Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Kejahilan Miko
Waktu menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit pagi ketika mereka selesai melaksanakan Apel pagi. Seperti biasa, Komandan Batalyon itu yang langsung menjadi pembina Apel jika tak ada kegiatan penting di luar Markas Batalyon.
Setelah selesai Apel, mereka kembali menjalankan tugas dan pekerjaan mereka masing-masing. Silvana, Maria dan Jopi pun kembali ke Klinik. Kali ini, mereka sedang mendata Lansia dan Ibu hamil di desa-desa yang rencananya akan mereka kunjungi.
"Harusnya besok atau lusa, alat-alat medis dan obat-obatan akan datang." Ujar Silvana pada dua rekannya.
"Sebanyak itu, Dokter siapkan sendiri?" Tanya Maria.
"Bukannya bantuan alat medis dan obat-obatan tidak jadi di kirimkan, Dokter?" Timpal Jopi.
"Semuanya ini adalah bantuan dari orang-orang baik yang perduli dengan kalian yang ada di sini. Tak semua orang tutup mata dan membiarkan kalian berjuang menghadapi konflik berkepanjangan yang masih sering meletus ini." Ujar Silvana sambil tersenyum.
"Ah! Aku jadi terharu." Kata Maria.
"Semoga Tuhan membalas kebaikan dari orang-orang yang tak tutup mata itu." Imbuh Maria yang mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang mengirim bantuan pada mereka.
Setelah Silvana meminta bantuan dan diterima oleh Ayahnya, Ayahnya itu tak diam saja. Ia kemudian menggalang dana melalui pemberitahuan dari mulut ke mulut untuk menambah persediaan peralatan medis dan stok obat-obatan.
Silvana sangat bersyukur karena ia mendapatkan banyak tambahan peralatan medis di luar yang ia beli dengan cicilan pada Ayahnya. Tak hanya bantuan alat medis, obat-obatan dan vitamin. Silvana juga di titipan bantuan berbagai macam makanan tambahan dengan gizi tinggi untuk anak-anak dan Ibu Hamil serta lansia yang ada di sana.
Di tempat yang sedang terjadi konflik seperti ini, tentu banyak anak-anak, Ibu hamil dan Lansia yang mengalami gizi buruk. Selain karena kesulitan ekonomi, ketersediaan bahan pangan yang bergizi juga terbatas. Mereka tak bisa sembarangan mengambil hasil bumi jika tak ingin meledekkan kembali konflik dengan kelompok pemberontak.
"Permisi, Dokter." Ujar Miko yang menghampiri Silvana di Klinik.
"Ada apa, Ko?" Tanya Silvana.
"Dokter diminta menemui Komandan di ruangannya." Kata Miko.
"Ada masalah apa ya, Ko?" Tanya Silvana dengan wajah yang bingung karena ia merasa tak melakukan kesalahan.
"Tidak ada masalah, Bu Dokter. Cuma ada yang ingin Komandan tanyakan saja pada Bu Dokter." Jawab Miko sambil tersenyum. Ia tau jika Silvana merasa kebingungan karena Komandannya itu memanggil secara mendadak.
Silvana kemudian mengikuti Miko menuju ke ruangan Komandan yang berada di gedung utama. Mereka berdua berjalan sembari mengobrol santai. Silvana banyak bertanya mengenai kondisi warga di desa-desa.
Setelah sampai di depan ruangan Komandan Kaivan, Miko kemudian mengetuk pintu dan baru masuk setelah Komandannya itu mempersilahkan. Silvana pun dipersilahkan duduk di depan Komandan Kaivan, sementara Miko berdiri di sebelah Komandannya.
"Apa saya mengganggu kegiatanmu di Klinik?" Taya Komandan Kaivan.
"Tidak, Ndan." Jawab Silvana.
"Ada masalah apa ya, Ndan?" Tanya Silvana kemudian.
"Saya mendapat telfon dari KODAM. Kabarnya di Bandara ada banyak bantuan yang di tujukan ke Batalyon ini." Ujar Komandan Kaivan sambil menatap lurus ke arah Silvana dengan wajahnya yang sangat serius.
Silvana sampai berkali-kali kesulitan menelan ludahnya sendiri karena ekspresi serius Komandan Kaivan yang membuatnya semakin tegang.
"Apa bantuan-bantuan itu ada kaitannya dengan Dokter Sisil? Bukannya bantuan medis yang akan datang katanya di batalkan?" Tanya Komandan Kaivan.
"Begini, Komandan." Ujar Sisil yang hendak menjelaskan mengenai bantuan yang ternyata sudah datang itu.
"Bantuan medis dari Rumah Sakit memang di batalkan karena permasalahan internal. Namun, saya mendapatkan bantun dari pihak lain yang menggalang dana untuk bantuan medis dan makanan tambahan bergizi. Selain itu, bantuan sembako yang semula delay, akhirnya bisa di kirim bersamaan dengan alat medis tersebut." Ujar Dokter Silvana yang menjelaskan dengan sebenar-benarnya pada Komandan Kaivan.
"Apa Dokter yang meminta penggalangan dana?" Tanya Komandan kaivan.
"Tidak, Komandan, bukan saya." Jawab Silvana.
"Awalnya saya hanya minta di kirimkan alat medis dan Obat-obatan yang saya beli sendiri. Tetapi, Ayah saya justru melakukan penggalangan dana pada teman-temannya dan menambahan pesanan saya." Jawab Dokter Sisil.
Komandan Kaivan menghela nafas panjang. Ia mengetuk-ngetukkan penanya di atas meja sembari menundukkan pandangannya. Komandan tampan itu tampak sedang berfikir keras saat ini.
"Bukannya kami menolak, tetapi bantuan yang sangat banyak dan datang dengan tiba-tiba itu di takutkan akan menimbulkan dugaan penggelapan. Jadi, kami harus menelusuri kebenarannya dan siapa yang mengirim bantuan sebanyak itu, supaya bantuan bisa di loloskan dari Bandara." Kata Komandan Kaivan.
"Maaf, karena saya tidak meminta izin pada Komandan terlebih dulu." Ujar Silvana yang merasa tak enak.
"Tidak apa-apa." Jawab Komandan Kaivan yang kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya itu.
"Saya akan mengatur supaya bantuan itu bisa sampai di sini dengan aman. Kemungkinan bantuan itu akan di bawa dengan bertahap, nantinya." Ujar Komandan Kaivan yang tampaknya sudah memikirkan strategi untuk bisa membawa semua bantuan itu ke Markas Batalyon dan di distribusikan pada warga sekitar.
"Tapi, saya butuh bantuan untuk mengonfirmasi bantuan ini pada pengirim." Ujar Komandan Kaivan kemudian.
"Apa saya boleh menghubungi pengirim bantuan?" Tanya kemudian.
"Oh! Tentu saja boleh, Ndan. Pengirim semua bantuan itu adalah Ayah saya sendiri. Saya akan memeberikan kontak Ayah saya dan meminta beliau membantu dengan bersikap kooperatif." Ujar Silvana. Ia kemudian menuliskan nomor ponsel Ayahnya di atas selembar kertas.
Miko yang sedari tadi mendengarkan, tampak terkejut sekaligus salut dengan Dokter Silvana juga Ayahnya yang dermawan. Mereka bisa langsung mengirimkan bantuan sebanyak itu hanya dalam waktu tiga hari setelah Dokter Silvana berada di sini.
Setelah selesai, Silvana pun kembali ke Klinik. Kali ini ia kembali sendiri, tanpa di antar oleh Miko.
"Kenapa cuma di lihat saja nomornya, Komandan? Komandan bingung kah, harus bicara apa?" Tanya Miko saat melihat Komandannya hanya menatap nomor Ayah Silvana yang berada di tangannya.
"Apa Komandan lagi berpikir untuk langsung melamar Dokter Silvana pada Ayahnya?" Tanya Miko lagi yang langsung membuat Komandannya itu memutar kursi dan menghadap ke arahnya.
"Kamu mau sepatuku ini sampai di wajahmu, kah?" Tanya Komandan Kaivan yang membuat Miko cengar-cengir.
"Eiih, Komandan, saya cuma bercanda, lah!" Ujar Miko sambil memijat-mijat bahu Komandannya.
"Tapi, tak buruk juga kalau Komandan langsung meminta restu dari Ayah mertua untuk mendekati putrinya." Lirih Miko yang membuat Kaivan melotot dan hendak melepas sepatu dinasnya.
"Ampuun, Komandan!" Seru Miko sembari berlari keluar dari ruangan Komandannya.
duh penasaran bin penisirin ini
Ayo komandan cpet datang...
jgn smpae ad prtumpahan darah y thor 😡😡😡
semangat untuk terus berkarya kak, selalu keren untuk ceritamu, semoga selalu diberi kesehatan agar selalu bisa berkarya 🫰
semangat Thor