NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 kekhawatiran seorang suami

Malam itu, ruang makan kediaman Count Regurd dipenuhi cahaya lilin yang hangat dan aroma masakan yang membuat perut Veronica bergejolak sejak ia melangkah masuk. Meja panjang dari kayu jati itu nyaris tak menyisakan ruang kosong, penuh dengan piring-piring perak yang tertata rapi. Count Regurd duduk di ujung meja bersama istrinya, Layla, yang dengan ramah mulai menceritakan berbagai hal tentang Skypia sambil menuangkan anggur ke gelas para tamunya. "Pie apel ini adalah makanan khas wilayah kami, Nyonya Duchess," ujarnya sambil menggeser piring berisi pie yang kulitnya keemasan dan masih mengepulkan uap tipis. "Sirup buahnya kami buat dari hasil kebun musim ini, dan anggurnya selalu menjadi kebanggaan Skypia. Roti panggang dengan selai buah itu juga resep turun-temurun keluarga kami. Para pedagang dari ibu kota sering sengaja singgah hanya untuk membawanya pulang."

"Sungguh luar biasa," sahut Erin sambil memotong pie di piringnya dengan gerakan yang begitu halus. "Aku sudah lama tidak mencicipi anggur Skypia. Rasanya masih sama seperti dulu." Count Regurd tersenyum bangga, dan Layla menambahkan bahwa kebun anggur mereka baru saja diperluas dua musim lalu, sehingga hasilnya kini cukup untuk dikirim ke beberapa kota besar.

"Rasanya enak sekali, Nyonya Layla," ujar Veronica lembut sambil mengangguk dengan senyum anggun yang terpasang di wajahnya, padahal di balik meja ia menelan ludah berkali-kali dan jemarinya mencengkeram lipatan gaun agar tidak langsung menyambar piring terdekat. Ia melirik Erin yang duduk di seberangnya, lalu menegakkan punggung dan mengambil garpu dengan gerakan sepelan yang ia bisa. Jika sampai ia lepas kendali, ibu mertuanya pasti akan mengomelinya habis-habisan sepanjang perjalanan pulang. Maka ia mencicipi satu per satu hidangan di hadapannya dengan gigitan kecil dan anggukan sopan, meski di dalam hatinya ia bersorak girang. Pie apelnya lembut dan manis, sirupnya menyegarkan, dan roti panggang berselai itu nyaris membuatnya memejamkan mata karena nikmat. Setiap kali Layla menawarkan hidangan tambahan, Veronica menjawab dengan anggukan sopan padahal ingin sekali meminta seluruh baskom. Ia bahkan sudah bertekad dalam hati untuk menyelinap ke dapur nanti malam dan menghabiskan semuanya.

Di sisi lain meja, Erin menyesap anggurnya perlahan dengan wajah puas, matanya menyapu deretan hidangan yang hampir habis separuhnya. "Hasil panen tahun ini sungguh melimpah, Count. Aku yakin putraku akan menyiapkan pesta besar untuk festival panen nanti." Ia kemudian menoleh pada Veronica yang tampak begitu khusyuk memandangi sepotong pie di garpunya, dan senyumnya berubah menjadi sorot mata yang menyelidik. "Sepertinya sudah saatnya menantuku belajar menyiapkan pesta. Tamu bangsawan tidak akan puas hanya dengan melihat Duchess-nya makan dengan lahap."

Bahu Veronica langsung merosot dan senyumnya sedikit membeku, sebab itu berarti ia akan kembali dikurung bersama buku dan pelajaran baru. Namun ia hanya bisa mengangguk pelan sambil meletakkan garpunya. "Baik, Ibu. Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh," ucapnya dengan suara yang jauh lebih lesu dari sebelumnya, sementara Layla menutup bibirnya dengan serbet untuk menyembunyikan senyum.

Count Regurd terkekeh melihat percakapan itu, sama sekali tak menyadari badai kecil yang berkecamuk di benak Veronica, lalu menghela napas pelan sambil memutar gelasnya. "Anak-anak kami sedang belajar di akademi sekarang, Nyonya Erin. Putra sulung kami sebenarnya berharap bisa bergabung dengan pasukan Duke Vanguard setelah lulus nanti. Kami hanya berdoa agar ia cukup pantas untuk itu. Anak itu keras kepala, tapi ia berlatih pedang sejak pagi buta setiap hari, bahkan saat hujan deras sekalipun."

"Itu bukan masalah sama sekali," sahut Erin sambil tersenyum hangat dan menepuk lembut punggung tangan Layla yang tampak sedikit cemas. "Aku yakin putra Anda akan tumbuh menjadi kesatria yang hebat, dan Altres pasti akan senang menerimanya."

