NovelToon NovelToon
Memeluk Bayangan

Memeluk Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Penyesalan Suami
Popularitas:897
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.

Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.

Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.

Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.

Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.

Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.

simak kisahnya di Memeluk Bayangan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jebakan

Sesekali tega itu perlu.

Kita tidak selalu harus mengerti setiap orang.

Manusia juga punya batas kesabaran begitupun Kemala.

Dulu, bu Halimah nangis-nangis datang ke rumah Abah, meminta agar Abimana menikahi putrinya yang sedang sekarat karena menyayat nadinya sendiri. Dan hari ini, wanita paruh baya itu mendatanginya untuk agar Kemala mengalah, melepas suaminya demi putri kesayangannya.

Siapa yang disini lebih egois?

Kemala atau mereka?

Kemala menekan kuat tangkai pena yang masih digenggamnya hingga urat-urat tangannya terlihat.

Dia tak habis pikir, kenapa ada seorang ibu dan sesama kaumnya justru tega menyakiti sesama mereka demi kebahagian diri sendiri?

Pikiran Kemala membenarkan sebuah kutipan yang tak sengaja pernah ia baca.

'Dunia akan kejam kepada perempuan yang tak miliki orangtua'

Andai papa dan mamanya masih ada, mungkin saat ini Kemala sedang tertawa dan menikmati masa-masa sekolahnya di perguruan tinggi bersama teman-temannya.

Dia akan bermanja-manja dengan mamanya atau terkadang Kemala akan mengadu kepada papanya jika ada yang menjahilinya seperti dulu ketika dirinya masih kecil.

Namun, takdir baik justru tak berpihak padanya. Orangtuanya harus pergi dengan cara yang tragis.

Dan di usia yang masih terbilang sangat muda harus dihadapkan pada satu kenyataan pahit, yakni berbagi suami dengan perempuan lain.

Melewati malam-malam dingin sendiri meski statusnya adalah seorang istri.

Kemala tertawa kecut.

Menertawakan nasibnya yang kurang beruntung.

Setulus apapun dia bertahan, sekeras apapun dia berharap dan sedalam apapun dia mencintai, semuanya akan tetap terasa hampa jika hati Abimana tak pernah benar-benar mengarah padanya.

Kemala mencintai dengan tulus, memberi tanpa menuntut, menunggu tanpa batas waktu. Namun pada akhirnya, dia hanya seperti bayangan yang tak pernah dilirik ataupun dilihat.

Ini bukan salahnya karena mencintai suaminya.

Hanya saja, cinta itu datang di waktu yang tidak tepat. Dikala hati suaminya sudah terpaut pada hati yang lain dan yang tak menjadikannya rumah bagi Abimana.

Berhenti adalah satu-satunya cara mencintai diri sendiri setelah lama bertahan untuk seseorang yang bahkan tak pernah memilihnya sejak awal.

Kemala meraih ponselnya.

Mengetik dua bait pesan singkat.

"Bisakah kamu datang ke rumah malam ini?"

"Ada hal yang harus kita bicarakan"

Terkirim meski belum terbaca.

Kemala menghela nafas panjang.

Dia sudah memutuskan untuk menyudahi semuanya, menepi jauh dari kehidupan Abimana dan Kirana.

Bukan karena dia menurut pada permintaan Bu Halimah.

Hanya saja, dia lelah.

Sebelum jiwanya makin dalam terluka, Kemala harus menyelamatkan dirinya.

Hingga sore, pesan itu tak berubah menjadi centang biru.

Kemala mengernyit.

Tidak mungkin Abimana tak pernah melihat ponselnya.

Kemala berjalan lesu menuju rumahnya sehabis mengajar.

"Kemala..." seru Ummu Saidah menghentikan langkah Kemala.

Tentu hal ini membuat Kemala heran.

Pasalnya, dirinya tak sedekat itu dengan guru senior itu hingga harus bertegur sapa.

"Assalamualaikum Ummu Saidah... Ada apa?" sapa Kemala sesopan mungkin.

"Waalaikum sallam Kemala... Ummu hanya ingin memberikan ini padamu... Tadi siang, Ummu membelinya dan masih tersisa banyak.Yang lain juga sudah Ummu beri dan teringat jika kamu menyukai kopi kekinian ini... Ambilah, nanti es-nya mencair..." ucap Ummu Saidah menyerahkan segelas cup kopi kepada Kemala.

Aroma Creamy Butterscotch yang manis itu perlahan menguar, seolah memeluk indra penciuman Kemala persis seperti apa yang ia dambakan sejak tadi.

"Syukron Ummu.. Saya terima..." ujar Kemala meraihnya.

"Baiklah kalau begitu, Ummu mau balik kerumah.. Sudah mau magrib...." Ummu Saidah berbalik dan melangkah menuju rumah yang tak jauh dari kediaman Kemala.

Kemala menghirup aroma manis dan gurih itu sekali lagi.

Tak ada pikiran macam-macam di dalam benaknya meski dirinya tidak begitu berhubungan baik dengan Ummu Saidah tapi juga tidak musuhan sih.

Kemala duduk di sofa ruang tamu, dengan tangan masih menggenggam cup kopi.

Segar, manis dan creamy menyatu di mulutnya begitu kopi diteguk.

Tak cukup satu tegukan.

Kemala mengulanginya lagi hingga tersisa setengahnya.

Tak lama, matanya mendadak kabur.

Kepalanya juga pusing.

Kemala kemudian merebahkan dirinya lalu tertidur di sofa ruang tamu.

Seseorang masuk dan tersenyum penuh kemenangan.

"Bawa dia ke kamarnya...." titah suara itu memerintah dua orang yang ikut bersamanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Ayolah Sean... Anggap ini sebagai salam perpisahan dan juga sebagai permintaan maaf saya padamu karena telah terlalu keras kepadamu selama disini" bujuk ustadz Herman kepada Sean yang tengah bersiap-siap dengan kopernya.

Sean memicing.

Agak curiga pada kebaikan ustadz Herman seminggu belakangan ini.

"Memangnya boleh? Bukankah peraturan pondok dilarang bagi santri meninggalkan kamar ketika malam hari..." ujar Sean.

"Itu bagi murid-murid disini. Kamu kan bukan murid hanya sebagai tamu yang kebetulan sedang belajar menuntut ilmu serta memperbaiki diri...Jadi tidak apa. Lagipula, kita hanya duduk di cafe tak jauh dari pondok. Nanti saya akan minta izin kepada Kyai dan Gus Abimana..." bujuk ustadz Herman meyakinkan.

"Pergilah... Kamu kan memang mau mencoba kopi yang dijual di cafe depan. Tuh, ustadz Herman lagi berbaik hati mentraktirmu. Ya, meski uangmu lebih banyak dari dia sih, tapi sesekali tak apalah Sean..." kali ini Arya yang mencoba membujuk.

Ustadz Herman rada jengkel sebenarnya akan ucapan Arya, namun dia tahan sebisanya.

"Kalian ikut juga?" tanya Sean balik.

"Mereka mana bisa pergi... Nanti kalau ramai-ramai, kita bisa dimarahi..." sela ustadz Herman cepat.

"Lagipula, esok kami mau ujian jadi harus belajar dan hafalan..." tambah Risman teman Arya.

Sean kembali menatap Herman.

"Baiklah... Karna saya mau pergi besok, tak apa malam ini kita ngopi. Saya yang traktir. Nanti sekalian saya bawakan untuk kalian... " sahut Sean akhirnya setuju yang disambut senyum cerah teman-teman sekamarnya dan juga senyum manis dari Herman pastinya.

Keduanya berjalan melewati pos santri laki-laki dengan aman karena Herman yang memiliki power sebagai ustadz senior.

Begitu keduanya berjalan tak jauh dari pos, Herman membekap mulut Sean dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius sebelumnya hingga laki-laki itu jatuh tersungkur di tanah.

Herman tersenyum licik.

"Sebentar lagi, kamu akan mendapat sebuah kejutan bocah tengik!"

"Makanya jangan angkuh jadi manusia. Tidak semua orang menyukaimu!"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Lama sekali..." seru seorang perempuan yang telah menunggu Herman yang sedang menggotong tubuh Sean.

"Jangan bicara saja, bantu saya mengangkatnya..." desis Herman kesal.

Meski mengomel, perempuan itu tetap membantu Herman.

"Kalian lama sekali.. Cepat baringkan dia disini. Buka pakaiannya..." titah dari seseorang yang baru saja keluar dari kamar.

Ketiganya tertawa bahagia karena berhasil dengan misi kotor mereka.

"Saya yakin, Kyai Adi dan Nyai Dewanti akan syok melihat mereka.... Terlebih Gus Abimana" seru Herman tertawa.

"Ayo keluar, dan mainkan peran kalian sebaik mungkin...." titah perempuan itu lagi.

Skenario itu mereka susun begitu rapi dan begitu penuh perhitungan.

Ummi Dewanti yang menerima pesan dari Kemala yang meminta untuk datang begitu syok dan menjerit kuat saat dirinya masuk kedalam rumah menantunya tersebut.

"Kemala....!!!" hardik Ummi melihat Kemala yang tidur dalam pelukan seorang laki-laki.

