"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Ayo Pulang, Pacar! (Revisi)
Udara sore di parkiran SMA Taruna Bakti mendadak terasa seberat timah.
Teriakan Keysha masih menyisakan dengung tipis di telinga orang-orang yang menonton.
Rian tidak berkedip. Dia hanya menatap lurus ke arah dua orang di bawahnya.
Keysha, dengan seragamnya yang masih rapi, sedang sibuk menyeka sudut bibir Marvel menggunakan selembar tisu yang langsung bernoda merah.
Wajah cewek itu panik luar biasa, seolah-olah cowok di pangkuannya adalah pusat semesta yang baru saja dihantam meteor.
"Rian! Lo denger gue gak, sih?!" suara Keysha naik satu oktav, serak karena emosi. "Kenapa lo jadi kasar gini? Marvel salah apa sama lo sampai lo tega mukul dia kayak gini?!"
Rian merasakan sesuatu yang aneh menggelitik dadanya. Bukan rasa bersalah. Bukan juga rasa takut karena telah menghajar anak emas sekolah. Itu adalah rasa geli yang bercampur perih.
Sebuah senyum miris terukir tipis di sudut bibir Rian. Sangat tipis, hampir tak kelihatan kalau tidak diperhatikan dekat-dekat.
'Dia tanya Marvel salah apa?' Rian membatin. 'Lucu.'
Selama berbulan-bulan, Marvel adalah semesta nya Keysha.
Kini, ketika si pelaku menerima satu pukulan balasan yang sah, Keysha bertingkah seolah Rian adalah monster tanpa hati.
"Dia gak salah apa-apa, Key," jawab Rian. Suaranya rendah, nyaris datar, tapi justru itu yang membuatnya terdengar mengerikan. "Dia cuma lagi belajar kalau hukum tabur tuai itu nyata."
"Tapi gak perlu pakai kekerasan, Rian! Lo bisa ngomong baik-baik!" Keysha berdiri, memasang badan di depan Marvel yang masih terbatuk sambil memegangi rahangnya. Mata Keysha berkaca-kaca, menatap Rian penuh kekecewaan yang dipaksakan. "Gue gak nyangka lo sejahat ini. Gue pikir lo cowok yang baik, yang... yang beda dari yang lain."
Kalimat terakhir Keysha membuat Rian ingin tertawa keras.
Taktik manipulasi klasik.
Membawa-bawa ekspektasi masa lalu untuk membuat lawan bicaranya merasa bersalah.
Dulu, taktik ini selalu berhasil. Dulu, satu kerutan di dahi Keysha saja sudah cukup membuat Rian begadang semalaman memikirkan kesalahannya.
Tapi Rian yang sekarang sudah bosan menjadi penonton di bioskop drama kehidupan Keysha.
"Berhenti bersikap kayak korban, Keysha," kata Rian, dingin. "Gue gak pernah minta lo buat punya ekspektasi apa pun tentang gue. Dan satu lagi, kalau pacar lo ini gak mulai duluan, tangan gue gak akan kotor sore ini."
Marvel, yang harga dirinya sudah hancur lebur di depan separuh penghuni sekolah, berusaha bangkit sambil bertumpu pada jok motor matic yang miring. Wajahnya merah padam, menahan malu dan sakit. "Key... gak usah... ngomong sama bajingan ini," geram Marvel, suaranya sengau. "Dia cuma beruntung hari ini. Lo liat aja besok, Rian. Lo gak bakal bisa tenang hidup di sekolah ini."
Rian bahkan tidak sudi menatap Marvel. Dia memutar tubuhnya, berniat melangkah pergi. Baginya, urusan fisik sudah selesai. Biaya sewa sasana Bang Zegan kemarin terasa sangat murah dibandingkan dengan kepuasan melihat realitas yang menghantam wajah Marvel.
Namun, drama sore itu belum mencapai puncaknya. Anak-anak di koridor masih menahan napas, menunggu kelanjutan dari cinta segitiga—atau segi empat—yang paling dinanti tahun ini.
Tepat saat Rian mengambil tiga langkah menuju motornya, sebuah langkah kaki yang tegas dan ritmis terdengar mendekat dari arah pembatas parkiran. Suara gesekan sepatu sol karetnya terdengar berani.
