NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Di Bar Cahaya Bulan, Gilang menemui Reyhan Sang Patriotik. Mereka duduk berhadapan di sisi meja dekat dinding. Gilang meletakkan segepok uang di meja lalu menggesernya ke depan Reyhan.

Reyhan melihat-lihat uang itu dengan tangannya. Ia terlihat terkejut, matanya terbuka lebar saat melihat tumpukan uang tersebut. "Apa ini?" tanya Reyhan.

"Uang," jawab Gilang seraya menganggukkan kepala. "Itu uang. Jadi mau dipakai untuk gerakan kemerdekaan atau tidak. Aku berikan uang itu padamu, jadi pakailah sesukamu," ujar Gilang.

Reyhan menatap Gilang. "Apa rencanamu sekarang?"

Gilang mengalihkan pandangan kemudian kembali menatap Reyhan, ia tersenyum kecil. "Pinjamkan KTP-mu," ucapnya.

"KTP?" tanya Reyhan.

"Karena kau adalah satu dari sedikit keluarga Nusantara di Jayakarta yang diizinkan masuk Rumah Sakit Jayakarta. Benarkan?" tanya Gilang.

"Kenapa?" Reyhan mengangkat sebelah tangan. "Kau sakit?"

Gilang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan aku yang sakit."

Reyhan menggerakkan sebelah tangannya. "Tunggu, jika ada hubungannya dengan Ichikawa, jangan libatkan aku," ucapnya seraya menggeserkan tumpukan uang itu kembali ke hadapan Gilang.

Gilang mendorong tumpukan uang itu lagi. "Anggaplah ini cara untuk menyelamatkan nyawa temanmu ini," bujuk Gilang. Ia melipat jemarinya di atas meja. "Itu pun jika kau masih menganggapku teman," tambahnya.

Reyhan masih heran kenapa Gilang mau ke rumah sakit padahal ia sama sekali tidak sakit. "Jika kau tidak sakit, lalu siapa? Aku harus tahu orangnya sebelum kupinjamkan," gumam Reyhan.

Gilang menggelengkan kepalanya. "Sudah, jangan banyak bertanya. Itu demi kebaikanmu."

Reyhan menatap Gilang dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau mau pinjam KTP-ku, dan kau mengkhawatirkan aku?" tanyanya sambil menunjuk ke dadanya sendiri menggunakan jempol.

"Jadi bagaimana?" tanya Gilang.

Reyhan tersenyum. Ia masih bertekad mengajak rekannya masuk ke dalam gerakan patriotik kemerdekaannya. Namun, bagi Gilang, yang ia inginkan sekarang hanyalah bertahan hidup dan sama sekali tidak peduli dengan patriotik kemerdekaan.

"Betapa indahnya jika kau mau berbagi minatmu," ujarnya.

Gilang mengalihkan pandangan Reyhan, lalu menatap lurus. "Maaf, tapi aku… tidak mau menghayalkan hal-hal seperti kemerdekaan. Raja saja tidak sanggup, kenapa kau berpikir bahwa aku bisa?"

"Sekarang yang aku khawatirkan hanyalah bertahan hidup selama mungkin, selama masa pergolakan ini, tanpa terluka," ucap Gilang.

Gilang menatap Reyhan. "Jadi… kau bersedia, kan?"

Reyhan tersenyum, lalu mengeluarkan KTP dari dalam saku kemejanya. Ia menyodorkannya ke Gilang. "Gunakan dengan baik."

Gilang mengambil KTP itu dari tangan Reyhan. Ia tersenyum dan beranjak pergi seraya memasukkan KTP tersebut ke dalam saku jasnya. "Sudah pasti."

Tak jauh dari situ, wanita pemilik bar memperhatikan sembari mengelap peralatan, sementara Reyhan mengerutkan alisnya sembari melihat uang itu.

Gilang keluar dari pintu Bar Cahaya Bulan. Ia menunjukkan KTP itu pada Ujang, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jasnya.

Beberapa saat kemudian, Bella yang berpakaian elegan berjalan berdampingan dengan ayahnya yang mengenakan jas warna cokelat. Bella tampil dengan riasan cantik dan rambut rapi bergelombang. Ia memakai topi putih berjaring dan setelan biru muda.

