Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu?
Setelah selesai makan siang, Aryan mengantar Laras kembali ke perusahaan Adiguna. Sepanjang perjalanan, mereka sempat membicarakan beberapa hal ringan sebelum akhirnya mobil memasuki halaman gedung perusahaan.
Mobil itu berhenti sempurna di depan pintu masuk.
Aryan turun lebih dulu, lalu berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk Laras.
"Terima kasih untuk hari ini, Kak," ucap Laras.
Aryan mengangguk santai. "Tidak masalah. Aku harap ini menjadi awal yang baik untuk kerja sama kita. Aku akan meminta timku untuk segera membuat rincian anggaran dan pembagian keuntungan secepatnya."
Laras mengangguk. Ia berharap kerja sama ini berjalan lancar, bukan hanya karena keuntungan yang akan diperoleh perusahaan, tetapi juga karena proyek itu bisa menjadi langkah awal untuk memperkuat posisi mereka dalam bisnis.
"Aku tunggu," jawabnya. "Ya sudah, kalau begitu, aku masuk dulu."
"Baiklah."
Laras membalasnya dengan anggukan kecil, kemudian berbalik dan melangkah memasuki gedung perusahaan.
Aryan masih berdiri di sisi mobil. Tatapannya mengikuti punggung Laras yang semakin menjauh.
Sesaat kemudian, sopir Aryan menghampirinya. "Tuan, biar saya yang mengemudi."
Aryan mengeluarkan kunci mobil dari saku, lalu menyerahkannya pada pria itu. Setelahnya, ia masuk ke kursi penumpang dan mobil kembali melaju meninggalkan halaman perusahaan.
Sementara itu, Laras berjalan menyusuri lobi dengan kepala sedikit tertunduk, mempertimbangkan keinginannya untuk meminta bantuan Aryan.
Ia tahu, pria itu memiliki kemampuan untuk membantunya menghadapi persoalan hukum. Namun, ia masih ragu untuk membuka masalah rumah tangganya kepada seseorang yang dekat dengannya. Apalagi, saat ini mereka tengah menjalin kerja sama bisnis.
"Apa sebaiknya aku bicara dengannya? Setidaknya, aku bisa meminta pendapatnya terlebih dahulu," gumamnya.
Laras menghela napas pelan. Ia masih sibuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Tapi, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengannya dengan kasar.
"Akh!"
Tubuh Laras tersentak.
Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, seseorang menariknya menjauh dari lobi.
"Lepaskan!" serunya sambil berusaha melepaskan cengkeraman tersebut.
Tapi, orang itu sama sekali tidak menghiraukannya. Laras terpaksa mengikuti langkahnya hingga mereka tiba di sebuah lorong yang cukup sepi.
"Mas!" Ia menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut, tidak percaya suaminya sendiri tega memperlakukannya seperti itu di lingkungan perusahaan.
"Apa yang kamu lakukan, Mas? Lepaskan!"
Robby akhirnya melepaskan cengkeramannya.
Laras segera menarik lengannya, lalu mengusap bagian yang terasa sakit.
"Kamu kenapa, Mas?" tanyanya, berusaha menahan rasa kesal.
Namun, Robby justru menatapnya dengan rahang mengeras. "Siapa pria itu?"
Laras mengerutkan kening. "Pria?" ulangnya, seolah tidak paham dengan pertanyaan tersebut. "Pria yang mana?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!" bentak Robby. "Pria yang pergi bersamamu tadi!"
Laras terdiam sejenak sebelum akhirnya tahu maksud suaminya.
"Oh, itu pemilik perusahaan Megantara. Dia datang untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan kita. Ada apa memangnya?"
"Kerja sama?" Robby mengulang perkataan itu dengan nada tidak percaya.
Laras mengangguk. "Iya. Memangnya kenapa?"
