjaan dari sekarang supaya tidak terburu-buru nanti."

Rani muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi beberapa kue yang baru selesai dihias.

"Aku setuju. Kemarin saja kita hampir lupa menyiapkan satu pesanan."

"Itu karena kamu terlalu sibuk mengobrol dengan pelanggan," sahut Mira.

Rani langsung memasang wajah tidak terima.

"Aku mengobrol sambil bekerja, ya!"

Alisha tertawa kecil melihat mereka berdebat.

"Sudah, jangan bertengkar. Ayo, kita selesaikan pekerjaan dulu."

Mereka pun kembali sibuk dengan tugas masing-masing.

Bagi Alisha, bekerja di Sweet Morning Bakery bukan sekadar cara untuk mendapatkan penghasilan. Tempat itu juga menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Di tengah masalah keluarga dan tanggung jawab yang harus ditanggungnya, ia masih bisa menemukan suasana hangat bersama teman-temannya.

Meski begitu, pikirannya tetap sesekali tertuju pada Ratih.

Ia berharap kondisi ibunya semakin membaik agar perempuan yang paling disayanginya itu tidak perlu terlalu sering menjalani pemeriksaan di rumah sakit.

---

Sementara itu, di kantor Mahendra Group, Adrian sudah berada di ruang kerjanya sejak pagi.

Beberapa dokumen tersusun rapi di atas meja, tetapi jumlahnya tidak berkurang secepat yang ia harapkan. Setelah menyelesaikan satu laporan, ia harus memeriksa laporan lain. Belum lagi rapat dengan tim pengembangan bisnis yang membutuhkan keputusan darinya.

Daniel masuk membawa sebuah map tambahan.

"Pak, ini laporan yang kemarin diminta oleh Pak Surya."

Adrian menerima map tersebut.

"Apakah ada perubahan jadwal untuk rapat sore nanti?"

"Ada, Pak. Rapatnya dimajukan tiga puluh menit."

Adrian mengerutkan kening.

"Kenapa baru diberitahukan sekarang?"

"Maaf, Pak. Informasi dari pihak mereka baru saya terima beberapa menit lalu."

Adrian melihat jam tangannya, lalu mengangguk.

"Baik. Beri tahu mereka bahwa saya akan hadir."

"Baik, Pak."

Daniel hendak keluar, tetapi Adrian kembali memanggilnya.

"Daniel."

"Ya, Pak?"

"Pastikan semua dokumen untuk rapat besok sudah disiapkan sebelum sore ini."

"Baik, saya akan mengurusnya."

Setelah Daniel keluar, Adrian kembali menatap laporan di hadapannya.

Ia mengusap pelipis sebentar sebelum melanjutkan membaca.

Tidurnya beberapa malam terakhir memang tidak terlalu teratur. Namun, ia merasa masih mampu mengendalikan semuanya.

Pekerjaan tetap menjadi prioritasnya, dan ia tidak ingin ada satu pun urusan perusahaan yang terbengkalai hanya karena dirinya merasa lelah.

Adrian mengambil cangkir kopi, menyesapnya sedikit, lalu kembali bekerja.

---

Menjelang siang, Alisha mendapat kesempatan untuk beristirahat setelah menyelesaikan sebagian besar pesanan.

Ia duduk di ruang belakang bersama Mira dan Rani sambil membuka bekal yang dibawanya dari rumah.

"Kamu hari ini kelihatan lebih tenang," ujar Mira.

Alisha mengangkat wajah. "Memangnya kemarin aku kelihatan bagaimana?"

"Seperti sedang memikirkan sepuluh masalah sekaligus," jawab Rani cepat.

Alisha tertawa kecil.

"Memang ada beberapa hal yang harus kupikirkan. Tapi sekarang semuanya masih bisa diatur."

Mira mengangguk.

"Bagaimana kabar ibumu?"

"Masih cukup baik. Minggu depan aku harus menemaninya untuk pemeriksaan."

"Semoga semuanya berjalan lancar," kata Mira tulus.

"Amin. Aku juga berharap begitu."

Alisha melanjutkan makan siangnya. Setelah itu, ia memeriksa ponsel untuk melihat apakah ada pesan dari rumah sakit.

