Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dapur yang Hangus
"Fuh! Fuh! Uhuk... uhuk!"
Gandung berjongkok di depan tungku sambil meniup batang bambu sekuat tenaga. Matahari sudah tinggi, dan jatah makan mereka yang cuma sekali sehari itu belum juga dimasak. Kayu bakar di dalam tungku hanya mengepulkan asap putih, karena semalam gerimis membasahi tumpukan kayu di belakang dapur. Matanya merah berair, dan pipinya belepotan jelaga.
"Minggir," kata Satrio dari ambang pintu, "Biar aku yang menyalakan."
"Pakai apa? Alismu?" Gandung meniup lagi tanpa menoleh. "Oh, iya. Alismu sudah habis duluan."
Satrio nyengir dan berjongkok di sebelahnya. Ia membuka telapak tangan kanannya yang terbalut, menarik napas sekali, lalu mendorong hawa panas dari perutnya ke telapak tangan. Api jingga sebesar kepalan menyala di atas balutan kain itu.
Gandung berhenti meniup. Batang bambu di mulutnya hampir jatuh.
"Jarimu," katanya, "Kau tidak merapatkan jari. Biasanya kau harus merapatkan dua jari dulu, menahan napas, sampai mukamu merah seperti orang susah buang air."
"Sekarang sudah tidak perlu." Satrio menggoyangkan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan, dan api itu ikut bergoyang tanpa padam. "Mulai hari ini, urusan tungku serahkan padaku. Kau tidak perlu meniup bambu sampai pipimu kempot."
"Sejak kapan kau bisa begitu?"
"Sejak alisku hilang."
Gandung melongo, lalu terkekeh dan bergeser memberi tempat. "Coba nyalakan kayu basah ini. Kalau bisa, jatah nasiku nanti kubagi separuh untukmu."
Satrio menyodorkan api itu ke mulut tungku. Kayu basah di dalamnya mendesis dan mengeluarkan asap lebih tebal, tapi tidak mau menyala. Ia mendorong lebih banyak panas ke telapak tangannya.
Sudah lima malam ia turun ke ruang bawah pendopo dan menyimpan panas kristal di perutnya, tarikan demi tarikan, seperti yang diajarkan Eyang. Panas itu terus ia tabung di sana. Begitu ia membuka jalan keluar lewat telapak tangan, semua panas yang tersimpan ikut menyerbu keluar.
Wusss!
Api di telapaknya berubah merah dan melonjak setinggi kepala. Lidah api itu menyambar dinding bambu di belakang tungku, merambat ke tampah-tampah yang digantung di sana, lalu naik ke atap ijuk.
"Api! Apiii!" Gandung terjengkang ke belakang.
'Eyang! Bagaimana mematikannya?' batin Satrio.
"Kepalkan tanganmu, bodoh! Tutup jalannya!"
Satrio mengepalkan tangan. Api di telapaknya padam, tapi api di dinding dan atap sudah hidup sendiri. Di bawah dinding itu, karung beras yang disandarkan Sekar sejak lumbung terbakar mulai berasap di bagian bawahnya.
"Berasnya!" seru Gandung.
Sekar datang paling dulu dari arah sumur dengan ember di kedua tangan. Jati dan Lintang menyusul membawa gayung. Damar tidak bisa berlari, jadi ia berteriak dari serambi.
"Karungnya dulu! Tarik karungnya keluar, baru siram atapnya!"
Gandung merangkak ke arah karung itu, mencengkeram lehernya dengan kedua tangan, dan menyeretnya keluar pintu. Ia memadamkan api di ujung karung dengan telapak tangannya sendiri.
"Arghh! Panas! Panas!"
Satrio memukuli dinding yang terbakar dengan karung goni basah. Ember demi ember disiramkan ke atap. Api baru benar-benar padam setelah Sekar dan Lintang bolak-balik ke sumur belasan kali. Separuh dinding dapur tinggal rangka bambu yang hitam, dan asap masih mengepul dari ijuk yang basah kuyup.
