Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangis di Tengah Malam
Tak ada yang memberi tahu Carlo bahwa bayi sekecil itu bisa menangis sekeras itu.
Pukul dua dini hari, di kamar kecil di lantai dua Rumah Pulang yang kini disulap menjadi ruang keluarga mereka, Carlo berdiri dengan Embun di bahunya, mondar-mandir dari jendela ke lemari, dari lemari ke pintu, menepuk punggung mungil itu dengan telapak tangan yang masih kikuk. Tangis Embun naik turun seperti sirene, wajahnya merah, kepalan tangannya terkepal marah pada dunia yang tak mau mengerti.
"Ssst. Ssst. Ayah di sini." Carlo menunduk, berbisik, dan ketika itu tidak berhasil, mencoba bernyanyi. Suaranya sumbang. Satu-satunya lagu yang ia ingat dari masa kecil adalah lagu pengantar tidur yang dulu dinyanyikan ibunya di sebuah rumah yang kini sudah dijual, dan ia tak sanggup mengingat liriknya. Ia menggumam saja, nada tanpa kata, dan entah mengapa tangis Embun mereda sedikit.
Dari balik selimut di tempat tidur, Andien membuka mata.
"Mas, biar saya."
"Tidur lagi. Kamu baru boleh bangun tiga jam lagi."
"Tapi dia lapar."
"Dia sudah kenyang. Aku sudah kasih ASI perah tadi, ingat?" Carlo tersenyum letih. "Kamu bilang aku boleh mencoba satu malam penuh."
"Itu sebelum dia menjerit seperti ini."
"Dia menjerit karena belum tahu cara bilang *aku mengantuk*." Carlo menciumkan bibirnya ke kepala Embun yang berambut tipis. "Aku mengerti rasanya."
Andien tidak membalas. Ia hanya menatap suaminya dari tempat tidur, dan ada sesuatu di wajahnya yang membuat Carlo berhenti berjalan. Bukan senyum, bukan lelah. Sesuatu yang lebih diam.
"Dien?"
"Tidak apa-apa." Andien menarik selimut sampai dagu. "Saya cuma... capek."
Carlo tidak memercayainya. Tetapi tangis Embun meledak lagi, dan ia kembali berjalan.
---
Tiga minggu setelah kelahiran, Andien kehilangan kemampuan menangis dengan benar.
Ia tidak bisa menjelaskannya. Embun sehat, rakus menyusu, tumbuh montok dengan pipi bulat dan mata hitam besar yang mengikuti setiap gerakan. Carlo cuti dari kantor, tidur di kursi goyang di samping boks bayi, belajar mengganti popok dengan ketelitian seorang insinyur. Bu Rukmini pindah ke kamar sebelah dan memasak bubur hangat setiap pagi. Laras mampir tiap sore dengan stetoskop dan senyum.
Tak ada yang kurang. Itulah yang membuat semuanya semakin membingungkan.
Pagi itu, di dapur besar Rumah Pulang yang kini diurus sepenuhnya oleh tiga relawan senior, Andien duduk sendirian di bangku kayu dengan secangkir teh yang sudah dingin. Embun tidur di pangkuannya, napasnya halus. Dari ruang depan terdengar tawa anak-anak dan bunyi sendok beradu di mangkuk.
Seharusnya ia ada di sana. Itu dapurnya. Itu rumahnya.
Tetapi ia hanya duduk memandangi dinding, tak sanggup berdiri.
"Kamu tidak turun sarapan."
Andien menoleh. Laras berdiri di ambang pintu dengan jas dokter terlipat di lengan, rambut diikat seadanya, wajah teduh tanpa ekspresi menghakimi.
"Saya tidak lapar, Bu."
"Itu bukan alasan." Laras duduk di bangku di sebelahnya, begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. "Boleh aku bertanya sesuatu sebagai teman, bukan dokter?"
"Boleh."
"Sudah berapa hari kamu merasa begini?"
Andien terdiam. Jemarinya memainkan ujung selimut kecil Embun. "Saya tidak tahu, Bu. Mungkin dua minggu."
"Begini bagaimana?"
"Seperti..." Ia menarik napas, dan suaranya bergetar. "Seperti ada kaca tebal di antara saya dan semua orang. Saya melihat mereka tertawa, saya mendengar mereka bicara, tapi saya tidak bisa merasakan apa-apa. Saya melihat Embun, dan saya tahu saya sayang dia, tapi..." Air matanya jatuh, akhirnya, jatuh tanpa suara. "Tapi kadang saya takut tidak cukup sayang. Kadang saya takut melakukan kesalahan. Kadang saya merasa mereka lebih baik tanpa saya."
Laras tidak terkejut. Ia tidak mundur, tidak tergesa-gesa menghibur. Ia hanya mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Andien, erat dan hangat.
