NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puing-Puing Ilusi

Koridor lantai dua belas Green Heights Residence mendadak terasa begitu sesak, seolah seluruh oksigen di udara telah lenyap disedot oleh kepanikan yang mencengkeram dada Arini. Di hadapannya, Bambang—perwakilan tim eksekusi dan penagihan Bank Optima Perdana—berdiri dengan sikap dingin, tidak menyisakan sedikit pun ruang empati bagi wanita yang kini terduduk lemas di atas lantai marmer dingin.

Ponsel Arini tergeletak mengenaskan dengan layar yang retak tepat di samping sepatu hak tingginya. Layar itu gelap, tanpa ada tanda-tanda kehidupan atau dering balasan dari nomor Rian yang sejak tadi berulang kali ia hubungi.

"Ibu Arini," ucap Bambang dengan suara berat yang memecah keheningan koridor. "Sesuai dengan prosedur penyitaan jaminan aset, unit apartemen ini resmi kami segel terhitung mulai hari ini. Seluruh barang pribadi di dalam unit diberikan waktu maksimal dua kali dua puluh empat jam untuk dikosongkan sebelum tim logistik bank mengambil alih penuh."

Arini mengangkat wajahnya yang pucat pasi. Riasan wajah mahal yang pagi tadi ia banggakan kini luntur oleh tetesan air mata ketakutan dan keringat dingin. Bibirnya bergetar hebat, nyaris tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.

"T-tapi... tunggu sebentar, Pak..." rintih Arini dengan suara parau nyaris tak terdengar, jemarinya mencengkeram ujung kain gaun hitamnya. "Pasti ada kekeliruan... Rian Pratama tidak mungkin meninggalkan saya begini saja. Perusahaannya... perusahaannya sangat besar! Dia direktur utama!"

Bambang mendengus sinis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Direktur utama? Ibu benar-benar tertipu atau sengaja menutup mata? PT Cipta Graha Mandiri sudah dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga sejak tiga hari lalu. Seluruh aset perusahaan, rekening operasional, hingga rumah pribadi Pak Rian di kawasan menteng sudah disita negara karena kasus penggelapan dana dan kredit macet fiktif."

Nama fiktif, pailit, dan penggelapan dana menghantam kepala Arini bagaikan palu godam bermuatan listrik tegangan tinggi. Dunia di sekelilingnya berputar kencang. Ia teringat pada senyuman manis Rian, pada janji-janji kemewahan yang diumbar, pada mobil Mercedes-Benz yang menjemputnya di malam hujan, dan pada lembaran dokumen bermeterai yang ia tanda tangani tanpa membaca isinya dua minggu lalu.

Semua itu—seluruh kemewahan yang ia jadikan alasan untuk menginjak-injak harga diri Dimas—ternyata hanyalah sebuah sandiwara palsu di atas fondasi utang beracun yang sengaja disiapkan Rian untuk menjadikannya tumbal hukum.

"Tidak... tidak mungkin..." Arini meratap histeris, menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya yang basah oleh air mata. Ia menangis bukan lagi karena sedih, melainkan karena kesadaran mengerikan bahwa ia telah dengan sukarela menjual dirinya ke dalam jurang kehancuran.

Bambang memberi isyarat kepada dua petugas keamanan apartemen untuk memasang segel resmi berupa pita pengaman merah bertuliskan “ASSET IN RESOLUTION – BANK OPTIMA” melintang di daun pintu mahoni unit 1204.

"Silakan ambil barang-barang pribadi Anda sekarang, Bu. Besok kunci akses utama akan diganti total oleh pihak manajemen," ujar Bambang final sebelum ia bersama timnya berbalik melangkah meninggalkan koridor.

Arini tertinggal seorang diri di depan pintu apartemen yang kini telah berbalut pita segel merah. Ia terduduk bersandar pada dinding koridor yang dingin, meratapi kebodohannya sendiri dalam kebisuan yang menyayat hati.

Sementara itu, di sebuah warung kopi sederhana di dekat bengkel tempat kerjanya, Dimas sedang duduk merapikan beberapa berkas laporan stok barang bersama Sari.

Sore itu, angin berhembus sejuk membawa sisa aroma basah sehabis hujan. Di atas meja kayu, secangkir kopi hitam milik Dimas masih mengepulkan uap tipis. Suasana di sekitar bengkel terasa tenang dan penuh produktivitas.

"Alhamdulillah, laporan rekapitulasi untuk akhir bulan ini sudah selesai semua, Mas Dimas," kata Sari ramah sambil menutup buku catatan akuntansinya. Ia menatap Dimas dengan senyuman tulus. "Ayah tadi bilang, sejak sistem pencatatan gudang diubah sama Mas Dimas, tidak ada lagi barang yang selisih atau hilang misterius. Pemasok juga makin percaya sama kita."

Dimas tersenyum hangat, menggelengkan kepalanya merendah. "Itu semua karena kerja sama tim yang solid, Mbak Sari. Saya cuma bantu merapikan bagian yang kurang."

Pak Joko yang duduk di kursi sebelah menyemburkan tawa kecil. "Ah, kamu ini selalu merendah terus, Dim! Padahal jujur saja ya, sejak kamu masuk ke bengkel ini, omzet kita naik hampir tiga puluh persen dalam dua bulan. Kamu itu punya ketelitian dan kejujuran yang jarang dimiliki anak muda zaman sekarang."