Robby mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia ingin meluapkan kekesalannya, tetapi penjelasan Laras membuatnya kesulitan mencari alasan yang masuk akal untuk mempersoalkan pertemuan tersebut.
Meski demikian, ia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya menghabiskan waktu makan siang bersama pria lain.
"Apa harus sampai makan siang begitu?" tanyanya akhirnya.
Laras mengerutkan kening lebih dalam. Ia menatap Robby sejenak, mencoba memahami jalan pikiran pria itu.
"Bukannya hal seperti itu sudah biasa?" balasnya. "Kenapa Mas berkata seolah-olah aku baru pertama kali makan siang dengan rekan bisnisku?"
Robby terdiam. "B-bukan begitu maksudku. Aku..." Ia menggantungkan ucapannya. Matanya bergerak gelisah, mencari alasan untuk membenarkan sikapnya sendiri.
Laras menghembuskan napas panjang. Ia sebenarnya malas berdebat dengan Robby, terlebih karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tapi, ia juga tidak ingin terus-menerus membiarkan suaminya mengatur segala sesuatu seolah-olah dirinya tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan sendiri.
"Sudahlah, Mas. Jangan berpikir berlebihan. Aku hanya makan siang dengannya agar kerja sama kami berjalan lancar." Laras menatap Robby dengan tenang. "Kalau kerja sama ini berhasil, bukankah kita juga yang untung?"
Robby kembali terdiam.
Kata untung seolah menjadi pengingat yang cukup ampuh untuk meredam amarahnya. Ia memang tidak menyukai kedekatan Laras dengan pria itu tetapi, ia juga tidak ingin mengacaukan peluang bisnis yang berpotensi mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.
Terlebih, ia sendiri sedang berusaha meningkatkan kedudukannya.
Robby akhirnya menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha mengendalikan emosinya sebelum mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut.
"Maafkan aku, Sayang." Ia mencoba tersenyum. "Aku tidak bermaksud merusak kerja sama kita dengannya. Aku hanya cemburu melihatmu bersama dia."
Laras menatapnya tanpa memberikan tanggapan selama beberapa saat.
Sungguh menggelikan. Robby bisa dengan mudah mengucapkan kata cemburu, seolah-olah dirinya adalah seorang suami yang begitu mencintai dan takut kehilangan istrinya.
Padahal, Laras tahu betul bahwa ada banyak hal yang pria itu sembunyikan darinya.
Tapi, ia tidak berniat mengungkapkan semua sekarang. Ia masih membutuhkan waktu untuk mengumpulkan bukti sebelum mengambil tindakan.
Akhirnya, Laras tersenyum tipis. "Kamu tidak perlu cemburu, Mas. Aku bisa menjaga diri." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. "Aku harap, Mas juga begitu. Menjaga diri dari wanita lain."
Senyum di wajah Robby seketika membeku. Ia merasa seolah-olah Laras sedang menyindir sesuatu yang tidak ingin ia bicarakan.
Jantungnya berdegup lebih cepat, sementara pikirannya langsung tertuju pada Maya. Tapi, ia segera menepis kegelisahan tersebut. Ia tidak mungkin menunjukkan rasa bersalahnya di depan Laras.
"I-itu sudah pasti, Sayang," jawabnya terbata-bata.
Laras hanya menatapnya dengan ekspresi datar. "Baguslah."
Robby berdeham, berusaha menutupi rasa gugupnya. Ia merasa tidak nyaman berlama-lama berada di depan istrinya, terlebih setelah mendengar kalimat yang seolah menyentil rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
"Ka-kalau begitu, aku ke ruanganku dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Robby segera berbalik dan berjalan pergi dengan langkah terburu-buru.
Sementara, Laras tetap berdiri di tempatnya. Ia memperhatikan punggung suaminya yang semakin menjauh, lalu menghembuskan napas pelan.
Senyum yang semula menghiasi bibirnya perlahan berubah menjadi senyum sinis.
"Cih! Menggelikan."
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti