Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — Dua Kehidupan yang Berbeda
"Alisha, kamu sudah siap berangkat?"
Suara salah satu pekerja rumah terdengar dari balik pintu kamar.
Alisha yang sedang merapikan tasnya segera menoleh.
"Sebentar lagi, Bu. Saya tinggal memakai sepatu."
Dia memasukkan dompet dan ponsel ke dalam tas, lalu memeriksa kembali barang-barang yang dibawanya. Seragam kerja berwarna sederhana yang dikenakannya sudah rapi. Rambutnya diikat ke belakang seperti kebiasaannya setiap kali bekerja di Sweet Morning Bakery.
Sebelum keluar kamar, Alisha memandang sekeliling ruangan itu.
Sejak menikah, kamar tersebut menjadi tempat pribadinya di rumah Adrian. Semuanya masih terasa asing, mulai dari lemari besar di sudut ruangan hingga meja kecil di dekat jendela.
Namun, dia tidak ingin terus merasa seperti orang asing di tempat tinggalnya sendiri.
Alisha menarik napas, mengambil tas, lalu membuka pintu.
Di lantai bawah, meja makan sudah disiapkan. Adrian duduk di salah satu kursi sambil membaca beberapa dokumen yang sesekali diperiksanya melalui tablet.
Laki-laki itu sudah mengenakan kemeja kerja dan celana panjang berwarna gelap.
Alisha sempat memperlambat langkahnya.
Dia tidak menyangka Adrian masih berada di rumah.
"Selamat pagi," sapa Alisha sopan.
Adrian mengangkat pandangannya.
"Pagi."
Alisha duduk di kursi yang berseberangan dengannya. Dia mengambil sepotong roti dan segelas susu, kemudian mulai sarapan.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Adrian membaca dokumennya, sedangkan Alisha sesekali melihat jam di dinding. Dia tidak ingin terlambat pada hari pertamanya kembali bekerja setelah pernikahan.
Ketika Alisha hendak berdiri, Adrian akhirnya berbicara.
"Kamu mulai bekerja hari ini?"
"Iya. Aku sudah mengambil cuti beberapa hari untuk mengurus persiapan pernikahan. Kalau terlalu lama tidak masuk, pekerjaan di toko bisa menumpuk."
Adrian meletakkan tabletnya.
"Jam pulangmu biasanya pukul berapa?"
"Kalau tidak ada pesanan besar, sekitar sore. Tapi kadang bisa lebih lama."
Adrian mengangguk singkat.
"Kalau pulang terlambat, beri tahu orang rumah."
"Baik."
Alisha merapikan tali tasnya.
"Aku berangkat dulu."
Adrian kembali mengambil tabletnya.
"Hati-hati."
Langkah Alisha sempat terhenti.
Ucapan itu terdengar biasa saja, bahkan mungkin hanya bentuk kesopanan. Namun, dia tetap menoleh dan membalasnya.
"Iya. Kamu juga."
Setelah itu, Alisha berjalan menuju pintu depan.
Adrian kembali membaca dokumen di hadapannya. Tidak ada percakapan tambahan, apalagi upaya untuk menahan Alisha agar tetap berada di rumah.
Bagi Adrian, mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing yang harus dijalani.
Dan untuk saat ini, dia tidak melihat alasan untuk mengubah kebiasaan tersebut.
---
Sweet Morning Bakery sudah cukup ramai ketika Alisha tiba.
Aroma roti yang baru dipanggang memenuhi ruangan. Beberapa pelanggan sedang memilih kue di etalase, sementara para pekerja sibuk menyiapkan pesanan yang harus segera dikirim.
Alisha baru saja mengenakan celemek ketika Mira menghampirinya.
"Alisha!"
Alisha menoleh.
"Mira."
Mira langsung memperhatikan wajahnya, kemudian tersenyum lebar.