Setelah makan malam usai dan ucapan terima kasih saling dilontarkan, Veronica sempat menoleh sekali lagi ke arah meja yang mulai dibersihkan para pelayan dengan tatapan penuh penyesalan, lalu terpaksa mengikuti Erin menyusuri lorong. Mereka akhirnya kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Begitu pintu kamar tertutup, Veronica langsung berbalik dan menarik lengan Emma dengan mata berbinar. "Emma, bantu aku makan lagi. Aku belum puas menikmati makanan enak tadi. Perutku bahkan belum terasa hangat, padahal aku sudah menahan diri sepanjang malam."

"Itu mustahil, Nyonya," jawab Emma dengan wajah cemas sambil melepaskan genggaman Veronica perlahan. "Ini bukan kediaman Vanguard. Saya masih asing di rumah ini, bahkan saya tidak tahu di mana mereka menyimpan makanan."

"Tenang saja, Emma, penciumanku tajam," sahut Veronica penuh percaya diri sambil menepuk hidungnya dengan bangga. "Aku pasti bisa menemukan tempat penyimpanannya, sejauh apa pun letaknya."

Belum sempat Emma membantah, pintu kamar terbuka dan Erin melangkah masuk dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya yang tenang justru membuat dua orang di hadapannya menahan napas, dan Veronica refleks menyembunyikan tangannya di balik punggung seperti anak kecil yang tertangkap basah. "Jangan coba-coba melakukan hal yang biasa kalian lakukan di kediaman Vanguard. Kalian akan mempermalukan keluarga kita di rumah orang lain." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada datar, "Aku juga sudah tahu setiap malam Emma membawakan makanan untukmu, Veronica, dan aku tidak mempermasalahkannya."

Emma langsung menunduk dalam-dalam dengan wajah pucat. "Mohon maafkan saya, Nyonya Erin. Saya memang sering mengambil makanan dari dapur tanpa izin."

"Itu salahku, Ibu!" Veronica buru-buru maju selangkah dan berdiri di depan Emma, alisnya berkerut penuh kecemasan. "Akulah yang menyuruhnya, jadi tolong jangan marahi Emma. Hukum saja aku, Ibu, sebanyak yang Ibu mau."

Erin hanya tersenyum samar sambil memandangi keduanya bergantian, sorot matanya sulit ditebak. "Aku menghargai keberanianmu membela Emma, Veronica, tapi kejujuran tidak menghapus kesalahan. Soal itu akan kupikirkan nanti. Sekarang kalian beristirahatlah, perjalanan hari ini cukup panjang dan besok kita masih harus berkeliling lagi. Hukuman untuk kalian berdua akan kusiapkan setelah kita kembali ke rumah, jadi sebaiknya kalian tidur nyenyak." Ia lalu berbalik dan menutup pintu perlahan, meninggalkan keheningan yang terasa lebih berat daripada teguran apa pun.

Setelah Erin pergi, Veronica terduduk di tepi ranjang dengan wajah pucat pasi dan bibir mengerucut, jemarinya meremas selimut. "Hukuman apa, Emma? Apakah aku akan disuruh membaca buku sejarah kekaisaran lagi seperti minggu lalu? Rasanya benar-benar menyiksa. Halamannya tebal sekali, dan semuanya hanya tentang raja yang saling berebut tahta." Emma tidak menjawab, ia hanya berdiri menunduk sambil meremas ujung celemeknya dengan bahu terkulai, pasrah menunggu keputusan karena ia memang tak pernah sanggup membantah majikannya. Veronica merebahkan diri sambil menatap langit-langit, membayangkan tumpukan buku tebal yang menantinya di perpustakaan. Keduanya akhirnya merenung dalam diam, membayangkan hukuman yang menanti dengan hati yang sama-sama kecut.

Sementara itu, di wilayah perbatasan yang jauh, Altres berdiri di tepi tebing sambil membersihkan pedang Carax dari sisa darah monster. Hampir dua minggu ia menyisir hutan dan lembah perbatasan tanpa banyak waktu untuk tidur, dan kini akhirnya semua monster sudah terbasmi. Para prajurit bergerak cepat membereskan perlengkapan dan memadamkan api unggun yang masih berasap, bersiap kembali ke Brune. Angin dingin dari pegunungan menerpa jubahnya ketika ia menatap ke arah selatan dengan tatapan yang sulit diartikan, penasaran dengan keadaan rumah yang ia tinggalkan. "Ibuku pasti membimbing Veronica dengan baik," gumamnya pelan sambil mengusap bilah pedang dengan kain, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. "Tapi naga itu bisa saja marah, lalu menyerangnya."

Seorang prajurit yang mendengar gumaman itu mendekat dan memberi hormat sambil tersenyum tipis. "Mohon maaf, Tuan Duke, tapi kabar yang kami dengar dari kediaman menyebutkan keduanya tampak akur sebagai menantu dan mertua, bahkan para pelayan sering melihat mereka minum teh bersama di taman. Hamba yakin kekhawatiran Tuan tidak akan terjadi." Altres terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan sambil menyarungkan pedangnya, dan untuk pertama kalinya setelah dua minggu, sudut bibirnya terangkat sedikit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!