Tidak ada pesan baru.

Ia menghela napas lega, kemudian membuka percakapan dengan Adrian.

Sejak pagi, mereka belum berkomunikasi.

Alisha sebenarnya tidak memiliki keperluan mendesak untuk menghubunginya. Namun, ia teringat percakapan mereka semalam tentang pekerjaan Adrian yang sering membuatnya pulang terlambat.

Ia mengetik pesan singkat.

Alisha: Jangan lupa makan siang. Jangan cuma minum kopi.

Setelah mengirim pesan itu, Alisha meletakkan ponselnya kembali.

Ia tidak berharap Adrian langsung membalas. Bagaimanapun, pria itu memiliki pekerjaan yang jauh lebih rumit daripada dirinya.

Namun, beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar.

Adrian: Aku sudah makan.

Alisha tersenyum kecil.

Alisha: Bagus. Berarti hari ini aku tidak perlu mengingatkanmu dua kali.

Di ruang kerjanya, Adrian membaca pesan itu setelah rapat singkat berakhir.

Ia menatap layar beberapa saat.

Biasanya, orang-orang di kantor menghubunginya untuk membicarakan pekerjaan, meminta persetujuan, atau melaporkan masalah. Pesan dari Alisha terasa berbeda karena tidak ada kepentingan pekerjaan di dalamnya.

Perempuan itu hanya mengingatkannya untuk makan.

Adrian mengetik balasan.

Adrian: Kamu sendiri sudah makan?

Alisha: Sudah. Aku sedang istirahat di toko.

Adrian meletakkan ponselnya setelah membaca jawaban tersebut.

Entah mengapa, ia merasa sedikit lebih tenang mengetahui Alisha tidak melewatkan waktu makannya.

Ia segera mengalihkan perhatian kembali pada dokumen yang menunggu untuk diperiksa.

Namun, sebelum melanjutkan pekerjaan, ia sempat berpikir bahwa mungkin malam ini ia sebaiknya pulang lebih awal.

Pikiran itu hanya bertahan beberapa detik sebelum rapat berikutnya dimulai.

---

Sore hari, hujan turun ketika Alisha baru saja menyelesaikan pesanan terakhirnya.

Ia berdiri di dekat jendela toko sambil memperhatikan kendaraan yang melintas di jalan.

"Sepertinya hujannya akan lama," ujar Rani yang berdiri di sampingnya.

Alisha mengangguk.

"Iya. Padahal aku ingin segera pulang."

"Mau menunggu sampai reda?"

"Mungkin. Aku tidak membawa payung hari ini."

Mira yang sedang merapikan meja ikut mendengar percakapan mereka.

"Kalau kamu mau, aku punya payung cadangan."

Alisha menoleh.

"Benarkah?"

Mira mengangguk sambil mengambil sebuah payung dari lemari kecil.

"Ini. Besok kembalikan saja."

Alisha menerima payung tersebut dengan senyum lega.

"Terima kasih, Mira. Kamu menyelamatkanku hari ini."

"Jangan berlebihan. Cuma payung."

Mereka tertawa kecil.

Sebelum meninggalkan toko, Alisha mengirim pesan kepada Adrian untuk memberitahukan bahwa ia akan pulang sedikit terlambat karena hujan.

Tidak lama kemudian, Adrian membalas.

Adrian: Baik. Jangan terburu-buru. Tunggu sampai hujannya cukup reda.

Alisha membaca pesan itu sambil berdiri di dekat pintu.

Alisha: Iya. Kamu masih di kantor?

Adrian: Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Alisha menghela napas kecil.

Alisha: Jangan pulang terlalu malam.

Setelah mengirim pesan tersebut, ia menyimpan ponselnya dan mulai berjalan menuju tempat menunggu kendaraan ketika hujan sedikit mereda.

Sementara itu, Adrian kembali memandang layar ponselnya.

Jangan pulang terlalu malam.

Kalimat yang hampir sama sudah beberapa kali ia dengar dari Alisha.

Ia tidak mengerti mengapa perempuan itu terus mengingatkannya, padahal ia bukan seseorang yang membutuhkan pengawasan.

