Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menikahlah mas
Kemala menekan dadanya.
Kedua orangtua Abimana pun sama terkejutnya dengan Kemala.
Abah yang biasa paling tegas bahkan tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
"Kalian sadar apa yang baru saja kalian katakan?" seru Ummi terperangah tak percaya.
Bu Halimah terlihat memijit kedua tangannya. "Saya tahu Dewanti... Tapi ini demi putri kami, Kirana... Tadi malam, ketika dia sadar, dia kembali histeris dan meraung-raung memanggil nama Abimana... Kami dan tim dokter yang menanganinya sempat kewalahan karena Kirana mencabut selang infusnya hingga d*rah bercucuran di lantai.... Kami benar-benar putus asa Dewanti.... Satu-satunya cara demi keselamatan Kirana adalah menikahkannya dengan Abimana... Tak mengapa jika hanya jadi istri kedua..." tutur Bu Halimah memohon.
"Bukankah dalam ajaran agama kita, jika laki-laki boleh memiliki istri lebih dari satu... Saya rasa Pak Adi Lesmana pasti lebih faham akan hal ini..." tambah Pak Gibran ikut berbicara.
Wajah Abah nampak muram.
Matanya yang biasa teduh tak dapat menyembunyikan kekesalannya namun tetap berusaha ditahan.
"Abah... Ummi... Saya mohon, berilah restu... Dan dengan demikian, Kemala pasti juga akan mengizinkannya..." sela Abimana.
"Kalian sadar dengan yang barusan kalian minta?" suara Ummi terdengar berat, "Kalian meminta kehidupan untuk putri kalian, tapi kalian lupa, ada seorang gadis yang juga akan terluka karena permintaan egois kalian...." mata Ummi memandang satu-persatu wajah-wajah manusia yang menurutnya keterlaluan termasuk putra kandungnya yang sungguh tega menduakan istri yang baru seminggu dinikahinya.
Bu Halimah menangis terisak.
"Kami tidak tahu lagi harus bagaimana. Hanya dengan menikahkan Kirana dengan Abimana lah yang bisa menyelamatkan nyawanya..." cicitnya.
Ummi dan Abah mengalami dilema.
Dan ditengah kebingungan itu, Kemala muncul dari balik tembok dengan wajahnya yang tenang tak terbaca.
"Saya izinkan mas Abimana menikahi Mbak Kirana tapi dengan satu syarat" Kemala menatap semuanya dengan tenang. "Bahwa kami tidak akan pernah tinggal satu atap... Saya akan tetap menempati rumah itu.... Mereka menempati rumah lainnya. Dan juga, saya serta mbak Kirana tidak akan terlibat dalam urusan yang sama dalam waktu bersamaan..." suaranya tegas namun ada getar samar yang tak terdengar.
"Kemala...?" Ummi dan semua orang terperangah dibuatnya tak terkecuali Abimana.
"Kamu yakin, Nak? Poligami tidak sesederhana itu.... Kamu harus berbagi dengan madu-mu...." lagi, Ummi berusaha meyakinkan Kemala.
"Saya paham Ummi... Setidaknya itu lebih baik daripada saya memiliki cangkang kosong disisi saya...." tutur Kemala dengan tatapan lurus memandang orangtua Kirana yang duduk dihadapannya.
"Laksanakan saja pernikahannya hari ini... Saya tidak ingin dimintai pertanggungannya jika terjadi sesuatu pada putri kalian...." usai mengatakan kalimat yang cukup pedas di kuping, Kemala bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
"Kemala..." lirih Ummi dengan mata berkaca-kaca memandang punggung menantunya yang telah menghilang dibalik dinding dapur.
Abah menatap putranya. "Kamu sudah dengar sendiri Abimana... Istri mu telah memberi izin..." tegas Abah.
Abimana yang masih terkejut dengan perubahan Kemala hanya bisa memandangi kedua orangtuanya serta orangtua Kirana. Satu sisi dia senang namun disisi lain, ada rasa bersalah yang bercokol dihatinya terhadap Kemala.
Namun ego kini lebih menguasai isi kepalanya karena pada akhirnya, dia berhasil menikahi perempuan yang ia cintai dan idam-idamkan selama ini meski dengan cara yang tak lazim bagi sebagian orang.
...****************...
Ruangan putih berbau tajam karbol dan obat-obatan, menciptakan suasana dingin yang menyusup ke tulang.
Di atas ranjang yang sempit, terbaring Kirana. Wajahnya pucat pasi, tak ada sedikit pun rona merah yang menyapa pipinya dan napasnya terdengar lemah, seakan tiupan angin yang sewaktu-waktu bisa berhenti. Tangan kanannya terpasang selang, cairan bening mengalir perlahan masuk ke dalam tubuhnya yang kian kurus.
