**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Untuk Bayu
Raka tidak melanjutkan membaca. Ia hanya menatap Aina. Aina pun tampak membalas tatapannya.
Di antara mereka, seolah terbentang sepuluh tahun pernikahan. Sepuluh tahun kebohongan, penantian, dan luka. Semua itu kini terasa bermuara pada satu kalimat yang ditulis seorang lelaki yang sudah meninggal lima belas tahun lalu.
"Seumur hidupnya, ayahmu terlalu takut untuk memilih"
"Bacalah sampai selesai, Mas," ucap Aina pelan. "Ayahmu menulisnya untukmu."
Raka menelan ludah. Ia kembali menunduk ke arah kertas di tangannya. Suaranya bergetar ketika ia melanjutkan.
"Ketika kamu lahir, nenekmu memutuskan bahwa kamu harus dibesarkan di rumah keluarga Wiradana. Bahkan meski Ibumu menangis dan memohon tak ada gunanya. Selain itu, Bidan Rohani memohon agar kamu dirawat oleh ibumu. Sementara Aku hanya diam. Aku tidak berani melawan ibuku. Aku tidak berani kehilangan nama baik keluarga. Aku memilih diam, dan diam itu ternyata juga sebuah pilihan. Pilihan yang paling pengecut".
Ibu Sumi menutup mulutnya dengan ujung kerudung. Bidan Rohani menggenggam tangan sahabatnya itu erat-erat.
"Setiap tahun, pada hari pertama sekolah, aku menyuruh sopir berhenti di seberang gerbang sekolahmu. Aku memperhatikanmu dari balik kaca mobil. Kamu selalu berjalan paling belakang, menunduk, seperti takut membuat kesalahan. Aku tahu dari mana sifat itu kamu dapat. Kamu mendapatkannya dari rumah yang mengajarkanmu bahwa cinta harus dibayar dengan kepatuhan" Ungkap Ibu Sumi
Raka berhenti sejenak. Tangannya gemetar. Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, lalu melanjutkan.
"Aku sudah membeli sebidang tanah di Tanak Awu atas namaku sendiri. Tanah itu untukmu dan ibumu. Aku menitipkan wasiatnya kepada Mustiadi, karena ia sahabatku dan satu-satunya orang lain yang tahu rahasia kita. Kalau surat ini sampai kepadamu dari tangan orang lain, berarti aku telah salah memilih orang yang kupercayai. Maafkan aku untuk itu juga"
Sekar menunduk dalam-dalam. Air matanya jatuh ke pangkuannya.
"Bayu, anakku. Aku tidak bisa memintamu memaafkanku. Aku hanya bisa memintamu satu hal. Jangan menjadi seperti ayahmu. Kalau suatu hari kamu harus memilih antara nama baik dan kejujuran, pilihlah kejujuran. Kalau kamu harus memilih antara rasa takut dan orang yang kamu cintai, pilihlah orang yang kamu cintai. Jangan biarkan orang lain memilihkan hidup untukmu".
"Ayahmu, Lalu Wiradana."
Raka melipat surat itu perlahan. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menundukkan kepala dan menangis tanpa suara.
Ibu Sumi yang melihat anaknya menangis tanpa bersuara langsung bangkit dan memeluk kepala anaknya. Ia mengusap rambut Raka dengan tangan keriputnya, seperti mengusap rambut seorang bayi yang tiga puluh tahun lalu tidak sempat ia timang.
Teras rumah Bidan Rohani sunyi untuk waktu yang lama. Hanya terdengar suara ombak dari kejauhan dan daun-daun kelapa yang bergesekan ditiup angin.
Sementara itu, Hamdan akhirnya terlihat membuka amplop tebal yang berisi surat wasiat. Ia memeriksanya dengan teliti, seperti biasa. Di dalamnya ada dua lembar kertas bermaterai. Ada tanda tangan Lalu Wiradana, tanda tangan dua orang saksi, dan sebuah salinan sertifikat tanah.
"Salah satu saksinya adalah Ibu Rohani," kata Hamdan sambil menatap perempuan tua itu.
Bidan Rohani mengangguk. "Wiradana memintaku menjadi saksi. Katanya, aku satu-satunya orang yang ia percayai bisa menjaga kebenaran." Ia tersenyum getir. "Dia benar. Tapi aku butuh lima belas tahun untuk benar-benar menjaganya."
"Dokumen ini harus diperiksa keasliannya oleh pengadilan," lanjut Hamdan. "Tapi kalau asli, Raka dan Ibu Sumi berhak atas tanah itu. Mustiadi harus mengembalikannya."
