Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Saputangan Pelipur Lara
Di tengah suasana hangat itu, Mita duduk di bagian paling belakang ruangan.
Ia memilih tempat tersebut agar tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain. Buku catatannya terbuka di atas pangkuan, tetapi sejak beberapa menit terakhir, tidak ada satu pun catatan tambahan yang ia tulis.
Pikirannya kembali tertuju kepada foto yang dikirimkan Siska.
Ia sudah berkali-kali mencoba mengalihkan perhatian. Ia bahkan sempat membantu membagikan konsumsi kepada panitia lain agar tetap sibuk dan pikirannya teralihkan.
Namun, setiap kali melihat orang-orang tertawa dan bercengkerama, dadanya justru terasa semakin sesak. Mereka semua tampak bahagia. Mereka bisa tertawa tanpa beban, membicarakan hal-hal sederhana, dan menikmati malam tanpa dihantui kenangan yang menyakitkan.
Sementara itu, Mita harus berjuang hanya untuk menahan air matanya sendiri. Ia menunduk, berpura-pura membaca catatan.
Setetes air mata jatuh ke atas kertas. Mita segera mengusapnya dengan ujung jari. Tidak lama kemudian, air mata berikutnya menyusul. Ia mengangkat tangan, menghapus pipinya dengan gerakan cepat, lalu menarik napas panjang.
Jangan sekarang.
Jangan menangis di sini.
Jangan biarkan mereka melihatmu seperti ini.
Ia terus mengulang kalimat-kalimat tersebut dalam hati.
Namun, semakin ia menahan tangis, semakin berat pula beban yang terasa menekan dadanya. Ia tidak menangis hanya karena melihat Denis tertidur di kamar Siska. Ia menangis karena foto itu mengingatkannya pada seluruh harapan yang pernah ia bangun bersama Denis. Ia menangis karena pernah percaya bahwa kesetiaan mereka cukup kuat untuk menghadapi jarak dan pekerjaan. Ia menangis karena kini semua kenangan itu seolah diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak pernah berarti.
Dan yang paling menyakitkan, ia menangis karena sebagian kecil hatinya masih belum mampu berhenti mencintai laki-laki yang telah melukainya.
Mita menutup buku catatannya. Tangannya kembali menyeka air mata yang mengalir. Kali ini, ia tidak cukup cepat menyembunyikannya. Seseorang yang sejak tadi duduk tidak jauh darinya melihat gerakan itu.
Kapten Reihan Andrean.
Reihan datang ke kantor desa memenuhi undangan panitia, dan ia pun sebagai bagian dari pelaksana kegiatan untuk memastikan koordinasi keamanan selama pelaksanaan berjalan lancar.
Selain itu, ada maksud lain dari kedatangannya. Pandangannya mengelilingi ruangan, seolah-olah mencari sesuatu yang selalu ia harapkan kehadirannya. Tetapi keinginannya belum terwujud. Sosok yang ia cari tidak berada dalam jangkauannya.
Reihan pun duduk bersama beberapa anggota dan perangkat desa yang menjadi panitia pelaksana kegiatan. Jumlah semua yang hadir dalam perkiraan berkisar 25 orang selama rapat berlangsung. Tetapi setelah pembahasan utama selesai, ia bergeser ke bagian belakang untuk memberi ruang kepada panitia yang hendak membagikan konsumsi. Kebetulan, ia berakhir duduk tidak jauh dari Mita.
Di depannya, Ratih dan sejumlah perangkat desa masih bercengkerama sambil menikmati makanan. Beberapa panitia tertawa mendengar cerita Beni, salah satu panitia yang salah mengumumkan skor pertandingan sore tadi, sehingga memicu pertikaian, tetapi cepat dikendalikan hingga tidak terjadi perbuatan anarkis selama pertandingan berlangsung.
Namun, perhatian Reihan justru tertuju pada perempuan di sebelahnya.
Mita terus mengusap wajahnya.
Awalnya, Reihan mengira perempuan itu hanya kelelahan setelah beraktivitas sejak pagi. Ia tahu bahwa Mita memikul banyak tanggung jawab selama kegiatan berlangsung. Namun, ketika ia melihat bahu Mita bergerak pelan dan perempuan itu berulang kali menunduk, ia mulai memahami bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Mita sedang menangis, diam-diam. Berusaha menyembunyikan air matanya dari orang-orang yang duduk di sekeliling mereka.