Pintu ruang rawat itu terbuka perlahan. Abimana melangkah masuk lebih dulu, kemeja putih polos yang ia kenakan tampak rapi meski wajahnya tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang mendalam.
Di belakangnya, turut hadir Abah Adi serta Ummi Dewanti yang sebetulnya enggan dan juga orangtua Kirana. Mata mereka sembab dan merah, karena tak berhenti menangis sejak tadi.
Di tengah-tengah mereka berdiri seorang penghulu, berbusana pakaian resmi yang sederhana namun berwibawa, wajahnya tenang meski suasana di ruangan itu begitu berat.
Langkah kaki mereka pelan, takut suara sekecil apa pun akan mengganggu ketenangan yang rapuh di sana. Abimana berhenti tepat di sisi ranjang, menatap sosok perempuan yang selama ini mengisi hatinya.
Perlahan, mata Kirana terbuka sedikit, menatapnya dengan pandangan yang masih kabur, lalu secercah cahaya lembut menyapa di sana saat ia mengenali wajah itu.
"Kamu datang..." suara Kirana begitu pelan, nyaris tak terdengar.
"Saya sudah di sini" jawab Abimana, suaranya bergetar. "Saya tidak pergi ke mana-mana."
Ia menoleh ke arah penghulu yang berdiri tak jauh dari sana. "Pak, silakan. Kami siap." lalu Abimana menatap Kirana "Kita akan menikah Kirana... Kemala sudah merestui begitupun Abah dan Ummi" jelasnya menjawab kerutan dikening Kirana.
Penghulu mengangguk pelan, lalu menatap semua orang yang hadir. "Kita berkumpul di sini bukan dengan kebiasaan yang biasa kita lihat. Namun pernikahan adalah ibadah, dan janji suci tetaplah janji suci, di mana pun dan kapan pun ia diucapkan."
Ia menatap Abimana. "Apakah kamu, Saudara Abimana, dengan kerelaan hati sendiri hendak menikahi Kirana binti Bapak Gibran Samudra, dengan mas kawin yang telah disepakati, tanpa paksaan dari pihak mana pun?"
Abimana mengangguk mantap, meski matanya berkaca-kaca. "Ya, saya siap"
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara napas yang berat dan detak jarum jam di dinding yang seakan berdetak lebih lambat dari biasanya.
"Dan Anda, Kirana Ayu..." penghulu itu menoleh lembut ke arah perempuan yang terbaring itu. "Apakah kamu menerima Abimana sebagai suamimu, dengan segala syarat dan ketentuan agama?"
Tangan Kirana bergerak sedikit, mencoba menggenggam tangan Bu Halimah lebih erat. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu berkata dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Saya... saya menerima Mas Abimana sebagai suami saya. Semoga Allah meridhoi kami."
Kalimat ijab diucapkan oleh Abimana dengan lantang, luruh dan tegas dihadapan Ayah Kirana. Ada rasa gugup dihatinya ketika melakukan itu. Entah karena dirinya teringat Kemala atau justru kelegaan dalam hatinya yang akhirnya berhasil menikahi perempuan yang selalu dia impikan setiap malamnya.
Air mata jatuh membasahi pipi. Ia mengecup lembut punggung tangan istrinya yang baru saja sah menjadi pendamping hidupnya. Orang tua Kirana tak mampu lagi menahan tangis, membiarkan air mata mengalir melepaskan segala haru dan sedih yang bercampur menjadi satu. Sementara Ummi dan Abah hanya bisa menunduk sedih.
Penghulu itu tersenyum tipis, menepuk bahu Abimana dengan lembut. "Sudah sah pernikahan kalian. Semoga menjadi berkah, dan dikuatkanlah hati kalian berdua dalam keadaan apa pun."
Abimana mencium kening Kirana pelan, tak ingin menyakiti sedikit pun. "Sekarang kamu milik saya, Kirana. Selamanya."
Kirana tersenyum tipis, senyum yang begitu indah namun menyayat hati. "Dan kamu... milik saya, Mas.... Terima kasih..."
Jika pasangan Abimana dan Kirana sedang berbahagia, ada sepasang mata yang terus mengeluarkan cairan bening meski dia terus menyekanya.
Hatinya sakit namun akan jauh lebih sakit jika dirinya terus menahan Abimana yang hatinya tak pernah bisa untuknya.
"Ayah.. Ibu... Mala benarkan? Mala melakukan hal yang paling benarkan?" isaknya menatap foto mendiang orangtuanya.
Pernikahan yang ia impikan bahagia kini harus dipaksa menerima perempuan lain diantara mereka.
Perempuan yang selalu memenuhi seluruh ruang hati suaminya.
Kemala merebahkan badannya yang lelah. Meringkuk bagaikan bayi.
Bulir-bulir bening terus membasahi seprainya.
Hingga lelah membuatnya tertidur masih memeluk pigura usang orangtuanya.
Bersambung....