"Terima kasih banyak atas kepercayaannya, Pak," jawab Dimas tulus.

Sari memperhatikan raut wajah Dimas yang tampak jauh lebih segar, tenang, dan bercahaya dibandingkan saat pertama kali pria itu datang ke tempat kerjanya beberapa bulan lalu. Luka batin akibat pengkhianatan masa lalu tampak telah terobati oleh kerja keras, ketekunan, dan lingkungan yang menghargai keberadaannya.

Namun, di tengah suasana tenang itu, tiba-tiba ponsel di saku celana Dimas berdering nyaring.

Dimas merogoh ponselnya. Ia melihat nama kontak yang tertera di layar—sebuah nomor tidak dikenal, namun bersumber dari wilayah ibu kota. Dengan sedikit rasa heran, Dimas menggeser ikon hijau dan mengangkat panggilan tersebut.

"Halo? Dengan siapa ini?" tanya Dimas tenang.

Dari seberang sambungan telepon, terdengar suara isak tangis perempuan yang begitu histeris, terengah-engah, dan nyaris tidak dikenali jika bukan karena nada suara khas yang pernah sangat akrab di telinganya.

“Mas... Mas Dimas... hiks... tolong aku, Mas...” suara Arini terdengar meratap penuh keputusasaan di ujung sana.

Dimas tertegun sejenak. Alisnya berkerut tipis. Ia sama sekali tidak menyangka akan menerima panggilan dari wanita yang baru saja berhadap-hadapan dengannya di ruang sidang pengadilan beberapa jam lalu.

"Arini? Ada apa? Kenapa kamu menelepon saya?" tanya Dimas dengan nada datar, tanpa ada nada benci, namun juga tanpa kehangatan.

“Aku diusir, Mas... apartemennya disetrum... eh disita bank... Rian... Rian itu penipu, Mas! Dia ninggalin aku tanpa apa-apa! Semua hartanya palsu, dan sekarang aku dikejar-kejar penagih utang...” tangis Arini pecah sejadi-jadinya, suaranya gemetar menahan rasa malu dan ketakutan yang teramat sangat di trotoar jalan raya tempat ia menepi. “Tolong aku, Mas... jemput aku... aku mohon, hanya kamu satu-satunya orang yang bisa tolong aku sekarang...”

Mendengar ratapan pilu itu, Pak Joko dan Sari yang duduk di sebelah Dimas langsung menoleh dengan raut penuh tanda tanya. Mereka bisa menangkap dari penggalan kalimat yang diucapkan bahwa orang di seberang telepon adalah mantan istri Dimas yang dulu memilih meninggikannya demi harta.

Dimas terdiam cukup lama. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan lewat hidung.

Di dalam dada Dimas, tidak ada lagi rasa dendam, tidak ada rasa puas melihat kehancuran mantan istrinya, dan yang paling penting: tidak ada lagi sisa rasa cinta atau keterikatan yang tersisa. Yang ada hanyalah keheningan batin yang amat lapang.

"Arini," ucap Dimas dengan suara yang sangat tenang, tegas, dan berwibawa. "Kamu memilih jalanmu sendiri dua minggu lalu. Kamu yang meninggalkan rumah itu, kamu yang memilih hidup di atas kemewahan yang kamu dambakan, dan kamu juga yang menandatangani setiap keputusan yang kamu ambil hari ini."

“Tapi Mas... aku salah! Aku menyesal! Tolong jangan hukum aku seperti ini...” ratap Arini histeris di seberang sana.

"Saya tidak sedang menghukum kamu, Arini," balas Dimas lembut namun sangat menusuk. "Hidup ini adalah konsekuensi atas pilihan yang kita buat sendiri. Apa yang menimpamu sekarang adalah buah dari keangkuhan dan ketamakan yang kamu pelihara. Urusan kita di pengadilan akan tetap berjalan sesuai jadwal hukum."

Dimas jeda sejenak, menatap lurus ke depan.

"Mulai hari ini, belajarlah berdiri di atas kakimu sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan hidupmu. Jangan pernah hubungi nomor ini lagi. Selamat tinggal, Arini."

Klik.

Dimas menutup sambungan telepon tersebut tanpa ragu, lalu menonaktifkan kartu selulernya untuk selamanya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kayu di hadapan Pak Joko dan Sari.

Sari menatap Dimas dengan binar mata yang memancarkan rasa hormat dan kekaguman yang tiada tara. Wanita itu tahu persis betapa berat badai yang harus dilalui Dimas untuk bisa sampai di titik ketenangan ini.

Dimas menatap Sari dan Pak Joko, lalu tersenyum kecil—sebuah senyuman tulus dari seorang pria yang benar-benar telah merdeka dari masa lalunya.

"Mari kita lanjutkan pekerjaannya, Pak," ucap Dimas tenang.

Di luar warung kopi, matahari sore perlahan-lahan terbenam di cakrawala, menyisakan bias cahaya keemasan yang menerangi jalan di depan mereka—sebuah awal lembaran baru yang cerah bagi seorang pria yang berhasil merajut kembali harga dirinya di atas fondasi kejujuran dan kerja keras.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!