Reihan terdiam. Ia tidak menyukai pemandangan itu. Bukan karena Mita menangis, melainkan karena ia bisa melihat betapa keras perempuan tersebut berusaha agar tidak ada seorang pun yang mengetahui kesedihannya.
Ada sesuatu yang terasa menyakitkan ketika menyaksikan seseorang berjuang sendirian, padahal orang-orang di sekelilingnya tidak menyadari bahwa ia sedang membutuhkan pertolongan.
Reihan bangkit dari kursi dan berjalan pelan hingga kini duduk diantara dua kursi yang memisahkan ia dan perempuan yang masih belum menyadari kehadirannya.
"Mbak Mita."
Mita tersentak. Ia buru-buru menurunkan tangannya dan berpaling ke arah Reihan, "Ya, Om?" Suaranya terdengar sedikit serak.
Reihan menatapnya beberapa saat. Matanya berhenti pada sudut mata Mita yang memerah, dengan sedikit genangan air mata masih menggenang, "Apakah Anda baik-baik saja?"
Pertanyaan sederhana itu justru membuat Mita kesulitan menjawab. Ia tidak menyangka bahwa kedukaan yang susah payah ia sembunyikan diketahui sosok tegap yang kini duduk di sampingnya.
Ia ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Ia ingin tersenyum, mengangguk, kemudian kembali berpura-pura sibuk dengan buku catatannya. Namun, untuk beberapa alasan, tatapan Reihan membuatnya merasa tidak perlu terburu-buru menyusun kebohongan.
Laki-laki itu tidak menatapnya dengan rasa ingin tahu yang mengusik. Tidak pula dengan tatapan iba yang membuatnya merasa semakin lemah. Reihan hanya tampak khawatir.
"Saya baik-baik saja, Om," jawab Mita akhirnya.
Reihan tidak langsung menanggapi. Ia memperhatikan bagaimana Mita kembali mengusap pipinya dengan punggung tangan, seolah berusaha menghapus jejak air mata sebelum ada orang lain yang melihat.
"Kalau memang baik-baik saja," katanya pelan, "mengapa Anda terus menangis?"
Mita terdiam. Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana, tetapi justru menyentuh bagian hatinya yang sejak tadi berusaha ia lindungi.
Ia menunduk, "Maaf, Om. Saya hanya sedikit lelah."
Reihan memahami bahwa jawaban itu bukan keseluruhan cerita. Namun, ia tidak ingin memaksa. Ia tahu, dirinya bukan orang yang berhak meminta Mita menceritakan sesuatu yang belum siap dibagikannya.
Maka, tanpa berkata apa-apa lagi, Reihan merogoh saku seragamnya. Ia mengeluarkan sebuah saputangan bersih berwarna putih, kemudian menyodorkannya kepada Mita.
"Ini."
Mita menatap benda itu dengan bingung, “Untuk saya?"
Reihan mengangguk, “Gunakan saja."
"Tapi, Om..."
"Tidak perlu sungkan. Saya masih punya yang lain."
Mita menatap saputangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya, "Terima kasih."
"Sama-sama."
Ia mengusap air matanya dengan hati-hati. Entah mengapa, saputangan sederhana itu terasa begitu berarti. Bukan karena benda tersebut mampu menghapus kesedihannya, melainkan karena untuk pertama kalinya sejak menerima pesan Siska, ada seseorang yang menyadari bahwa dirinya sedang terluka.
Seseorang yang tidak memintanya untuk segera berhenti menangis. Seseorang yang tidak menyuruhnya melupakan masalah seolah semua itu bisa dilakukan hanya dengan satu keputusan.
Reihan kembali memandang ke depan, memberikan ruang kepada Mita untuk menenangkan diri.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan di antara mereka.
Dari bagian depan ruangan, Ratih masih terdengar berbicara tentang persiapan acara puncak. Para panitia lain menikmati makanan sambil membicarakan rencana perlombaan berikutnya.
Dunia terus berjalan seperti biasa.
Hanya di sudut paling belakang itu, waktu terasa sedikit melambat bagi dua orang yang duduk berdampingan.
Mita meremas saputangan di tangannya, “Om," panggilnya lirih.