Gilang memandangi wanita berparas cantik itu, sementara Bella berjalan dengan tatapan lurus. Suasana seolah melambat.

Ayah Bella dan Bella berhenti di hadapan mereka. Gilang terdiam sambil terus menatap wanita cantik itu.

Ujang menoleh ke ayah Bella dan berbatuk kecil yang terdengar dibuat-buat. "Uhuk, uhuk."

"Ayo berangkat, waktu kita tidak banyak," ucap Ayah Bella.

Gilang yang sejak tadi memandangi wanita cantik itu tersentak dan menoleh. "Ah, iya, ayo naiklah. Silakan masuk."

Ujang dan ayah Bella memasuki mobil, sementara Gilang membukakan pintu untuk Bella. Ia menawarkan tangan untuk Bella. Namun, Bella termenung sembari memegangi pintu mobil.

"Oh, ini adalah cara laki-laki membantu wanita masuk mobil," ujarnya.

"Tidak perlu," ucap Bella, lalu ia langsung masuk ke dalam mobil.

Gilang terpaku sambil mempertahankan tangannya, lalu memandangi tangan kanannya yang terbuka itu. Ia menggerakkan bibirnya, kemudian membuka pintu mobil dan duduk di bagian depan, di sebelah kursi kemudi.

"Ayo kita berangkat," perintah Gilang.

Mobil pun melaju di tengah kota, melewati jalanan yang ramai dengan pedagang dan orang-orang berlalu-lalang. Ujang yang menyetir menoleh ke Gilang. Gilang menatap lurus ke jalanan yang ramai, sementara Ayah Bella dan putrinya juga menatap lurus ke depan.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan gerbang. Tentara yang menjaga gerbang itu menghentikan mereka, dan Ujang langsung menurunkan kaca mobil.

"Tanda pengenal," ucap tentara itu.

Gilang memberikan KTP milik Reyhan kepada Ujang, lalu Ujang menyerahkan KTP itu kepada tentara penjaga.

"Dia ini adalah Tuanku. Kau pasti tahu tentang Perusahaan Matahari, kan? Dia itu anak sulungnya," ucap Ujang. Ia berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan saat mengatakannya.

Tentara itu menatap ke dalam mobil, melihat Gilang yang menatap lurus ke depan, lalu beralih melihat ke bagian belakang. "Mereka bersamamu?" tanyanya.

"Oh, wanita cantik itu tunangan tuan muda. Dan yang di sampingnya itu ayahnya," jawab Ujang, terus berusaha agar tentara itu tidak curiga.

Sementara itu, wanita di dalam mobil menoleh ke ayahnya. Ayah Bella mengangguk dan tersenyum kecil; masuk akal juga cara Ujang mengatakannya. Bella berharap rencana yang dibuat oleh Gilang benar-benar berhasil.

Ujang menghela napas dan menatap arlojinya. "Oh, waktu janji temu kami sebentar lagi." Ia menatap tentara itu. "Tolong cepatlah. Dokter Akashi itu sangat benci pada orang yang terlambat untuk janji bertemu dengannya," mohonnya.

"Dasar orang-orang Nusantara sialan," maki tentara itu. "Hei!! Biarkan!" teriaknya memerintah tentara lain yang berjaga di depan gerbang.

"Terima kasih," ucap Ujang penuh kesopanan sambil membungkukkan badan, lalu menutup kaca mobil.

Tentara lain membukakan gerbang. Namun, beberapa detik kemudian tentara itu menahan mobilnya kembali. "Hei, tunggu, tahan!" ucapnya seraya memegang bagian atas mobil.

Ujang membuka kaca mobilnya kembali. Suasana seketika menegang, dan mereka yang ada di dalam melirik waspada ke arah tentara itu.

Ternyata tentara itu hanya ingin mengembalikan KTP milik Reyhan. Untungnya tentara tersebut tidak mencurigai mereka.

Dari kejauhan, mata-mata suruhan Ichikawa juga terus memperhatikan. Mungkin ia akan segera melaporkannya kepada Ichikawa.

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!