Ziva.
Cewek dengan rambut hitam yang sengaja diikat asal-asalan itu berjalan dengan santai, melewati kerumunan murid yang langsung memberi jalan seolah dia adalah badai yang siap menghancurkan apa saja.
Seragam Ziva tidak pernah rapi—kancing atas terbuka, dasi agak longgar—tapi aura yang dipancarkannya selalu menuntut perhatian penuh.
Keysha menegang saat melihat Ziva mendekat. Semua orang tahu Ziva adalah anomali di sekolah ini. Dia cantik, pintar, tapi terlalu liar untuk dikendalikan oleh aturan OSIS maupun sirkel populer Marvel.
Ziva berhenti tepat di samping Rian.
Tanpa diduga oleh siapa pun, termasuk Rian sendiri, Ziva mengulurkan tangannya yang ramping, melingkarkannya dengan santai ke lengan kanan Rian, lalu menyandarkan sedikit bahunya ke lengan cowok itu.
Sebuah gestur kepemilikan yang sangat kasual, namun dampaknya seperti bom atom bagi orang-orang yang melihat.
Matanya yang tajam menatap Keysha dan Marvel bergantian dengan tatapan merendahkan yang teramat kentara.
"Drama lo berdua dramatis banget, sumpah. Cocok masuk slot sinetron jam lima sore," ucap Ziva, suaranya renyah namun sarat akan sarkasme yang menusuk.
"Ziva, lo gak usah ikut campur ya!" bentak Keysha, wajahnya memerah karena merasa terintimidasi. "Ini urusan internal Marvel sama Rian!"
"Urusan internal?" Ziva menaikkan satu alisnya, lalu terkekeh sinis. "Eh, cewek lugu. Pacar lo yang sok jagoan ini bawa-bawa nama gue di forum angkatan tadi siang. Dia bilang gue cewek murahan yang sengaja deketin Rian buat bales dendam. Jadi, kalau lo bilang ini bukan urusan gue, lo perlu periksa otak lo ke dokter spesialis."
Keysha tertegun. Dia menoleh ke arah Marvel dengan tatapan bertanya, namun Marvel hanya membuang muka, mengutuk dalam hati karena kebodohannya sendiri.
Ziva mempererat rangkulannya di lengan Rian. Dia bisa merasakan otot lengan Rian yang sempat menegang kini perlahan mulai rileks.
Ziva mendongak sebentar, menatap sisi wajah Rian yang tegas, lalu kembali menatap dua orang di hadapannya dengan senyum kemenangan yang paling menyebalkan.
"Lagian, kasihan banget ya liat lo, Key. Sibuk meluk rongsokan yang sekali pukul langsung tumbang," sindir Ziva tajam. Dia menepuk-nepuk pelan lengan Rian, seolah sedang membersihkan debu imajiner dari sana.
"Ayo pulang, pacar," kata Ziva keras-keras, memastikan kata 'pacar' terdengar jelas oleh setiap telinga yang ada di parkiran itu, terutama Keysha yang matanya langsung membelalak tidak percaya. "Nggak usah ngurusin sampah. Bau."
Rian sempat membeku selama satu detik penuh mendengarkan kata yang keluar dari bibir Ziva. Namun, melihat kilatan jahil sekaligus kode konspirasi di mata cewek itu, Rian langsung paham permainannya. Ini adalah skakmat terbaik untuk menghancurkan ego Marvel dan memotong obsesi masa lalu Keysha dalam satu gerakan.
Tanpa membantah sepatah kata pun, Rian membalas tatapan Ziva dengan senyum tipis yang kali ini terasa lebih hidup.
"Yuk. Keburu hujan," jawab Rian pelan, mengimbangi permainan Ziva dengan sempurna.
Mereka berdua berbalik bersamaan, berjalan berdampingan menuju motor matic Rian yang terparkir di pojok. Langkah mereka beriringan, meninggalkan Keysha yang berdiri kaku dengan napas tertahan, dan Marvel yang hanya bisa mengepalkan tangannya ke tanah, menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada.
......................
...****************...
Tbc,