"Akhirnya kembali juga. Aku kira setelah menikah kamu bakal langsung menikmati hidup sebagai istri orang kaya."
Alisha menghela napas kecil.
"Apaan, sih? Aku cuma cuti beberapa hari."
Rani yang sedang menyusun kotak kue ikut mendekat.
"Bagaimana kehidupan setelah menikah? Menyenangkan?"
Alisha terdiam sejenak.
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana, tetapi dia kesulitan menentukan jawaban yang tepat.
"Ya... biasa saja."
Mira mengernyit.
"Biasa saja bagaimana?"
"Ya, kami masih menyesuaikan diri."
Rani mengangguk seolah memahami.
"Wajar, sih. Kalian kan baru menikah."
Mira menyilangkan tangan di depan dada.
"Tapi suamimu itu benar-benar sibuk, ya? Waktu acara pernikahan saja kelihatannya serius terus."
Alisha tersenyum tipis.
"Dia memang sibuk bekerja."
"Setidaknya dia memperlakukanmu dengan baik, kan?" tanya Rani.
Alisha mengangguk.
"Iya. Dia tidak pernah kasar kepadaku."
Jawaban itu membuat Rani terlihat lega.
"Syukurlah. Itu yang penting."
Mira masih tampak penasaran.
"Kalian sering makan bersama?"
"Kadang-kadang."
"Tinggal satu rumah, tapi cuma kadang-kadang?" Mira membelalakkan mata.
Alisha tertawa kecil.
"Dia berangkat kerja lebih awal atau pulang terlambat. Aku juga punya pekerjaan sendiri. Jadi, memang tidak selalu bisa makan bersama."
Mira hendak bertanya lagi, tetapi suara kepala toko memanggil mereka dari bagian belakang.
"Alisha, Mira, Rani! Tolong periksa pesanan yang harus dikirim hari ini!"
Ketiganya segera kembali bekerja.
Alisha merasa sedikit lega karena percakapan tentang pernikahannya akhirnya berhenti.
Dia tidak ingin berbohong kepada teman-temannya, tetapi ada beberapa hal yang memang tidak bisa diceritakan.
Terlebih lagi, ada kesepakatan pribadi antara dirinya, Adrian, dan Daniel yang harus tetap menjadi rahasia.
Tidak seorang pun di toko itu boleh mengetahui bahwa pernikahannya memiliki batas waktu.
Bagi Mira dan Rani, dia hanyalah Alisha yang baru saja menikah dengan seorang pengusaha sukses.
Mereka tidak perlu mengetahui lebih jauh.
Alisha mengenakan sarung tangan, lalu mulai memeriksa daftar pesanan.
Ada beberapa kotak kue ulang tahun yang harus disiapkan, sejumlah roti untuk pelanggan tetap, dan pesanan kecil yang perlu dikemas sebelum siang.
Dia kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Di tempat ini, Alisha tahu apa yang harus dilakukan.
Tidak seperti di rumah Adrian yang masih terasa asing, di Sweet Morning Bakery dia sudah mengenal setiap sudut ruangan dan kebiasaan orang-orang di sekitarnya.
Pekerjaan memberinya sesuatu yang sederhana tetapi penting: rutinitas yang bisa dia kendalikan sendiri.
---
Sementara itu, suasana di kantor Mahendra Group jauh berbeda.
Adrian duduk di ruang kerjanya, memeriksa laporan keuangan yang diserahkan oleh salah satu manajer.
"Untuk proyek cabang baru, kami masih menunggu konfirmasi dari pihak pemasok," jelas manajer tersebut.
Adrian membalik halaman laporan.
"Sudah berapa lama mereka belum memberikan jawaban?"
"Hampir tiga hari, Pak."
"Hubungi mereka kembali. Saya ingin mendapatkan kepastian sebelum rapat berikutnya."
"Baik, Pak."
"Kalau ada perubahan biaya, kirimkan laporan revisi. Jangan menunggu sampai masalahnya membesar."
Manajer itu mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.
Adrian kembali bekerja tanpa membuang waktu.
Beberapa dokumen harus ditandatangani, dua rapat menunggunya, dan laporan mingguan perlu diperiksa sebelum akhir hari.
Ketika Daniel masuk membawa berkas tambahan, Adrian masih menatap layar komputernya.
"Pak, ini dokumen yang perlu Anda periksa."
Letakkan berkas itu di meja, lalu Daniel berdiri menunggu.
Adrian membacanya sekilas.
"Ada perubahan dari jadwal sebelumnya?"
"Hanya satu rapat yang dimajukan tiga puluh menit."
"Baik. Sesuaikan jadwal saya."
Daniel mencatat instruksi itu.
Sebelum pergi, dia teringat sesuatu.
"Pak, apakah Anda ingin saya mengatur kendaraan untuk Ibu Alisha jika sewaktu-waktu beliau pulang terlambat?"
Adrian menghentikan gerakan tangannya.
"Dia sudah punya kendaraan untuk berangkat kerja?"
"Setahu saya, beliau berangkat sendiri."
Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Untuk sekarang, tidak perlu mengatur apa pun tanpa persetujuannya. Kalau dia membutuhkan bantuan, biarkan dia menyampaikan langsung."
"Baik, Pak."
Daniel mengangguk.
Dia memahami bahwa Adrian tidak ingin mencampuri urusan pribadi Alisha secara berlebihan.
Namun, sebagai asisten yang mengetahui situasi mereka, Daniel juga menyadari bahwa kehidupan bersama membutuhkan penyesuaian, meskipun keduanya belum terbiasa membicarakannya.
"Kalau tidak ada lagi, saya kembali bekerja," ujar Daniel.
"Silakan."
Setelah Daniel keluar, Adrian kembali membaca laporan.
Pikirannya sepenuhnya tertuju pada pekerjaan.
Dia tidak sedang memikirkan apakah Alisha sudah sampai di toko atau apakah perempuan itu sedang melakukan apa.
Bukan berarti dia mengabaikan tanggung jawabnya sebagai suami.
Dia hanya belum memiliki kebiasaan untuk memikirkan kehidupan orang lain di tengah kesibukannya sendiri.
Dan mungkin, untuk saat ini, Alisha pun tidak mengharapkan lebih dari itu.
---
Menjelang siang, Alisha mendapat kesempatan untuk beristirahat.
Dia duduk di kursi kecil dekat ruang belakang sambil memeriksa ponselnya.
Ada satu pesan dari ibunya.
Ratih: Alisha, bagaimana pekerjaanmu hari ini? Jangan terlalu lelah, ya, Nak.
Alisha langsung tersenyum.
Dia mengetik balasan dengan cepat.
Alisha: Aku baik-baik saja, Bu. Hari ini toko cukup ramai, tapi masih bisa ditangani. Ibu sendiri bagaimana? Sudah makan?
Tidak lama kemudian, panggilan masuk muncul di layar.
Alisha segera mengangkatnya.
"Halo, Bu?"
"Alisha, kamu sedang bekerja?"
"Iya, Bu. Tapi sekarang sedang istirahat."
"Kalau begitu, Ibu tidak akan lama-lama."
Alisha mengernyit.
"Tidak apa-apa, Bu. Ada apa?"
Ratih terdiam sebentar sebelum bertanya.
"Kamu sudah mulai terbiasa tinggal di rumah suamimu?"
Pertanyaan itu membuat senyum Alisha sedikit memudar.
Dia tidak ingin membuat ibunya khawatir. Ratih masih membutuhkan waktu untuk pulih, dan Alisha tidak ingin menambah beban pikirannya.
"Masih menyesuaikan diri, Bu. Tapi semuanya baik-baik saja."
"Adrian memperlakukanmu dengan baik?"
"Iya."
