Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Balik
Sedan hitam berkaca gelap melaju pelan keluar lewat akses darurat Galeri Seni Nusantara. Di kursi belakang, Alyssa bersandar pada jok kulit. Kedua tangannya terlipat di pangkuan. Pergelangan kirinya terbuka, dan ibu jarinya bergerak sendiri di sana sebelum ia menyadarinya. Ia menarik tangan itu dan menatap gerimis yang merayap di kaca jendela.
Mobil berhenti sebentar di sudut jalan yang rindang. Pintu kanan terbuka dan Aris Setiawan masuk, merapikan jas abu-abunya sebelum duduk. Pintu menutup dan gemuruh lalu lintas Senayan lenyap.
"Devan menemukan selendang Anda di koridor servis, Nona," kata Aris. Nadanya tenang.
Alyssa tidak menoleh. "Biarkan."
"Dia juga memohon pada saya untuk diatur pertemuan." Aris mengeluarkan tablet dari tasnya. "Dia tidak menawar klausul konversi sama sekali. Dia hanya minta diizinkan menatap mata Anda dan mengucapkan maaf."
Bibir Alyssa membentuk garis datar. "Maaf dari Devan Narendra tidak punya nilai di pasar modal, Aris. Maaf tidak bisa mengembalikan tiga tahun yang saya habiskan di rumah itu."
Aris menggeser layar tabletnya. Grafik tekanan transaksi A-K Capital sejak pagi tampak menurun tajam di satu sisi. "Laporan kita ke otoritas keuangan masuk pagi tadi, dan izin Vanya Logistics dibekukan siang ini. Sahamnya anjlok empat belas persen dalam satu jam terakhir. Para kreditur mulai menuntut pelunasan lebih awal."
"Bagaimana Devan?"
"Dia memblokir akses ibunya ke rekening operasional pusat. Tim hukum Narendra juga sedang menyiapkan pemutusan seluruh kerja sama dengan entitas bisnis keluarga Vanya."
Alyssa mendengarkan tanpa mengubah raut wajahnya. Semua berjalan sesuai hitungan yang ia susun selama dua tahun. Devan, dengan keterlambatan dan harga dirinya, sedang memotong sendiri organ beracun yang selama ini menempel di perusahaannya.
"Anda tampak sangat mengenal cara berpikirnya," kata Aris pelan. Matanya menatap Alyssa dengan kecermatan seorang pelindung.
"Saya hanya membaca data. Orang yang terbiasa memegang kendali akan bertindak agresif begitu sadar dirinya diperbodoh."
Aris diam sebentar, lalu suaranya turun menjadi lebih pribadi. "Nona, tugas saya memastikan akuisisi ini berjalan tanpa celah hukum. Tapi karena Tuan Rendra menitipkan Anda pada saya, ada satu hal yang harus saya ingatkan."
"Katakan."
"Jangan biarkan kenangan mengaburkan pandangan Anda. Devan yang sekarang tampak hancur dan penuh penyesalan. Sikap menunduk seperti itu mudah memancing iba dari seseorang yang pernah menunggu perhatiannya."
Alyssa menatapnya lurus. Matanya yang cokelat terang jernih dan dingin. "Rasa iba sudah saya buang di jurang Puncak, Aris. Jangan ragukan fokus saya."
"Saya tidak meragukan Anda." Aris menunduk sedikit. "Saya hanya tidak ingin luka lama Anda dipakai oleh rasa bersalah Devan yang terlambat."
Mobil berhenti di depan gedung perwakilan Mahendra Corp di kawasan Sudirman. Aris memberi instruksi terakhir soal penyerahan dokumen akuisisi besok pagi, lalu turun untuk rapat dengan dewan direksi.
Mobil melaju lagi di antara arus kendaraan petang. Di kabin yang sunyi, Alyssa merogoh tas tangannya dan menarik keluar tempat kartu kulit hitam tipis. Benda itu satu-satunya yang selalu ia bawa sejak dulu.
Di balik dua kartu kredit A-K Capital dan kartu identitas barunya sebagai Karen Alyssa Mahendra, terselip selembar foto kecil. Sudut-sudutnya menguning dan mengelupas.
Foto itu diambil empat belas tahun lalu di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda.