Ummu Saidah yang telah mengintai dari balik pagar rumahnya ikut berlari menerobos masuk kedalam rumah Kemala begitu mendengar teriakan Ummi Dewanti.

"Astaghfirullahalazim... Kemala....! Ya Tuhan.... " ucap Ummu Saidah pura-pura ikut syok hingga memancing beberapa orang lainnya ikut datang ke rumah Kemala.

Kemala yang tertidur sontak terjaga karena keriuhan didalam kamarnya. Matanya masih berusaha menyesuaikan cahaya masuk ke retinanya begitupun Sean.

"Aaaa....." teriak Kemala begitu menyadari posisinya yang sedang memeluk tubuh seorang laki-laki yang bertelanjang dada.

Abimana serta Kirana, disusul oleh Abah Adi yang dipanggil oleh Lastri ikutan syok dengan apa yang mereka lihat.

Meski pakaian Kemala masih melekat di tubuhnya, namun kepala yang biasa ditutupi khimar itu justru memperlihatkan rambut hitam ikalnya.

Sean pun tak kalah terkejutnya sekaligus bingung kenapa dirinya bisa berada si ranjang Kemala.

"Kalian... Apa yang kalian lakukan? Kalian sedang berz*na!" Kirana berteriak marah, melirik suaminya Abimana yang tak kalah emosinya hingga rahangnya mengetat.

"Ummi... Ini...Ini bukan...." Kemala memohon kepada Ummi Dewanti lewat tatapan frustasinya.

Plak...!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Kemala.

Bukan sekali melainkan berkali-kali.

Dan itu bukan dari Ummi atau Abimana melainkan dari Kirana dengan sorot mata ingin menerkamnya hidup-hidup.

Kemala meraba pipinya yang perih.

Airmata menetes di pipinya.

"Tega kamu Kemala!" lirih Kirana.

"Br*ngsek kamu Sean....!!!" kali ini Sean yang jadi sasaran kemarahan Abimana.

Laki-laki itu memukul rahang Sean hingga sudut bibirnya luka dan berd*rah.

Tak cukup sekali, Abimana memukulnya berulang kali hingga Sean tersungkur jatuh ke lantai keramik yang dingin.

"Cukup... Hentikan....!!" teriak Kemala yang tak tega melihat Sean jadi samsak tinju Abimana.

Tangan Abimana menggantung diudara.

Matanya merah memandangi Kemala yang ketakutan.

"Kamu... Kamu membelanya Kemala?"

"Bukan membelanya tapi kamu bisa memb*nuhnya..." sahut Kemala dengan mata berair.

"Kamu takut saya memb*nuh selingkuhanmu dan kamu gagal melarikan diri bersamanya. Iya?!"

"Ini salah paham.. Kami tidak melakukan apa-apa!" Kemala mencoba membela diri.

"Salah pahan kamu bilang? Bagaimana saya bisa salah paham ketika saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, istri saya tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya...Dan ini bukan pertemuan kalian yang pertama... Kalian bahkan sering bertemu dibelakang saya...." teriak Abimana murka.

Bola mata Kemala melebar.

Tentu dia terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Abimana.

Terlebih, beberapa foto yang diperlihatkan dari layar ponsel Abimana.

Tangan Kemala gemetar kala memegang ponsel Abimana yang menampilkan beberapa foto ketika dirinya bertemu Sean.

"Ummi... Saya tidak..." Kemala mencoba mencari pembelaan dari Ummi Dewanti yang sejak tadi terdiam karena terkejut dengan apa yang baru dilihatnya.

"Cukup... Kemala, pakai hijabmu dan Sean ikut saya...!" titah Abah Adi menghentikan perdebatan itu.

"Dan semuanya, keluarlah.... Biarkan kami yang menyelesaikannya" ucap Abah Adi membubarkan orang-orang yang berkerumun di kamar Kemala.

Airmata jatuh di pipi Kemala, berjalan menyusul mertua dan suaminya menuju ruang tengah.

Sean yang berjalan terakhir hanya bisa pasrah melirik Kemala.

Dia sedang menyusun puzzle dalam kepalanya yang masih bingung kenapa dirinya bisa berada di kamar dan berpelukan tanpa pakaian bersama Kemala.

bersambung....

1
Mundri Astuti
ni ga kebongkar juga yak...kasihan di fitnah terus si kemala...he abi..koreksi diri dong...kamu pernah hidup bareng Kemala sebagai kakak angkatnya..masa ga tau sifat Kemala gimana
falea sezi
moga abis ne kebongkar borok istri sok alim elu🤣🤣 nunggu elu nangis darah trs kemala dpet jodoh cogan bujang kaya raya👍
Mundri Astuti
belum kebongkar juga ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!