Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13
Cahaya biru dari suar yang meledak itu menggantung di langit malam Distrik Barat seperti mata raksasa yang dingin, menyinari atap-atap basah dan lorong-lorong berlumpur.
Hanya dalam hitungan tiga tarikan napas, keheningan malam terkoyak. Suara peluit bambu yang nyaring bersahut-sahutan dari tiga penjuru jalan. Gonggongan anjing pelacak dan derap sepatu bot besi yang beradu dengan batu jalanan mulai bergema dari kejauhan, bergerak cepat mengepung blok Penginapan Kuda Pincang.
Di atas atap gudang beras, tubuh Qin Mu menegang. Darah hangat mengalir dari luka goresan di rusuk kanannya, merembes membasahi ikat pinggangnya.
Ia telah melakukan kesalahan fatal. Di hutan Pegunungan Qingluo, musuh hanyalah binatang buas yang menyerang secara langsung. Namun di kota ini, satu tebasan yang terburu-buru telah memanggil seluruh kawanan serigala berzirah ke tempat persembunyian mereka.
"Tahan napasmu, Bocah tengik! Jangan bengong di sana seperti orang bodoh!"
Suara cempreng kakek berambut sarang burung dari jendela seberang menyentak lamunan Qin Mu. Sebelum Qin Mu sempat bereaksi, kakek tua itu menjentikkan dua butir pil berwarna hijau lumut ke arah atap tempat Qin Mu berdiri.
Puk! Puk!
Kedua butir pil itu pecah tepat di atas dada kedua mayat pengintai Klan Wei. Seketika, terdengar suara mendesis seperti daging yang disiram air keras. Asap hijau berbau busuk yang menyengat mata mengepul tebal, melahap luka bekas sayatan Bilah Kembar Taring Hantu di leher dan dagu kedua mayat tersebut hingga daging di sekitarnya meleleh dan menghitam, menghapus jejak bentuk senjata yang membunuh mereka.
Qin Mu buru-buru menutup hidungnya dengan lengan baju. Meski hanya terhirup sedikit, asap itu membuat tenggorokannya terasa terbakar. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menyambar piringan kompas perunggu milik pengintai tadi dari atas genteng, menyarungkan kedua bilah kembarnya ke punggung, lalu berlari tiga langkah di atas atap.
Dengan satu tolakan kuat dari kakinya, tubuh Qin Mu melayang melintasi lorong sempit di bawahnya dan menerobos masuk tepat melalui jendela kamar Gu Shanyin.
Bruk!
Qin Mu mendarat dengan satu lutut di atas lantai kayu yang berderit. Di dalam kamar yang gelap, Gu Shanyin ternyata sudah tidak berada di atas ranjang. Lelaki tua itu berdiri bersandar pada meja kayu, mengenakan caping bambunya, dengan buntalan pakaian yang sudah terikat di bahunya.
"Kek... maafkan aku," suara Qin Mu rendah dan tercekat. Ia menunduk, mengepalkan tangannya yang berlumuran darah. "Mereka bukan dari Sekte Bayangan Darah. Mereka mengincar kakek di kamar sebelah. Aku... aku terlalu cepat bertindak."
Gu Shanyin menatap pemuda itu dalam kegelapan. Ia melihat dada Qin Mu yang naik turun dengan cepat dan noda darah segar yang merembes di sisi kanan jubah raminya.
"Jika kau ragu-ragu di atas atap tadi, dan ternyata mereka benar-benar anjing Bayangan Darah, kita berdua sudah menjadi mayat sekarang," ucap Gu Shanyin tenang, tanpa sedikit pun nada menyalahkan. "Lebih baik salah membunuh daripada terlambat membunuh. Tapi di dunia ini, setiap kesalahan memiliki tagihan. Dan sekarang kita harus membayarnya."
BRAK!
Pintu kayu tipis yang menghubungkan kamar mereka dengan lorong penginapan ditendang hingga engselnya patah.
Kakek kurus berambut sarang burung tadi menerobos masuk sambil memeluk tungku perunggu kecilnya yang masih panas. Di punggungnya tergantung sebuah karung kulit besar yang menggembung penuh dengan akar-akaran kering.
"Tagihan kepalamu!" maki kakek tua itu sambil melotot ke arah Qin Mu dan Gu Shanyin secara bergantian. "Aku sudah menghabiskan tiga hari menyeduh Bubuk Penyamaran Bau untuk menyembunyikan jejakku dari hidung anjing-anjing Wei Canglan, dan bocah gila ini menghancurkannya dalam tiga detik!"
"Jika asap obat busukmu tidak bocor sampai ke kamarku dan memancing pengintai itu berjongkok di atap seberang, cucuku tidak perlu memotong leher mereka," balas Gu Shanyin dingin, matanya yang tajam di balik caping membuat kakek tua itu mendadak terdiam.
Kakek berambut sarang burung itu menyipitkan matanya, menatap wajah pucat Gu Shanyin dan mencium bau samar yang menguar dari napas lelaki tua itu. Sebagai seorang ahli obat, hidungnya jauh lebih tajam daripada matanya.
"Meridian yang hancur lebur... dan bau busuk Pil Pembakar Darah di dalam sumsum tulang?" Kakek itu terkesiap, melangkah mundur setengah tindak. "Kau... bagaimana kau masih bisa berdiri?!"
"Aku belum berencana mati malam ini," jawab Gu Shanyin singkat. Dari bawah penginapan, suara gebrakan keras dan teriakan panik pemilik penginapan mulai terdengar. Pasukan garnisun Klan Wei telah mencapai ujung jalan. "Kau memilih penginapan kumuh ini bukan karena harganya murah, bukan? Di mana jalan keluarnya?"
Kakek tua itu mendengus kesal, namun situasi darurat membuatnya tidak punya waktu untuk berdebat. "Bantu aku menggeser lemari pakaian di sudut itu! Cepat!"
Qin Mu langsung bergerak. Mengabaikan rasa perih yang menyengat di rusuknya, ia mencengkeram sisi lemari kayu tua itu dan menggesernya dengan satu tarikan otot. Di balik lemari itu, terdapat papan lantai yang sudah digergaji rapi, menyisakan celah menuju ruang kosong di bawah bangunan penginapan yang mengarah langsung ke saluran pembuangan air kuno Kota Linlang.
"Kau cukup kuat untuk ukuran bocah kurang gizi," gumam kakek itu, sedikit terkejut melihat betapa mudahnya Qin Mu menggeser lemari berat tersebut. Ia membuka penutup lantai dan melompat turun lebih dulu dengan gerakan yang cukup lincah untuk ukuran orang tua.
"Turun, Kek," Qin Mu menahan tubuh Gu Shanyin, membantunya turun ke dalam lubang gelap tersebut sebelum ia sendiri ikut melompat masuk dan menarik papan penutup di atas kepalanya hingga rapat kembali.
Tepat saat kegelapan menyelimuti mereka, suara pintu kamar di atas kepala mereka didobrak hancur oleh sepatu bot besi.
"Geledah semuanya! Jangan biarkan satu tikus pun lolos dari blok ini!" teriak suara berat seorang komandan pengawal dari lantai atas.
Di bawah papan lantai, udara terasa pengap, dingin, dan dipenuhi bau lumpur busuk serta lumut basah. Mereka berada di dalam terowongan batu bata kuno setinggi orang dewasa. Air keruh setinggi mata kaki mengalir lambat di bawah pijakan mereka.
Kakek berambut sarang burung itu mengeluarkan sebutir Batu Cahaya Malam seukuran kelereng dari kantungnya, memberikan penerangan redup sejauh tiga langkah.
"Ikuti aku dan jangan menginjak lumut hitam di pinggir dinding kalau kalian tidak mau terpeleset dan patah leher," bisik kakek itu sinis. "Dan untuk pengetahuan kalian, namaku Luo. Orang-orang memanggilku Penatua Luo. Karena bocahmu telah menghancurkan persembunyianku, kalian berutang tiga keping Batu Roh padaku untuk mengganti dua pil penghancur jejak yang kulempar ke atap tadi!"
Qin Mu tidak menjawab. Ia memapah lengan kiri Gu Shanyin di bahunya, sementara tangan kanannya terus menekan luka di rusuknya. Air dingin yang memercik ke lukanya membuat ototnya berkedut perih, namun anehnya, darah yang keluar sudah mulai mengental dan berhenti mengalir efek dari ketangguhan fisik Sutra Penempaan Tulang Kehampaan.
Penatua Luo yang berjalan di depan sesekali menoleh ke belakang. Cahaya redup dari batu di tangannya menyinari sisi wajah Qin Mu yang dingin dan luka robek di bajunya. Mata tua sang alkemis menyipit tajam.
"Tunggu dulu," bisik Penatua Luo sambil menghentikan langkahnya di sebuah persimpangan terowongan yang lebih lebar. Ia berbalik, mendekatkan batu cahayanya ke arah luka di rusuk Qin Mu yang tampak dari balik robekan kain.