"Terima kasih sudah mengatakannya," katanya pelan.
"Saya... saya malu, Bu."
"Jangan." Laras menggeleng. "Dengar baik-baik, Andien. Yang kamu rasakan itu bukan kelemahan. Bukan kegagalan sebagai ibu. Itu gangguan suasana hati pascapersalinan, dan sangat umum. Delapan dari sepuluh ibu mengalami bentuk ringannya. Bagi sebagian, seperti kamu, bisa lebih berat."
"Apa itu bisa sembuh?"
"Bisa. Dengan dukungan, kadang dengan pengobatan, dan paling penting, dengan tidak menyimpannya sendirian." Laras menatap mata Andien. "Kamu baru melewati persalinan yang hampir merenggut nyawamu. Tubuhmu kehilangan darah, hormonmu jungkir balik, tidurmu terpotong. Itu bukan hal kecil."
Andien terisak. Laras menariknya ke bahu dengan satu tangan, hati-hati agar tidak membangunkan Embun, dan membiarkan perempuan itu menangis lama di pundaknya, seperti seorang kakak yang tak punya kata-kata tetapi punya kesabaran.
"Saya kira saya kuat," bisik Andien.
"Kamu memang kuat. Kamu berdiri di depan pisau, masuk ke rumah penuh gas, menjawab pengacara di ruang sidang." Laras mengelus rambutnya. "Tapi kuat bukan berarti tidak butuh dibantu. Itu salah satu hal yang kupelajari dengan susah payah."
"Dari siapa?"
"Dari seseorang yang menolongku keluar dari rumah yang salah." Laras tersenyum. "Dan dari bubur yang diberikannya."
Andien tertawa pelan di antara isak, dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, tawa itu terasa nyata.
---
Siang itu, Laras duduk bersama Carlo di teras belakang dan menjelaskan semuanya dalam lima menit.
Carlo mendengarkan tanpa menyela, wajahnya mengeras dalam cara yang kini Laras kenali, bukan marah pada Andien, melainkan marah pada dirinya sendiri.
"Aku tidak melihatnya," katanya pelan. "Dia bilang capek, dan aku menyuruhnya tidur."
"Kamu tidak salah. Gejalanya halus. Banyak yang tidak terdeteksi."
"Aku seharusnya bertanya."
"Kamu bisa bertanya sekarang." Laras menatapnya. "Dan itu lebih penting daripada bertanya kemarin. Dengar, Carlo. Yang paling dibutuhkan Andien sekarang bukan nasihat. Bukan solusi. Dia butuh seseorang yang duduk di sampingnya dan tidak mencoba memperbaikinya."
Carlo mengangguk lambat, lalu menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. "Aku tidak pandai melakukan itu. Seumur hidup aku diajarkan menyelesaikan masalah. Memotong, mengganti, memutuskan."
"Itu keahlianmu di ruang rapat. Di rumah, kamu harus belajar yang lain."
"Apa?"
"Hadir." Laras tersenyum samar. "Hanya hadir. Dengan tangan terbuka dan mulut tertutup."
Carlo tertawa getir. "Kamu pasti kesulitan melatih aku dulu."
"Kamu pasien paling keras kepala yang pernah kutangani." Laras menepuk bahunya sekilas. "Tapi kamu juga yang paling cepat belajar, begitu kamu berhenti membela diri."
Mereka duduk dalam diam beberapa saat, memandang halaman belakang yang kini ditanami deretan sayur, dengan seorang kakek tua, Pak Darto, yang sudah bebas bersyarat bulan lalu dan kini bekerja menjaga kebun, menyiram tanaman dengan selang panjang di bawah sinar siang.
"Ayahku mau datang sore ini," kata Laras tiba-tiba.
"Pak Hartono?"
"Katanya mau melihat Embun. Aku sudah bilang dia bukan kakeknya." Laras memutar mata. "Dia bilang, *aku tidak peduli, aku sudah beli kereta dorong.*"
Carlo tertawa lepas. "Kereta dorong?"
"Warna kuning. Dengan roda besar, seperti tank." Laras menggeleng, tetapi sudut bibirnya naik. "Aku rasa itu caranya meminta maaf karena tidak pernah menyukaimu."
"Itu cara yang sangat Hartono."
"Itu cara satu-satunya yang dia punya."
---
Hartono Prameswari tiba pukul empat sore, membawa kereta dorong kuning raksasa yang hampir tidak muat di pintu depan.
Ia berdiri di ambang ruang tamu dengan jas abu-abu dan alis putih lebat, tampak kaku seperti patung, sampai Bu Rukmini muncul dari dapur membawa nampan teh. Dua orang tua itu saling menatap, satu priayi kaku dari kota, satu perempuan desa bersarung lusuh, dan tak ada yang tahu siapa yang lebih canggung.