Namun, anehnya, ia tidak merasa terganggu.

Adrian memasukkan ponselnya ke saku dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.

---

Malam mulai turun ketika Alisha tiba di rumah.

Ia menutup payung pinjaman Mira, kemudian meletakkannya di dekat pintu agar tidak mengotori lantai.

Setelah mengganti pakaian, ia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam sederhana.

Ketika sedang memotong sayuran, ia mendengar suara pintu depan terbuka.

Adrian akhirnya pulang.

"Kamu sudah pulang?" tanya Alisha ketika pria itu muncul di ambang pintu dapur.

Adrian mengangguk.

"Baru saja."

Alisha melirik jam dinding.

"Sudah cukup malam."

"Pekerjaanku belum selesai sejak sore."

"Kamu sudah makan?"

"Belum."

Alisha menghentikan tangannya.

"Kalau begitu, duduklah. Aku sedang menyiapkan makan malam."

Adrian memandang meja dapur yang dipenuhi bahan makanan.

"Aku bisa menunggu."

"Tidak perlu. Sebentar lagi selesai."

Adrian tidak membantah. Ia meletakkan tas kerjanya di kursi, kemudian duduk di meja makan.

Beberapa menit kemudian, Alisha datang membawa dua piring berisi nasi dan lauk sederhana.

Ia meletakkan satu piring di hadapan Adrian.

"Makanlah sebelum dingin."

Adrian menatap makanan itu, lalu mengangkat pandangan kepada Alisha.

"Kamu sudah makan?"

"Sudah. Aku makan sedikit tadi sore di toko."

"Kalau begitu, duduklah sebentar."

Alisha mengerutkan kening.

"Ada apa?"

"Makan buah. Kamu belum makan banyak hari ini, bukan?"

Alisha terdiam sesaat, lalu tertawa kecil.

"Kamu sekarang malah balik mengingatkanku."

Adrian mengangkat bahu.

"Kamu juga sering mengingatkanku."

Alisha menggeleng sambil tersenyum.

"Baiklah, Pak CEO. Aku akan makan buah."

Ia mengambil beberapa potong buah dari lemari pendingin, lalu duduk di seberang Adrian.

Mereka menikmati waktu makan malam dengan percakapan ringan.

Adrian bercerita singkat tentang rapat yang berlangsung lebih lama dari perkiraan. Alisha mendengarkan sambil sesekali bertanya ketika ada bagian yang tidak dipahaminya.

Sebaliknya, Adrian juga mendengarkan cerita Alisha tentang pesanan kue yang hampir tertukar dan bagaimana Mira meminjamkan payung kepadanya.

Cerita itu sebenarnya sederhana. Tidak ada sesuatu yang luar biasa.

Namun, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, Adrian merasa bisa duduk dan berbicara tanpa memikirkan pekerjaan yang menumpuk di hadapannya.

Ketika makan malam selesai, Alisha mengumpulkan piring mereka.

"Biar aku yang membereskannya," kata Adrian.

Alisha menoleh dengan heran.

"Kamu yakin?"

"Aku bisa mencuci piring."

"Aku tidak bilang kamu tidak bisa."

"Lalu?"

Alisha tersenyum kecil.

"Aku hanya tidak menyangka kamu mau melakukannya."

Adrian menghela napas pendek.

"Kalau begitu, aku tidak akan membantu."

"Eh, jangan begitu!" Alisha langsung tertawa. "Sudah, sana duduk. Aku bercanda."

Adrian menggeleng pelan, tetapi akhirnya ikut membawa beberapa piring ke dapur.

Mereka menyelesaikan pekerjaan itu tanpa banyak bicara.

Setelah semuanya rapi, Alisha mengeringkan tangannya dengan kain bersih.

"Terima kasih sudah membantu."

Adrian mengangguk.

"Sama-sama."

Alisha kemudian mengambil tasnya yang tertinggal di kursi.

"Aku mau istirahat. Besok aku harus berangkat lebih pagi."

"Baik. Selamat malam."

"Selamat malam, Adrian."

Alisha melangkah menuju tangga, sementara Adrian tetap berdiri di dekat dapur selama beberapa saat.