Seorang anak laki-laki berusia empat belas tahun berdiri kaku dalam seragam sekolah swasta mahal. Di sampingnya berdiri anak perempuan kecil berpakaian lusuh. Anak laki-laki itu Devan, jauh sebelum ibunya meracuni pikirannya dan sebelum dunia bisnis menjadikannya laki-laki yang tak pernah bertanya.
Ibu jari Alyssa menyapu permukaan foto itu.
Dulu, anak laki-laki ini membagikan biskuitnya kepada anak-anak panti saat Kakek Broto datang berkunjung. Ia berjanji akan menjaga mereka dari orang jahat. Devan sendiri sudah lama lupa pernah mengucapkannya. Alyssa tidak.
Ia menyelipkan foto itu kembali ke bagian paling dalam, di balik kartu identitasnya, lalu menutup tempat kartu itu rapat.
Ia tidak akan membiarkan bayangan anak laki-laki di foto itu menghalangi hal yang harus dilakukan wanita dewasa yang duduk di mobil ini.
***
Sore itu, di lantai dua puluh delapan Gedung Utama Narendra Group.
Ruang rapat eksekutif terasa seperti ruang sidang. Berkas kontrak merah terhampar di meja kaca panjang. Tiga pengacara senior divisi hukum berdiri di sisinya, memegang pulpen dan stempel.
Devan duduk di kepala meja dengan kemeja putih yang lengannya tergulung kusut. Map kulit Kakek Broto masih menempel di dadanya, tersembunyi di balik kemeja. Wajahnya kaku. Matanya menyipit.
Di seberang meja, Wira Vanya, ayah Nadine, duduk bersama dua penasihat hukumnya. Keringat dingin membasahi dahinya meski pendingin ruangan bertiup kencang. Di sampingnya Nadine duduk di kursi roda dengan riasan berantakan dan mata bengkak merah. Tangisnya sudah tidak mengubah apa pun pada Devan.
"Kamu tidak bisa melakukan ini sepihak, Devan!" Wira memukul meja dengan telapak tangannya. "Keluarga kami mitra strategis Narendra selama sepuluh tahun! Kamu tidak bisa memutus semua kontrak pengadaan dan jasa logistik hanya dalam semalam!"
Devan tidak bergeming. Ia menatap Wira seperti menatap orang asing.
"Aku bisa, Wira." Suaranya rendah, tapi mengandung beban yang membuat para pengacara menunduk. "Izin operasional Vanya Logistics dibekukan tiga jam lalu atas dugaan pencucian uang dan penyalahgunaan dana investasi."
"Itu fitnah! Itu jebakan A-K Capital untuk menghancurkan kami!"
"Fitnah?" Devan terkekeh tanpa humor.
Ia menggeser berkas tebal bertuliskan Laporan Audit Investigasi Independen ke tengah meja, tepat di depan Wira. "Di sini tercatat lima belas kali pengalihan uang dari rekening ibuku ke investasi bodong milik kerabatmu. Keluarga Vanya memeras kelemahan ibuku selama lima tahun. Kalian memakai nama Narendra untuk mengamankan pinjaman bank, lalu memakainya untuk gaya hidup dan menutup utang judi."
Wira terhenyak ke kursinya. Matanya melotot pada berkas itu.
"Devan, dengarkan aku..." Suara Nadine masuk, lembut dan bergetar. Ia memajukan kursi rodanya dan mengulurkan tangan. "Aku tidak tahu apa-apa soal Ayah. Aku tidak terlibat. Kamu tahu aku menyayangimu. Lima tahun kita..."
Devan memutar kursinya dan menatap Nadine lurus. Untuk pertama kalinya, ia menatap mata wanita yang bertahun-tahun ia lindungi seperti kaca rapuh, tanpa iba sedikit pun.
"Kamu tidak tahu apa-apa?"
Ia mengeluarkan satu map biru dari tumpukan dan membuka halamannya. Selembar foto buram dari gerbang tol Puncak, dicetak besar. Tiga SUV hitam berjajar di bawah lampu.
"Tiga mobil ini melintasi gerbang tol dua puluh menit setelah mobil Alyssa. Semuanya terdaftar atas Vanya Logistics. Polisi bilang mobil Alyssa dipotong kendaraan lain di tikungan Km 45. Itu mobil-mobil kalian."