Raka mengangkat wajahnya. Matanya merah, tetapi suaranya tenang.
"Tanah itu bukan untukku," katanya. "Tanah itu untuk Ibu."
Ibu Sumi menggeleng cepat. "Bayu, ayahmu menulis tanah itu untuk kita berdua."
"Ibu sudah menunggu tiga puluh tahun lebih. Ibu tinggal di rumah yang atapnya bocor. Ibu menyusun daun tembakau sendirian setiap hari." Raka menggenggam tangan ibunya. "Biar Ibu yang memilikinya. Aku hanya ingin satu hal dari tanah itu."
"Apa itu, Nak?"
"Aku ingin membangun rumah untuk Ibu di sana. Rumah yang layak. Supaya Ibu tidak perlu lagi menunggu sendirian."
Lagi.....Lagi.....Ibu Sumi kembali menangis. Kali ini ia tertawa juga, di antara tangisnya.
Menjelang sore, mereka pamit. Bidan Rohani memeluk Raka lama sekali sebelum melepaskannya. Ia juga memeluk Sekar dan berbisik sesuatu di telinganya. Sekar mengangguk sambil menyeka mata.
Lalu Bidan Rohani menghampiri Aina. Ia menatap perut Aina, lalu meletakkan tangannya yang keriput di sana.
"Kandunganmu masih muda Nak, Jaga baik-baik," katanya lembut. "Kalau nanti saatnya melahirkan, panggil aku. Aku memang sudah tua, tapi tanganku masih ingat caranya menyambut bayi."
Aina tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Saya akan memanggil Ibu"
Rombongan itu berjalan menuju mobil. Hamdan membawa surat wasiat di dalam tasnya. Sekar menuntun Ibu Sumi. Lale Rukmini, yang sepanjang siang hanya diam di sudut teras, berjalan paling belakang dengan kepala tertunduk.
Aina hendak masuk ke mobil ketika Raka memanggilnya.
"Na. Tunggu sebentar."
Aina berhenti dan menoleh. Raka berdiri di bawah pohon kelapa di halaman rumah Bidan Rohani. Angin laut mengibarkan ujung kemejanya. Di tangannya, ia menggenggam gelang perak kecil yang tak pernah lepas dari genggamannya sejak di rumah sakit.
Aina berjalan menghampirinya.
"Na," ucap Raka pelan. "Selama sepuluh tahun, aku tidak pernah benar-benar memilihmu. Aku menikahimu dengan nama yang dipilihkan orang lain, dengan surat yang dipalsukan orang lain, dengan rahasia yang dijaga orang lain. Bahkan ketika aku mencintaimu, aku mencintaimu sambil bersembunyi."
Aina tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan.
"Hamdan bilang pernikahan kita kemungkinan besar akan dibatalkan oleh pengadilan. Karena dasarnya surat palsu." Raka menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak akan melawan. Kamu berhak bebas. Kamu berhak memilih hidupmu sendiri tanpa terikat dengan kebohonganku."
Aina menatap wajah suaminya. Wajah yang dulu ia cium setiap pagi. Wajah yang kemudian ia benci. Wajah yang sekarang terasa asing sekaligus akrab.
"Tapi ayahku memintaku berhenti takut," lanjut Raka. Suaranya bergetar. "Dia memintaku memilih orang yang kucintai, bukan rasa takutku. Jadi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin memilih dengan benar."
Ia berlutut di atas pasir yang bercampur rumput kering.
Aina tersentak. Dari arah mobil, Aina bisa merasakan semua mata kini menatap mereka. Hamdan, Sekar, Ibu Sumi, Lale Rukmini, Bahkan Bidan Rohani yang masih berdiri di teras.
Raka membuka telapak tangannya. Di atasnya, gelang perak kecil bertuliskan Bayu berkilau ditimpa cahaya matahari sore.
"Aku tidak punya cincin Na, Aku hanya punya ini. Satu-satunya barang di dunia ini yang menyimpan namaku yang sebenarnya." Ia menatap Aina dengan mata basah. "Kalau suatu hari kamu sudah siap, tidak harus sekarang, tidak harus tahun ini, maukah kamu menikah lagi denganku? Bukan dengan Lalu Raka yang penuh kebohongan. Tapi dengan Bayu, yang baru belajar menjadi jujur."
Angin laut berembus. Ombak di kejauhan pecah di bibir pantai.
Aina menatap gelang kecil di telapak tangan lelaki itu. Lalu ia menatap perutnya sendiri. Lalu ia menatap wajah Raka. Bibirnya perlahan terbuka.