Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Udara di dalam ruang kerja CEO NesAura Skincare mendadak berubah menjadi teramat tipis, seolah seluruh oksigen telah dihisap habis oleh kehadiran sosok pria yang berdiri di ambang pintu.
Dika tidak lagi mengenakan topeng suami penyabar yang selama ini dengan sangat sempurna ia rawat di hadapan Nesa. Di bawah temaram lampu meja kerja, garis rahang suaminya tampak mengeras, dan sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai tipis yang dingin senyuman penuh kemenangan dari seorang predator yang baru saja menyudutkan mangsanya ke dalam perangkap paling mematikan.
Nesa berdiri mematung di balik meja kerjanya. Jantungnya bergemuruh hebat, berdetak begitu cepat hingga terasa mendesak rongga dadanya. Tangannya secara otomatis, tanpa sadar, langsung merutuk dan mendekap erat perut buncitnya yang baru memasuki usia tiga bulan. Ada insting keibuan yang menjerit kuat di dalam dirinya, memperingatkan bahwa ia dan bayi di dalam kandungannya kini sedang berada dalam bahaya besar.
"Ma... Mas Dika...?" suara Nesa tercekat di tenggorokan, gemetar hebat. "Bukannya kamu... bilang ada di luar kota? Kenapa kamu bisa ada di sini?."
Dika melangkah masuk perlahan. Langkah kakinya terdengar begitu mantap di atas lantai marmer, menghadirkan gema yang mencengkeram saraf. Pria itu melepas jas kerjanya dengan santai, melemparkannya begitu saja ke atas sofa panjang di sudut ruangan, lalu melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Tatapan matanya menyorot tajam, tidak lagi menyembunyikan rasa jijik atau kepalsuan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
"Dinas ke luar kota? Ah, itu hanya cerita dongeng manis yang sengaja kubuat agar kamu bisa tidur nyenyak, Sayang," ucap Dika dengan nada suara yang terdengar begitu merendahkan. Pria itu berhenti tepat beberapa langkah di depan meja kerja Nesa, menatap sang istri dengan pandangan penuh cibiran. "Kalau aku bilang dari awal kalau aku pergi untuk mengurus perluasan pabrik produksi Glow Series tandingan bersama Sasya, bisa-bisa kamu malah histeris dan merusak seluruh rencana besar kami, kan?."
Mendengar pengakuan telak itu keluar langsung dari bibir pria yang selama bertahun-tahun ia cintai setengah mati, dunia Nesa seolah runtuh seketika. Hantaman badai emosi menerpa batinnya dengan begitu kejam. Air mata yang sejak tadi terbendung di pelupuk matanya tumpah berhamburan, membasahi pipinya tanpa henti.
Jadi, semua itu benar.
Kebohongan tentang pabrik cabang Cikarang, alasan darurat logistik, hingga koper hitam di pagi hari itu semua adalah bagian dari skenario busuk untuk menutupi perselingkuhan dan persekongkolan jahat di belakang punggungnya.
"Kamu... kalian berdua..." Nesa terisak tertahan, suaranya parau menahan rasa sakit yang teramat sangat di dada. "Kenapa, Dika? Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? Aku memberikan segalanya untukmu! Aku merintis perusahaan ini dari nol, membawamu berdiri di jajaran direksi, mempercayakan seluruh hidup dan hatiku kepadamu! Kenapa kamu menusukku dari belakang bersama Kak Sasya?."
Mendengar teriakan putus asa dari wanita yang dinikahinya itu, Dika sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau iba. Sebaliknya, tawa kecil yang terdengar sinis dan dingin justru meluncur dari mulut pria itu. Dika mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja kerja Nesa, mendekatkan wajahnya hingga berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajah istrinya yang basah oleh air mata.
"Memberikan segalanya? Membawa diriku berdiri di jajaran direksi?" Dika mendengus kasar, sorot matanya berkilat penuh amarah yang selama ini tertahan. "Jangan besar kepala, Nesa! Kamu pikir posisi CEO itu bisa kamu raih seorang diri kalau bukan karena dukungan mental dan bantuan latar belakangku di masa lalu? Kamu selalu merasa paling berjasa, paling hebat, dan paling berkuasa di perusahaan ini! Kamu memperlakukanku bukan sebagai suami, tapi sebagai bawahan yang bisa kamuatur sesuka hatimu di bawah bayang-bayang kesuksesanmu."
Nesa membelalakkan matanya, terkejut luar biasa mendengar tuduhan keji tersebut. "Aku tidak pernah memperlakukanmu seperti itu, Mas! Aku mencintaimu dengan tulus."
"Cinta?" potong Dika tajam, memotong ucapan Nesa dengan nada penuh kebencian. "Cinta versi kamu adalah mengurungku dalam sangkar emas, membuatku terus merasa berutang budi karena perusahaan ini menggunakan modal usahamu! Berbeda dengan Sasya... Sasya mengerti ambisiku. Sasya tahu bagaimana cara memperlakukannya sebagai seorang pria sejati, bukan sebagai boneka pesuruh di kantormu."
Bumm!
Nama itu kembali disebut. Kalimat itu menjadi konfirmasi paling telak atas perselingkuhan busuk yang terjalin antara suaminya sendiri dan kakak kandungnya, Sasya. Di sudut ruangan, Bila asisten pribadi Nesa yang sejak tadi berdiri mematung di dekat pintu menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan ngeri mendengar betapa busuknya rahasia yang disimpan oleh lingkaran terdekat atasan sekaligus sahabatnya itu.
Nesa merasakan sekujur tubuhnya lemas seketika. Rasa sakit, jijik, marah, dan kepedihan bercampur aduk menjadi satu, menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Tangannya yang mendekat ke perut semakin bergetar hebat. Bayi di dalam kandungannya seolah ikut merasakan penderitaan psikologis yang luar biasa hebat dari sang ibu, mengirimkan sensasi nyeri tajam di bagian bawah perut Nesa.
Namun, di tengah ratapan kepedihannya, Nesa menolak untuk terus terlihat lemah di hadapan monster yang dulunya ia panggil suami. Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang masih ia miliki, Nesa menegakkan punggungnya, menghapus kasar air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap tajam ke dalam manik mata Dika tanpa rasa takut.
"Kalian pikir kalian bisa lolos begitu saja?" suara Nesa berubah dingin, tajam, dan penuh wibawa seorang pimpinan tertinggi NesAura Skincare. "Seluruh bukti transaksi keuangan, dokumen agensi periklanan fiktif, hingga aliran dana ke perusahaan cangkang milikmu sudah berada di tanganku, Dika. Aku punya salinan digital yang lengkap. Besok pagi, aku akan menyerahkan semua bukti ini ke pihak berwajib dan dewan komisaris. Kalian berdua akan mendeklarasikan kebangkrutan moral kalian di balik jeruji besi."
Ancaman telak itu rupanya sama sekali tidak membuat Dika gentar. Alih-alih panik, pria itu justru kembali tersenyum miring. Seringai mengerikan terukir jelas di wajah suaminya.
"Menyerahkan bukti ke pihak berwajib?" Dika menegakkan kembali tubuhnya, melipat tangan di dada dengan santai. "Nesa, sayangku... kamu benar-benar naif atau memang sengaja menutup mata dari kenyataan?."
Nesa mengerjap, keningnya berkerut dalam, diliputi kecemasan yang tiba-tiba merayap naik. "Apa maksudmu?"
Sebelum Dika sempat menjawab, suara ketukan pintu utama koridor luar kembali terdengar bukan ketukan tunggal seperti tadi, melainkan suara desakan langkah kaki yang tergesa-gesa. Pintu ruang kerja CEO tiba-tiba terdorong terbuka lebar dari luar.
Sosok seseorang melangkah masuk dengan napas memburu dan senyuman penuh kemenangan yang serupa dengan milik Dika.
Wanita itu mengenakan blazer merah menyala dengan riasan tebal yang membingkai wajahnya. Rambut panjangnya tergerai indah, memancarkan aura arogansi yang begitu pekat.
Itu adalah Sasya kakak kandung Nesa sendiri.
Nesa menatap wanita yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Jadi, bukan hanya Dika yang kembali dari perjalanan rahasia itu Sasya juga ada di sini, berdiri di kubu yang sama, siap menghabisi adiknya sendiri tanpa sisa.
"Wah, wah... suasananya tampak sangat hangat di sini," ucap Sasya dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat manja, berjalan mendekati Dika lalu berdiri berdampingan dengan iparnya itu dengan gestur tubuh yang sangat intim merangkul lengan Dika di depan mata kepala Nesa sendiri.
Nesa merasa lambungnya bergejolak hebat. Pemandangan di hadapannya itu begitu menjijikkan, melampaui batas kewarasan manusia mana pun. Kakak kandung yang dilahirkannya dari rahim ibu yang sama, kini berdiri bergelayut mesra di samping suami sahnya, merencanakan kehancuran hidupnya.
"Kak Sasya..." pusing kepala Nesa mendadak berputar hebat. Suaranya tercekat di kerongkongan. "Kamu... kamu benar-benar kehilangan akal sehatmu! Aku adikmu sendiri."
Sasya tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu nyaring dan menusuk telinga di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia melepas rangkulannya dari lengan Dika, lalu melangkah anggun mendekati meja kerja Nesa, menatap sang adik dengan pandangan penuh kebencian yang sudah dipendam bertahun-tahun lamanya.
"Adik? Jangan sebut kata itu, Nesa!" desis Sasya tajam, sorot matanya menyala penuh amarah terselubung. "Kamu pikir aku tidak muak hidup di bawah bayang-bayang kebaikanmu selama ini? Kamu selalu menjadi anak emas! Kamu selalu diagung-agungkan, sementara aku dianggap sebagai sampah masyarakat yang gagal dalam segala hal! Saat kamu mendirikan NesAura dan memberiku jabatan di divisi humas, kamu pikir aku berterima kasih padamu? Tidak, Nesa! Aku merasa terhina setiap kali harus menerima gaji dan belas kasihan dari tanganmu."
Nesa menggelengkan kepalanya perlahan, air mata kembali menetes deras. "Aku tulus membantumu, Kak... Aku ingin kita sukses bersama..."
"Kepedulian palsumu itu membuatku mual!" bentak Sasya keras, memotong ucapan Nesa. "Dan untungnya, Dika membuka mataku. Dika menunjukkan bagaimana caranya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak kita. Perusahaan ini tidak pantas dipimpin oleh perempuan lemah sepertimu, Nesa."
"Cukup!" teriak Nesa dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, memukul meja kerjanya dengan tangan gemetar. Rasa pusing yang teramat sangat kini mendera kepalanya, membuat ruangan di sekitarnya tampak berputar hebat. "Kalian berdua benar-benar sudah gila! Silakan ambil perusahaan ini kalau itu yang kalian inginkan! Tapi ingat, hukum tidak akan tinggal diam atas pengkhianatan kalian."
Mendengar kata-kata terakhir Nika yang penuh ancaman hukum, Dika melangkah maju mendekati meja kerja, menatap istrinya dengan senyuman dingin yang mematikan.
"Hukum? Sayang sekali, Nesa... sebelum kamu sempat menyerahkan bukti apa pun ke pihak berwajib, permainan ini sudah selesai bagi kalian," bisik Dika tajam.
Pria itu merogoh saku jasnya, lalu melempar sebuah map dokumen tebal tepat di atas meja di hadapan Nesa. Dokumen itu mendarat dengan suara berdebum pelan.
Nesa menunduk, menatap map tersebut dengan pandangan buram akibat air mata. Ia membaca judul besar yang tertera di halaman pertama dokumen hukum tersebut.
Itu bukanlah dokumen sembarangan. Itu adalah Akta Pengalihan Saham Mayoritas dan Surat Pemecatan Sepihak Jabatan CEO atas nama Nesa, yang dilengkapi dengan tanda tangan palsu atau lebih tepatnya, tanda tangan yang dipalsukan dengan sangat sempurna menggunakan hak ases digital direksi utama yang berhasil diretas oleh Dika malam ini.
"Tanda tangani surat pengunduran diri dan pengalihan seluruh hak saham perusahaan itu sekarang juga, Nesa," ujar Dika dengan suara dingin tanpa belas kasihan. "Atau seluruh aset pribadi, rumah, dan rekening bankmu akan kami bekukan atas tuduhan penggelapan pajak internal yang sengaja kami rancang sedemikian rupa. Pilihannya ada di tanganmu menyerah secara sukarela dan pergi dengan sisa harga dirimu, atau hancur berkeping-keping tanpa membawa apa pun."
Tekanan psikologis yang luar biasa berat, hantaman pengkhianatan berlapis dari suami dan kakak kandungnya, serta ancaman fisik yang nyata membuat sekujur tubuh Nesa mendadak kehilangan seluruh kekuatannya.
Nesa mencengkeram tepi meja erat-erat, berusaha bernapas di tengah sesak napas yang melanda dadanya. Namun, tiba-tiba sebuah sensasi nyeri yang luar biasa tajam menghantam perut bagian bawahnya sebuah rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, menusuk langsung ke dalam rahimnya.
"Argh..." rintihan tertahan lolos dari bibir Nesa. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi sepucat kertas.
Ia menunduk, menatap ngeri ke arah lantai. Di atas karpet abu-abu di bawah meja kerjanya, tetesan cairan berwarna kemerahan mulai merembes keluar, membasahi ujung sepatu formalnya.
Darah.
Bila, yang sejak tadi berdiri ketakutan di dekat pintu, membelalakkan matanya ngeri saat melihat tetesan darah tersebut. Asisten setia itu langsung berteriak histeris, berlari menerjang masuk mendekati meja CEO.
"Bu Nesa! Ya Tuhan... darah! Darah, Bu!" teriak Bila histeris, langsung merangkul tubuh Nesa yang hampir ambruk dari kursi kerjanya.
Melihat pemandangan tersebut, ekspresi wajah Dika dan Sasya yang semula penuh kemenangan mendadak menegang. Kepanikan seketika melintas di manik mata Dika, sementara Sasya menutup mulutnya dengan tangan, terkejut melihat darah segar yang mengalir deras dari balik pakaian Nesa.
Nesa mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh keringat dingin dan air mata. Pandangannya mulai mengabur, kabur oleh kegelapan yang merayap cepat di kedua matanya. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang tersedot ke dalam jurang kegelapan, Nesa menatap tajam ke arah suami dan kakak kandungnya dengan sisa-sisa napas terakhirnya.
"Jika... jika anakku sampai kenapa-napas... aku bersumpah di hadapan Tuhan..." bisik Nesa terbata-bata dengan suara parau yang nyaris tak terdengar, sebelum tubuhnya terkulai lemas dan ambruk sepenuhnya ke dalam pelukan Bila di lantai dingin ruangan tersebut.
Dunia mendadak gelap gulita. Di bawah satu atap yang sama, di antara tumpukan dokumen kebohongan dan reruntuhan cinta yang telah mati, malam itu badai kehancuran yang sebenarnya baru saja dimulai.