"Kang Lintang," bisik Jati sambil menarik lengan baju Lintang, "Apinya tadi merah, kan? Seperti malam itu."
Lintang mengangguk. Matanya masih tertuju pada tangan kanan Satrio yang terkepal.
Sekar meletakkan embernya. Napasnya tersengal. Ia mencabut sendok kayu besar dari dinding yang masih utuh, lalu menoleh.
"Satrio."
Suaranya pelan. Satrio mundur selangkah.
"Sekar, tunggu dulu. Aku bisa jelaskan..."
"Jelaskan sambil lari!"
Satrio langsung kabur. Ia mengitari sumur sambil memegangi rusuknya, menunduk di bawah jemuran, lalu memutari pohon jambu di sudut halaman. Sendok kayu di tangan Sekar berayun tepat di belakang kepalanya.
"Ampun, Sekar! Tulangku masih retak!"
"Biar sekalian kupatahkan yang sebelah!"
"Kiri, Sekar!" teriak Damar dari serambi, "Dia mau lari ke kiri!"
"Kang Damar! Kakang ini di pihak siapa?"
Jati tertawa sampai harus berpegangan pada tiang serambi. Di sebelahnya, Lintang ikut tertawa sambil menutup mulut, dan matanya yang sembab menyipit.
Satrio memotong halaman ke arah dapur. Di sana langkahnya terhenti.
Tok!
"Aduh!"
Sendok kayu itu mendarat di ubun-ubunnya. Sekar mengangkat sendok itu untuk pukulan kedua, lalu tangannya tertahan di udara.
Gandung duduk di tanah di depan karung beras. Mulut karung itu terbuka, dan Gandung sedang meraup isinya dengan kedua tangan. Semakin dalam tangannya merogoh, butir yang keluar semakin hitam. Butir-butir hitam itu basah oleh air siraman, dan saat ia meremasnya, beras itu hancur menjadi bubur arang di sela jarinya. Telapak tangannya merah melepuh bekas memadamkan api tadi.
Jati berhenti tertawa. Lintang menurunkan tangannya dari mulut.
"Tinggal segini," kata Gandung pelan, "Yang atas masih ada yang putih. Yang bawah... yang bawah sudah jadi arang semua."
Satrio berlutut di sampingnya. "Gandung, aku..."
"Aku cuma bercanda waktu protes soal sekali sehari, Satrio." Kepala Gandung tetap menunduk ke karung. "Sekali sehari juga tidak apa-apa. Sungguh. Aku bisa..." Suaranya pecah. Ia mengusap hidung dengan lengan, dan coreng jelaga baru tertinggal di pipinya. "Aku bisa tahan."
Satrio mengulurkan tangan ke dalam karung. Ia mulai memisahkan butir yang masih putih dari yang hitam, satu per satu, dengan ujung jari.
Sekar menurunkan sendok kayunya. Ia mengambil tampah dari serambi, berlutut di seberang Gandung, dan ikut memilah. Tidak lama kemudian, Jati dan Lintang ikut berjongkok di sekitar karung itu.
Sampai matahari condong ke barat, beras yang bisa mereka selamatkan tidak sampai sebakul. Kalau dimasak jadi bubur encer, beras itu paling lama cukup untuk lima hari.
***
Malam itu mereka makan bubur yang lebih banyak airnya daripada berasnya, dimasak di atas tungku batu darurat di halaman, ditambah singkong rebus dari kebun belakang. Sekar membagi bubur itu dengan sendok kayu yang tadi siang mendarat di kepala Satrio, dan setiap mangkuk mendapat takaran yang persis sama.
Ki Arya ikut duduk di serambi. Batuknya kambuh sejak sore, lebih panjang dan lebih kering daripada kemarin. Sekali, batuk itu tidak berhenti sampai Jati harus menepuk-nepuk punggungnya. Setelah batuknya reda, Ki Arya melipat ujung lengan jubahnya ke dalam.
Damar menoleh untuk menjawab pertanyaan Lintang soal jerat rusa. Saat itu, Ki Arya memiringkan mangkuknya dan menuang separuh buburnya ke mangkuk Damar.