"Luka tebasan golok yang cukup dalam, tapi pendarahannya berhenti kurang dari sepuluh menit tanpa bubuk obat?" Penatua Luo mengulurkan jarinya yang keriput, hendak menyentuh tepi luka Qin Mu, namun gerakan jarinya langsung terhenti saat tangan kiri Qin Mu mencengkeram pergelangan tangannya dengan kecepatan kilat.
Tatapan Qin Mu menusuk tajam seperti serigala yang terpojok. "Jangan sentuh aku."
Penatua Luo merasakan cengkeraman tangan pemuda itu sekeras catok besi. Bukannya marah, mata tua sang alkemis justru membelalak lebar karena terkejut. Ia merasakan denyut nadi dan suhu darah dari telapak tangan Qin Mu.
"Darahmu... kenapa aliran Qi di dalam dagingmu terasa seperti esensi binatang buas liar yang belum dimurnikan?!" desis Penatua Luo dengan suara tertahan. "Metode Body Tempering gila macam apa yang kau latih, Bocah?! Kau merobek pembuluh darahmu sendiri lalu menambalnya secara paksa?! Kalau kau terus berkultivasi seperti ini tanpa ramuan penyeimbang, meridianmu akan meledak sebelum kau menyentuh tahap Qi Gathering!"
Di samping Qin Mu, Gu Shanyin terbatuk pelan, menarik bahu Qin Mu agar melepaskan tangan sang alkemis.
"Dia tidak punya kemewahan untuk memilih jalan yang aman, sama sepertiku," ujar Gu Shanyin serak.
Penatua Luo mengelus pergelangan tangannya yang memerah, menatap pasangan kakek dan cucu aneh di depannya dengan kening berkerut dalam. Seorang mantan pendekar yang fondasinya hancur dan tulangnya dipenuhi racun mematikan, berjalan bersama seorang bocah empat belas tahun yang menempa tubuhnya dengan metode bunuh diri namun memiliki insting membunuh yang mengerikan.
"Kalian berdua benar-benar pasangan orang gila," gumam Penatua Luo sambil menggelengkan kepala. "Satu sudah setengah jalan masuk liang kubur, satunya lagi sedang menggali kuburannya sendiri. Dengar, jalan air ini mengarah langsung ke pintu pembuangan di luar tembok selatan Distrik Barat. Begitu kita melewati jeruji besi di ujung sana, kita bisa—"
Kalimat Penatua Luo terputus.
Suara gemericik air di depan mereka mendadak berubah. Aliran air keruh yang tadinya mengalir tenang menuju ke arah selatan, tiba-tiba berbalik arah, mengalir mundur membasahi betis mereka.
Udara di dalam terowongan mendadak turun drastis, menjadi begitu dingin hingga napas mereka berubah menjadi kepulan uap putih.
Dari balik kegelapan di ujung lorong terowongan, sekitar tiga puluh langkah di depan mereka, terdengar suara derit roda besi yang berat.
Klak... Klak... BOOM!
Pintu air dari jeruji besi raksasa yang menjadi satu-satunya jalan keluar di ujung terowongan itu baru saja diturunkan secara paksa, mengunci mereka dari luar!
Cahaya obor merah menyala satu per satu dari balik jeruji besi tersebut, memantulkan bayangan panjang di atas permukaan air yang menghitam. Di balik jeruji itu, berdiri belasan prajurit berzirah lengkap dengan busur silang yang terkokang.
Dan tepat di tengah-tengah mereka, duduk di atas sebuah kursi lipat berlapis bulu harimau putih, seorang pemuda tampan berusia dua puluhan tahun mengenakan jubah brokat biru tua. Jari-jarinya yang lentik memutar-mutar sebuah cangkir giok dengan santai, sementara aura Qi Gathering tingkat Puncak menyelimuti tubuhnya bagaikan angin puyuh yang tenang.
"Penatua Luo, aku sudah bilang bahwa Kota Linlang ini adalah telapak tanganku," suara pemuda berjubah brokat itu menggema lembut namun dingin di sepanjang terowongan batu. "Bahkan tikus pun tidak bisa keluar dari saluran pembuangan ini tanpa seizin Wei Canglan."
Mata pemuda bernama Wei Canglan itu perlahan bergeser dari wajah pucat Penatua Luo, melewati Gu Shanyin, dan berhenti tepat pada sosok Qin Mu yang berdiri di garis paling depan. Senyum tipis yang dingin terukir di bibirnya.
"Dan kau... pasti teman baru yang baru saja memotong leher dua anjing pelacakku di atas atap. Sayang sekali, kau memilih lorong yang salah untuk ikut campur."
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️