Reihan menoleh, "Ya?"
Mita ragu sejenak, “Saya minta maaf kalau tadi terlihat tidak profesional."
Kening Reihan berkerut, "Mengapa mbak Mita harus meminta maaf?"
"Karena saya tidak bisa meredam perasaan emosional…"
"Anda manusia, Mbak. Bukan mesin."
Mita terdiam.
Reihan melanjutkan dengan suara tenang, "Mbak Mita bekerja sejak pagi, mengurus banyak hal, dan memastikan kegiatan berjalan lancar. Kalau lelah, itu wajar. Kalau mbak sedang menghadapi masalah, Mbak juga berhak merasa sedih."
Kalimat itu sederhana. Namun, bagi Mita, rasanya seperti seseorang baru saja memberinya izin untuk berhenti berpura-pura kuat, meskipun hanya untuk beberapa saat. Ia menggigit bibir, menahan gelombang tangis yang kembali naik ke tenggorokannya.
Reihan menyadari perubahan itu, "Maaf," katanya kemudian, "Saya tidak bermaksud membuat mbak Mita semakin sedih."
Mita menggeleng cepat, "Bukan begitu, Om."
"Lalu?"
Mita menatap saputangan di tangannya, "Saya hanya... sudah berusaha keras untuk melupakan sesuatu. Saya pikir, kalau saya menyibukkan diri, semuanya akan menjadi lebih mudah dan hilang dengan sendirinya."
Reihan mendengarkan tanpa menyela.
"Tapi ternyata tidak semudah itu," lanjut Mita. "Kadang-kadang, saya merasa sudah baik-baik saja. Lalu sesuatu terjadi di luar kendali saya, dan rasanya seperti kembali ke titik awal."
Ada jeda panjang setelah kalimat itu.
Mita tidak menjelaskan lebih jauh.. Ia tidak menyebut nama Denis, tidak menceritakan foto yang dikirimkan Siska, dan tidak membuka seluruh luka yang masih menganga di hatinya.
Namun, Reihan mulai memahami bahwa kesedihan itu bukan sesuatu yang baru. Perempuan tersebut sedang mengalami masalah dengan hatinya. Atau mungkin ada seseorang dari kehidupannya yang telah membuatnya terluka. Mungkin seseorang yang sangat berarti.
"Melupakan sesuatu yang menyakitkan memang tidak mudah," kata Reihan akhirnya. "Ada hari ketika kita merasa kuat. Ada hari ketika semuanya terasa berat lagi. Itu bukan berarti kita gagal."
Mita mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, ia tidak tahu harus berkata apa. Ada ketulusan dalam suara laki-laki itu yang membuat pertahanannya perlahan melemah.
Reihan tidak menawarkan janji berlebihan, tidak pula mengatakan bahwa semua masalahnya akan segera selesai. Ia hanya berbicara seolah memahami bahwa proses penyembuhan tidak bisa dipaksakan.
"Mbak Mita tidak harus menyelesaikan semua problemanya dalam satu malam," lanjut Reihan. "Cukup jalani satu hari lagi. Besok, kalau masih terasa berat, jalani lagi satu hari berikutnya."
Mita menatapnya lekat. Kemudian, tanpa sadar, ia tersenyum tipis. Senyum yang masih rapuh, tetapi kali ini tidak sepenuhnya dibuat-buat.
"Terima kasih, Om." Mita berkata dengan tulus.
Ia yakin lelaki gagah di hadapannya tidak mengetahui masalah yang ia hadapi. Tetapi dari kata-kata yang ia ucapkan, sangat menyentuh dan mengena tepat di hatinya.
Reihan membalasnya dengan anggukan kecil, "Sama-sama."
Mita kembali mengusap sisa air matanya menggunakan saputangan putih tersebut. Kali ini, ia tidak lagi tergesa-gesa menyembunyikan wajahnya. Di antara keramaian kantor desa, ia merasa sedikit lebih tenang.
Ia belum sembuh. Perasaan sayang dan cinta pada seseorang yang telah mengkhianatinya, dan foto kiriman Siska masih meninggalkan luka yang sulit dijelaskan. Mungkin malam nanti, ketika kembali sendirian, ia akan menangis lagi. Namun, setidaknya, untuk beberapa menit ini, ia tidak merasa harus menanggung semuanya sendirian.