Damar kembali menghadap mangkuknya dan berhenti. Isinya penuh sampai ke bibir mangkuk. Ia menoleh ke arah Ki Arya, yang sedang terbatuk lagi ke lengan jubahnya.
"Guru, ini..."
"Lututmu butuh makan," kata Ki Arya, "Batukku tidak."
Tangan Damar yang memegang mangkuk gemetar. Ia menunduk dan menyuap bubur itu sesuap demi sesuap, tanpa mengangkat wajah lagi.
Satrio meletakkan sendoknya. Mangkuknya masih penuh.
Gandung yang duduk di sebelahnya menyendok buburnya sendiri dua kali, lalu menuangnya ke mangkuk Satrio. Matanya tetap tertuju ke mangkuknya sendiri.
"Tadi aku janji membagi jatah nasiku separuh kalau kau bisa menyalakan kayu basah itu," katanya, "Kayunya memang menyala."
"Gandung..."
"Makan. Nasinya memang tidak ada, jadi anggap saja ini nasi."
Satrio mengangkat sendoknya lagi. Ia makan sampai mangkuk itu kosong dengan kepala tertunduk.
***
Bekas dapur itu masih berbau asap saat Satrio duduk di sana tengah malam. Ia mengorek tanah dan abu di dekat tempat karung tadi bersandar, mencari butir beras yang mungkin terlewat. Cahaya merah dari telapak tangan kanannya ia redupkan supaya tidak terlihat dari bilik.
"Lima malam kau simpan panas itu di perut," kata Eyang. Ia duduk di atas tungku yang dingin. "Lalu kau buka pintunya sekaligus di depan kayu basah. Selokan tersumbat yang mendadak jebol, ya begitu jadinya."
"Selokan?"
"Jalur cakramu." Eyang menunjuk dada, perut, dan kedua lengan Satrio. "Di dalam tubuhmu ada jalur-jalur tempat tenaga mengalir. Waktu Olah Raga, kau cuma menguatkan tubuh. Waktu Olah Napas, kau belajar menarik tenaga lewat napas dan menyimpannya di perut."
"Itu aku sudah bisa."
"Bisa, tapi payah. Olah Cakra berarti membuka jalur-jalur itu, supaya tenaga di perutmu bisa mengalir ke mana pun kau mau. Jalurmu sekarang masih seperti selokan tersumbat. Airnya ada, tapi tidak bisa mengalir, jadi meluap ke mana-mana. Ke alismu, ke dinding dapur, ke karung beras."
Satrio meringis. Jarinya terus mengorek abu.
"Setiap ranah punya tiga tahap," lanjut Eyang, "Awal, tengah, akhir. Kau harus melewati ketiganya sebelum boleh mengetuk ranah berikutnya."
Ia menekuk jari-jarinya satu per satu, mulai dari ibu jari. "Olah Raga, Olah Napas, Olah Cakra, Olah Batin, Pertapa, Pertapa Sakti, Resi, Resi Agung, Prabu Dayangkara."
Masih ada satu jari yang belum ia tekuk, tapi Eyang menurunkan tangannya.
"Jarinya masih sisa satu, Eyang."
"Itu bukan urusan bocah yang masih membakar dapurnya sendiri."
Satrio menemukan dua butir beras yang masih putih di sela abu. Ia meniupnya dan memasukkannya ke dalam batok di pangkuannya.
"Aku harus menembus Olah Cakra secepatnya, Eyang."
"Supaya apa?"
"Supaya Guru tidak perlu membagi buburnya lagi."
Eyang turun dari tungku dan berjongkok di depannya, sampai wajahnya yang tembus pandang sejajar dengan wajah Satrio.
"Kalau jalur itu dipaksa terbuka, dia bisa robek, bocah," katanya, "Dan yang sudah robek tidak bisa dijahit lagi. Ranahmu bisa berhenti di Olah Napas seumur hidup. Itu pun kalau kau masih hidup."
Satrio kembali menunduk ke abu di depannya dan mengoreknya lagi.
Menjelang fajar, isi batok itu baru segenggam.