"Kalau ada masalah, kamu boleh cerita kepada Ibu. Jangan merasa harus menyimpan semuanya sendirian hanya karena sekarang kamu sudah menikah."
Alisha menunduk, memperhatikan ujung celemeknya.
"Iya, Bu."
Ratih menghela napas pelan.
"Ibu tahu kamu sudah dewasa. Ibu juga tahu kamu punya alasan sendiri untuk mengambil keputusan ini. Tapi Ibu ingin kamu tetap memikirkan dirimu sendiri."
Alisha merasakan tenggorokannya sedikit tercekat.
"Ibu jangan terlalu khawatir. Aku masih bekerja seperti biasa. Aku juga tetap akan datang menjenguk Ibu."
"Ibu senang mendengarnya."
Mereka berbicara beberapa menit lagi tentang keadaan Ratih dan jadwal pemeriksaan berikutnya.
Setelah panggilan berakhir, Alisha masih memegang ponselnya selama beberapa saat.
Dia tahu ibunya sedang berusaha memahami perubahan dalam hidupnya.
Namun, Alisha belum bisa menceritakan seluruh kenyataan yang ada.
Dia hanya berharap suatu hari nanti, ketika keadaan ibunya sudah benar-benar membaik, dia bisa menemukan cara untuk menjelaskan semuanya tanpa membuat perempuan itu terluka.
"Alisha!"
Suara Mira dari depan membuatnya tersentak.
"Iya?"
"Kita harus menyiapkan pesanan tambahan!"
Alisha segera memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Iya, aku ke sana!"
Dia berdiri, merapikan celemek, lalu kembali bekerja.
Untuk saat ini, dia harus menjalani hari demi hari.
Satu pekerjaan diselesaikan, lalu pekerjaan berikutnya menunggu.
---
Sore hari, Adrian masih berada di kantor ketika Daniel kembali memasuki ruangannya.
"Pak, rapat terakhir sudah selesai. Ada beberapa dokumen yang perlu ditandatangani, tetapi sisanya bisa dilanjutkan besok."
Adrian melihat jam tangannya.
"Baik. Siapkan dokumen yang mendesak saja."
Daniel meletakkan beberapa berkas di atas meja.
"Satu hal lagi, Pak. Saya menerima informasi bahwa Ibu Alisha masih bekerja hari ini."
Adrian mengangkat pandangannya.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, Pak. Saya hanya memastikan karena beliau baru saja kembali bekerja setelah cuti."
Adrian mengangguk.
"Kalau dia bisa menjalankan pekerjaannya seperti biasa, biarkan saja."
"Baik."
Daniel tidak melanjutkan pembicaraan.
Dia tahu Adrian tidak menyukai percakapan yang tidak memiliki tujuan jelas.
Setelah Daniel keluar, Adrian menyelesaikan tanda tangan terakhirnya. Dia kemudian menutup berkas dan mematikan layar komputer.
Hari itu cukup melelahkan, tetapi masih ada beberapa pekerjaan yang ingin diperiksanya dari rumah.
Adrian mengambil jasnya, lalu meninggalkan kantor.
---
Alisha baru tiba di rumah ketika langit mulai gelap.
Dia membuka pintu dengan perlahan, melepas sepatu, lalu menyapa pekerja rumah yang sedang merapikan ruang tengah.
"Saya sudah pulang."
"Selamat datang, Bu Alisha."
Alisha masih belum terbiasa dipanggil seperti itu. Dia sempat tersenyum canggung sebelum berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang lebih nyaman, dia turun ke ruang makan.
Adrian belum pulang.
Alisha duduk sambil menunggu makanan disiapkan. Dia tidak tahu apakah harus menunggu Adrian atau makan terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian, dia teringat percakapan mereka sebelumnya.
Kalau pulang terlambat, beri tahu orang rumah.
Namun, Adrian tidak mengatakan bahwa mereka harus selalu makan bersama.