Wajah Wira memutih.
"Dan kakimu, Nadine," lanjut Devan pelan, "tidak pernah lumpuh."
Hening menelan ruangan. Tiga pengacara senior saling pandang, terkejut. Wira membeku. Warna darah surut dari wajah Nadine hingga tinggal selembar kertas pucat.
"D—Devan, apa yang kamu bicarakan?" suaranya melengking sumbang. "Kakiku lumpuh karena menyelamatkanmu lima tahun lalu! Dokter sudah menyatakan sarafku mati!"
"Dokter Hendra Suputra menerima dua miliar rupiah dari yayasan ibuku sebelum pindah ke Jerman." Devan memotong tanpa memberi celah. "Aku sudah memegang rekam medis mentahmu. Aku punya bukti pemalsuan sertifikat disabilitasmu. Selama ini aku diam bukan karena belum tahu. Aku menunggu siapa di antara kalian yang bergerak lebih dulu."
Nadine gemetar hebat. Air matanya sekarang bukan lagi pertunjukan. Itu ketakutan orang yang sudah kehilangan semua jalan keluar.
"Tandatangani pemutusan kerja sama dan pembatalan seluruh klaim ganti rugi ini sekarang," kata Devan pada Wira. "Kalau kamu tanda tangan sore ini, besok pagi aku tidak memasukkan tuduhan percobaan pembunuhan berencana atas putrimu ke laporan polisi."
Wira menatap putrinya dengan mata liar, lalu pada dokumen di depannya. Tangannya yang gemetar meraih pulpen. Ia tidak punya kartu apa pun lagi.
"Jangan ditandatangani, Yah!" jerit Nadine.
Ia menghantam sandaran kursi rodanya dengan kedua tangan dan bangkit. Kedua kakinya menopang tubuhnya, berdiri tegak di depan semua orang.
Tiga pengacara terperanjat. Salah satu menjatuhkan penanya.
Devan menatap Nadine tanpa terkejut. Pemandangan itu hanya menegaskan betapa buta dirinya selama lima tahun.
Nadine tersadar apa yang baru ia lakukan. Topengnya sudah lepas sepenuhnya. Wajah cantiknya berubah liar dan kejam.
"Kamu pikir bisa membuangku begitu saja, Devan Narendra?" teriaknya, melupakan semua kesopanan. "Kamu pikir keluargamu yang suci bisa lepas dari kami tanpa noda?"
Ia maju satu langkah dan menunjuk wajah Devan dengan jari yang bergetar.
"Kalau kamu hancurkan keluargaku, aku sendiri yang datang ke semua media besok pagi! Aku bongkar bagaimana ibumu menggeser uang ke kasino, bagaimana kakekmu membeli hukum untuk menutup kejahatan bisnis kalian, dan bagaimana kamu menyiksa Alyssa sampai dia memilih mati di jurang!"
Ia menunduk menatap Devan dengan senyum yang mengerikan.
"Kamu mau hancur bersama kami? Coba saja!"
Devan tidak bergerak. Ia melirik langit-langit, ke arah lensa kecil di sudut ruangan, lalu kembali pada Nadine.
"Silakan hubungi media, Nadine. Kamera di atas kita sudah merekam semua ini sejak kamu berdiri. Aku sendiri yang akan menyerahkan rekamannya." Suaranya datar. "Kalau kamu bisa berdiri sekuat itu, kamu bisa berdiri di ruang sidang."
Nadine terpaku. Wajahnya perlahan berubah, dari marah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Ia tertawa, pendek dan serak.
"Kamu masih mengira ini semua rencanaku?" katanya, nyaris berbisik. "Aku cuma menjalankan perintah, Devan. Tanyakan pada ibumu siapa yang menelepon rumahmu setiap malam, dan siapa yang membayar semuanya."
Devan tidak berkedip. Di balik kemejanya, map kulit Kakek Broto terasa seperti menyala.
"Orang itu," kata Nadine, tersenyum miring pada wajah Devan yang akhirnya berubah, "jauh lebih tinggi dari kami semua."
.....
.....
Bersambung.