Ia tidak menyangka makan malam sederhana bisa membuat pikirannya terasa lebih ringan.

Selama ini, ia selalu menganggap rumah sebagai tempat untuk beristirahat setelah bekerja. Ia tidak pernah terlalu memikirkan bagaimana suasana rumah itu sendiri.

Namun, akhir-akhir ini, keberadaan Alisha mulai membuat rumah tersebut terasa sedikit berbeda.

Adrian segera menggeleng kecil.

Ia tidak ingin terlalu memikirkan hal yang belum tentu memiliki arti.

Mereka hanya sedang belajar menyesuaikan diri sebagai pasangan yang tinggal di bawah satu atap.

Tidak lebih dari itu.

---

Di kamarnya, Alisha sedang memeriksa jadwal kerja untuk keesokan hari.

Ia juga membuka catatan pengeluaran rumah sakit, memastikan uang yang disimpannya masih cukup untuk kebutuhan pemeriksaan Ratih minggu depan.

Setelah selesai, ia mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada ibunya.

Alisha: Bu, jangan lupa istirahat. Besok Alisha telepon lagi, ya.

Ratih membalas beberapa menit kemudian, mengingatkannya agar tidak terlalu sibuk bekerja.

Alisha tersenyum membaca pesan itu.

Setelah meletakkan ponsel, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Hari ini cukup melelahkan, tetapi ia merasa lega karena semua pekerjaannya berjalan lancar.

Pikirannya sempat kembali pada makan malam bersama Adrian.

Pria itu memang mulai menunjukkan sikap yang sedikit berbeda. Ia lebih sering bertanya tentang kesehariannya dan sesekali membantu melakukan hal-hal sederhana di rumah.

Namun, Alisha tidak ingin salah mengartikan semuanya.

Mungkin Adrian hanya mulai terbiasa hidup bersamanya.

Lagi pula, mereka masih memiliki perjanjian yang harus dijalani. Ia tidak ingin membiarkan dirinya berharap terlalu jauh pada sesuatu yang belum tentu akan menjadi kenyataan.

Dengan pikiran itu, Alisha mematikan lampu dan bersiap tidur.

Di kamar sebelah, Adrian masih duduk di tepi ranjang sambil memeriksa jadwal kerjanya untuk esok hari.

Ada beberapa rapat yang harus dihadirinya, ditambah laporan yang perlu diselesaikan sebelum akhir pekan.

Ia menghela napas panjang.

Tubuhnya terasa lelah, tetapi ia tetap berusaha mengatur jadwal agar semua pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu.

Sebelum mematikan ponsel, ia sempat membuka percakapan dengan Alisha.

Pesan-pesan sederhana mereka selama beberapa hari terakhir masih tersimpan di sana.

Adrian menatap layar sebentar, lalu mengunci ponselnya.

Ia tidak tahu sejak kapan percakapan kecil seperti itu mulai menjadi bagian dari rutinitasnya.

Yang ia tahu, beberapa hari terakhir ia tidak lagi merasa terganggu ketika Alisha mengingatkannya untuk makan atau menyuruhnya pulang lebih awal.

Bahkan, terkadang ia justru menunggu pesan singkat dari perempuan itu.

Adrian mengembuskan napas pelan, kemudian meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur.

"Mungkin aku memang hanya mulai terbiasa," gumamnya.

Ia mematikan lampu dan berbaring.

Malam itu, keduanya kembali beristirahat di kamar masing-masing.

Hubungan mereka belum berubah menjadi hubungan yang romantis. Alisha masih menganggap pernikahan itu sebagai sebuah perjanjian, sementara Adrian belum memahami alasan dirinya mulai menantikan percakapan-percakapan sederhana dengan sang istri.

Namun, di tengah kesibukan dan tanggung jawab masing-masing, mereka perlahan mulai menemukan kenyamanan kecil dalam kehidupan bersama.

Dan tanpa mereka sadari, kebiasaan sederhana itu sedang menjadi awal dari sesuatu yang kelak akan jauh lebih sulit mereka abaikan.

1
katya
Good luck with your novel, it's quite an interesting novel.👍
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
katya
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!