Akhirnya, Alisha memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
Dia baru saja menyelesaikan makan malam ketika suara kendaraan terdengar dari luar.
Tidak lama kemudian, Adrian memasuki rumah.
Dia menyerahkan jasnya kepada pekerja rumah, lalu melirik ke arah meja makan.
"Kamu sudah makan?"
Alisha yang sedang berdiri di dekat meja mengangguk.
"Sudah. Aku pulang lebih awal tadi."
Adrian melihat jam dinding.
"Baik."
Alisha ragu sebentar sebelum bertanya.
"Kamu sudah makan?"
"Belum."
"Kalau begitu, makanannya masih ada. Aku bisa meminta mereka menyiapkan lagi."
Adrian mengangguk.
"Tidak perlu. Saya bisa mengurusnya."
Alisha tidak memaksa.
"Oh, baik."
Adrian berjalan menuju meja makan, sementara Alisha hendak kembali ke kamarnya.
"Alisha."
Dia berhenti dan menoleh.
"Iya?"
"Besok kamu bekerja lagi?"
"Iya. Jadwalku masih seperti biasa."
"Baik. Kalau ada perubahan yang memengaruhi jadwal di rumah, beri tahu lebih awal."
Alisha mengangguk.
"Akan kuberi tahu."
Setelah itu, dia melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Adrian duduk untuk makan malam tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Percakapan mereka hanya berlangsung sebentar, tetapi setidaknya sekarang keduanya mulai memahami kebiasaan masing-masing.
Alisha tahu Adrian lebih suka segala sesuatu disampaikan dengan jelas.
Adrian mulai mengetahui bahwa Alisha akan tetap bekerja dan tidak ingin meninggalkan rutinitasnya hanya karena sudah menikah.
Mereka belum dekat.
Mereka bahkan belum benar-benar mengenal satu sama lain di luar hal-hal sederhana.
Namun, kehidupan bersama membuat mereka perlahan mempelajari batas dan kebiasaan yang perlu dihormati.
---
Malam semakin larut.
Di kamarnya, Alisha duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa jadwal kunjungan ibunya untuk beberapa hari ke depan.
Dia harus mengatur waktu antara pekerjaan, perjalanan ke rumah sakit, dan kehidupan barunya di rumah Adrian.
Semuanya terasa melelahkan, tetapi Alisha tidak ingin menyerah.
Dia meletakkan ponsel di meja samping tempat tidur, kemudian mematikan lampu utama.
Sebelum berbaring, dia menatap langit-langit kamar.
Pernikahan yang baru dijalaninya ternyata tidak langsung mengubah seluruh hidupnya.
Dia masih bekerja.
Dia masih mengkhawatirkan ibunya.
Dan dia masih harus belajar tinggal bersama seorang laki-laki yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk perusahaan.
Di ruangan lain, Adrian masih duduk di ruang kerjanya.
Beberapa laporan telah selesai diperiksa. Dia menutup laptop, merapikan berkas, lalu berdiri.
Sebelum menuju kamar pribadinya, Adrian sempat melihat ke arah lorong yang mengarah ke kamar Alisha.
Dia teringat percakapan singkat mereka saat makan malam.
Tidak ada masalah yang perlu diselesaikan.
Alisha sudah pulang dengan selamat, makan malam, dan bersiap untuk bekerja kembali besok.
Bagi Adrian, itu sudah cukup untuk malam ini.
Dia tidak mengetuk pintu kamar Alisha atau mengajaknya berbicara lebih jauh. Dia hanya berjalan menuju kamarnya sendiri dan menutup pintu setelah masuk.
Di rumah yang sama, mereka mengakhiri hari dengan cara masing-masing.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada pertengkaran besar yang harus diselesaikan.
Hanya dua orang yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan baru yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Dan untuk sekarang, jarak di antara mereka masih tetap ada.