"Bu Rukmini."
"Pak Hartono." Bu Rukmini meletakkan nampan. "Silakan duduk. Kereta dorongnya bagus. Besar sekali."
"Saya tidak tahu ukurannya."
"Cukup untuk dua bayi." Bu Rukmini tersenyum tipis. "Atau satu bayi dengan banyak cita-cita."
Hartono berdeham, jelas berusaha menahan senyum. Ia duduk di sofa dengan punggung tegak, dan ketika Andien turun dari tangga menggendong Embun, ia berdiri, lalu duduk lagi, lalu berdiri lagi, gerakan seseorang yang tak tahu apa yang harus dilakukan tangannya.
"Pak," kata Andien lembut. "Mau menggendong?"
"Saya? Tidak, saya tidak..." Hartono berhenti. Matanya menatap bungkusan kecil di lengan Andien, yang membuka mata dan menatapnya balik dengan sorot yang hampir terlalu serius untuk seorang bayi enam minggu. "Saya tidak pernah menggendong bayi sejak Laras."
"Embun tidak menggigit."
Hartono menarik napas dalam-dalam, mengulurkan kedua lengan dengan canggung, dan Andien meletakkan Embun di sana dengan hati-hati. Bayi itu menggeliat sedikit, lalu diam, tangan mungilnya menggenggam ujung jas abu-abu itu.
Pria tua itu membeku. Alisnya yang tebal bergetar. Dan di depan seluruh isi ruangan, Hartono Prameswari, pria yang disegani seluruh dewan komisaris, yang suaranya bisa menjatuhkan atau menyelamatkan sebuah perusahaan triliunan, menunduk dan berbisik pada bayi di tangannya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Halo, Nak. Kamu cantik sekali."
Laras, yang berdiri di dekat jendela, membalikkan badan dan berpura-pura sibuk dengan tirai, bahunya bergetar.
---
Malam itu, ketika semua orang telah pulang dan Rumah Pulang kembali sunyi, Andien duduk di tepi tempat tidur dengan Embun yang akhirnya tertidur di boks.
Carlo masuk membawa dua gelas wedang jahe. Ia meletakkannya di nakas, duduk di sampingnya, dan tak berkata apa-apa.
Andien meliriknya. "Mas tidak mau bertanya?"
"Aku mau." Carlo menatap lantai. "Tapi Laras bilang, jangan."
"Bu Laras bilang?"
"Dia bilang, hanya duduk. Tangan terbuka, mulut tertutup."
Andien tertawa kecil, tawa yang terdengar sedikit lebih ringan daripada kemarin. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Carlo.
"Hari ini saya cerita pada Bu Laras. Semuanya."
"Aku tahu."
"Mas marah?"
"Pada diriku sendiri." Carlo menghela napas. "Karena tidak melihatnya lebih awal."
"Mas melihatnya. Mas hanya tidak tahu itu apa." Andien menatap boks bayi di seberang ruangan. "Tadi pagi, waktu saya duduk di dapur, saya pikir..." Suaranya merendah. "Saya pikir saya tidak pantas jadi ibunya."
Carlo tidak menjawab. Ia hanya meraih tangannya dan menggenggamnya, erat dan hangat, tanpa nasihat.
"Tapi tadi," lanjut Andien pelan, "waktu Pak Hartono menggendong Embun, dia tersenyum. Saya belum pernah lihat Pak Hartono tersenyum seperti itu. Dan saya berpikir..." Ia berhenti, menarik napas. "Mungkin saya tidak harus sempurna. Mungkin cukup ada. Seperti waktu saya menemukan Mas di sungai. Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya ada."
"Dan itu cukup."
"Dan itu cukup." Andien tersenyum, lemah tetapi nyata. "Saya akan belajar mempercayainya."
Mereka duduk berdampingan di tepi ranjang, mendengarkan napas halus Embun dari boks dan bunyi hujan gerimis di luar jendela. Tak ada janji. Tak ada rencana. Hanya dua orang yang akhirnya belajar bahwa kadang, mencintai berarti tinggal di dalam diam yang sama.
Tepat sebelum lampu dimatikan, ponsel Carlo bergetar di atas nakas. Pesan masuk dari Raka.
*Pak, maaf mengganggu. Ada kabar dari lembaga pemasyarakatan. Pak Bramantyo meminta menyampaikan satu pesan untuk Bapak, hanya untuk Bapak.*
Carlo membaca pesan itu, dan sesuatu di wajahnya berubah.
*Pesan apa?* ketiknya.
Balasan datang dalam hitungan detik.
*Beliau bilang, ada satu hal tentang ayah Bapak yang belum pernah beliau ceritakan pada siapa pun. Dan beliau tidak mau membawanya sampai mati.*
---
*Bersambung ke Bab 33...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya