sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
!
---
CINTA TANPA SYARAT 2 - Bab 22: Bintang Diculik di Padang Sabana
Malam itu Rumah Bintang tidak bisa tidur.
Di atas meja kayu jati, ada dua kertas. Kertas fotokopi sertifikat dari PT Nikel Sejahtera yang mau beli tanah 50 juta dengan ancaman 7 hari, dan amplop putih dari Yayasan Bintang Kecil Jakarta yang mau bayar Bintang 100 juta jadi bintang iklan.
50 juta ancaman, 100 juta pujian. Dua-duanya tentang uang, tapi rasanya beda.
Johan duduk di kursi kayu dengan tongkatnya di samping, menatap lampu minyak yang goyang kena angin sabana. Kakinya yang baru sembuh itu nyut-nyutan lagi karena tadi lari tanpa tongkat selamatkan Sari.
Sari yang bed rest di dipan, perut hamil 3 bulan dipegang, Bintang tidur di dadanya. Bintang masih berbisik dalam tidur, "Rumah... jangan... jual..."
"Johan..." Sari panggil pelan, "Gimana menurutmu surat yayasan Jakarta itu? 100 juta... kita bisa buat balik nama sertifikat tanah 2 hektar itu, bisa buat Sari berobat kehamilan berisiko ini ke Kupang, bisa buat bengkelmu lebih besar..."
Johan menggeleng, matanya merah, "Sari, aku takut. Bintang baru 1 tahun 14 hari. Dia dulu dibilang kutukan, kakinya bengkok. Sekarang tiba-tiba ada yayasan Jakarta mau bayar 100 juta cuma untuk syuting 1 hari? Aku takut Bintang jadi tontonan, bukan jadi anak. Aku takut Bintang dibawa ke Jakarta, tidak balik lagi. Seperti tanah kita, mau dibeli."
Mama Leni yang dari tadi diam di dapur sambil masak air, ikut bicara, "Tapi nak, kalau kita tolak dua-duanya, 7 hari lagi orang tambang itu datang bawa pengacara dan polisi. Kita orang kecil di Kolorai, mana bisa lawan PT dari Jakarta? Kita butuh uang untuk urus sertifikat balik nama itu ke nama Sari. Kalau tidak, kita memang kalah di hukum."
Malam itu mereka bertiga tidak ada jawaban. Hanya Bintang yang tidur pulas di dada Sari, kakinya yang lurus sempurna itu sesekali menendang kecil dalam mimpi, seperti masih berlari kejar kupu-kupu di sabana.
Pagi hari ke-2, jam 6 pagi, padang sabana Kolorai masih berkabut tipis.
Sari masih bed rest, tidak boleh bangun kata Bu Dokter Rina. Jadi Johan yang gantikan tugas pagi Sari, bawa Bintang jalan pagi di sabana, seperti dulu Johan bawa Bintang ke taman RS Sanglah Bali setiap pagi untuk bikin ingatan Sari kembali.
"Bintang, ayo kejar kupu-kupu lagi ya?" kata Johan sambil gendong Bintang dengan satu tangan, tangan satunya pegang tongkat.
Bintang tertawa, "Kupu... kupu!"
Mereka jalan pelan di tengah rumput kuning setinggi lutut. Angin timur pagi itu dingin. Di kejauhan hanya ada beberapa pohon lontar.
Tiba-tiba, ada suara motor trail lagi. Bukan dua motor seperti kemarin, tapi satu motor trail merah yang sama seperti kemarin.
Johan langsung waspada, peluk Bintang lebih erat, "Bintang, pegangan Papa kuat ya."
Motor itu berhenti 20 meter dari mereka. Orang yang pakai kacamata hitam kemarin turun, tapi kali ini dia tidak pakai kemeja rapi. Pakai jaket hitam, helm masih dipakai.
"Pak Johan, pagi," katanya sambil jalan mendekat, "Sudah dipikirkan tawaran kami kemarin? 50 juta?"
Johan mundur selangkah, tongkatnya nancap di tanah, "Saya sudah bilang, tidak dijual Pak."
Orang itu senyum, tapi senyumnya dingin, "Sayang sekali. Padahal kalau Bapak jual, Bapak bisa bawa istri hamil itu ke Kupang, bisa sekolahkan Bintang yang ajaib itu ke Jakarta, jadi bintang iklan 100 juta itu. Tapi kalau tidak jual..."
Orang itu berhenti 5 meter dari Johan dan Bintang. Dia lihat Bintang yang digendong Johan. Bintang yang kakinya dulu bengkok, sekarang lurus, yang perkembangannya seperti bayi ajaib.
"Bintang ini ajaib ya Pak? Umur 1 tahun sudah bisa ngomong 'jangan jual', sudah bisa berlari. Kalau di Jakarta, bisa jadi artis cilik, bisa dapat uang banyak. Sayang kalau tinggal di sabana begini, jadi anak gembala saja," kata orang itu sambil rogoh jaketnya.
Johan makin takut, "Mau apa Bapak? Jangan dekat-dekat anak saya!"
Saat itu, Bintang yang di gendongan Johan, yang biasanya tidak takut orang baru, tiba-tiba menangis keras. Tangisan Bintang pagi itu beda, tangisan ketakutan.
Dari balik rumput tinggi sabana, tiba-tiba muncul satu orang lagi, pakai penutup wajah kain hitam, langsung lari ke Johan!
"LEPAS ANAKNYA!" teriak orang itu.
Johan yang lumpuh kakinya, dengan satu tangan gendong Bintang dan satu tangan pegang tongkat, tidak bisa lawan. Orang bertopeng itu tarik Bintang dari gendongan Johan!
"JANGAN! BINTANG! ANAKKU!" Johan teriak, tongkatnya jatuh, dia jatuh bersama Bintang ke rumput, tapi orang itu lebih kuat, dia rebut Bintang!
"BINTANG!" Johan merangkak di rumput, kakinya yang sakit itu tidak bisa berdiri cepat.
Orang kacamata yang dari tadi diam, langsung naik motor trail, "Bawa cepat! Sesuai rencana! Kita bawa ke Waingapu, biar orang tuanya mau tanda tangan jual tanah itu!"
Bintang digendong paksa di atas motor trail, menangis meraung-raung, "MAMA! PAPA! MAMA!"
Johan yang di rumput, dengan kaki pincangnya, mencoba kejar motor trail itu, tapi motor trail itu kencang sekali, tinggalkan debu tebal di padang sabana Kolorai, sama seperti kemarin, tapi hari ini debu itu membawa anaknya.
"BINTANG! JANGAN BAWA ANAK SAYA! BINTANG!" Johan teriak sampai suaranya habis, sampai jatuh lagi di rumput kuning, tongkatnya jauh.
Dari Rumah Bintang, Sari yang bed rest, dengar teriakan Bintang menangis "MAMA!" itu. Sari yang dilarang dokter bangun, langsung bangun paksa dari dipan, perut hamil 3 bulannya sakit hebat, tapi dia lari keluar rumah tanpa sandal!
"BINTANG! ANAKKU! MANA ANAKKU JOHAN! MANA BINTANG!" Sari histeris lihat Johan tergeletak di rumput sabana sendirian tanpa Bintang, hanya ada tongkat yang jatuh.
Johan menangis meraung di rumput, peluk kaki Sari, "Sari... maafkan aku... Bintang diculik... orang tambang itu culik Bintang... mereka bilang kalau mau Bintang balik, harus tanda tangan jual tanah 2 hektar itu..."
Sari yang hamil berisiko tinggi itu langsung lemas, duduk di rumput sabana, di tempat yang kemarin dia pingsan. Perutnya sakit, tapi hatinya lebih sakit. Bintang yang dulu dia lahirkan sendirian saat badai, yang dia gendong 5 km kaki berdarah, yang dia selamatkan dengan donor sumsum sampai koma 11 hari, yang baru 1 tahun lalu bisa berlari di sabana ini, sekarang diculik di sabana yang sama, di depan mata ayahnya yang lumpuh.
Mama Leni keluar lari, "Apa? Bintang diculik? Ya Tuhan!"
Sari tiba-tiba berdiri lagi, meskipun perutnya sakit, matanya merah seperti setahun lalu saat dia kejar Lina pencuri sertifikat di terminal bus Waingapu.
"Johan, ambil tongkatmu. Kita ke Waingapu sekarang. Tanah itu boleh mereka ambil, tapi Bintang tidak. Aku tidak akan biarkan anak yang dibilang kutukan itu, yang sudah bisa berlari karena cinta tanpa syarat kita, diambil orang jahat lagi."
Johan berdiri dengan tongkatnya, kaki pincangnya gemetar, tapi matanya sama merahnya dengan Sari.
Di meja Rumah Bintang, amplop putih yayasan Jakarta yang 100 juta itu masih ada, belum dibalas. Dan di lantai, kertas fotokopi sertifikat tambang itu masih ada.
Satu hari lalu mereka bingung pilih uang 50 juta atau 100 juta. Hari ini mereka kehilangan yang paling mahal, Bintang.
Motor trail merah itu sudah hilang di ujung sabana Kolorai, menuju Waingapu. Di atasnya, Bintang masih menangis "MAMA... MAMA..."
Padang sabana yang kemarin jadi saksi Bintang berlari paling kencang, hari ini jadi saksi Bintang diculik.
*BERSAMBUNG KE BAB 23: SARI MELAWAN DI KANTOR TAMBANG WAINGAPU*
---