Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Pembuangan Sang Tuan Muda
Deru mesin mobil Toyota Alphard hitam itu mendadak mati, menyisakan kesunyian yang mencekam di tengah jalanan tanah yang becek. Di kanan dan kiri jalan, hanya ada hamparan sawah hijau yang luas dan deretan pohon kelapa yang menjulang tinggi di bawah terik matahari. Udara siang yang menyengat langsung terasa pengap begitu AC mobil mewah itu mati sepenuhnya, digantikan oleh hawa gerah pedesaan yang khas.
Arkananta Dewangga membuka kacamata hitamnya dengan kasar. Pria berusia 25 tahun itu menatap keluar jendela dengan tatapan tidak percaya. Sebagai pewaris tunggal dari Dewangga Group, salah satu korporasi raksasa di Jakarta, tempat terpencil ini benar-benar terasa asing, kumuh, dan mengerikan bagi standar hidupnya yang serbamewah.
"Kita di mana, Satria? Jangan bercanda kamu. Ketikan GPS-nya salah, ya?" suara Arkan terdengar berat, dingin, dan penuh penekanan menahan amarah.
Satria, asisten pribadi ayah Arkan, menoleh dari kursi kemudi dengan wajah penuh penyesalan sekaligus ketegasan. "Maaf, Tuan Muda Arkan. Kita sudah sampai di Desa Sukmawarna. Ini adalah lokasi terpencil yang diminta langsung oleh Tuan Besar Bramantyo."
"Sukmawarna?" Arkan terkekeh sinis, menyugar rambutnya yang ditata rapi ala pria metropolitan Jakarta dengan jemarinya yang bersih. "Tempat pelosok yang bahkan sinyal ponsel saja tidak ada ini kamu sebut tempat tinggal? Yang benar saja! Putar balik sekarang juga. Aku mau pulang ke Jakarta."
"Tidak bisa, Tuan Muda," Satria menghela napas panjang, lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Arkan. "Perintah Tuan Besar sudah mutlak. Mulai hari ini, seluruh fasilitas Anda di Jakarta dibekukan tanpa pengecualian. Rekening bank, kartu kredit, apartemen mewah, dan seluruh koleksi mobil sport Anda sudah disita."
Arkan tertegun di tempat duduknya. Amarahnya langsung naik ke ubun-ubun. Gara-gara insiden balapan liar di jalanan ibu kota minggu lalu yang berujung skandal besar di media massa, ayahnya benar-benar nekat melakukan ancaman yang selama ini dianggap Arkan hanya gertakan belaka untuk menakut-nakutinya.
"Ayah keterlaluan!" bentak Arkan sambil melangkah keluar dari mobil dengan emosi meledak. Begitu kakinya turun, sepatu kulit bermerek mahal miliknya langsung menginjak tanah basah yang berlumpur. "Argh! Sialan!" umpatnya geram saat melihat sepatu mengkilapnya kini kotor dan bernoda cokelat pekat.
Satria dengan cekatan menurunkan sebuah koper besar dari bagasi mobil. "Tuan Besar berpesan, Anda baru boleh kembali ke Jakarta setelah bisa hidup mandiri dan meruntuhkan keangkuhan Anda. Di desa ini, Anda akan tinggal dan diawasi oleh sahabat lama Tuan Besar agar tabiat buruk Anda bisa berubah."
Belum sempat Arkan pembalas kalimat itu, Satria sudah kembali ke kursi kemudi, mengunci pintu dari dalam, dan langsung memutar balik mobil Alphard tersebut dengan cepat. Mobil itu melaju pergi tanpa memedulikan panggilannya, meninggalkan kepulan debu dan cipratan lumpur di jalanan sepi.
"Satria! Heii! Kurang ajar! Kembali kamu!" Arkan berteriak histeris. Ia sempat mengejar mobil itu beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti karena napasnya terengah-engah akibat udara panas yang membakar kulit tubuhnya.
Kini, Arkananta Dewangga—pria yang biasa berpesta di kelab malam termahal Jakarta dan ditakuti di dunia bisnis karena arogansinya—berdiri sendirian di tepi jalan desa yang sunyi. Hanya ditemani sebuah koper besar dan sebuah dompet di saku celananya yang isinya telah dikosongkan total oleh sang ayah, menyisakan selembar uang seratus ribu rupiah.
Dengan menahan amarah yang membara di dalam dada, Arkan menyeret kopernya menyusuri jalanan desa yang berdebu. Roda kopernya berderit keras setiap kali menghantam batu-batu kecil, seolah ikut memprotes nasib sial sang pemilik pagi itu. Tujuannya hanya satu, sebuah alamat rumah pedesaan milik seorang sesepuh desa bernama Mbah Harjo.
Setelah berjalan hampir dua puluh menit di bawah terik matahari yang membuat kemeja mahalnya basah kuyup oleh keringat, Arkan tiba di depan sebuah rumah pedesaan biasa. Rumah itu memiliki dinding semen sederhana bercat putih yang mulai memudar di beberapa sisi, berlantai tegel polos, namun memiliki halaman tanah yang sangat luas dan teduh karena dinaungi oleh pohon mangga dan rambutan yang lebat.
Di pelataran rumah yang bersih itu, tampak seorang pria tua berambut putih bersih sedang duduk di bangku teras sambil menikmati secangkir teh hangat. Wajahnya dipenuhi kerutan usia, namun memancarkan kewibawaan yang tenang sekaligus disegani. Itu pasti Mbah Harjo.
"Permisi," sapa Arkan, ketus tanpa sedikit pun senyuman ramah. Nada suaranya masih membawa keangkuhan kota besar yang kaku dan gila hormat.
Mbah Harjo menurunkan cangkir tehnya perlahan, menatap Arkan dari atas ke bawah dengan senyuman tipis yang sarat akan kebijaksanaan orang tua. "Ah, kamu anak si Bramantyo, ya? Arkananta?"
"Ya. Ayah saya yang mengirim saya ke tempat... terpencil ini," jawab Arkan sambil mengusap keringat di lehernya dengan kasar menggunakan saputangan sutranya. "Di mana kamar saya? Saya mau istirahat sekarang. Di luar sangat panas, gersang, dan kotor."
Mbah Harjo tidak marah sedikit pun mendengar kelancangan dan sikap tidak sopan anak muda di depannya. Beliau justru terkekeh pelan, lalu kembali berdiri dari bangkunya. "Kamar kamu sudah siap di dalam. Tapi di rumah ini, tidak ada pelayan pribadi. Semua orang harus bergerak jika ingin sesuatu. Masuklah, anak perempuan dan menantuku ada di dalam."
Arkan mendengus kesal tanpa membalas ucapan kakek itu. Ia langsung menyeret kopernya masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Bagian dalam rumah itu sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Ruang tamunya hanya berisi kursi kayu jati tua tanpa busa empuk. Kamar yang disediakan untuk Arkan pun terbilang sangat minimalis—hanya ada kasur kapuk, sebuah lemari pakaian kayu tua yang berbau kamper menyengat, dan sebuah kipas angin dinding tua yang berputar lambat mengeluarkan bunyi berdecit. Benar-benar sebuah siksaan batin bagi seorang Tuan Muda yang terbiasa tidur di atas kasur busa premium bernilai puluhan juta rupiah.
Satu jam berlalu, rasa haus yang tak tertahankan setelah berjalan jauh di bawah terik matahari membuat Arkan terpaksa keluar dari kamarnya. Punggungnya sudah terasa pegal karena mencoba berbaring di kasur kapuk yang keras itu. Ia berjalan lesu menuju area dapur di bagian belakang rumah untuk mencari air minum
Dapur rumah pedesaan ini berlantai semen abu-abu polos dan berdesain semi-terbuka, menghadap langsung ke halaman samping tempat jemuran baju. Arkan berdiri kebingungan di depan sebuah meja kayu panjang yang tampak kusam. Di atas meja itu hanya berderet beberapa kendi dari tanah liat dan teko seng kusam yang terlihat kuno. Tidak ada dispenser otomatis, tidak ada kulkas dua pintu berteknologi canggih seperti di apartemen mewahnya di Jakarta.
Arkan mendecak frustrasi melihat fasilitas serba terbatas itu. "Bagaimana caranya mengambil air di tempat tertinggal seperti ini?" gumamnya ketus sambil memegang teko seng dengan ujung jarinya yang higienis.
"Mencari air minum, Tuan Muda Kota?"
Sebuah suara perempuan yang jernih namun terdengar dingin dan bernada sarkas mendadak mengejutkan Arkan dari arah pintu belakang dapur.
Arkan menoleh dengan cepat dengan dahi berkerut dalam, merasa privasinya terusik. Di ambang pintu dapur, berdiri seorang gadis muda. Gadis itu mengenakan pakaian kasual yang rapi berupa kemeja flanel longgar dan celana kain hitam biasa. Rambut hitam panjangnya dikuncir kuda dengan rapi, menampilkan wajah bersih yang manis alami tanpa riasan kosmetik tebal sama sekali. Di kedua tangannya, gadis itu sedang menjinjing sebuah rantang makanan tingkat tiga yang terbuat dari bahan seng kusam.
Gadis itu berdiri diam di ambang pintu, menatap Arkan dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang tajam. Ada kilat ketidaksukaan dan cemoohan yang jelas terpancar dari sepasang matanya saat melihat pakaian kemeja mahal milik Arkan yang kini tampak kusut dan kotor karena terkena debu jalanan desa.
Arkan yang merasa tersindir oleh tatapan meremehkan itu langsung menegakkan tubuhnya, mencoba mengintimidasi balik. Sifat sombongnya kembali muncul sebagai benteng pertahanan harga dirinya yang terluka.
"Siapa kamu? Pelayan baru di rumah ini?" tanya Arkan ketus, menatap gadis itu dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara.
Mendengar kata 'pelayan' keluar dari mulut pria kota yang angkuh itu, sepasang alis tebal sang gadis seketika menukik tajam tanda tersinggung. Langkah kakinya bergerak maju dengan tegas, meletakkan rantang makanan di atas meja kayu dengan dentingan yang cukup keras hingga menimbulkan suara nyaring di dapur yang sepi itu. Setelah itu, ia bersedekap dada tepat di depan wajah Arkan dengan tatapan mata yang berani tanpa rasa takut sedikit pun.
"Jaga bicaramu ya, Pria Kota," ucap gadis itu dengan nada ketus yang menohok telinga Arkan. "Nama saya Nayla. Dan asal kamu tahu saja, di desa ini tidak ada satu pun orang yang sudi menjadi pelayan untuk pria manja, sombong, dan pembuat masalah seperti kamu!"
Arkan tertegun di posisinya. Rahangnya seketika mengeras dan matanya melebar karena terkejut setengah mati. Selama dua puluh lima tahun hidupnya di dunia nyata maupun di dunia bisnis Jakarta, tidak pernah ada satu orang pun—apalagi seorang gadis desa berpakaian sederhana—yang berani berbicara sekeras dan selancang itu tepat di depan wajahnya.